
Bara mengangguk dan melanjutkan meneguk minuman kalengnya. Emang bener kata cak lontong, 'nyatanya nyegerin'.
" Yakin bang ?! Syailendra yang Menteri sekaligus pensiunan TNI yang jendral itu ? " Julian memastikan.
" Iyalah, siapa lagi coba Seno Aji yang nama belakangnya Syailendra. "
" Wah, hebat juga ya Momo bisa bikin anak Menteri klepek-klepek sama dia. "
Bara mengangguk setuju. " Coba waktu itu tuh anak bawanya bukan mawar kuning, tapi mawar merah, satu truk sekalian. Widiiih. . . Kasian tuh anak menteri dari goodboy malah sekarang jadi sadboy. " Ujar Bara dengan nada simpati.
" Tidak ada jaminan jika dia membawa mawar merah dia akan diterima, bahkan dia mau bawa satu truk atau satu kontainer bunga mawar merah sekalipun, saya yakin dia akan tetap ditolak. " Sela Hega dengan nada datar, bahkan pria itu mengatakannya tanpa melihat lawan bicaranya dan malah tetap fokus pada layar macbook di atas meja kerjanya.
" Sok tahu lo, Ga. " Bara meledek, tapu Hega tetap cuek, hanya melirik sekilas dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Julian langsung teringat sesuatu." Ah, iya juga sih, Momo kan gak suka bunga mawar. Tuh anak sukanya tulip putih, ya kan Bang Hega ? " Celetuknya kemudian, dan Hega mengangguk membenarkan.
" Jadi kalau waktu itu si mawar kuning itu nembak bawa bunga tulip bakal diterima gitu ? " Bara masih tak mau menyerah, niatnya sih mau bikin jengkel sahabat juteknya.
" Tidak akan ! " Tandas Hega tegas, masih tetap dengan pandangan lurus pada layar benda persegi panjang di depannya.
" Lah tadi Julian bilang Moza sukanya bunga tulip, makanya gak ngefek waktu dibawain mawar seiket gede. Jadi ada kemungkinan dong kalau bawa nya tulip tuh anak bakal diterima. " Kesal Bara tak terima.
Hega langsung menghentikan aktivitas jarinya yang menari di atas keyboard. Menyandarkan punggung di sandaran kursi dan kedua tangan bersedekap di dada.
Netra di balik kacamata itu menatap lurus dua manusia yang ada di sofa.
" Dia ditolak bukan karena istri gue gak suka mawar ataupun karena dia lebih suka tulip, Bar. "
" Lah terus ??? "
Dua manusia yang sedang asik ngemil dan minum soda itu sama-sama menunggu jawaban Hega.
" Ya jelas karena istri gue suka dan cintanya cuma sama gue, Bar. "
Uhukkk. . .
Keduanya langsung terbatuk, Julian yang memang tengah mengunyah nastar pasti keselek kue berisi selai nanas itu.
Sedangkan Bara yang tidak sedang memakan atau meminum apapun, pria itu ikut terbatuk sepertinya karena tersedak angin karena terlalu syok ternyata sahabatnya bisa narsis tingkat dewa kalau sudah urusannya tentang istri tercintanya.
Bara langsung memutar bola matanya jengah. " Heleh. . . mulai narsisnya. "
" Denger ya Bar ! Mau tuh si mawar kuning reka ulang kejadian dan bawa satu truk tulip putih kesukaan istri gue, dia akan tetap ditolak sama istri gue, Bar. "
" Serah lo dah, tuan narsis bucin istri. " Bara pasrah dan melengos malas. Sedangkan sang buaya junior , Julian malah tertawa ngakak.
" Wkwkwkk. . . "
" Ini lagi, ketawa ngakak gak ada akhlak. . . " Masih merasa kesal, Bara melampiaskannya pada Julian.
" Sumpah dah, Bang Hega gak ada lawan dah kalo udah bahas urusan Momo. Mantap. " Balas Julian disela tawanya, tak lupa mengangkat dua jempol tangannya ke arah suami sahabatnya.
" Iya juga sih, mau anak Gubernur atau anak Menteri, bahkan anak Presiden sekalipun mana bisa ngalahin pesonanya Tuan Muda kita yang satu ini. " Entahlah, nada bicara Bara terdengar antara memuji atau meledek.
Dan polosnya Julian malah ikut mengangguk-angguk setuju.
" Secara boss besar kita ini kan The National Husband yang berada dalam urutan pertama pria paling diinginkan untuk jadi suami. Hahaha. . . " Sepertinya tidak ada bedanya antara pujian dan ledekan jika keluarnya dari mulut minim akhlak seorang Bara.
Hega hanya menggeleng dan berdecak, memilih cuek dan mengabaikan celotehan Bara yang tak berfaedah.
Hega malah teringat ucapan Julian kalau si Kadiv Keuangan bernama Geovano Syailendra itu pernah atau mungkin masih ada rasa pada istrinya. Dan Hega baru sadar kalau sekarang istrinya berada di divisi yang sama dengan si yellow rose.
Sial ! Enak aja dia bisa liatih bini gue tiap saat. Hega mengumpat dalam hati.
" Julian, minta Anita membawa istri saya kesini ! "
" Hehh ??? " Julian dan Bara sontak terkesiap, kedua pria yang tengah asyik ngelantur kesana kemari sambil ngemil nastar yang nyaris tinggal setengah toples itu sontak langsung menoleh ke arah pria yang masih anteng di kursi kebesarannya.
Keduanya heran kenapa tiba-tiba Presdir Kutub itu mau ketemu istrinya.
Julian langsung ngacir melaksanakan titah sang baginda.
Di lantai lain, ruangan divisi keuangan.
Seorang gadis yang sedari tadi sibuk menatap layar komputer di balik kubikel meja kerjanya entah kenapa beberapa kali bersin-bersin tanpa sebab.
" Hatciuu. . . "
" Kenapa, Mo ? Sakit ? "
Moza menggeleng, dan mengusap hidungnya dengan tisu.
" Nggak tahu, Ami, tiba-tiba hidung aku gatal ya. "
" Mau flu kali lo, Mo ? "
" Sepertinya enggak. "
" Ahh, atau lagi ada yang ngomongin lo. "
Moza mengernyit, mitos dari mana itu ? Sudahlah tidak perlu diperpanjang, Moza kembali memilih melanjutkan pekerjaannya. Tapi lagi-lagi terpaksa terjeda saat seorang wanita tiba-tiba muncul di depan kubikelnya.
" Nyo. . . Maaf, maksud saya Nona Moza. " Ralat Anita saat mendengar deheman lirih dari istri atasannya itu.
" Ah, mbak Anita, ada yang bisa saya bantu ? " Tanya Moza sopan berusaha bersikap senatural mungkin, bagaimanapun dalam segi susunan karyawan, posisi Anita lebih tinggi darinya.
" Presdir meminta anda menemui beliau di ruangannya. " Ucap Anita setengah berbisik.
Manik mata Moza langsung membola. " Apah ?! " Setengah terpekik, kemudian reflek membekap mulutnya menoleh ke kanan dan ke kiri.
Salah satu teman satu team nya, Alvin menoleh, sepertinya pemuda itu mendengar ucapan Anita.
" Ah, maksud saya ada keperluan apa ya Presdir memanggil saya ? Saya hanya karyawan magang loh, mungkin mbak Anita salah. " Menahan kesal, inginnya langsung menolak tapi masa mahasiswa magang menolak perintah atasan.
" Tidak, memang benar Nona yang dipanggil. Dan untuk alasannya, anda bisa langsung menanyakannya pada beliau. "
Moza lansung keluar dari kubikelnya, mendekati Anita dan sedikit menarik lengan wanita itu agar sedikit menjauh. " Mbak An, ada apa kak Hega memintaku ke ruangannya ? Ini bahkan belum jam makan siang loh. " Tanyanya lagi kali ini berbisik di telinga Anita sambil mengamati sekitarnya khawatir ada yang mendengarnya.
" Saya sungguh tidak tahu, tadi Asisten Julian yang meminta saya menjemput anda, katanya itu perintah langsung dari Presdir. "
Gadis itu mendesah kasar sambil memijat pangkal hidungnya. " Huuuh. . . Apa lagi sih maunya ? Ini kan kantor, bukan rumah. Memanggil orang seenak jidatnya tanpa alasan yang jelas. Ini namanya penyalahgunaan kekuasaan. " Menggerutu pelan namun masih tetap bisa didengar wanita di hadapannya yang terlihat menahan tawa mendengar ocehan penuh kekesalan dari istri bossnya itu.
" Mari saya antar ! "
Moza meringis kecil saat sadar jika sekretaris suaminya itu sempat mendengar gerutuannya, " Ah, mbak An duluan saja. Saya mau ke toilet dulu sebentar. "
" Baiklah, saya duluan. "
" Eum. . . " Mengangguk.
***
Semoga belum bosan ya sayang, yang tanya kapan Mbak Moza hamil, please sabar.
Chapter nya ditulis sesuai outline yang udah ada, kalau mau dipercepat otomatis harus memotong atau melewati beberapa chapter yang nantinya membuat cerita tidak nyambung.
InsyAllah tak akan sampai ratusan chapter kok. Tidak akan melebihi jumlah chapter PJJDS.
Thanks yang masih setia. Sarangheyo ❤
FYI : Yang bingung kenapa Bang Hega suka labil kadang 'aku', kadang 'gue', kadang 'saya' \= udah ada penjelasannya di Session 1 ya.
Intinya cuma sama Bara aja Hega ber 'lo gue', kalau sama rekan kerja pasti pakai kata 'saya', dan 'aku' digunakan saat bersama keluarga.