FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 128 • Trending Topic



Seperti biasa, sebelum pukul 8 pagi, Moza sudah berada di gedung kantor pusat GIG.


Baru satu langkah kaki jenjang Moza memasuki ruangan divisi keuangan, telinganya sudah dibuat gatal dengan suara bisik-bisik yang Moza tahu ditujukan padanya.


Bagaimana Moza tidak akan tahu, orang mereka yang sedang menikmati gosip pagi langsung melirik sinis padanya saat menyadari kedatangannya.


Memilih mengabaikan, Moza tetap berusaha untuk luwes, senyum tipis tetap terukir di bibirnya lantaran Moza sadar jika statusnya hanya mahasiswa magang.


Setelah melepas long coat berwarna hitam dan menyampirkannya di sandaran kursi. Moza memilih mulai mengerjakan saja tugasnya hari ini.


Walaupun sedikitnya Moza cukup penasaran dengan apa yang terjadi kemarin, apa mungkin gosip pagi ini ada hubungannya dengan yang terjadi kemarin. Moza akan tanyakan nanti pada Amira.


" Ya ampun, Mo. Hampir aja gue telat, untung masih keburu. " Baru juga dibatin, sahabatnya itu sudah nongol dengan napas terengah dan langsung mendaratkan pantatnya di kursi.


Setelah ketahuan oleh sang suami, Moza memang selalu berangkat bersama pria posesif yang tiada duanya itu, dan turun di parkiran VVIP yang ada di basemen gedung perkantoran GIG.


" Memang kenapa bisa telat ? Tumben ? " Tanya Moza dengan wajah penasaran, karena nyatanya Amira itu adalah sahabatnya yang paling rajin, tidak seperti dirinya yang sudah faseh maraton di pagi hari karena telat bangun tidur.


" Mobil gue mogok lagi, ck nyebelin, padahal kemarin udah servis nguras tabungan lagi, masih rewel juga. Untung ketemu si Jul tadi di jalan deket kantor. " Amira mendumal sembari menyalakan monitor komputer di meja kerjanya.


" Terus mobil kamu ? "


" Dahlah, urusan si Jul itu, katanya mau panggilan orang bengkel langganan dia. Hehehe, nggak rugi juga punya sohib cowok ya, Mo. " Moza mengangguk setuju, karena Julian memang selalu bisa diandalkan.


" Eh, ini nih yang kemarin jadi trending topic bukan sih ? "


Atensi Moza dan Amira langsung teralihkan saat salah satu staff divisi keuangan yang melewati kubikelnya berbicara dengan nada mencibir sembari melirik ke arah meja Moza.


Alis Moza langsung terangkat naik dan melirik Amira.


" Ya iyalah, siapa lagi yang jago caper. "


" Ck, mantep banget ilmunya ya, habis pak Vano, terus Asisten Lian, sekarang Presdir. " Sahut wanita yang memang terlihat dari awal tidak menyukai Moza.


" Ya pinter lah, tampang doang polos, tapi nyatanya, ihhh. "


" Hebat banget ya, bisa godain Presdir lantaran deket sama asisten Presdir. Kasian juga asisten Lian cuma jadi batu pijakan. "


Huuft, sekali lagi Moza memilih abai, tak ada untungnya juga menanggapi.


" Ada apa ribut-ribut ? Apa kalian tidak ada pekerjaan ? "


Suara bariton yang barusaja memasuki ruangan langsung membungkam mulut-mulut nyinyir yang pagi-pagi bukannya semangat kerja malah nyari dosa.


Seketika itu pula tiga wanita yang bergerombol di salah satu meja kerja langsung berhamburan menuju kubikel mereka masing-masing.


" Pagi, pak Vano. " Sapa Lisa sekretaris Geovano yang barusaja keluar ruangan pria itu setelah membereskan menyiapkan segala hal di ruangan sang atasan.


Seperti halnya Anita yang selalu memastikan laptop atasan mereka sudah dalam kondisi standby.


" Pagi, Lis. Pagi juga semua. " Balas pria itu seraya menyusuri ruangan divisinya dengan netranya dan dibalas anggukan kepala oleh para bawahannya.


" Lisa, pastikan pekerjaan team dua beres tepat waktu, karena sepertinya mereka lebih senang menggunakan waktu mereka untuk melakukan hal-hal diluar pekerjaan. "


" Ya ? " Lisa yang tak mengerti pun hanya bisa melongo mencerna ucapan Geovano.


" Saya tidak akan mengomentari apa yang kalian lakukan diluar jam kerja, tapi-- " Geovano menjeda ucapannya kemudian melirik jam tangan miliknya.


" Saya lihat ini sudah masuk jam untuk bekerja, jadi saya harap fokus saja pada pekerjaan kalian dan berhenti melakukan hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan kantor. " Sambungnya dengan tegas sambil melirik kubikel milik Tira yang merupakan ketua team 2.


" Oh, iya, Pak. Saya akan ingatkan mereka. " Sahut Lisa saat tahu siapa yang dimaksud oleh atasannya itu, dan wanita itu langsung mendatangi meja Tira saat Geovano sudah memasuki ruangannya.


" Kalian tuh bikin masalah apa lagi sih, Tira ? " Mendengar pertanyaan Lisa, sepertinya ini bukan kali pertama wanita itu membuat keributan serupa.


Ah entahlah, Moza dan Amira memilih tak ambil pusing.


Lagipula lihatlah respon wanita itu yang seperti tak merasa salah sedikitpun, Tira hanya mengedikkan bahu menanggapi omelan Lisa.



Moza masih bisa mengatasi keributan yang terjadi dengan memilih cuek dan tidak ambil pusing dengan beberapa rumor yang beredar tentang dirinya.


Biarlah dirinya dianggap caper dan yang lainnya, toh yang mengenal seorang Moza, mereka tahu jika itu tidak benar adanya.


Untuk ritual makan siang bersama sang suami tetap berjalna seperti sebelumnya, hanya dijadwal setiap dua hari sekali.


Suaminya juga tidak lagi minta aneh-aneh setiap Moza datang ke ruangannya.


Moza masih ingat saat pertama datang, dirinya harus menahan malu ketika keluar dari ruangan suaminya dengan outfit yang berbeda dari saat dirinya masuk.


Apa coba tanggapan staff yang melihatnya. Untung saja saat itu hanya staff sekertaris Presdir yang melihatnya.


Dan itu pula yang menjadi alasan Moza enggan menuruti kemauan sang suami. Bisa-bisa malah jadi rumor besar jika setiap selesai jam makan siang, dirinya terlihat ganti pakaian. Gosip apa lagi coba yang akan beredar.


Yang penting suaminya untuk saat ini sudah bisa sedikit dikendalikan agar pria itu tidak berlaku semaunya sendiri.


Tinggal dua minggu waktu yang tersisa, setidaknya suaminya harus bisa dikontrol selama kurun waktu tersebut. Jangan sampai terjadi hal yang lebih besar lagi.


Mental Moza belum siap.


Lebih baik menjadi bahan ghibahan daripada harus diperlakukan berbeda karena status dan latar belakangnya.


" Kamu print out berkas ini untuk laporan rapat utama, awas jangan sampai ada yang terlewat. " Moza yang sedang mengerjakan mengetik laporan keuangan Golden Mall dipaksa menghentikan aktivitasnya saat suara familiar itu tiba-tiba menginterupsi di sisi mejanya. Wanita yang selama beberapa hari ini suaranya terdengar sangat nyaring sekali setiap membicarakan dirinya.


Ya, Tira tengah berdiri dengan angkuh sembari tangan bersedekap di dada setelah meletakkan sebuah flashdisk di atas meja Moza.


" Apa ini, mbak ? " Tanya Moza sambil mendongakkan wajahnya menatap wanita yang terlihat begitu angkuh itu.


" Laporan Imperial Hotel. Buruan print terus susun rapi, masukkan ke map perusahaan dan bawa ke ruangan rapat utama di lantai 11. "


" Maaf, mbak Tira, kenapa harus saya ? Bukannya itu tugas team 2 ya, mbak ? " Ucap Moza berusaha sesopan mungkin.


" Kamu nolak ngerjainnya ? Kan cuma ngeprint doang dan ngasih ke ruang rapat apa susahnya sih ? "


" Tapi--- "


" Mbak Tira, biar saya saja yang ngerjain, kan saya yang ada di bawah bimbingan team 2 sama Mbak Tira. " Sahut Alvi, salah satu mahasiswa magang yang satu divisi dengan Moza.


" Iya, mbak. Moza sama saya kan ikut team 1. " Amira menyambung.


" Heh, nggak usah sok ngatur saya ya ? Lagipula bukannya kamu udah saya kasih tugas tadi, Al ? Sana selesaikan ! " Cowok jangkung itu garuk-garuk kepala, menatap tidak enak pada Moza dan Amira, tapi mau bagaimana lagi, Alvi juga tak punya kuasa, selain itu melawan seorang wanita berdebat memang tidak mudah ternyata.


Moza tersenyum. " Iya, mbak. Saya kerjakan sekarang. "


" Jam 9 sudah harus ada di meja rapat. Dan dengar ya, kalau bukan karena atasan yang minta, saya juga males minta tolong sama kamu. " Ketus Tira kemudian berbalik meninggalkan kubikel Moza.


Moza langsung mengernyit, apa maksudnya atasan yang minta ?


" Sorry ya, Moz. " Ucap Alvi tak enak hati.


" Em, nggak papa kok, Al. Udah kamu lanjutin kerjaan kamu. "


Alvi mengangguk, " Kalau lo butuh bantuan, gue sama yang lain siap kok. "


" Hm, makasih, Al. " Moza mengangguk dan tersenyum, dan Alvi langsung kembali ke kubikelnya setelah mengacungkan jempolnya ke arah Moza.


" Ish, kenapa lo diem aja sih, Mo ? " Protes Amira saat Alvi sudah menjauh.


" Ngeladenin orang kayak gitu malah bikin capek. " Moza kembali duduk, menancapkan flashdisk berwarna hitam itu ke colokan USB laptopnya.


Entah kenapa hari ini Moza merasa badannya sedikit lemas, padahal tadi sudah sarapan. Mood nya juga sedang kurang baik, jadi tidak ada tenaga extra untuk menanggapi hal-hal yang tidak penting. Lebih baik fokus pada tugas di depannya.


Urusan lainnya nanti saja.


***


MAAF 2 HARI GAK UPDATE, AKU LAGI MUDIK KE KAMPUNG.