
Hamparan taman indah ditumbuhi bunga tulip putih yang tampak terawat memanjakan mata.
Seharusnya pemandangan ini bisa menyejukkan hati penikmat keindahan alam yang bisa dibilang sangat luar biasa ini.
Tapi tidak bagi Hega, wajah tampannya yang dingin semakin memancarkan aura mencekat. Bahkan auranya membuat atmosfer sekitarnya ikut mendingin.
Dua pria di kursi depan tanpa sadar menggosok tengkuk mereka yang tiba-tiba merasa dingin.
Ragil Anggara yang memahami sang tuan muda dengan begitu baik langsung berdehem dan menatap dua pria di depan.
Dua pria yang mencuri pandang dari kaca spion langsung terkesiap dan kembali fokus ke depan. Seolah paham dengan bahasa tubuh Ragil Anggara.
" Silahkan, CEO kami sudah menunggu anda. " Ucap salah satu pria yang duduk di kursi di samping pengemudi.
Entah karena sibuk dengan kemarahannya atau sibuk dengan hatinya yang tidak sabar menemui kekasih hatinya. Hega sampai tidak menyadari jika mobil sudah berhenti di depan bangunan super mewah bernuansa modern itu.
Hega menatap bangunan itu dengan seksama, mansion mewah yang Hega tahu adalah milik salah satu keluarga besar Eropa. Namun Hega tidak pernah menyangka jika Fabian lah pemiliknya.
" Tuan Muda. "
Hega langsung tersadar. " Hhh. Ayo Gara. " Kakinya melangkah setelah merapikan jasnya. Di depan pintu sudah ada dua pria lainnya yang sepertinya adalah penjaga.
Satu pria membukakan pintu, dan pria yang tadi menjemputnya sudah ada di sisi kanannya.
" Silahkan lewat sini. " Dari pembawaannya, Hega tahu pria ini berbeda dari dua pria di pintu utama. Hega yakin pria ini adalah orang kepercayaan Fabian.
Belum sampai di ruang tamu, netra beriris hitam pekat itu langsung menangkap sosok pria yang membuatnya ingin sekali menghajarnya.
Tidak butuh berpikir dua kali, Hega langsung melangkah cepat mendekati pria yang baru saja menginjakkan kakinya di anak tangga terakhir itu, dan---
Bugh...
Dan satu pukulan mendarat di wajah pria itu. Tidak ada satupun yang menduga jika pria yang sedari tadi tampak tenang itu akan melakukan hal seperti itu.
" Tuan Muda. " Dua pria itu serentak berteriak.
Ragil Anggara dan pria yang mengantar mereka tadi. Tentu saja dengan subjek yang berbeda.
" Jangan ikut campur, Gara ! " Geram Hega mencoba memberontak dari pegangan Ragil Anggara.
" Tuan Muda, anda tidak apa-apa ? " Si pria yang menjemput mereka tadi membatu pria yang sudah terjatuh di lantai karena pukulan Hega yang tiba-tiba.
" Aku tidak apa-apa, Ken. " Ucapnya seraya mengusap sudut bibirnya yang sepertinya sedikit sobek karena tinju Hega.
" Tuan Muda, saat ini Nona lebih penting. Saya mohon tahan emosi anda. " Bisik Ragil Anggara mengingatkan jika prioritas utama kedatangan mereka adalah istri majikannya ini.
" Dimana istri saya ? " Netra Hega memerah marah. Belum puas sebenarnya melampiaskan emosinya.
" Ken, antar Presdir Saint ke kamar tamu utama. " Ucap Fabian setelah berhasil berdiri tegak kembali atas bantuan sekretaris pribadinya, Kenan Filbert.
Hega, "....."
" Saya sudah membujuknya dan memintanya turun, tapi sepertinya dia tidak akan mendengarkan ucapan siapapun selain anda. "
" Ken, pergilah ! Luka seperti ini tidak akan membuatku mati. "
" Baik, CEO. Silahkan ikuti saya, Presdir Saint. "
Tidak ingin membuang waktu, Hega mengikuti pria bernama Ken itu. Mengabaikan pria yang sesungguhnya masih ingin ia pukuli.
" Nona Moza ada di kamar ini. " Ucap Ken saat mereka sudah berada di lantai dua mansion berinterior bernuansa putih dan silver itu.
Hega menahan tangan Ken yang hendak membuka dua daun pintu itu bersamaan dengan kedua tangannya. " Biarkan saya masuk sendiri. "
Ken terlihat ragu sejenak, namun kemudian mengangguk dan mengambil langkah mundur. Membiarkan pria yang ia tahu adalah rekanan bisnis Tuan mudanya itu untuk mengambil alih membuka pintu.
" Gara, kau tunggu disini, hubungi Derka. " Titah Hega sebelum memutar knop pintu.
Ragil Anggara mengangguk patuh. " Baik, Tuan Muda. "
Perlahan dengan dada berdebar, Hega memutar knop pintu berwarna putih di hadapannya. Ruangan yang termaram karena tirai tertutup rapat.
Meskipun wajah gadis itu tersembunyi diantara kedua kakinya yang menekuk. Hega yakin itu adalah sosok istrinya, Moza Artana.
Bibirnya kelu bahkan tak sanggup hanya sekedar menyebut nama istrinya.
Krieeet....
Meski sangat pelan, Hega tak mampu menghentikan suara derit pintu.
" Bian, sudah aku katakan jangan ganggu aku. Apa kamu tidak paham ucapanku ? Berhentilah membujukku, tolong aku sungguh ingin sendiri. Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun, aku--- "
" Termasuk aku ? "
Suara itu, itu suara yang Moza kenal, suara familiar yang begitu dirindukannya. Tapi Moza seakan tidak mau langsung percaya begitu saja.
Moza mengira ini hanya khayalannya semata.
Namun Moza langsung menghentikan tangisnya saat suara itu kembali jatuh di indera pendengarannya.
" Apa kamu juga tidak ingin melihatku ? "
Dengan ragu Moza mengangkat wajahnya, kepalanya mendongak dan menatap dengan tatapan tak percaya.
Bahkan Moza mengusap kedua matanya beneapa kali agar ia yakin dengan apa yang dilihat olehnya.
Dan sosok pria dengan tubuh tinggi itu berdiri diantara dua daun pintu yang sudah terbuka.
Melihat wajah tampan dan tegas suaminya, mata hitam pekat yang selalu menatapnya dalam dan penuh kelembutan.
Pria yang begitu ia cintai dan ia rindukan. Pemilik hatinya, ayah dari calon bayinya yang kini tumbuh di rahimnya.
" Ka-kakaak. . . " Moza mengucek kedua matanya, meyakinkan dirinya jika yang ia lihat bukanlah fatamorgana, melainkan nyata adalah suaminya.
Pria itu melangkah semakin dekat, Moza ingin bangkit tapi mogok makan selama dua hari ini membuatnya tidak memiliki tenaga sedikitpun.
Jika hanya dirinya saja seorang diri mungkin tenaganya tidak akan selemah ini. Tapi ada nyawa lain yang dengan sangat terpaksa mengikuti aksi mogok makannya.
Mengingat hal itu, Moza mengusap perutnya merasa menyesal.
" Sayang. "
Moza kembali mendongak saat suara bass yang terdengar berat itu jatuh menerpa indera pendengarannya.
Moza menggelengkan kepalanya beberapa kali saat kedua matanya menangkap sosok yang amat ia rindukan itu. Namun rasa takut kalau-kalau ini hanya khayalan semata membuatnya memejamkan mata.
Tapi saat bola mata yang sedikit sembab itu kembali terbuka, sosok itu masih tetap sama dan nyata.
" Apa ini sungguh kamu, Kak ? " Kedua tangannya terulur mengusap wajah tampan pria di hadapannya.
" Iya, ini aku, sayang. " Jawab pria yang kini sudah duduk di tepian ranjang tempat Moza berada. Tangan besarnya menangkap punggung tangan Moza yang masih berada di pipinya.
Ditariknya lembut tangan istrinya, mengecup telapak tangan ramping itu bergantian.
" Kakak, hiksssss.... " Pecah sudah tangis Moza akhirnya, bersamaan dengan tubuhnya yang kini jatuh dalam dekapan erat suaminya.
" Maafkan aku, Yang. Maaf karena terlalu lama membuatmu menunggu. " Hega juga tak kalah emosionalnya, pria itu bahkan tidak bisa menahan air mata bahagia karena akhirnya bisa memeluk erat istri tercintanya.
Hega dapat merasakan istrinya menggelengkan kepalanya beberapa kali di dadanya. " Tidak, aku yang harusnya minta maaf. Ini semua karena aku yang keras kepala dan tidak menurut pada kakak. Maaf, hikks.... "
Hega ikut menggeleng. " Tidak, sayang. Akulah yang tidak bisa menjagamu dengan benar. Tapi aku pastikan ini tidak akan terjadi lagi. Jadi berhenti menangis, hmm ! "
Usapan demi usapan lembut mendarat di kepala dan punggung Moza. Mengiringi isak tangis wanita yang kini tengah berbadan dua itu.
" Kak, bawa aku pulang, hikksss. " Suara Moza semakin serak dan lirih. Tenaganya seperti disedot habis tak bersisa.
" Iya, sayang. Kita akan pulang. " Hega mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala istrinya. Dan segera membawa tubuh ramping Moza dalam gendongannya.
Ia pastikan ini adalah pertama dan terakhir kalinya ia teledor menjaga istrinya.
...****************...
Mungkin ada yang mau baca cerita aku di WP, tentang anaknya Bang Hega. Disana masih beberapa bab gratis sih, meski ada rencana aku pindahkan ke pf lain. Masih menimbang2 mau kontrak rumah dimana untuk Hega junior.