FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 29 • Menaklukkan Istri Cantik



...' Bahagia itu sederhana, sesederhana kala melihat orang yang kita cintai tersenyum bahagia. Jadi teruslah tersenyum, karena senyum mu adalah sumber bahagia bagiku. '...


...~ Hega Airsyana ~...


...☆☆☆...


Sepertinya Hega sadar jika sudah begini, istrinya tidak akan menyerah dan terus mendesaknya sampai gadis itu mendapatkan jawaban yang dapat memuaskan rasa ingin tahunya.


Hega jadi salut pada Arka, sahabatnya itu dulu yang selalu tanpa lelah meladeni setiap pertanyaan Moza kecil dengan penuh kesabaran dan kelembutan.


Mungkin dulu jika Hega berada dalam posisi Arka dan memiliki adik secerewet Moza, sepertinya Hega tidak akan sanggup sesabar sahabatnya itu.


Tapi kali ini kan beda, Hega sudah terlanjur bucin istrinya jadi ya harus disabar-sabarin lah.


Untung sayang. Batinnya kemudian.


Dan menyerah sudah Hega jika sang istri sedang dalam mode peka maksimum seperti ini. Jika ia terus berbohong bisa-bisa ada gencatan senjata sebelum malam pertama, akh sialnya malam pertama mereka memang sudah terlewat begitu saja tanpa terjadi hal iya iya yang diinginkannya.


Tapi Hega sudah bertekad tidak akan gagal menghabisi istri cantiknya setelah perhelatan pesta resepsi selesai diselenggarakan nanti malam.


Dan rencananya itu tidak boleh terancam gagal hanya karena istrinya ngambek karena ia nekat terus berbohong saat ini. 


Bisa kacau dan bakal sakit kepala semalaman Hega kalau sampai hal itu benar-benar terjadi.


Tidak ! Ayo taklukkan istri cantikmu sekarang juga sebelum keluar tanduk di kepalanya. Bahaya !!!


Batin Hega sembari menimbang-nimbang apakah harus berbohong atau jujur saja. Otak encer Hega dipaksa kembali berpikir dengan cepat untuk menemukan sesuatu yang bisa kembali mengalihkan perhatian sang istri sepenuhnya.


" Ayo, di kamar saja yuk bicaranya ! " Tersenyum nakal dan meletakkan kedua tangannya di atas pundak istrinya, kemudian mendorong tubuh mungil Moza menuju kamar mereka.


" Iiih. . . Ngapain harus di kamar sih ? Disini kan juga bisa, kak. " Menghentikan langkahnya, mengedikkan bahunya beberapa kali agar tangan suaminya terlepas dari bahunya, tapi tidak berhasil. Kemudian ia menoleh dan menatap galak suami tampannya yang terlihat sedang tersenyum mencurigakan di belakangnya.


" Ngapain ya kalau pengantin baru di kamar ? " Berbisik di telinga sang istri dan menaik turunkan satu alisnya.


Blush, panas dingin sudah Moza jadinya kalo suaminya sudah mode nakal seperti ini. Mana bisa menolak pesona sang suami yang selalu sukses bikin melting hati Moza.


Gadis itu berbalik, " Kakak iiih. . . Mesumnya udah terang-terangan nih. " Memukul lengan Hega.


" Hahahaha. . . Mesum sama istri sendiri gak dosa kan. " Hega tertawa renyah dan menyambar tubuh istrinya memasuki kamar mereka yang masih terbuka kemudian menutup pintu dengan kakinya.


" Kakak, lepasin ! " Moza memberontak kecil dalam rengkuhan sang suami.


" Tidak mau, nanti kamu kabur. " Balas Hega malah menghimpit tubuh istrinya di dinding.


Glek. . .


Ini masih pagi loh, masa jantung aku udah diajak olahraga lagi kayak gini. Ya ampun.


Moza membuang muka, menghindar dari tatapan mata suaminya yang membuat dadanya derdebar, " Kak, bilang dulu kenapa bunda tadi nangis ? " Mendorong dada Hega yang wajahnya semakin mendekat ke wajahnya.


Kalau dibiarkan, bisa-bisa dirinya terhanyut dalam pesona suaminya dan gagal mendapatkan jawaban dari keingintahuannya yang membuat hatinya entah mengapa merasa tidak tenang.


" Eum, itu. " Hega melonggarkan kunciannya, menggaruk tengkuknya bingung memilih kalimat yang tepat untuk mulai bercerita.


Hega memutuskan mengatakan yang sebenarnya, meskipun tidak secara keseluruhan.


" Bunda mungkin cuma lagi kangen sama anak sulungnya. " Ujarnya kemudian.


Moza terdiam sejenak kemudian kembali menatap mata suaminya, mencari kebohongan disana, tapi nihil.


" Hem, sumpah deh aku nggak bohong, sayang. " Mengangkat jarinya membentuk huruf V, " Kalau aku bohong, aku rela bibir aku disamber sama bibir kamu deh, suer. " Imbuhnya dengan terdengar tanpa dosa dengan jari kembali membentuk huruf V.


" Kakak ihhh. . . Jangan mulai lagi deh ngeselinnya." Hega lagi-lagi nyengir saat sang istri mengeluarkan jurus cemberut imutnya ditambah tangan mungil Moza yang mendarat di bahu kanannya.


Pengen banget dia nyamber beneran itu bibir imut istrinya yang lagi manyun lucu. Kayaknya tuh bibir emang lagi kodein buat dicium deh sama Hega.


" Hehe. . . Bener kok, sayang. Aku gak bohong. Tadi itu aku yang tiba-tiba ingin masuk ke kamar kakakmu, kamar aku juga kan dulu. " Ujarnya cepat, Moza manggut-manggut.


" Terus ada bunda gitu datang, tiba-tiba nyusulin aku dan kita cuma ngobrol sebentar. Udah gitu aja kok. " Jelasnya sembari mengusap bahunya yang tadi dipukul sang istri, kemudian kembali mengunci tubuh istrinya ke dinding dan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.


Niatnya sih mau beneran cium bibir mungil gemesin itu, tapi apa daya, baru juga beberapa senti Hega mendekat, istrinya kembali bersuara.


" Terus ? " Sepertinya masih belum puas gadis itu dengan jawaban sang suami.


Astaga, bisa gak sih berhenti interogasinya.


Hega mendesah kecil dan memijat keningnya frustrasi, " Apanya yang terus sih, yank ? Kita udah mau berangkat ke bandara loh, belum juga harus sarapan, bisa telat kita kalo mau nerusin yang semalem. Auwh. . . Aduuh. . . " Goda Hega dengan nada dibuat sangat manja, siapa tahu istrinya itu luluh melihat ekspresi manjanya yang imut-imut itu.


Tapi bukannya membuat istrinya luluh, justru tingkahnya itu berakhir mendapat cubitan maut di perut sixpack nya dan membuat si empunya meringis kecil dan mengaduh kesakitan.


" Kakaak, bukan itu ihh. . . Kenapa pikirannya kesana mulu sih ? " Moza memekik dan menatap tajam sang suami yang kumat lagi jahilnya, ditambah jahilnya sekarang tuh ada bumbu mesumnya.


Jadi bikin hati Moza seneng kan dimesumin suami pagi-pagi, ehh kesel maksudnya. 🙄🙄


Hega meringis lagi, " Namanya juga pengantin baru, yank. Pasti yang muter-muter di kepala ya gak jauh-jauh dari itu lah. " Pintar sekali Hega berkelit membuat Moza mulai geram. Tapi gemas juga dengan suaminya yang ampun banget deh jago ngelesnya.


Moza jadi beneran penasaran ingin tahu, itu mulut jangan-jangan beneran dipasang susuk. Dan kalau iya, pasang susuknya di dukun mana sih. Jago banget bikin tubuh Moza berdesir.


" Hish, maksud aku tuh kenapa bunda nangis sampai matanya memerah gitu, agak bengkak lagi ? Pasti ada apa-apa kan ?! "


Huft, Hega menghela nafas dalam. Sudahlah, menyerah saja daripada panjang urusannya. Begitu pikirnya.


Ia memainkan jemarinya di rambut sang istri, " Tadi itu aku lagi liatin foto Arka, ya mungkin bunda juga tiba-tiba jadi keingat kenangan masa lalu aja, sayang. " Ujarnya lembut dan hati-hati, akhirnya kali ini Hega memilih berterus terang, ya memang itulah kenyataanya, meskipun Hega tidak menceritakan secara terperinci.


Berbeda dengan memori yang terekam di ingatan Hega tadi, yaitu tentang kebersamaan mereka di masa lalu. Justru yang langsung terlintas di kepala Moza adalah insiden kecelakaan yang merenggut nyawa kakaknya.


Sejenak kepala gadis itu terasa berdenyut, tapi Moza berusaha menyembunyikannya.


Hanya saja Hega masih bisa melihat ekspresi wajah istrinya yang seketika berubah pias, entahlah apa gerangan yang sedang tersirat di pikiran gadis itu.


Hega yang tidak ingin sang istri ikut-ikutan bersedih seperti sang bunda, dengan sigap menyambar kembali pinggang istrinya.


...--------------------...


...Masih suka gak liat mereka berdua ?...


...Apa udah bosen ?...


...BTW Tanggal Muda nih....


...Kasih bang Hega kembang 🌹🌹 dong 😘...