FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 91 • I Want You Now, Baby



Moza mengerjapkan matanya beberapa kali saat menyadari dugaannya ternyata salah besar. Jantungnya langsung seperti akan merosot dari penyangganya.


Suaminya mulai tak terkendali, kedua tangan Moza yang berada di belakang kepala suaminya seketika kaku. Jemari yang sedari tadi bermain dan mengelus lembut rambut suaminya itu langsung terhenti aktifitasnya.


Sedangkan Hega sendiri sudah seperti hilang akal. Harum tubuh istrinya yang terasa begitu manis menusuk indera penciuman Hega hingga aroma itu terasa terus-menerus mengocok jiwanya. Membangkitkan sesuatu yang dipastikan akan membuatnya menginginkan lebih dari sekedar pelukan atau ciuman.


Pria yang sedari tadi terus mencoba menahan diri, gagal juga pada akhirnya, pertahanannya runtuh saat gairahnya muncul seketika.


" Sayang, aku mau, lagi. " Suara Hega memberat disela mengendus aroma manis di lekukan leher jenjang istrinya.


Glek. . .


Moza akhirnya tersadar akan maksud sang suami tatkala ia merasakan sesuatu yang lunak dan basah menyentuh area sensitif di bawah dan belakang telinganya. Moza memejamkan kedua matanya saat dirasakannya kecupan-kecupan basah disekitar area lehernya.


Kedua tangannya meremat rambut suaminya, " Kak, emmph... Tadih mah-lamh kan sudahh. " Dadanya naik turun merasai rangsangan demi rangsangan yang diberikan suaminya.


Hega mendongak, melirik kilas wajah cantik istrinya, " Eumhphh, lagi ya, sayang, please. " Bujuknya mesra seraya melanjutkan aktivitasnya.


" Kak, ahhh... " Ya ampun, suaminya sudah berubah jadi vampir, pria itu menggigit-gigit kecil lehernya, sesekali menghisap kuat kulit lehernya.


Moza berusaha bertahan pada akal sehatnya, bukan tak menginginkan suaminya Tetapi sungguh tubuhnya masih terasa remuk, tenaganya belum kembali sepenuhnya setelah percintaan mereka semalam.


Ahhh, bahkan ini belum 12 jam setelah ritual panas semalam, bisa-bisanya suaminya kembali berniat membawanya melayang ke surga dunia.


Kedua tangan Moza beralih ke bahu suaminya, berniat menghentikan kegiatan suaminya yang terus berusaha memancing hasratnya.


" Kak, a-akuh...Ssshhh, akhhh. " Lagi, sebuah kecupan basah mendadak di bawah telinganya, bahkan Moza merasakan jilatan basah di salah satu cuping telinganya.


Jika terus seperti ini bagaimana mungkin dirinya bisa menolak. Moza menggigit bibir bawahnya, menahan agar tak lagi keluar ******* dari bibirnya.


Hega tahu jika istrinya sudah terpancing oleh rangsangan dan cumbuannya, meskipun gadis itu terus menahan diri.


Tak mau menyerah di tengah perjuangan, Hega menghentikan sejenak aktivitasnya, menatap lekat manik mata istrinya.


" Lihatlah, sayang. Tiap berdekatan dengan kamu, dia selalu buat ulah. " Hega menarik lembut tangan istrinya, mengarahkannya pada bagian bawah tubuhnya.


Sontak membuat Moza terkesiap menyadari sesuatu yang begitu keras tersentuh oleh jemarinya.


" I love you, sayang. I want you now, baby. And i can't hold it any longer. Can I ? Please. " Suara pria itu semakin parau, mata elangnya menggelap tertutup kabut gairah yang mulai membara.


[ Aku menginginkanmu sekarang, sayang. Dan aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Bolehkah ? Aku mohon. ]


Moza menelan salivanya susah payah, gadis itu melipat bibirnya kedalam dan membasahinya dengan lidahnya sendiri. Sudah tidak mungkin lagi baginya untuk menolak, karena sejujurnya Moza juga sudah jatuh dalam pesona suaminya.


Hega tersenyum smirk tipis tanda kemenangan, melepas rengkuhannya kala merasakan anggukan persetujuan dari istrinya. Netra hitamnya yang semakin sayu menatap lekat manik mata kecoklatan istrinya yang juga mulai redup oleh gairah yang sama dengan dirinya.


Dengan perlahan jemarinya terulur, mengusap bibir istrinya. Sepersekian detik kemudian berpindah ke belakang kepala istrinya. Menarik perlahan hingga wajah keduanya semakin mendekat tanpa jarak.


Tak menunggu lama, bibir merah Hega sudah berlabuh pada tepian bibir mungil Moza. Perlahan semakin ke tengah lalu ******* perlahan.


Moza kembali memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan suaminya. Kedua tangannya melingkar di leher suaminya, sesekali meremat rambut belakang suaminya. Gadis itu semakin terhanyut saat lidahnya dimainkan dengan begitu ahli oleh sang suami.


Kepalanya mendadak pening, nafasnya mulai tak beraturan, jemari kakinya menekuk menahan sesuatu yang seolah membakar dirinya.


Moza akhirnya memilih pasrah sepenuhnya, membiarkan saja tangan besar suaminya yang mulai merayap ke dalam dress plisketnya yang sudah tersingkap hampir sebatas pangkal paha. Menerima dengan sukacita kemana suaminya akan membawa dirinya.


Hega masih terus menikmati manisnya bibir istrinya sembari jemarinya terus menjelajahi setiap inci kulit halus istrinya. Memberi sentuhan demi sentuhan memabukkan yang tak akan pernah bisa ditolak oleh gadisnya.


Dengan perlahan, Hega menarik resleting dress tanpa lengan istrinya, kemudian melepas sejenak pagutan bibirnya dan menarik kain bermotif bunga sakura itu ke atas melewati kepala istrinya hingga terlepas. Melempar dress tanpa lengan itu sembarangan. Hingga hanya tersisa dua kain yang menutupi keindahan tubuh istrinya.


Hega menatap lekat manik mata istrinya, tatapannya begitu tajam bagaikan elang yang siap memangsa buruannya.


Ditatap sedemikian rupa, jantung Moza mencelos seketika, dadanya masih naik turun tak beraturan. Tapi sebelum gadis itu berhasil menormalkan kembali deru nafasnya, bibir tipis merahnya yang sudah sedikit membengkak kembali ditaklukkan oleh suaminya.


Usapan demi usapan lembut di sekujur tubuhnya, membuat Moza tak kuasa lagi bertahan. Gadis itu menyerah kalah atas kuasa suaminya.


Memasrahkan dirinya sepenuhnya.


" Kak... eughhh. " Nafas Moza semakin berat dan tersengal mendapati serangan demi serangan yang begitu memabukkan.


Entah sejak kapan tubuhnya sudah dalam terbaring di atas ranjang tepat berada di bawah kuasa suaminya.


" Hmmm.... " Sedangkan Hega hanya berdehem terlalu asik melanjutkan keterampilan tangan dan bibirnya yang terus menguasai setiap inci tubuh seputih susu istrinya yang begitu menggoda.


Untuk kesekian kalinya, pria itu berhasil membuat istrinya menyerah kalah atas permainannya. Gadis itu dibuat merintih dan mendesah hebat dibawah kuasa permainan Hega.


Moza bahkan beberapa kali menjerit atas kelakuan nakal suaminya. Hingga keduanya terlempar menuju puncak nirwana yang membuat keduanya kini terlelap dalam peraduan cinta setelah permainan hebat Hega yang berhasil membuat istrinya tak berdaya di bawah kendalinya.



" Ssshhh... " Moza menepuk kedua pipinya sendiri dan memijat pelipisnya.


Gadis yang duduk di hadapannya terjengkit kaget mendengar suara aneh sahabatnya.


" Heh, kenapa lo, Mo ? "


" Hah ? Apa ? " Moza mengerjap seperti orang linglung.


Kening Amira tertekuk heran melihat bulir keringat membasahi pelipis sahabatnya, padahal suhu ruangan cukup dingin oleh pemdingin udara.


" Wajah lo merah gitu, lo sakit ? Terus kenapa lo tepok pipi lo sendiri tadi ? "


Moza meringis, " Ah, enggak kok. Aku tiba-tiba ngantuk, iya ngantuk, biar ilang gitu ngantuknya tadi. "


" Ngantuk ya tidur aja lah, Mo. Jangan dipaksain, istirahat dulu, lanjut entar lagi. "


" Em, nanggung, dikit lagi. "


" Ya udah, terserah lo. Mending ntar kalo bang Hega jemput, lo langsung pulang aja deh, biar gue yang disini.


Moza hanya mengangguk setuju, mendengar nama suaminya disebut wajahnya kembali bersemu. Satu kata, malu.


Dasar gila, bisa-bisanya aku memikirkan hal begitu siang bolong begini.