
...☆☆☆...
Seperti dugaan Moza, suaminya tidak akan cukup hanya sekedar morning kiss. Pria yang baru saja mandi satu jam yang lalu itu pun tidak keberatan untuk kembali mandi setelah sukses memperdayai istrinya di ranjang dan berpeluh keringat bersama.
Nyicil proyek 'cicit', katanya.
Tuh kan bener, permintaan sang kakek mulai dijadikan alasan untuk minta jatah tambahan. Dasar modus 🙄.
Setelah bersiap, Hega berjalan cepat menuruni tangga saat tak menemukan istrinya di dalam kamar. Lagi-lagi istrinya itu menghilang begitu saja. Tidak tahu apa kalau suaminya itu sedang kena sindrom wife complexs, maunya mepet terus sama istrinya. Jadi pengen hih kan.
" Momo sayang. " Teriaknya saat tiba di lantai satu setelah mencarinya tanpa hasil di lantai tiga.
" Sayang, kamu dimana sih ? " Hega kembali memanggil istrinya dengan sedikit cemas.
" Kenapa kamu teriak-teriak begitu, hah ?! " Sang kakek yang sedang menikmati teh sambil membaca koran memekik kesal.
" Itu, kek. Istri Hega ilang. " Ucapnya dengan masih celingukan kesana kemari mencari sosok sang istri.
" Heh, memangnya istri kamu barang apa. Momo itu punya kaki sendiri, individu mandiri yang bisa pergi kemanapun dia mau. Hilang apanya ? " Kakek Suryatama makin kesal saja karena tingkah cucunya yang seperti tak bisa jauh-jauh dari istrinya.
Mama-mama bikin sebal juga.
" Ada apa sih, Pih ? Kok ribut-ribut. " Aryatama langsung menyahut begitu tiba di ruang tamu sudah mendengar keributan.
" Ini, anak kamu, ribut nyariin istrinya. "
" Pah, liat istri Hega, gak ? "
" Ada tuh, di depan sama mami dan adik kamu. " Jawab Arya sambil menunjuk ke arah teras mansion.
Hega langsung berjalan cepat menuju teras mansion utama mengabaikan gerutuan ayahnya.
" Heh, main ngeloyor aja nggak ada makasihnya sama orangtua, dasar. Cucu kesayangan, papi tuh. " Pria itu mendengus kesal dengan tingkah putranya.
" Heh, dia seperti itu kan nurun kamu. " Sambar Suryatama dengan nada mencela membuat sang putra, Arya Tama mengernyit tak paham, " Bucinnya anak itu nurun bucinnya kamu sama mamahnya dulu. " Imbuh Suryatama membuat Arya Tama menggaruk tengkuknya.
" Kamu masih ingat kan kelakuan kamu kalau sudah sama Dira. " Arya Tama hanya bisa nyengir saja, " Dasar, bapak sama anak kelakuannya gak ada bedanya. " Dan lagi-lagi putra sulung Suryatama itu tak bisa berkata apa-apa untuk menjawab makiannya.
Sudahlah, diam saja. Memangnya bisa jawab apa kalau kenyataannya memang begitu.
Arya Tama pasrah, mendaratkan tubuhnya di sofa.
Di teras, Hega langsung bisa melihat istrinya tengah bersama ibu sambung dan adiknya, Rania.
" Sayang, kamu udah siap ? Berangkat yuk ! " Hega menghampiri istrinya dan merengkuh pinggang ramping sang istri.
" Iya, tapi Rania mau ikut, kak ? "
" Hah ??? "
" Kakak, Ranran juga mau jalan-jalan. " Beo Rania yang kini bergelanyut di kaki Hega.
Hega melirik istrinya, meminta bantuan untuk membujuk gadis kecil itu agar mengurungkan niatnya. Kan hari ini niat Hega buat kencan romantis berdua saja dengan istri tercintanya.
" Ajak aja, kak. Aku nggak papa kok. "
Aku yang papa, Momo sayang. Bukan itu maksud aku melirik kamu, sayangku.
Ahhh sepertinya istrinya salah mengartikan tatapan matanya, Moza mengira jika suaminya tadi meminta persetujuannya atas permintaan Rania.
" Sayang, bukan be-- " Belum kelar Hega protes, rengekan gadis mungil kesayangannya membuatnya tak sanggup melanjutkan ucapannya.
" Boleh ya, Rania ikut, Rania mau jalan-jalan juga, hiks. . . " Moza melepaskan rengkuhan suaminya, kemudian berjongkok di depan adik iparnya.
" Iya, boleh kok, Rania cantik ikut jalan-jalan sama kakak. "
Rania berbinar senang, " Sungguh Rania boleh ikut ? " Cicitnya lagi sembari menarik tshirt kakak tampannya.
" Mihhh. " Lirih Hega melirik sang mami.
Rasti yang mengerti isyarat putranya langsung menghampiri putri kecilnya, " Sayang, Kak Hega sama Kak Momo mau ada perlu, jadi Rania ikutnya kapan-kapan saja ya, sayang. "
" Huuu. . . Tidak mau, Rania mau ikut. Huuuu. . . " Gadis kecil itu semakin keras merengeknya.
Moza berdiri dan menatap suaminya, " Biarkan saja Rania ikut sih, kak. Kasian kan. Lagipula sudah lama kita tidak jalan-jalan bertiga. " Bujuk Moza dengan lembut.
Tiap hari udah berduaan juga, masih kurang aja sih. Modus ini pasti.
Moza memutar bola matanya malas, suaminya ini beneran sedang kerasukan setan manja.
Ditengah-tengah mereka berusaha membujuk gadis berusia 6 tahunan itu, datang seorang pemuda yang tiba-tiba berlari dan memeluk Moza.
" Kakak, aku kangen. Kakak pulang bulan madu nggak bilang-bilang. " Remaja lelaki itu tanpa babibu langsung memeluk tubuh kakak perempuannya.
Eeehhh, minta digetok ini anak, main peluk-peluk.
Penyakit posesif Hega sepertinya kambuh, tidak mau berbagi istrinya dengan orang lain. Bahkan adik kandung istrinya sendiri pun ingin dia larang nempelin istrinya.
" Kamu dateng sama siapa, Dek ? "
" Sendiri, naik taksi. "
Moza melirik taksi online yang barusaja meninggalkan area mansion, " Ohh, kok nggak bilang-bilang mau dateng, tau gitu kakak jemput kamu di bandara. "
" Kakak aja yang keasikan berduaan sama bang Hega, jadi lupa sama adeknya. " Gerutu remaja lelaki yang adalah si bungsu Ryuza.
" Enggak mungkin lah kakak lupa sama adek kakak yang nyebelin ini. " Jawabnya sambil mengacak rambut si bungsu.
Begitu kesalnya melihat interaksi intim sang istri dengan adik posesifnya sampai-sampai Hega melupakan sesuatu.
" Ga, adik kamu nggak bisa dibujukin ini. Jadi hari ini aja mami minta turutin dulu ya, nak. " Pinta mami Rasti saat dengan terpaksa karena tidak berhasil membujuk putrinya.
Hega menatap adik kesayangannya yang tengah memasang ekspresi puppies eyes.
Oh God, ini adik gue niru siapa sih pinter banget manfaatin wajahnya ??
Gumam Hega gemas melihat keimutan adiknya.
Hega akhirnya pasrah, " Iya, Mih. " Dengan perlahan mengangkat Rania dalam gendongannya.
" Peri kecilnya kakak mau ikut jalan-jalan, hem ? " Gadis kecil itu mengangguk, " Oke, tapi kita makan siang dulu, setuju ? " Gadis itu kembali mengangguk senang.
Haish, pending dulu nge-date romantisnya.
Hega menghela nafas, kemudian menyusul istrinya yang sudah lebih dulu dicuri oleh adik iparnya, Ahh dasar bocah sister complex.
Hega menatap sepasang adik kakak yang sudah asyik bersenda gurau di depannya, dan tiba-tiba muncul ide brilian di otaknya.
Hega sengaja sedikit melambatkan langkahnya kakinya.
" Peri kecilnya kakak sayang nggak sama kakak ? " Tanya Hega pada adiknya yang masih nyaman di gendongannya.
" Iya, Rania sayang kakak. Kak Hega yang paling Rania sayang. " Celetuk gadis itu sambil merentangkan kedua tangannya lebar mengisyaratkan besarnya sayangnya pada kakak lelakinya itu.
" Kalau gitu Rania mau bantuin kakak ? " Gadis itu mengangguk.
" Hari ini kan kakak mau kencan dengan kakak cantik kamu. "
" Apa itu kencan ? " Manik mata bulat Rania mengerjap beberapa kali.
Hega berpikir sejenak, mencari kalimat yang paling sederhana untuk menjelaskan maksudnya, " Eum, kencan itu jalan-jalan berdua dengan orang yang kita sayang. "
Rania langsung terisak menyadari jika arti kata berdua berarti dirinya tidak bisa ikut bersama kedua kakaknya itu, " Ja-di Rania ti-dak boleh ikut, hiks. . . ? "
" Heh, kok nangis ? Siapa bilang Rania tidak boleh ikut, Rania boleh ikut dong. " Gadis itu perlahan menghentikan isak tangisnya yang hampir meledak, " Beneran ? "
" Iya, sayangnya kakak. " Hega mencubit pipi gembil Rania, " Tapi Rania harus lakukan satu hal, oke ? " Gadis itu mengangguk, kemudian tampak Hega membisikkan sesuatu di telinga gadis mungil itu, dan Rania kembali mengangguk setuju diiringi senyum cerahnya dan keduanya bertoss ria tanda sepakat.
Hega tersenyum menyeringai tipis sembari melirik punggung pemuda yang tengah merangkul pundak istrinya.
Disisi lain, Ryuza yang tengah asyik menggoda kakak perempuannya tiba-tiba merasakan dingin dan merinding di punggungnya. Remaja 16 tahun itu seketika meraba tengkuknya yang terasa berdiri bulu kuduknya.
Apapun yang dibisikkan oleh Hega pada Rania, sepertinya si bungsu Ryuza yang akan kena getahnya. Lihat saja tatapan iblis Hega yang tengah mengarah pada adik iparnya itu. 😏😏
...---------------------------------...
...Kang modus kok dilawan....
...Beuuuhh, kali ini apa lagi akal-akalan Hega untuk bisa berkencan dengan istri tercintanya tanpa harus membuat peri kecilnya menangis ???...