FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 108 • Separuh Jiwa Hega



Suryatama menghela nafas berat, merasa sudah tidak mungkin lagi membujuk cucunya karena terlihat jelas Hega yang sudah mutlak dengan keputusannya.


Suryatama yang paling tahu jika cucunya itu memang sangat keras kepala, sekalinya memutuskan sesuatu akan sulit sekali untuk diubah, bahkan mungkin mustahil.


Bukankah Hega adalah fotocopy dirinya, baik karakter ataupun pembawaannya. Tapi sepertinya kadarnya lebih luar biasa kerasnya.


" Apa kamu khawatir kalau istrimu akan marah ? "


" Tidak. " Ucap Hega yakin. " Karena Hega yakin Momo tidak akan seperti itu. " Imbuhnya.


" Hega punya pertimbangan sendiri dengan memutuskan untuk tidak kesana. "


" Baiklah, kakek yakin kamu tahu apa yang terbaik. Terserah padamu. " Pasrah kakek Suryatama akhirnya.


" Hega pamit ke atas, Kek. "


" Ya, istirahatlah. Sepertinya tadi istrimu juga sudah pulang. " Hega mengangguk.


" Ben, bagaimana menurutmu ? Apa baik jika seperti ini ? " Tanya Suryatama setelah Hega sudah menghilang di balik pintu.


" Saya yakin Tuan Muda sudah mempertimbangkan semuanya, Tuan Besar. Bukankah Tuan Muda selalu rasional, dan Tuan Besar selalu mendukung pilihan Tuan Muda. "


" Ya, aku tahu. Tapi ini urusannya dengan nyawa, Ben. "


" Tapi saya rasa Tuan Muda ada benarnya, Tuan Muda tidak punya tanggung jawab apapun untuk memenuhi permintaan keluarga Setiawan. Karena seperti yang Tuan Muda katakan tadi, Tuan Muda tidak pernah ada hubungan apapun dengan gadis itu ataupun sekedar memberi harapan. Dan bukankah Tuan Besar juga tahu akan hal itu ? "


Pria tua itu kembali menghela nafas, kemudian mengangguk setuju atas ucapan kepala pelayannya.


" Kau benar, Ben. Lagipula tidak akan ada yang bisa membujuknya jika anak itu sudah mengambil keputusan. "


" Sebenarnya saya rasa ada satu orang yang mungkin bisa membujuk Tuan Muda. "


Suryatama melirik Benyamin, " Maksudmu Moza. " Dan pria yang berdiri tepat di samping kursinya itu mengangguk


" Tidak Ben, itu bukan pilihan yang baik. Kau juga tahu sendiri apa yang akan terjadi jika aku melakukannya. "


Suryatama tahu jika dirinya mencoba membujuk Hega melalui Moza. Cucunya itu akan sangat marah, karena Moza adalah separuh jiwa Hega. Dan cucunya itu tidak akan membiarkan gadis yang paling dicintainya itu ikut terseret dalam kerumitan yang memang tidak seharusnya gadis itu alami.


" Iya, Tuan Besar. Lalu apa yang akan Tuan Besar lakukan ? "


" Kau awasi saja situasinya. Laporkan padaku jika ada yang penting. Bagaimanapun aku juga tidak mau ada yang mengganggu kebahagiaan cucuku. "


" Baik, Tuan Besar. "



Untuk beberapa saat Hega terdiam di depan pintu kamarnya, ekspresi wajahnya masih terlihat kurang baik.


Hega memejamkan matanya sejenak, mengambil oksigen sebanyak-banyaknya kemudian mengembuskannya dengan sedikit kasar.


Pria itu harus menguasai dirinya, agar amarah yang tengah melanda hatinya tidak tampak oleh istrinya. Hega tak mau istrinya melihat sisi dirinya yang seperti itu.


Hega hanya mau membagi bahagia, dan bukan kerumitan yang bisa mempengaruhi kebahagiaan istrinya.


Setelah suasana hatinya membaik, tangannya terulur pada handle pintu dan memutarnya perlahan, nyaris tanpa suara.


Saat pintu terbuka, yang pertama kali ditangkap oleh netra hitamnya adalah sosok manis istrinya yang sedang duduk di depan meja rias yang berada tak jauh dari ranjang mereka.


Hega reflek menyandarkan tubuhnya di kusen pintu yang sudah terbuka lebar itu. Kedua tangannya terlipat di depan dada.


Dilihat sekilas memang gadis itu tengah bercermin sembari membersihkan sisa makeup di wajahnya. Tapi jika diperhatikan dengan seksama, sepertinya istrinya itu tengah melamun atau memikirkan sesuatu yang membuatnya tidak memperhatikan sekitarnya.


" Aku tidak akan bisa melihat kesedihan di wajah kamu, karena itu aku tidak akan membiarkan apapun menghilangkan senyum di wajah cantik kamu. " Gumam Hega lirih, kedua matanya kembali memejam, menata kembali emosinya.


Aku sama sekali tidak meragukan karaktermu. Sebagai teman, aku tahu dengan jelas bagaimana kau, Ga.


Aku tahu kau selalu bisa memegang ucapanmu. Tapi bukankah selalu ada ujian bagi segala hal di dunia ini, Ga ?!


Begitu juga halnya dengan kesetiaan seorang pria.


Soal wajah kau memang kalah jauh dariku, Ga. Tapi latar belakang yang kau miliki cukup menjadi alasan kuat bagi perempuan di luar sana melakukan segala cara untuk memilikimu. Dan aku tidak mau adikku menderita karena hal itu. Aku tidak rela.


Hega masih bergeming dengan tubuh bersandar di pintu, kelopak matanya kembali terbuka, satu tangannya terulur memijat celah diantara kedua alisnya.


Ingatan tentang salah satu curahan hati sahabatnya--Arka, yang terjadi beberapa waktu setelah insiden Moza yang merengek meminta menikah dengan Hega.


"Kau memang ahlinya membuat orang kena mental, Ar. Tapi aku tidak akan membiarkan kekhawatiranmu itu terjadi. Bagaimanapun kebahagiaan Momo kita adalah yang utama untukku. " Hega kembali bermonolog dengan dirinya sendiri.


" Ssshhh, untung saja ya, Momo kita sangat manis, dia tidak mengikuti mulut mu yang suka nyakitin kalau ngomong. " Pria itu lantas terkekeh kecil.


[ Author 'Neng Rin' : Tak tahu saja jika istrinya itu kalau ngomong suka bikin orang membeku. Julian saja hampir kena mental dibuatnya. Dan lagi apa Bang Hega ini tidak mengaca ya ? Bukannya dia tak jauh beda, kalau ngatain suka nyakitin. ]


Ingatan tentang sahabat sekaligus kakak iparnya--Arka, selalu sukses membuatnya kesal sekaligus merindu.


Bagaimanapun juga Arka adalah sahabat terbaik untuknya, diluar kenyataan bahwa bocah lelaki itulah yang memberikan kehidupan kedua baginya. Sekaligus memberikan sumber kebahagiaan baginya, Moza Artana Dama Saint.


istrinya tampak masih dengan kegiatan semula, melamun atau entah apa.


Bibir berwarna merah itu tertarik ke atas, bibir yang memang tak pernah tersentuh nikotin. Perlahan kaki panjangnya melangkah mendekat ke arah sang istri. Hingga tubuh besarnya berada tepat di belakang istrinya pun, gadis itu tidak juga merespon.


Hega membungkukkan badannya, bibirnya mendekati daun telinga sang istri. " Melamun, hm ? "


" Ya Allah, kakak. " Moza reflek menoleh dan memekik saking kagetnya.


Cup


Dan tentu saja bibir Hega dengan senang hati menyambut bibir manis istrinya saat gadis itu menoleh ke arahnya.


Bola mata bulat yang sedari tadi menatap dengan pandangan kosong itu seketika seolah kembali hidup.


" Kakak, kenapa dari tadi bikin kaget sih ? Dan apa itu tadi, pinter banget cari kesempatan. " Satu pukulan mendarat di lengan suaminya.


Hega terkekeh, " Salah sendiri dari tadi kamu melamun. Sedang mikirin apa sih, yank ? "


" Oh, enggak kok, aku nggak melamun, kak. "


Hega menegakkan kembali tubuhnya, kedua tangannya mendarat di kedua bahu istrinya, ada sesuatu yang mengganggu pikiran istrinya, Hega bisa melihat jelas dari mata istrinya yang terlihat sayu.


" Yank. " Sepertinya Hega tengah akan kembali melancarkan jurus mautnya, jurus mesum.


" Eumm. " Moza mendongak membalas tatapan suaminya.


" Mandi bareng, yuk. " Pinta Hega, meski pria itu tahu jika istrinya akan menolak. Ajakan yang sengaja ia lontarkan untuk memancing agar mood istrinya kembali normal.


Tapi . . .


***