
...' Kata orang wajah tampan tidak cukup untuk membuat seorang wanita bahagia. Tapi maaf, saya punya banyak modal untuk membahagiakan istri saya....
...Cinta, Harta, Tahta dan Kuasa....
...Meskipun tentu saja modal terbesar saya adalah ketampanan saya. '...
...~ Hega Airsyana ~...
...▪ ▪ ▪...
" Kak, aku ngantuk. " Gumam Moza dengan sudara yang sanfat pelan, diikuti gerakan perlahan kepala gadis itu yang jatuh tertidur di atas lututnya dan limbung ke kanan menyandar di sofa.
Hega mematikan hairdryer nya, mengintip wajah sang istri yang sudah memejamkan mata, " Ya ampun, cepat sekali dia sudah tertidur. " Gemas sekali melihat wajah polos sang istri yang sudah terlelap di sandaran sofa.
Tak tega sebenarnya membiarkan istrinya tidur dengan posisi seperri itu, tapi Hega harus membuat rambut istrinya benar-benar kering terlebih dahulu sebelum memindahkan tubuh istrinya ke posisi yang lebih nyaman.
Setelah beberapa menit, akhirnya Hega menyelesaikan tugasnya mengeringkan rambut sang istri. Kemudian membopong tubuh ramping itu dan membaringkannya di ranjang dan menutupi istrinya dengan selimut.
Setelah membereskan peralatan pengering rambut dan menyimpannya kembali di dalam laci, Hega segera berbaring di samping istrinya dan masuk ke selimut yang menutupi tubuh Moza, " Selamat tidur sayang, aku tahu kamu belum siap memberikan hakku. Jangan terbebani oleh hal itu, karena aku akan sabar menunggu. " Ucap Hega sambil mengelus lembut pelipis istrinya.
Hega tahu pasti kegelisahan istrinya, bagaimana sedari tadi gadis itu terlihat menyembunyikan kegugupannya. Hega cukup dewasa untuk memahami wanita yang ia cintai, jadi dia masih memutuskan menunggu.
Toh kini gadis itu sudah resmi menjadi istrinya, mau menunggu berapa lama pun tak masalah, karena cepat atau lambat juga apa yang seharusnya terjadi pasti akan terjadi.
Hega juga adalah pria normal, yang pasti menginginkan untuk segera menjadikan gadis itu miliknya seutuhnya. Tapi bukan itu tujuan utama pernikahan mereka, bukan hanya sekedar nafsu untuk memenuhi kebutuhan biologisnya semata.
Melainkan juga adalah untuk memberikan kenyamanan dan rasa aman pada gadis yang telah berhasil memiliki hati Hega. Dan yang utama adalah untuk memberikan kebahagiaan untuk belahan jiwanya.
Lagipula jika saja tadi Hega nekat melanjutkan keinginannya untuk memiliki sang istri seutuhnya, pria itu pasti tidak bisa menjamin jika dirinya akan mampu menahan diri dan berhenti dalam satu ronde saja.
Sepertinya Hega cukup sadar diri, dia justru khawatir akan meremukkan tubuh istrinya karena yakin tidak akan pernah merasa cukup setiap kali menyentuh istrinya.
Dan jika itu sampai benar-benar terjadi, Hega lebih takut pada omelan bunda Ayu dan mami Rasti karena membuat mempelai wanita tidak bisa berjalan dengan benar saat resepsi pernikahan yang akan digelar secara mewah esok hari.
Untung saja kewarasanku kembali dengan cepat, jika tidak aku yakin besok telingaku akan berdengung seharian karena omelan bunda dan mami.
Hega bermonolog dalam hati sembari terkekeh geli membayangkan wajah kelelahan istrinya saat pesta ditambah ekspresi mengerikan kedua ibunya yang sedang mengomeli dirinya dengan wajah murka ala ibu tiri dalam sinetron azab.
Sungguh mengerikan, dan Hega tidak mau mengalaminya.
Sebenarnya tadi awalnya Hega hanya berniat menggoda istrinya yang terlihat jelas sangat gelisah, tapi nyatanya dirinya juga malah ikut terhanyut dalam kejahilannya sendiri.
Untung saja pekikan nyaring sang istri kembali membawa akal sehatnya yang sempat terbang menghilang entah kemana.
Lagipula cinta dan kasih sayang Hega pada Moza begitu besarnya, mana tega dirinya meminta haknya pada istrinya yang terlihat sangat kelelahan.
Pria itu kemudian mengecup singkat kening istrinya dan menyusul gadis itu menuju alam mimpi sembari memeluk tubuh mungil yang sudah terlelap dalam tidurnya, " Have a nice dream, baby. [ Mimpi indah, sayang. ] "
▪ ▪ ▪
Selepas isya, Hega langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang karena kelelahan setelah seharian menyapa para tamu, belum lagi keluarga Deana yang baru saja sempat datang memberi selamat selepas maghrib tadi.
Membuat Hega masih harus menyapa dan berbincang dengan tetangga dekat mertuanya itu. Untung saja tadi sempat bobok siang bersama sang istri, setidaknya Hega bisa mengisi ulang tenaganya dengan memeluk erat tubuh istri cantiknya.
Sekear bobok bareng aja udah sedahsyat itu efeknya bagi stamina dan semangat Hega, gimana nanti jika bobok barengnya dibumbui hal-hal yang lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana semangatnya Hega bangun setiap paginya setelah olahraga bergelora di malam hari bersama pujaan hatinya.
Yah, dia harus sabar untuk beberapa waktu kedepan.
Dan akhirnya selepas sholat isya berjamaah, Hega bisa berduaan kembali dengan istrinya di kamar yang memang sudah dihias sedemikian rupa. Tapi tentu saja hiasan kebanyakan kelopak mawarnya sudah berantakan dan berhamburan ke lantai.
Keduanya kini sudah berada di atas ranjang, Hega menyandarkan punggungnya di headboard tempat tidur, sedangkan Moza menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Dengan lengan kiri Hega berada di punggung istrinya dan telapak tangannya berlabuh di pinggang ramping Moza.
Moza tampak berfikir sejenak, " Eum, sepertinya sejak SMP kami mulai dekat. "
Hega mengangguk kecil, " Untung saja dia bukan laki-laki ? Dan tidak punya saudara lelaki juga. " Tukasnya kemudian, membuat sang istri mendongakkan wajahnya menatap ke arahnya.
" Eh, kenapa kakak bilang begitu ?
" Ya karena pasti aku harus berjuang keras memenangkan hatimu dari sahabatmu itu, apalagi orangtua Dea yang sepertinya sangat menyayangimu, sampai-sampai mereka berharap memiliki anak lelaki yang bisa menjadikan kamu menantu mereka. "
Hega jadi teringat ucapan papa Deana tadi, saat Hega hanya tinggal seorang diri menemani ayah dari sahabat istrinya itu.
" Saya melihat sendiri bagaimana anak itu tumbuh, dan seperti apa beratnya tekanan yang menimpanya pasca meninggalnya Hyu. " Ujar Sebastian, papa Deana, mencoba mengurai kecanggungan yang begitu terasa karena memang keduanya baru pertama kali bertemu dan terlibat pembicaraan secara langsung.
" Sepertinya takdir memang tidak menggariskan saya untuk menyalin hubungan dengan keluarga ini. Saat saya berharap menikahkan putri saya satu-satunya dengan Hyuza, kakak Moza, justru kecelakaan merenggut nyawa pemuda itu. " Jelas sekali terlihat ekspresi sedih di raut wajah lelaki yang sepertinya seumuran dengan papa Arya ataupun Ayah Ardi itu.
" Moza sudah seperti putri saya sendiri, saya sangat menyayanginya seperti halnya kasih sayang saya pada Dea. Sayangnya saya tidak punya anak lelaki yang bisa saya jodohkan dengannya, jika tidak mungkin sudah sedari lama saya memboyongnya untuk menjadi menantu di keluarga Narendra. " Sambung Bastian diakhiri dengan kekehan kecil.
Hega ikut mengulas senyum, " Sayangnya takdir dan keberuntungan berpihak pada saya, om. Tuhan memberikan saya garis takdir untuk berjodoh dengannya, dan semoga ia adalah tulang rusuk saya yang hilang. " Jawab Hega santai plus wajah datar khasnya.
Padahal dalam hati ingin dia menjawab, 'Jangan mimpi, Om. Bagaimanapun caranya Momo hanya akan jadi istri saya, meskipun anda punya seratus putra sekalipun. '
Ekspresi Hega benar-benar datar, sekilas bahkan terlihat menyebalkan. Bagi siapapun yang tidak mengenal dekat pemuda itu, pasti akan dibuat kesal dengan sifat Hega yang satu itu.
Untung saja Bastian adalah pribadi yang memang bijaksana dan bisa menilai karakter seseorang dari pembawaan dan gaya bicara orang tersebut. Dan dia tahu pasti pemuda di hadapannya itu adalah sosok pria yang memiliki standart tinggi.
Tidak hanya berparas tampan dan punya postur tubuh sempurna, tapi juga berpendidikan tinggi, punya karir yang bagus, dan attitude yang sempurna. Dan jangan lupakan, taat dalam agama, dalam artian tidak melupakan kewajibannya sebagai manusia kepada Sang Pencipta.
Seperti yang istrinya, Mega, selalu bilang, tipikal cowok yang mantuable.
Itulah kenapa sampai saat ini ia belum menemukan sosok pria yang tepat untuk putri semata wayangnya.
" Hahaha, ya kamu benar. Kamu sangat beruntung, dan kamu harus membayar keberuntungan itu dengan memberikan kebahagiaan berlimpah pada Moza. " Ucap Bastian dengan nada sangat tegas setelah tergelak sebelumnya, pemuda ini benar-benar bukan lawan yang mudah, pikirnya.
" Insya Allah, Om. Saya akan berusaha yang terbaik. "
" Tentu saja kamu harus melakukan yang terbaik, wajah tampan saja tidak cukup untuk membuat seorang wanita bahagia, anak muda. " Kelakar Bastian dengan serius, membuat Hega menekan salivanya dengan kasar.
...-------------------------------------...
Gue : Kok gue agak jijik ya pas bikin kamut untuk awal chapter kali ini, kesannya bang Hega narsis gelayyy. pen muntah 😨😖
Hega : Maap yang kagak suka, emang nyatanya gue ganteng serebu persen. 😏
Gue : Tapi kezel juga kalo ada yang bilang wajah bukan yang utama.
Hellowww sodarah-sodarah !!!
Kalau rupa bukan yang utama, kagak akan ada tuh namanya pelembab wajah, bedak dan make up, gak akan orang tergila2 pake krim pemutih wajah sampai operasi plastik segala. Meskipun diriku hanya sebatas pake bedak doang.
Hega : Noh tahu, lu mah emang pelit thor, buat muka sendiri aja perhitungan.
Gue : Heiii Kau yang Sultan kaya dari lahir, buat gue beras lebih utama daripada krim perawatan, Minimal kagak BULUK lah, biar suami adem liatnya 🤣🤣🤣🤣
Hega : Ye lah. . . Buatlah serebu alasan sono !!!🙄
Gue : Karepmu, gue mau bobok syantik. Btw kalo menurut pembaca, bang Hega masih ganteng gak sih ? Yang gak suka visual bang Hega diganti maafkan yah.