
...☆☆☆...
Moza menarik selimut tebalnya, menutup area tubuhnya yang hanya dilapisi gaun tidur satin yang sangat tipis berwarna tosca muda, dengan tali spaghetti menggantung di kanan dan kiri bahunya. Sedangkan kimono satinnya masih teronggok di atas sofa.
Aaargghhh, sepertinya Moza memang harus terbiasa dengan baju tidur seperti ini.
Bagaimana tidak ? Semua piyama tidur miliknya yang ada di lemari walk in closet-nya sudah berubah semuanya menjadi gaun tidur serupa seperti yang dipakainya saat ini.
Entahlah, kali ini ulah siapa lagi ini. Nanti jika tenaganya telah kembali, ia akan mencari tahu siapa yang menyiapkan semua baju tidur minimalis untuknya di dalam lemari itu.
Hega mengusap pucuk kepala istrinya dengan sayang, " Aku akan meminta Sasa menyiapkan sarapan di kamar saja. "
" Tidak perlu, kak. Aku--- "
" Jangan membantahku, hem ! " Sela Hega, " Lagipula memangnya badan kamu sudah baikan ? Katanya tadi masih capek kamunya. "
Gadis itu memberengut, " Huh, memangnya aku begini karena siapa, hem ?! "
Hega terkekeh, kemudian mendaratkan satu kecupan di pipi sang istri yang sedang menggembung dan tampak menggemaskan, " Iya iya, maaf ya sayang. " Ujarnya dengan nada merasa bersalah.
Salah sendiri istrinya begitu manis, membuatnya selalu merasa kurang setiap kali menyentuh istrinya. Saat ingin berhenti, namun selalu ingin mengulang lagi dan lagi.
Ahhh, yang halal memang senikmat ini.
Haaah, apa semua pengantin baru seperti ini ? Selalu ingin dekat-dekat dengan sang istri. Bahkan sedetik pun rasanya Hega tak ingin mengalihkan pandangan matanya dari sosok cantik sang istri.
" Kakak tidak ke kantor ? " Tanya Moza saat melihat suaminya yang masih tampak begitu santai dengan baju rumahan padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan.
Pria itu mengangkat satu alisnya, " Aku masih libur. Kan kita masih dalam masa bulan madu. " Jawab Hega enteng dengan tangan masih sibuk menggosok rambut basahnya.
" Iih, kan bulan madunya sudah selesai dari dua hari lalu. " Sewot Moza dengan bibir mengerucut.
" Memangnya siapa yg berani melarangku kalo aku mau memperpanjang libur bulan maduku, hem ? " Balasnya sambil mencubit mesra pipi putih istrinya, " Lagipula ini hari Sabtu, Momo sayang. "
Moza menelengkan kepalanya sedikit, " Eh, bukannya biasanya kakak juga ke kantor di hari Sabtu ? "
" Itu dulu, sekarang tidak lagi. " Jawab Hega enteng membuat istrinya kembali mengerutkan kening.
" Kenapa begitu ? "
Pria itu mendengus lirih, heran juga kenapa sekarang level kepekaan istrinya seolah mulai melemah, " Kamu akan tahu nanti. "
" Iya iya baiklah. terserah kakak saja. Kakak selalu menang. "
" Oh iya, apa mau aku panggilkan home service spa ? " Tawarnya pada sang istri yang seketika membuat Moza membelalak kesal.
Heh ? Spa ? Ke rumah ? Dan membiarkan mereka melihat tanda-tanda yang kakak buat hampir di seluruh tubuhku ? Tidak tidak !!! Cukup Sasa saja yang pernah melihatnya, itu saja membuatku malu setengah mati. Mana mungkin aku membiarkan orang lain melihatnya juga, huh.
Moza menggeleng cepat, " Tidak usah kak, aku hanya mau tidur lebih lama. "
" Tapi aku ingin melakukan sesuatu yang bisa menbuatmu merasa lebih baik. "
" Oh, kalo gitu kakak jangan membuatku kelelahan tiap malam, huh. " Moza menatap tajam suaminya dengan sedikit mengintimidasi.
Tapi bukannya merasa terintimidasi, Hega malah cengengesan dan menangkap kedua telapak tangan istrinya kemudian mengecupnya mesra, " Kalo itu aku tidak janji ya, sayang. Hehe . . . "
" Hiihh dasar. " Mau marah sebenarnya, tapi mana bisa Moza marah jika diperlakukan dengan sangat manis seperti ini.
Jantungnya saja masih melompat-lompat riang setiap kali suaminya melakukan hal-hal sepele yang justru terasa sangat romantis bagi Moza.
" Ya sudah aku turun dulu, ada Bara di bawah. dia akan menggila kalo terlalu lama menunggu. " Ujarnya sambil mengusap lembut pucuk kepala sang istri.
" Kamu tahu kan dia itu sedikit kurang ajar padaku akhir-akhir ini. Jika aku tidak segera turun bisa-bisa dia yang naik dan meberobos masuk ke sini. "
" Kalau gitu biar nanti aku saja yang memijatmu, hem. " Tawarnya lagi kemudian yang kali ini membuat manik mata Moza menyipit curiga.
Aaarrrrggg, tidaaak !!! Yang ada kakak malah menggerayangiku, dan bukannya memijatku. Dasar tukang cari kesempatan dalam kesempitan. Teriaknya dalam hati.
" Kenapa ekspresimu malah begitu ? "
Dengan cepat Moza menormalkan ekspresinya, kemudian tersenyum manis dan menggeleng pelan, " Tidak, kak. Sudah pergi sana, kasihan bang Bara kalau menunggu terlalu lama. " Hush hush, sana cepat pergi kak, aku lelah ingin tidur lagi. Imbuhnya dalam hati.
Cup . . .
" Aku tidak akan lama, sayang. " Ucapnya setelah memberikan satu kecupan di pucuk kepala sang istri.
" Hem. "
Lama juga tidak apa-apa, kak. Daripada kakak terus ada di kamar dan mengerjaiku lagi.
Sungguh melelahkan, padahal semalam mereka baru tiba di rumah sekitar pukul 8 malam. Dan bukannya membiarkan dirinya istirahat setelah penerbangan yang cukup melelahkan.
Suaminya itu justru kembali mengajaknya terbang ke nirwana. Alasannya test drive kamar baru katanya.
Hish, alasan apa pula itu ? Kamar baru apanya ? Itu kan kamar lama yang sudah ditempati sang suami dari jaman dahulu kala. Cuma berbeda penataan di beberapa sudut ruangan saja. Selebihnya ya itu tetaplah kamar yang sama.
Dasar singa berbulu domba, bisa aja bikin alasan gak masuk akal untuk bisa menarik sang istri menuju surga dunia untuk yang kesekian kalinya.
Dan sialnya Moza selalu tak bisa menolaknya, suami tampannya itu selalu punya cara untuk membuatnya terbawa romansa yang melumpuhkan akal sehatnya. Dan saat sadarpun sudah tak ada guna, tenaganya sudah terkuras untuk mengikuti irama memabukkan yang diciptakan sang suami mesumnya.
Di ruang tamu lantai satu, Hega sudah disambut tiga pria yang sudah sangat rapi dengan setelan jas kerja mereka, dan dua pria tua yang adalah kakek Suryatama dan Paman Ben, sang kepala pelayan.
Dua di antara ketiga pria tadi tengah duduk di sofa sambil menikmati secangkir kopi. Dan satunya berdiri di samping sofa lainnya menunggu kedatangan sang tuan muda, siapa lagi jika bukan Ragil Anggara yang sudah siap dengan tab di tangannya bersiap melaporkan hal penting pada tuannya.
" Nah itu dia yang kalian tunggu-tunggu. " Suara kakek Suryatama seketika membuat semua pasang mata yang sedari tadi menunggu Hega langsung menoleh ke arah tangga dimana pria itu baru saja menapaki anak tangga terakhir.
" Mana cucu menantu kakek ? Kenapa tidak turun untuk sarapan ? " Tanya pria tua itu saat sang cucu sudah duduk di sofa tepat di sebelah kanannya.
" Momo masih tidur, kek. Sepertinya masih jet lag. "
Kakek Suryatama mengangguk-anggukan kepalanya, " Tapi jangan lewatkan sarapan, jangan sampai istrimu sakit nanti. "
" Hem, Hega akan minta Sasa menyiapkan makanan di kamar saja. "
" Biar saya yang mengaturnya, Tuan Muda. Silahkan anda menyelesaikan pekerjaan anda. " Sahut Paman Ben dengan sopan.
Pria itu sepertinya menyadari ada jika ada keadaan darurat yang terjadi sehingga ketiga pria muda itu langsung berkumpul pagi hari begini setelah kepulangan cucu majikannya itu dari bulan madunya.
Hega mengangguk setuju, " Terima kasih, paman Ben. "
" Baiklah, kakek yang sudah tua ini lebih baik memberi kesempatan bagi yang muda. Kalian lanjutkan saja ngobrolnya. "
Keempat pria muda itu mengangguk sopan.
" Kek, boleh Hega meminjam ruangan kerja kakek ? "
Bukannya tak mau menggunakan ruang kerjanya sendiri, tapi sepertinya hal yang akan mereka bahas kali ini cukup sensitif. Dan Hega tak mau mengganggu istirahat istrinya jika menggunakan ruang kerja pribadinya di lantai tiga.
Pria tua itu mengangguk, " Lakukan sesukamu. " Tandasnya dan langsung berlalu meninggalkan ruang tamu.
...-----------------------------------------------...