FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 42 • Singa dan Kelinci



...☆☆☆...


Tatkala sang pengantin pria masih sibuk menjamu para tamu, sebaliknya sang pengantin wanita malah sudah berada di kamar pengantin. Bukan tega meninggalkan sang suami, tapi Hega sendiri yang meminta agar sang istri meninggalkan area pesta terlebih dulu untuk beristirahat karena melihat istrinya sudah nampak kelelahan.


Perhatian sekali bukan ?


Dan tentu saja ada maksud terselubung di balik perhatian Hega, pria itu sengaja meminta sang bunda membawa Moza naik terlebih dulu. Agar setidaknya sang istri punya waktu untuk merilekskan diri sembari melepas lelah sebelum acara lanjutan yang pasti akan jauh lebih melelahkan.


Lagipula tamu undangan tinggal rekan-rekan bisnis saja.


Namun sepertinya bukan malah menenangkan diri, sang mempelai wanita malah tengan resah gelisah menanti kedatangan suaminya di kamar pengantin.


Moza akhirnya jatuh tertidur karena cukup lama berada dalam kegelisahan dan kegugupan sendiri kala menunggu suaminya yang tidak kunjung datang. Gadis itu terlalu lelap tertidur karena kelelahan, hingga tidak menyadari suara pintu kamar yang terbuka.


Moza kembali pada kesadarannya saat ada sesuatu yang terasa lembut dan basah menyentuh bibirnya sekilas.


Dan saat mengerjapkan kedua matanya, ia melihat punggung tegap pria yang kini menjadi imamnya itu menjauh menuju ke arah pintu kamar mandi.


Jantung Moza mendadak kembali berpacu, berdegup dengan begitu kencang, tenggorokannya terasa kering. Namun gadis itu tetap berusaha menenangkan dirinya, ia tahu tidak mungkin terus menghindar. Perlahan Moza bangkit dari ranjang melangkah menuju ruang tengah, menuangkan segelas air putih dan meneguknya perlahan.


Saat memasuki kamar, terdengar suara gemericik air, tandanya jika sang suami masih belum menyelesaikan ritual mandinya.


Moza melangkahkan kakinya menuju ruang ganti, mengambil piyama tidur suaminya dari dalam lemari.


Yah, ruang ganti yang super luas dan cukup mewah sebenarnya, hanya saja yang bikin dongkol kenapa juga di ruangan sebesar itu nyatanya hanya berisi dua setel baju. Satu setel adalan piyama tidur untuk suaminya dan satu lagi set lingerie durjana yang dipakainya saat ini.


Astaga, jika mengingat pakaian apa yang ada di balik bathrobes nya saat ini, ingin rasanya dirinya kembali mengumpati siapa saja yang sudah sengaja menyiapkan benda terkutuk yang membuatnya merinding setengah mati saat dirinya dengan sangat terpaksa harus mengenakan benda itu di tubuhnya.


Seumur-umur ini kali pertama bagi Moza memakai pakaian seminimalis itu. Begitu minimnya, hingga gadis itu sendiri merasa sangat malu ketika melihat pantulan dirinya di cermin.


Jika saja Moza tidak memikirkan suaminya, maka sedari tadi ia akan lebih memilih memakai piyama berwarna navy dengan motif garis-garis itu.


Meskipun pastinya akan kebesaran di badannya, mengingat perbedaan tinggi badan dan bentuk tubuhnya dengan sang suami yang cukup signifikan.


Untungnya masih ada bathrobes berbahan tebal berwarna maroon yang kini dipakainya untuk menutupi baju tidur durjana kurang bahan itu.


Sungguh Moza ingin sekali tidak hanya memaki tapi jika bisa ia ingin menendang tulang kering siapapun ya g menjadi dibalik insiden baju tidur minim bahan yang bikin merinding tersebut. Dasar orang kurang kerjaan.


" Hatttchiiiiuuu. . . "


" Lo kenapa lagi sih Bar ? Sakit ? Dari tadi bersin mulu lo, kagak kelar-kelar. "  Derka mengernyit sembari mengambil jarak dari Bara yang mendadak bersin-bersin lagi


" Tauk, nih pasti lagi ada yang ngumpatin gue lagi nih. . . Hatttchiiiiuuu.  . . "


" Ish. . . Sono jauh-jauh, jijik gue, Bar. " Omel Derka sambil mendorong lengan Bara dengan ujung jarinya.


" Anjirr, ekspresi lo gitu amat, Der. Udah kayak gue penuh bakteri dan kuman aja. " Protes Bara dengan nada tak suka dengan tampang Derka yang terkesan jijik padanya, sungguh menyebalkan, ini penghinaan namanya.


" Emang, lo kan sarangnya bakteri dan kuman. Hahaha. . " Tapi dasar saja Derka itu sebelas dua belas dengan Bara, mulutnya minim akhlak.


" Siyalan lo mah, Der. Kasih gue obay apa kek gitu, kayaknya mau flu nih gue, Der. Hatchiuu. . . "


" Lo tuh bersin bukan karena sakit kek nya, Bar. "


Kedua mata Bara menyipit, meminta penjelasan.


" Itu karena lo kebanyakan dosa kali, makanya banyak yang nyumpahin lo, hahaha. . . " Derka terus meledek diiringi tawa puas penuh kemenangan.


" Tuh kan, apa gue bilang. Lo tuh pendosa tempat bersarangnya kuman. Sono jauh-jauh beggo. "


" Hish, . . "


Julian terkekeh melihat dua orang seniornya yang terlihat adu mulut. Kedua mata elangnya sibuk menyusuri area pesta, seolah mencari sesuatu.


▪ ▪ ▪


Kembali ke kamar pengantin baru, Hega keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi berwarna senada dengan yang dipakai Moza, bathrobes berwarna merah maroon membungkus tubuh polos Hega yang tinggi tegap dan gagah.


Menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil, saat hendak menuju ruang ganti, Hega melirik sekilas ke arah ranjang.


Namun tempat itu sudah kosong, tersisa selimut yang sedikit berantakan.


" Mo, Momo sayang. Istriku sayang, baby, honey. . . Dimana kamu ? " Berjalan cepat menyusuri ruang tamu.


" Aku disini, kak. "


Hega kembali ke kamar ketika mendengar suara merdu sang istri, menghela nafas lega ketika melihat istrinya, " Darimana ? "


" Aku terbangun tadi karena haus, terus saat kembali ke kamar aku mendengar suara air di kamar mandi, jadi aku menyiapkan ini untuk kakak pakai. " Mengangkat setelan piyama di tangannya.


" Hufft, aku kira kamu kemana tadi. " Helaan nafas dalam terdengar sangat lega mendapati gadis cantik itu ternyata tidak kemana-mana.


Manik mata Moza menyipit, " Memangnya kakak pikir aku akan kemana malam-malam begini ? "


Pria tampan dengan rambut basah yang terlihat seksi itu menggaruk tengkuknya, " Aku kira kamu kabur. " Cengirnya kemudian.


" Memangnya aku mau kabur kemana ? Dan kenapa pula aku harus kabur ? Kakak ini aneh. " Dengus Moza dengan bibir mengerucut.


Sangat imut dan menggoda.


Hega menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang di dekat jendela, meletakkan handuk kecilnya di pegangan sofa.


" Kemarilah ! " Hega menjentikkan jarinya ke arah Moza, mengisyaratkan agar gadis itu mendekat padanya.


Bukannya menurut, Moza malah mematung di posisi nya, gelisah, rasanya jika dia mendekat sekarang juga, bisa-bisa dia akan habis oleh suaminya.


" Ka-kakak pakai dulu bajunya ya ! " Bujuk Moza lembut dan masih berdiam di tempat semula, jantungnya seperti mau lompat saat melihat tampilan suaminya yang entah mengapa membuatnya semakin berdebar-debar saja.


" Nanti saja, kemarilah ! " Seutas senyum miring terukir di bibir seksi pria tampan yang bisa dibilang dalam kondisi yang sangat menggoda itu.


Moza menelan saliva kasar, merasa jika tatapan suaminya bagaikan singa yang kelaparan. Yang tengah menatap kelinci mangsanya yang ada di depan mata dan siap untuk menerkamnya. Yeah, dan sialnya kelinci yang siap dimangsa itu adalah dirinya sendiri, yups Moza lah si kelinci itu.


" Apa mau aku gendong, hem ?! " Tuturnya lagi diselingi senyum menggoda saat melihat sang istri masih diam tak bergeming di tempat semula. Lebih terdengar seperti ancaman yang manis.


" Ah, i-iya iya aku datang. " Kalah, Moza lagi-lagi kalah oleh suaminya. Gadis itu berjalan perlahan dengan perasaan campur aduk, gugup, takut, berdebar.


Bagaimana tidak, pria dihadapannya itu sekarang benar-benar tampak menggoda iman, rambut basah, aroma sabun yang memabukkan. Aaahhh. . . Benar-benar bisa membuat akal sehat menghilang perlahan.


Moza yang hendak menjatuhkan tubuhnya di samping suaminya, menadadak terhempas dan terjatuh di pangkuan Hega karena Hega sengaja menarik tangan dan pinggul ramping Moza agar tubuh istrinya itu jatuh di tempat yang diinginkannya.


" Kakaaak. . . " Pekik Moza terkejut.


...--------------------...