
" Tuan Muda Graham mengatakan jika ini tentang Nona. "
Hega tersentak dan langsung menatap Ragil Anggara.
Tidak hanya Hega, bahkan Derka dan Bara tak kalah terkejutnya.
Ragil Anggara langsung menyodorkan ponsel bermata tiga di tangannya. Ponsel milik Hega yang selama berhari-hari ini tak terjamah pemiliknya.
Gara mengangguk seolah mengisyaratkan agar tuan mudanya segera menjawab panggilan itu.
Dengan cepat Hega menyahut benda pipih itu dan berjalan sedikit menjauh dari ruang tamu.
" Apa yang anda tahu tentang istri saya ? " Tanyanya langsung begitu benda itu menempel di telinganya.
Tidak ada jawaban selama beberapa detik berlalu, tak lama terdengar helaan nafas berat di seberang sana.
" Moza Artana Dama, apapun yang saya lakukan dan sebanyak apapun cinta yang saya berikan untuknya, tidak juga bisa mengubah hatinya. " Suara bariton yang terdengar berat dan dalam.
Shiit !! Apa-apaan ini ? Apa dirinya sedang mendengarkan curahan hati dari pria yang mencintai istrinya ? Curhat yang sepertinya salah tempat dan waktu.
Jika saja pria itu ada di depannya saat ini, mungkin saja Hega sudah meninju wajah pria yang juga adalah rekan bisnisnya.
Hega barusaja hendak mengumpat, tenggorokannya terasa tercekat saat mendengar kalimat demi kalimat dari suara pria yang menjadi lawan bicaranya.
" Saya kalah, dalam kehidupan ini sepertinya memang hanya kau yang ditakdirkan untuk memiliki hati dan raganya. Tidak ada celah sedikitpun yang bisa saya temukan untuk bisa masuk diantara kalian berdua. "
" Kau ? " Hega mengeram murka saat ia mulai menyadari maksud dari ucapan pria di seberang telepon.
" 594 S. Mapleton Dr, Los Angeles. "
Hega tahu alamat itu, salah satu hunian mewah di kota Los Angeles.
" Jadi kau yang-- ? " Hega mengeram murka.
" Saya tidak sengaja menemukannya sekitar dua minggu yang lalu disekap oleh seorang pria dan beberapa orang bayaran. Saya kira saat itu Tuhan memberi saya kesempatan kedua dengan mengembalikannya pada saya. Tapi ternyata saya salah, dia tidak akan pernah bisa jadi milik saya. Karena apapun yang saya lakukan tidak terlihat olehnya. "
Dua minggu ? Dan pria itu baru memberitahukannya sekarang ? Sialan, apa memang pria itu benar-benar mau merebut Moza darinya ?
Akkkhhh, jika saja pria yang adalah sahabat istrinya itu ada di depannya saat ini, sudah pasti bukan hanya satu tinju, Hega tidak akan menahan diri untuk menghajar pria itu sampai habis tak bersisa.
" Datanglah dan jemput dia ! "
" Kau--? " Sialan, enteng sekali pria itu memerintah Hega.
Tapi ini bukan saatnya terbawa emosi, bagaimanapun istrinya jauh lebih penting.
" Lebih cepat kau datang, maka akan lebih baik untuknya. Sejujurnya saya ingin bertahan dan menunggu jika masih ada kemungkinan hatinya bisa melihat saya. Tapi saya sudah tidak sanggup lagi melihatnya terpuruk setiap harinya karena memikirkan suaminya. "
Hega memejamkan mata erat, ingin marah tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat.
" Terima kasih. " Yah, akhirnya hanya dua kata itu yang terucap dari mulutnya sebelum pria di seberang sana menutup sambungan teleponnya.
Tut Tut Tut
" Gara, siapkan jet pribadi. Aku mau dalam waktu 15 menit semuanya sudah siap di landasan. " Teriak Hega yang baru kembali dari kamar pribadinya.
Bara, "....."
Derka, " ?! "
Kedua pria itu saling menatap dengan ekspresi bingung.
" Tuan Muda. " Ragil Anggara menghampiri Hega di yanh sudah tampak pintu penghubung.
" Istriku ada di LA, ganti penerbangan sekarang juga. Aku harus menjemputnya sekarang juga. Segera siapkan semuanya, jangan bertanya lagi hal lainnya. Aku tidak punya banyak waktu, atau pria itu bisa berubah pikiran sewaktu-waktu dan kembali menyembunyikan istriku. "
" Baik, Tuan Muda. " Ragil Anggara dengan sigap keluar dari ruang kerja tuan mudanya. Merogoh ponsel di saku jasnya menghubungi beberapa orang yang diperlukan.
Bara dan Derka kompak berdiri, " Ga. "
" Oke, gue siap-siap dulu. Lo kabari aja, gue pasti siap kapanpun lo butuh gue. "
Hega mengangguk, diikuti Derka yang berlalu meninggalkan apartemen Hega menuju apartemennya sendiri.
" Dan lo, Bar. Gue nitip kantor. "
" Serahin sama gue, Ga. Take care, bro. Bawa balik adek gue yang paling cantik, plus calon ponakan gue. " Bara memeluk Hega ala pria dan menepuk punggung sahabatnya itu.
" Mm. Thanks. "
Hega meraih foto Moza, " Sayang, tunggu aku ! Aku akan segera datang menjemput kamu. " Diletakkannya kembali figura di atas meja setelah mengecup foto istrinya.
Lalu beralih menggapai liontin milik istrinya kemudian beranjak menuju kamar tidur yang tidak pernah ia masuki sejak menghilangnya sang istri.
Disisi lain.
Fabian meremat benda pipih ditangannya dengan erat. Rasanya seperti hatinya ikut diremas.
Sepuluh tahun pria itu menahan diri, tapi apa yang dia dapat sebagai imbalannya ? Ucapan terima kasih dari saingan cintanya, dasar gila. Fabian merasa jika dirinya benar-benar akan gila.
Menempuh berjam-jam perjalanan yang mungkin terasa melelahkan bagi orang normal. Namun tidak dengan pria yang satu ini. Lelah fisik seolah tidak lagi menggangunya.
Saat tiba di alamat tujuan, jet pribadi yang membawa Hega langsung mendarat di salah satu titik yang sepertinya memang adalah tempat lepas landas pesawat pribadi.
Disana sudah ada mobil yang sepertinya sudah diatur untuk menjemput kedatangan Hega.
" Presdir Saint, kami diperintahkan menjemput anda oleh CEO kami. "
Hega mengangguk. " Tunjukkan jalannya. " Hega tahu pria ini, pria yang selalu ada di sisi Fabian di setiap pertemuan.
Dua orang berpakaian serba hitam itu menunduk hormat di hadapan pria yang mereka rasa memiliki aura sekuat majikan mereka.
Suara bass pria ini begitu dominan dan berwibawa. Aura tegas dan dingin yang sama seperti yang mereka rasakan saat menghadapi tuan mereka.
Bahkan mungkin, pria ini adalah pria kedua yang membuat mereka merasakan tekanan kuat seperti yang mereka rasakan saat menghadapi CEO mereka.
Dan itu juga yang sepertinya membuat mereka tampak begitu segan dan hormat pada pria yang mereka yakini bukan orang sembarangan ini.
Fabian Arsen Graham yang memiliki aura dingin dan kuat. Bahkan Fabian memiliki kemampuan yang dianggap melebihi para pendahulu keluarga Graham.
Sepertinya pertemuan dua pria dengan aura serupa ini akan membuat atmosfer di sekitar mereka mendadak menakutkan.
" Tuan Muda, Nona Deana bersama Tuan Muda Adiputra dalam perjalanan menyusul. Mereka--- "
" Katakan pada Julian untuk langsung ke mansion Saint yang ada di Bel Air. "
" Baik Tuan Muda. "
Tidak butuh waktu lama dari landasan jet pribadi menuju mansion mewah bergaya Eropa modern itu.
Bangunan yang diperkirakan seluas lebih dari 10.000 meter persegi itu dikelilingi taman besar dengan banyak bunga.
Namun ada yang membuat hati Hega tercubit.
Satu bunga yang tampak mendominasi taman tersebut, white tulips.
Sebesar itukah cinta pria itu pada istrinya ?
...****************...
Bian, move on ya sayang. Pebinor itu dosa, masih banyak perawan di luaran sana. Yuk bisa yuk.
Beri pelukan onlen untuk Fabian 🤗🤗