
...' Jangan terlalu percaya diri akan apa yang terjadi nanti. Karena sejatinya manusia hanya bisa berencana dan berdoa, tapi Sang Pencipta lah yang tetap punya kuasa untuk menentukan skenario hidup kita. '...
...~ Sherinanta ~...
...☆☆☆...
Mendengar pertanyaan Arka yang jelas semakin memojokkan dirinya, tenggorokan Hega terasa tercekat, pemuda itu reflek menggaruk tengkuknya, " Yah, enggak juga sih. " Hega berusaha mengelak, sembari membuang muka dan mengedarkan pandangannya ke sembarang arah.
" Tapi kenapa juga harus mengatakan kalau aku ini berbahaya ? Cih. . . Posessif mu itu juga harus ada batasnya dong Ar ! " Gerutu Hega kemudian.
" Tentu saja kau itu akan menjadi pria paling berbahaya kelak saat adik polosku ini sudah beranjak dewasa. " Arka tentu masih kekeuh mempertahankan argumennya.
Hega kembali menatap sahabatnya, memutar bola matanya jengah, " Aku memang tampan, Ar. " Sahut Hega dengan percaya diri, membuat Arka berdecih, namun tidak bisa mengelak, karena memang kenyataannya begitu.
" Tapi masa hanya karena wajahku kau melabeliku dengan sebutan pria berbahaya masa depan. Gila kau ! Berkacalah dulu sebelum mengataiku ! Bukankah kau yang berada pada urutan pertama siswa yang paling banyak bikin patah hati siswi perempuan di sekolahmu. "
Hega begitu kesal, apa sahabatnya itu tidak pernah berkaca apa ? Wajahnya kan sebelas dua belas dengannya, enak saja hanya Hega yang dilabeli berbahaya. Meskipun lebih ganteng dirinya sih. Hih, dasar narsis.
" Ya walaupun kau itu terlalu jinak jika berhadapan dengan adikmu. Cih, dasar kau kakak bucin ! " Sambung Hega dengan nada mencibir sinis.
" Diam saja kau, Ga ! Atau akan aku sumpahi kau nanti jadi bucin juga pada adikku ! " Arka semakin kesal setengah mati meladeni putra sahabat ibunya itu. Sudah gak mau bantuin bujuk adiknya, eh malah ngajak debat.
Dasar resek !!!
" Hahahha. . . Itu tidak mungkin terjadi, melihatmu bucin adikmu saja sudah sangat menggelikan. Membuatku bergidik melihatnya, mana mungkin aku begitu ?! " Hega berkelit penuh percaya diri, kemudian menjulurkan lidahnya mengejek.
Aku memang juga gemas pada adik mu, tapi tidak sampai bucin sepertimu juga kali.
Arka berdecih meremehkan, " Jangan terlalu sombong kau ! Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, Ga. "
Benar juga sih, tidak ada yang tahu apa yang direncanakan Tuhan di masa depan.
Dan entah kenapa Hega merinding membayangkan jika dirinya akan sebucin Arka pada gadis mungil yang memang tidak bisa dipungkiri jika adik sahabatnya itu memang sangat imut dan cantik untuk ukuran anak-anak.
Wajahnya yang manis dan mungil seperti boneka Barbie, dengan rambut hitam panjang dan manik mata kecoklatan. Ditambah kulit seputih susu dan pipi chubby yang sangat menggemaskan.
Masih kecil aja udah kelihatan bibit primadona nya. Sudah bisa dibayangkan akan secantik apa gadis itu kelak.
Haish, sayangnya tuh boneka barbie hidup adalah adik si bucin menyebalkan. Kalau tidak pasti sudah aku minta mama membawanya pulang untuk jadi tuan putri untukku. Dasar sialan. Eh, apa sih yang barusan aku pikirkan ?!
Lagi-lagi Hega menepis pikiran gila yang terlintas di kepalanya, tapi memang sulit sih untuk mengabaikan si cantik di pangkuan sahabatnya itu.
Jika saja tidak ada Arka, sudah pasti Hega dengan senang hati menemani si chubby menggemaskan itu.
Sayangnya Arka bukan tipikal pemuda yang suka main di luar rumah seperti kebanyakan teman-teman sekolahnya. Arka lebih senang menghabiskan waktu luangnya bersama sang adik.
Dan Hega terlalu malas untuk berurusan dengan sahabatnya yang selalu ingin jadi nomor satu dimata adik kesayangannya itu.
Jadi dengan kata lain, Hega memilih jalur aman, karena Hega adalah pecinta ketenangan. Tapi kali ini sepertinya Hega sudah berada di batas kesabarannya, sekali saja Hega ingin tahu bagaimana reaksi Arka jika dia mengungkapkan apa yang ada di hatinya. Meskipun lewat candaan semata.
Bagaimana kira-kira respon Arka, jika Hega terang-terangan mengajak sahabatnya itu berebut barbie hidup yang menjadi kesayangan keluarga Dama dan juga keluarga Saint itu.
Dan dengan tatapan datarnya Hega kembali menatap Arka, " Jika itu terjadi, ya tinggal aku wujudkan saja keinginan adikmu untuk menikah denganku. Hahaha. . . " Balas Hega santai diiringi senyum seringai menyebalkannya, seolah mengibarkan bendera peperangan.
Dan benar saja, Arka langsung mendelikkan matanya, " Mimpi saja kau ! Kalahkan dulu aku sebelum kau berani melakukannya ! Aku tidak akan menyerahkan adikku padamu. "
Hih, tuh kan ! Abang galaknya udah ngegass aja kayak herder. Hega berdecih malas menanggapi reaksi yang memang sudah bisa diprediksi olehnya.
" Dih. . . Memangnya kau anggap aku ini monster apa ? Sebegitu tidak relanya kau menikahkan adikmu denganku ?! " Protes Hega cuek.
" Lagipula dimana lagi ada calon suami sesempurna aku, huh ?! " Kelakar Hega dengan kepercayaan diri yang semakin besar saja.
Ya memang kenyataannya begitu, belum akhil baliq saja sudah banyak tuh rekan bisnis kakek dan papanya yang mengajukan diri untuk jadi calon besan keluarga ternama itu.
Siapa juga yang tidak mau punya menantu bibit unggul, yang tidak hanya punya wajah tampan tapi juga otak cerdas. Latar belakang keluarga terpandang, ditambah lagi Hega adalah pewaris tunggal kekayaan kakeknya.
" Jadi benar kau mau menikahi Momo-ku nanti saat dia sudah besar, hah ?! " Tembak Arka to the point disertai tatapan liciknya.
Lah kok malah gini ? Ini bocah mulutnya terbuat dari apaan sih ?
Hega kembali menggaruk tengkuknya karena merasa mulai tersudut lagi, " Enggak gitu juga sih ! Memangnya aku sudah gila apa menikahi gadis kecil kesayanganmu itu, hah ?! " Elaknya salah tingkah, sekaligus kesal karena merasa tak pernah menang melawan sahabatnya setiap kali mereka berdebat.
Arka menaikkan satu alisnya, dengan satu sudut bibirnya tertarik ke atas, " Memangnya kenapa dengan adikku ? Dia cantik, pintar dan aku yakin saat besar nanti dia akan tumbuh jadi gadis yang jauh lebih cantik lagi dan jadi primadona. " Sombong Arka memamerkan pesona adiknya.
" Hahaha, tetap saja aku gak mau. Bisa gila aku jika aku nekat melakukannya, kau pasti akan menceramahiku sepanjang waktu. Harus beginilah harus begitulah, Momo-ku suka inilah, Momo suka itulah. Momo tidak suka inilah, Momo tidak suka itulah. " Hega mencemooh dengan menirukan gaya bicara Arka yang cerewet jika menyangkut sang adik.
" Aku masih sayang dengan telingaku dan juga mental sehatku, Ar. Ngeri aku kalau harus punya kakak ipar sepertimu. " Imbuhnya sembari bergidik dan diselingi decakan malas.
Kalau tidak ada adikku disini, sudah aku lempar muka mu itu dengan sandalku. Umpat Arka dengan tatapan mata horornya.
... ------------------------------...