
Dua minggu lebih berlalu. Waktu yang sebenarnya cukup singkat namun penuh perjuangan bagi Fabian.
Berbagai cara ia lakukan untuk memenangkan hati seorang Moza.
Namun nyatanya tidak sedikitpun gadis itu melihatnya melebihi seorang sahabat. Bahkan kini terlihat gurat kecewa dan ketakutan di mata beriris coklat itu setiap kali menatapnya.
Sepertinya memang sudah tidak ada lagi celah baginya untuk masuk kedalam hati Moza. Apalagi kini ada penghubung antara Moza dengan suaminya, kehidupan yang tumbuh di rahim gadis itu.
Meskipun sesungguhnya Bian rela menjadi ayah dari janin itu. Tapi nyatanya hati Moza tidak bisa menerima lelaki lain selain suaminya.
Sudah hampir tiga hari Moza mogok makan dan mogok bicara. Setiap saat Bian tidak pernah jenuh dan lelah membujuk gadis itu.
Dan sekali lagi pria yang selalu punya kuasa mengendalikan segalanya di bawah telapak tangannya itu kembali kalah oleh seorang Moza Artana.
Bian keluar dengan wajah lesu. Meninggalkan Moza seorang diri dengan rasa sakit dan sesak di hatinya.
Dua minggu lebih dikurung dalam istana yang bagi Moza tidak ada bedanya dengan penjara.
Moza menyesali egonya yang selalu bersikeras untuk menjalani hidup seserhana seperti sebelum ia menikah.
Namun menjadi seorang Saint sungguh berbeda dengan kehidupannya sebagai seorang Dama.
Seharusnya dari awal ia sadar posisinya sebagai istri seorang Hega Saint.
Seharusnya ia tidak keras kepala dengan meminta suaminya mengganti posisi pengawal pribadinya.
Seharusnya ia diam saja dan menurut segala pengaturan suaminya yang selalu mengutamakan keselamatannya.
Tapi menyesal tiada guna.
Kini ia tidak tahu harus berbuat apa, di satu sisi ia merasa berterima kasih pada Fabian yang menyelamatkannya dua minggu lalu.
Jika pria itu tidak datang, mungkin dirinya sudah tidak lagi bernyawa saat ini. Dan lebih buruknya ia membawa serta buah cintanya bersama sang suami tanpa tahu jika nyawa itu sudah tumbuh di rahimnya.
Moza mengusap perutnya yang masih rata, memejamkan mata menahan sesak di dada. " Maafkan Mama sayang, maafkan mama karena mungkin mama tidak bisa mempertemukanmu dengan papa kamu. Maafkan Mama yang sepertinya tidak sanggup lagi bertahan. Maaf..., hiksss... "
Beralih dari perut, Moza menatap nanar cincin yang masih melingkar indah menghiasi jari maninsnya.
" Maafkan aku, Kak. Aku merindukan mu, maafkan aku. Maaf, hiksss.... " Moza menangis sambil menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya yang menekuk. Mengabaikan suara dari pintu.
Krieeeettt....
Namun Moza tak bisa lagi acuh saat mendengar suara sepatu yang beradu dengan lantai marmer. Jejak langkah yang terasa semakin mendekat padanya.
" Bian, sudah aku katakan jangan ganggu aku. Apa kamu tidak paham ucapanku ? Berhentilah membujukku, tolong aku sungguh ingin sendiri, aku tidak ingin bertemu dengan siapapun, aku---. " Moza masih bersikeras untuk menyendiri, mogok makan enggan bertemu siapapun.
Wajahnya masih tersembunyi diantara kedua lututnya, diiringi isak tangis yang sedikit tertahan.
" Termasuk aku ? "
Moza seketika menghentikan tangisnya, terdiam saat suara berat itu kembali jatuh di indera pendengarannya.
" Apa kamu juga tidak ingin melihatku ? "
Dengan ragu mengangkat wajahnya, kepalanya mendongak dan menatap dengan tatapan mata tak percaya.
Bahkan Moza mengusap kedua matanya beberapa kali dengan jemarinya. Meyakinkan dirinya jika ia sedang tidak salah lihat.
~ Beberapa jam sebelumnya ~
Pria itu terus menghela nafas, sambil menatap foto istrinya yang terbingkai cantik menghiasi meja kerja di apartemen pribadinya. Ini sudah lebih dari tiga puluh hari istrinya menghilang tanpa jejak.
Terakhir jejaknya ditemukan di sebuah kamar sebuah villa terpencil di pinggiran kota. Tapi saat itu Hega hanya menemukan kalung berliontin berlian milik sang istri. Itupun di leher jenazah yang terbakar, tapi hatinya yakin jenazah itu bukan istrinya.
Hega terus menyesali keteledorannya, menggenggam erat liontin berbentuk hati di tangannya sambil tak hentinya mengusap lembut foto Moza.
Hega menghempaskan punggungnya di sandaran kursi, mendekap foto dan liontin istrinya di dadanya, wajah cantik Moza berkeliaran di pikirannya setiap kali ia memejamkan mata.
Ini terlalu menyakitkan, apalagi istrinya menghilang dalam keadaan yang kemungkinan besar tengah mengandung buah cinta mereka.
Ya Tuhan, hanya kepadamu aku berserah. Lindungilah istriku, dan jika benar ada nyawa di rahimnya, lindungilah janin di dalam kandungannya.
Entahlah sudah berapa ribu doa yang ia minta pada yang Kuasa.
Meskipun pihak yang berwajib telah menetapkan jika istrinya telah tiada Tapi Hega yakin jika istrinya masih hidup sampai detik ini.
Ketika semua pihak hampir menyerah, tidak sedikitpun Hega kehilangan harapannya.
Dirinya tak boleh kehilangan harapan untuk kembali menemukan istrinya.
Jika dia ikut menyerah, lalu bagaimana ia bisa hidup tanpa belahan jiwanya. Karena kehilangan Moza sama saja artinya dengan kehilangan separuh jiwanya.
Tidak !!! Istrinya masih hidup, Hega yakin wanita yang mungkin kini tengah mengandung benihnya itu masih bernafas dan sehat.
" Uggghhh... " Seketika perut Hega terasa seperti diaduk-aduk.
Dengan segera pria itu berlari menuju toilet meninggalkan Bara yang membawa berkas kantor untuk Hega tanda tangani sebelum keberangkatan pria itu.
" Hoeekkkk.... hoeeekkk... "
Lagi, untuk kesekian kalinya Hega merasa mual, kemudian berakhir di wastafel kamar mandi memuntahkan cairan dari mulutnya.
Lidahnya terasa pahit, dengan perlahan dibasuhnya mulutnya dengan air.
Menatap pantulan dirinya di cermin dengan frustrasi, sekelebat ingatannya mundur bagaikan scene flasback sebuah film.
" Ga, lo nggak sakit, jadi gue gak bisa bantu lebih selain ngasih obat pereda mual. Udah gue bilang ini efek kehamilan simpatik. Lo bakal terus ngalamin morning sickness dan mungkin juga ngidam. Dan gak bisa gue pastiin sampai kapan lo ngalamin ini. "
Hega hanya bisa terdiam lemah mendengar penjelasan Derka.
" Gue jadi kasihan banget liat lo menderita gini, tapi cukup menghibur juga sih secara lo kan gak pernah selemah ini. Dan wajar sih lo ngalamin efeknya, terutama jika ikatan batin diantara lo sama Moza kuat banget. Apalagi lo kan bucin akut, jadi nggak aneh sih kalo lo yang ngalamin nyidamnya istri lo. "
Penjelasan Derka membuat Hega semakin rindu sosok cantik Moza.
Bagaimana kondisi istrinya itu sekarang ? Jika mwmang ini efek kehamilan Moza. Apakah Moza juga merasakan mual dan muntah setiap pagi ? Dan mengalami ngidam seperti yang dialaminya saat ini ?
Aaaahhh, memikirkannya saja Hega semakin frustrasi. Disaat-saat seperti ini ia tidak ada disisi istrinya.
Hega bersyukur, setidaknya dengan gejala kehamilan simpatik yang dialaminya. Hega yakin jika istrinya masih dalam kondisi sehat bersama janinnya.
Mungkin ini juga adalah cara Tuhan untuk membuat dua insan manusia itu saling menguatkan. Setidaknya Hega bisa mengurangi kesulitan Moza saat harus bertahan dalam kehamilannya seorang diri, jauh dari sosok Hega sebagai suami.
Dan untuk saat ini hanya empat orang, selain Hega yang mengetahui hal tersebut.
" Tuan Muda. "
Suara Ragil Anggara menyadarkan Hega dari lamunannya. Pria itu melangkah keluar dari toilet menuju ruang tamu. Menjatuhkan bobotnya di sofa berwarna abu tua.
Hega menatap pria yang berdiri menjulang hadapannya sekilas, " Pergilah, Gara ! Aku sudah bilang kalau aku tidak ingin menerima telepon. "
" Tapi Tuan Muda, ini panggilan internasional di ponsel anda---. "
" Gara---. "
" Dari Tuan Muda Graham. " Sela Gara cepat sebelum atasannya itu menolak.
" Gara, aku sedang tidak ingin membahas bisnis. Katakan saja semuanya akan dibahas di pertemuan lusa. Pergilah ! "
" Tuan muda Graham mengatakan jika ini tentang Nona. "
...****************...