FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 112 • Kekecewaan Hega



Hega masih memasang ekspresi dingin dan datarnya. Sama sekali tidak terpengaruh oleh tangisan pilu wanita di hadapannya.


Senyum sinis sekilas terukir di bibir pria itu saat mendengar pernyataan Alina yang menggambarkan dengan jelas obsesi wanita itu padanya.


Jika bukan karena janji yang pernah dia buat pada Aliza, mungkin kejadiannya tidak akan sampai separah ini.


Sungguh, Hega menyesal telah membuat janji itu.


Hega pikir penyakit Alina tidak akan separah ini dan akan sembuh setidaknya dalam satu tahun seperti yang pernah dikatakan oleh Aliza. Namun ternyata bukannya sembuh, Alina justru semakin parah saja.


Tapi semua sudah terlanjur terjadi, dan sekarang saatnya Hega bersikap lebih tegas. Karena selain dirinya sudah merasa lelah, juga sekarang ada hati yang harus dia jaga.


Hati dari gadis yang menjadi pemilik jiwa dan raganya, dan hanya gadis itulah yang akan bertahta di istana cinta seorang Hega Airsyana. Persetan dengan janji masa lalu, toh Aliza juga sudah begitu mengecewakannya.


Sejenak Hega merasa bersyukur istrinya belum menyusulnya, jika tidak, gadis itu mungkin akan melihat sisi lain dirinya yang sungguh tidak ingin diperlihatkan Hega pada sang istri.


Atau mungkin justru kehadiran sang istri akan membuatnya melembut dan tidak akan bisa menyikapi Alina dengan caranya.


Jika itu terjadi, yang ada bukannya membuat Alina menyerah, malah obsesi wanita itu bisa saja tidak akan berhenti karena masih merasa diberi hati.


Ditatapnya wanita berpakaian pasien itu masih dengan pandangan sinisnya.


" Maka kamu lakukan saja apapun yang kamu inginkan, karena itu tidak akan merubah apapun. Dan saya ingatkan, jangan pernah lagi menggunakan cara konyol seperti ini untuk menarik perhatian saya dan memaksa saya datang seperti ini. Karena jika itu terjadi lagi, maka saya tidak akan peduli. " Ucapnya tegas penuh penekanan.


Tidak ada tatapan iba atau kasihan, yang terpancar di netra hitam pekat itu kini hanya muak. " Asal kamu tahu, Alina, saya datang hari inipun itu karena istri saya yang meminta. Jadi jangan lagi menggunakan cara kekanakan seperti ini lagi. " Tandas Hega sekali lagi masih dengan nada menekan.


" Apa sebegitu cintanya kakak pada perempuan itu ? Apa kelebihan dia yang Alina tidak punya ? Apa yang membuat kakak begitu memujanya, kenapa dia bisa dan Alina tidak ? Kenapa kak ? "


Hega bergeming, kedua tangannya tetap berada di dalam saku celananya, pria itu tampak begitu tenang, masih tidak terpengaruh sama sekali oleh tangisan wanita di depannya.


" Karena kamu bukan dia, dan sudah saya katakan, jika bukan dia, maka wanita manapun tidak akan bisa. "


Tubuh Alina seketika merosot jatuh bersimpuh di lantai marmer. Gadis itu menjerit histeris. " KENAPA KAK, KENAPA BUKAN ALIN ? ALIN PASTI LEBIH BAIK DARI GADIS ITU, ALINA BISA MELAKUKAN APAPUN UNTUK KAKAK. "


Sebuah senyum sinis kembali tersungging di bibir berwarna plum milik pria itu. " Hhh, apapun ? "


Binar harapan lansung tersirat di kedua mata Alina. Gadis itu mencoba bangkit dari lantai dengan berpegangan pada ranjang pasien. " Iya, kak. Apapun bisa Alin lakukan untuk bisa bersama kak Hega. " Ucapnya sambil mengangguk yakin.


Hega kembali menyeringai. " Apapun, termasuk berpura-pura ingin mati dengan cara bunuh diri seperti yang kamu lakukan ini, heh ? " Jelas sekali Hega sengaja mengatakannya dengan nada merendahkan.


Tapi bukan merendahkan wanita yang masih kini sudah kembali berdiri meski tampak kesulitan menahan beban tubuhnya sendiri, melainkan merendahkan pola pikir dangkal wanita itu.


Kedua mata Alina sontak membeliak, " A-apa mak-sud kakak ? " Tubuhnya sedikit terhuyung, untung saja Alina masih berpegangan pada besi ranjang, jika tidak mungkin hadis itu akan kembali ambruk karena tidak menyangka tuduhan seperti itu akan keluar dari mulut pria yang sangat ia cintai.


" Ck, jangan kamu pikir saya bodoh, Alina. Cukup om dan tante kamu yang kamu bohongi, bahkan kamu menggunakan kebaikan Aliza untuk menutupi kebohongan kamu. Cukup sudah semua tingkah laku tidak rasional kamu itu. Ini terakhir kalinya saya meladeni permainan kekanakan kamu. "


" Kak, a-aku ti-dak mengerti apa yang kakak katakan, a-aku--. " Alina tampak gemetaran, perempuan berusia 23 tahun itu berusaha menyembunyikan kegugupannya.


Jika bisa pria itu ingin segera pergi dari tempat yang sebenarnya sangat enggan ia datangi. Tapi janjinya pada sang istri untuk menuntaskan segala permasalahan yang ada, membuatnya harus bertahan.


" Berhenti berpura-pura, Alina, berhenti bermain drama, berhenti playing victim seolah kamu adalah manusia paling menderita di dunia ini. Karena kamu sendiri yang menjadi penyebab penderitaan yang kamu alami. Berhenti mengharapkan saya, cari lelaki lain yang lebih layak mendapatkan hati kamu. "


Perempuan itu menggeleng tak rela. " Tapi Alin nggak bisa, Alin nggak mau yang lain, Alin cuma mau Kak Hega yang menjadi pendamping Alin. Alin cintanya cuma sama Kak Hega, hiksss. . . Alin yakin cinta Alin lebih besar daripada perempuan itu. "


Hega kembali menatap remeh pernyataan perempuan yang terus memberikan tatapan mengiba padanya itu.


" Cinta ? Menurut kamu cinta macam apa yang kamu bangga-banggakan itu ? Cinta macam apa yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kamu mau ? Percobaan pembunuhan bahkan drama bunuh diri ? Hhh, cinta seperti itu yang kamu maksud ? "


Jleb


Tenggorokan Alina langsung tercekat, air mata semakin membanjiri pipinya. Tapi hal itupun tak menggerakkan hati pria yang selama lebih dari dua tahun ini dia cintai.


" Kak, tolong kasih Alin kesempatan untuk membuktikan kalau Alin benar-benar cinta sama Kak Hega, Alin---. " Perempuan yang terlihat pucat dengan lelehan air yang terus mengalir dari pelupuk matanya itu berjalan mendekat, mencoba meraih lengan pria yang hanya menatapnya dingin.


Dengan satu kali gerakan mundur, Hega menghindari sentuhan perempuan itu. Saat Alina kembali ingin mendekat, Ragil Anggara yang sedari tadi berada di belakang Hega langsung mengambil langkah menghadang gerakan Alina.


" Maaf, saya harap Nona menjaga batasan. "


" Kak Hega, Alin mohon---. " Tangan Alina terus mencoba menggapai tubuh Hega meskipun terhalang oleh Ragil Anggara.


" Saya peringatkan untuk terakhir kalinya, jangan lagi mengganggu kehidupan saya, kamu masih muda, masih panjang jalan kamu untuk mencari kebahagiaan kamu sendiri. Hentikan obsesi kamu itu, Alina. " Ucap Hega kemudian membalikkan badannya meninggalkan kamar pasien.


" KAK HEGA JANGAN PERGI, ALIN AKAN MATI KALO KAKAK PERGI. KAAAAAKKK. " Alina kembali ambruk di lantai, berteriak tak terkendali dengan tangis memohon.



Hega terus melangkah, tak memperdulikan tangisan serta teriakan histeris Alina terus memanggil namanya. Bahkan Hega mengabaikan Aliza--sahabatnya, yang sedari tadi diam mematung di ambang pintu menyaksikan perdebatan Hega dan adik sepupunya.


Wanita itu meremas dress nya dan menghela nafas sebelum memutuskan untuk mengejar sahabat baiknya itu.


" Ga, tunggu, aku mau bicara. Ga--. " Aliza melangkah cepat mengikuti sahabatnya, bagaimanapun hari ini wanita itu merasa telah begitu mengecewakan sahabat baiknya itu.


Hega mau tak mau menghentikan langkahnya, memejamkan mata sejenak dan mengambil oksigen sebanyak yang dia bisa. Kemudian berbalik badan dan menatap tajam sahabat perempuan satu-satunya.


Wanita yang selama enam tahun ini menjadi salah satu tempat curhat Hega. Bahkan Hega lebih mempercayakan rahasia hatinya pada wanita itu ketimbang Bara yang notabenenya lebih lama dikenalnya.


Mungkin jiwa sebagai seorang mahasiswa psikologi Aliza yang membuat Hega merasa lebih nyaman berbagi cerita dengan kekasih sahabatnya itu.


Tapi kali ini wanita itu benar-benar mengecewakannya, apakah Hega masih bisa menganggap wanita ini sebagai seorang sahabat ?


***


...Minta komentarnya beberapa kata boleh ? 🙁...