
⚠️ Under 21 Please Skip This CHAPTER !!! 🙈😘
[ Dibawah Usia 21 Tahun, Tolong Lewati Chapter ini !!!! ]
...☆☆☆...
Moza yang terkejut sontak memalingkan wajahnya saat melihat tubuh polos suaminya yang sudah berada tepat di atas tubuhnya yang juga sama polosnya.
Satu kata yang mungkin mewakili kata hatinya saat ini, MALU.
Ya ampun, jantung aku mau lepas rasanya.
" Kak-- Boleh matikan lampunya ? " Cicit Moza dengan pipi yang sudah sangat memerah, kedua matanya bahkan sudah terpejam begitu erat.
Ini terlalu menegangkan, bahkan menonton film horor sekalipun tidak sampai membuat jantungnya terpompa secepat ini.
Hega tersenyum simpul, mengapit dagu istrinya dan kembali memutar wajah istrinya agar kembali menatapnya, " I'm yours, so there's no need to be ashamed to see your husband's body, baby. [ Aku milikmu, jadi tidak perlu malu untuk melihat tubuh suamimu, sayang. ] "
Dengan ragu Moza membuka kembali matanya perlahan, mengintip apa gerangan yang akan suaminya lakukan selanjutnya.
Cegluk. . .
I seems No more chance for to escape !!! [ Sepertinya tidak ada lagi kesempatan untuk menghindar !!! ]
Dan yang terjadi kini terasa lebih mendebarkan, suami tampannya itu tengah kembali merangkak di atas tubuh rampingnya. Menatapnya dengan penuh damba, kemudian mendaratkan kecupan mesra di kening Moza, turun ke hidung dan kedua pipinya.
Tak lama kemudian mencium lembut bibir Moza dan melumattnya perlahan dan penuh kehati-hatian. Begitu lihainya permainan Hega hingga berhasil membuat Moza ikut terhanyut dan membalas lumatann sang suami.
Hega menurunkan aktivitasnya ke arah leher jenjang Moza, kembali membuat kissmark disana, hingga tanpa sadar Moza mendesah lirih karenanya.
Dengan sangat perlahan Hega menyentuh setiap jengkal tubuh istrinya, memberikan sentuhan ringan di beberapa titik sensitif istrinya. Moza yang sudah terlanjur larut dan mulai kehilangan kewarasannya karena rasa nikmat yang diberikan suaminya hanya bisa mendesah dan menggeliat kecil setiap kali bibir dan jari-jari tangan lihai suaminya memberikan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya di sekujur tubuhnya.
Hega yang sudah tidak bisa menahan diri lagi, dengan lembut menyesap lembut salah satu bukit milik istrinya. Membuat Moza semakin terbuai dan tidak menyadari jika desahannya semakin nyaring terdengar, yang justru membuat Hega semakin bersemangat melanjutkan aktivitasnya.
Hega sudah siap untuk menyatukan miliknya di bawah sana, tapi---
" Kak, s-sakit. " Rintihan sang istri membuat Hega sempat tidak tega untuk melanjutkan usaha penyatuan mereka.
" Rileks, sayang. " Hega mengecup kelopak mata istrinya bergantian, turun ke pipi dan bawah telinga, berusaha mengalihkan istrinya dari rasa nyeri di bagian inti tubuhnya.
Namun seberapa banyakpun usaha yang dilakukan Hega, tak serta merta membuat ketakutan dan ketegangan istrinya mereda.
Tubuh istrinya semakin menegang dan pastinya akan membuat gadis itu semakin kesakitan.
Hega memejamkan matanya dan menghirup oksigen sebanyak mungkin, berusaha menekan hasratnya yang sudah berada di ubun-ubun kepalanya dan nyaris meledak.
" I can stop if you--- [ Aku bisa berhenti jika kamu-- ] " Lirih Hega saat ia kembali membuka mata dan melihat air mata menetes di pipi istrinya, sungguh tidak tega.
Meskipun ada rasa sedikit kecewa, Hega rela menundanya, hal yang paling tidak ingin ia lakukan di dunia ini adalah menyakiti istrinya. Hega sudah siap menarik kembali miliknya, saat kedua lengannya ditahan oleh istrinya.
Hega menatap wajah istrinya yang terlihat sayu, gadis itu menggeleng kecil.
" Are you sure ? [ Apa kamu yakin ? ] " Tanyanya memastikan.
Betapa bahagianya Hega saat mendapati anggukan kepala dari sang istri, ditambah senyum samar yang masih terlihat menawan di bibir gadisnya itu.
Hega kembali memberikan rangsangan pada tubuh istrinya, mengalihkan sang istri dari rasa sakitnya, mencium bibir Moza agar setidaknya bisa mengurangi rasa sakitnya.
" I will only hurt you this time and it will never happen again. [ Aku hanya akan menyakitimu kali ini dan tidak akan pernah terjadi lagi. ] "
Gadis itu terus meringis kecil, tanpa sadar kuku-kuku cantiknya menggores kulit lengan, bahu, dada dan punggung suaminya, bahkan beberapa kuku menancap di kulit putih sang suami.
Hingga tak lama rasa sakitnya sedikit demi sedikit menghilang, berganti dengan rasa nikmat yang tak tertahankan, ketika keduanya bergerak beriringan mengikuti ritme yang semakin memabukkan.
" I love you my wife. " Ucap Hega, mengecup bibir dan kening istrinya setelah keduanya berhasil melebur menjadi satu dalam cinta.
" I love you too my hubby. " Balas Moza sangat lirih, tenaganya sudah terkuras habis dalam satu ronde saja.
Hega kembali merengkuh bibir mungil istrinya, kali ini bukan sekedar kecupan singkat, melainkan ciuman panjang yang dalam dan memabukkan. Hingga akhirnya ia memilih berhenti, memberi jeda agar sang istri memulihkan diri.
" I finally have you completely. From now on, we will always be together and nothing in the world can separate us. "
[ Akhirnya aku memilikimu seutuhnya. Mulai sekarang, kita akan selalu bersama dan tidak akan ada satu hal pun di dunia yang bisa memisahkan kita. ]
Bisik Hega lirih seraya membelai lembut pipi Moza dan mengecup kening istrinya. Sebelum akhirnya ia ikut terlelap dalam alam mimpi bersama sang istri yang sudah terlebih dulu berlabuh dalam mimpi indahnya.
▪ ▪ ▪
Hega memandangi wajah cantik istrinya yang masih terlelap dalam tidurnya, meringkuk dalam pelukannya dibalik selimut tanpa sehelai benangpun.
Satu tangannya menjadi bantal gadis yang sudah resmi menjadi istrinya dua hari yang lalu itu. Dan tangan lainnya sedang sibuk berjelajah mengelus rambut Moza yang terlihat berantakan. Perlahan menyusuri garis wajah Moza yang tampak sempurna di matanya.
" Kenapa kamu bisa secantik ini sih, sayang ? " Gumam pria bermata elang tajam itu sembari tersenyum bahagia mendapati sosok cantik itu ada dalam pelukannya saat ia membuka mata di pagi hari.
Dan mulai hari ini akan seterusnya begitu, paginya akan sangat membahagiakan bisa menatap wajah cantik gadis yang dicintainya.
" Eugh. . . " Moza menggeliat kecil, sepertinya tidur cantiknya sedikit terusik oleh ulah jemari Hega yang menelusuri kulit wajahnya.
Perlahan kelopak mata Moza terbuka, manik matanya mulai mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya ruangan yang masuk ke dalam indera penglihatannya.
Moza mengusap lembut kedua kelopak matanya yang masih kesulitan terbuka lebar.
" Good morning my beautiful wife. [ Selamat pagi isriku yang cantik. ] " Senyum tampan Hega menyambut pagi hari Moza.
" Pagi juga, kak. " Balas Moza dengan suara sarannya, dan dengan mata setengah terpejam. Masih terasa berat untuk terbuka sepenuhnya.
Namun itu tak berlangsung lama tatkala gadis yang sudah tak gadis lagi itu merasakan ada sesuatu yang aneh.
...----------------------...
...Masih kurang hot ya ?...
...Maaf ya, Gak bisa lebih dari ini. Takut kalo yang baca ada yang masih under 21 dan nekat baca....
...Moga kalean gak kecewa ya, dan masih mau nyawer aku sama 🌹 hehe....
...Komen juga atuh ya sayang 😘...