
^^^' Aku merasa sempurna sejak kehadiranmu, dan aku mulai meyakini jika aku memang tercipta dari tulang rusukmu. '^^^
^^^~ Moza Artana ~^^^
' Kamu memang tulang rusukku, karena satu hal yang harus kamu tahu, seolah selalu ada bagian diriku yang remuk saat aku jauh darimu. '
~ Hega Airsyana ~
...☆☆☆...
Akhirnya setelah proses persiapan yang panjang dan cukup melelahkan, Moza keluar dari kamar utama diapit oleh kedua ibunya.
" Ekhem. . . " Anggara hendak memberitahukan keberadaan istri tuan mudanya itu, tapi dasar aja Hega lagi sensian karena tidak melihat istrinya lebih dari satu delapan jam, otomatis langsung nge-gass lah dia.
" Apa sih kau tiba-tiba berdehem mengagetkan begitu ? "
Hega melirik Anggara kesal, lantaran ternyata lima menit yang dikatakan MOU tadi dusta adanya, yang sebenarnya Hega harus menunggu selama 15 menit lewat 20 detik.
Kurang ajar kan mereka sudah berani membohongi Presdir Jutek itu. Belum tahu rasanya dikirim ke Afrika atau Kutub Utara ya ?! Atau mereka mungkin mau coba ?
Memangnya kalau dikirim kesana mereka mau kerja apa coba ? Merias gajah atau pinguin gitu ?
Jika saja yang ditunggunya adalah klien atau rekan bisnis, maka sudah dipastikan Hega sudah menghilang tanpa jejak setelah batas waktu toleransi 15 menitnya yang sakral itu terlewati beberapa detik yang lalu.
Tapi yang ditunggu ini kan bidadari hatinya, mana mungkin Hega akan sekejam itu dengan meninggalkan istrinya menuju area resepsi, dan membiarkan sang istri datang ke sana seorang diri. Kan tidak mungkin, apa kata para tamu undangan nanti.
" Ekhem. . . "
" Gara, kau mau aku makin kesal dan aka-- "
" Maaf yang barusan itu bukan saya, Tuan Muda. " Sahut Anggara karena sepertinya majikannya tadi sedang hilang fokus hingga tidak bisa membedakan suara deheman pertama dan kedua yang jelas-jelas berbeda.
" Kamu itu, marah-marah melulu sih ? " Hega sontak menoleh ke sumber suara, dan langsung bangkit dari sofa begitu melihat tidak hanya maminya yang tengah berdiri di sana.
" Mami-- " Entahlah, tiba-tiba pria itu seolah tidak bisa berkata-kata.
" How ? Perfect surprise right ? [ Bagaimana ? Kejutan yang sempurna, kan ?! ] "
" More than perfect, it's amazing, Mom. [ Lebih dari sempurna, ini menakjubkan, Mih ] " Semua orang yang medengarnya tersenyum, si objek pujian justru tersipu malu.
Mata elang Hega bahkan tidak berpaling barang sedetik pun dari sosok sang istri.
Istrinya itu nampak begitu anggun dengan balutan gaun berbahan chiffon dikombinasi dengan lace berwarna putih, dengan detail flower tiga dimensi.
Untuk rambut panjang Moza sengaja tidak disanggul seperti saat akad nikah. Melainkan ditata ala Elsa " Frozen " dengan ujung dibuat menjuntai curly. Sebuah headpiece simple permata, dan tiara kecil menghiasi pucuk kepalanya.
Sebuah tiara bertahtakan berlian satu set dengan anting dan kalung hadiah dari sang mami mertua.
Polesan make up natural namun begitu menawan. Membuat Moza begitu sempurna, bahkan kata cantik saja tidak cukup untuk menggambarkan visual gadis itu saat ini saat ini.
Bukan berarti sebelumnya gadis itu tidak cantik, sungguh bukan itu maksudnya. Hanya saja di hadapannya saat ini seperti berdiri seseorang yang terlihat berbeda, ahh entahlah, Hega tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata.
Pokoknya istrinya itu amat sangat luar biasa sekali hari ini, begitu bersinar dan mengagumkan.
" Sampai kapan kamu mau bengong begitu, sayang ? " Goda Bunda Ayu dan langsung menyadarkan Hega dari kekagumannya, " Ayo bawa istrimu turun ! "
" Ah, iya Bun. "
Hega mengulurkan tangannya dan langsunh disambut oleh sang istri, kemudian Hega melingkarkan tangan istrinya di lengan kanannya.
" You're so beautiful, baby. [ Kamu sangat cantik, yank. ] " Bisik Hega ditengah perjalanannya menuju area pesta.
Moza melirik gugup suaminya, " Terima kasih, kak. Kakak juga sangat tampan. "
" Kalau itu aku tahu, tapi tetap aku harus berterima kasih untuk pujian dari istriku. " Celetuk Hega enteng.
" Jangan cemberut begitu ! Nanti aku jadi tergoda untuk menciummu. "
" Kakaak--- " Kesal Moza tapi sekuat tenaga gadis itu menahan diri agar tidak berteriak seperti biasanya, giginya sampai bergemerutuk menahan geram.
Hega malah tergelak, " Sorry. " Istrinya tidak tahu saja kalau jahilnya Hega tadi hanya Ingin membantu sang istri meredakan kegugupannya. Dan berhasil, terlihat ekspresi wajah istrinya mulai rileks.
Keduanya menuju area resepsi, memulai acara dengan kirab pengantin, menuju pelaminan bernuansa senada dengan gaun pengantin wanita. Acara kirab yang diiringi lantunan lagu oleh seorang penyanyi terkenal.
Lirik demi lirik Beutifull in White yang dipopulerkan oleh Shane Fillan semakin membuat suasana terkesan romantis dan menyentuh.
Perfect Couple [ Pasangan Sempurna ].
Mungkin itulah dua kata yang terlintas kala sepasang mempelai berjalan disepanjang red carpet menuju panggung pelaminan.
Sedangkan keluarga dan para tamu sudah mulai berdatangan dan menempati kursi tamu di setiap meja sesuai dengan kartu undangan mereka, yang digolongkan berdasarkan jenis tamu, yaitu keluarga, para sahabat, pejabat penting, dan kolega bisnis.
" Kak, aku masih gugup. " Moza mencengkeram lengan suaminya tatkala mereka sudah sampai di pelaminan. Disaksikan ratusan pasang mata membuat gadis itu kembali gugup.
Hega menatap manik mata kecoklatan istrinya, mengelus pelan punggung tangan istrinya yang melingkar di lengannya, " Rileks, ada aku. " Ujarnya mencoba menyalurkan ketenangan untuk sang istri, " Trust me. [ Percaya padaku ] " Imbuhnya dan dijawab anggukan oleh Moza.
Acara berlanjut pada pemberian selamat dari beberapa tamu yang memang ingin mengucapkan selamat secara langsung pada mempelai di pelaminan. Tak lupa juga sesi pengambilan foto.
Tentu saja banyak yang berlomba-lomba untuk bisa berinteraksi langsung dengan Presdir Muda yang cukup berpengaruh itu. Dan mendapat keberuntungan untuk hadir di pernikahan yang kabarnya dengan undangan terbatas itu sunggu luar biasa bagi beberapa orang.
Kapan lagi mereka punya kesempatan sebaik ini. Siapa tahu dengan moment ini mereka bisa memiliki kesempatan untuk meningkatkan kerjasama dengan pengusaha yang cukup selektif dalam memilih rekan bisnis itu.
" Selamat sekali lagi ya buat kalian. "
Barisan biang rusuh nih, batin Hega tampak jelas memaksakan senyumnya.
" Makasih, Bang Bara dan Kak Aliza. " Moza tentu saja menerima dengan sukacita menerima ucapan selamat itu.
" Gimana ? Udah bobol gawang belom ? " Setengah berbisik sambil memberikan pelukan selamat Bara memulai serangan, mumpung kekasihnya-Aliza lagi asyik cipika cipiki sama istri sahabat mereka itu.
" Ck, otak lo kagak bisa mikir selain gituan, Bar ?! " Desis Hega lirih, Bara malah terkekeh, dapat dipastikan misi malam pertama sahabatnya gagal total.
" Tenang aja, Ga. Masih ada waktu. Ato perlu gue kasih kursus kilat buat lo. "
" Najis. " Sewot Hega membuat Bara kembali terkekeh.
" Kalian bahas apaan sampe kayak gitu ? " Pertanyaan Aliza membuat Bara bingung, " Satunya ketawa satunya kayak muka asem gitu. "
Gawat, Aliza curiga nih, bisa dicubit lagi nih gue, Batin Bara.
" Enggak kok sayang, ini loh--- "
" Al, boleh gak bawa pacar lo ini minggat sekarang juga ? Muka gue asem karena liat dia. " Sahut Hega datar.
Giliran Aliza yang terkekeh, sepertinya Aliza tahu jika kekasihnya itu kembali membuat ulah yang bikin Hega kesal, " Oke, btw sekali lagi congratz ya, Ga. "
" Thanks. " Hega menerima ucapan selamat Aliza dengan senyuman, berbeda dengan saat tadi menganggapi Bara.
Ini baru Bara, belum Derka dan Julian, yang siap memberondong Hega dan Moza dengan celetukan absurd mereka. Itulah kenapa Hega tadi sempat menyebut si barisan biang rusuh. Dan benar saja, yang mereka bahas ya sama saja dengan Bara. Bikin cenut-cenut kepala atas bawah Hega saja, sialan emang.
...--------------------...
✏ Kalo ada yang tanya kenapa aku lagi rajin up ?
Jawabannya adalah karena aku berharap banyak yang komen dan nyawer 🌹
Tapi apa daya pembacaku aliran Afgan semua "SADIS", yang duet sama aliran Mbak Rosa " TEGA"