FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 14 • Menjadikanmu Ratu



...' Jantung ini memang bukan milikku. Tapi hati yang mencintaimu ini seutuhnya milikku, dan hati inilah yang memilihmu. Jadi jangan ragukan cintaku untukmu. Cukup terima semua yang aku berikan padamu. Karena tujuan hidupku hanya satu, yaitu kebahagiaanmu. I love you, istriku. '...


...~ Hega Airsyana ~...


...▪▪▪...


" Memangnya kamu, jam segini masih seperti ulat sutra didalam selimut. " Ucapan Hega benar-benar menohok.


Pedes banget yah ngomongnya, tapi emang bener sih yang kak Hega bilang. Suami udah bangun eh, aku malah masih molor di kasur.


Batin Moza seraya menelan ludahnya dengan susah payah. Ingin marah tapi kan dia yang salah disini, siapa suruh males-malesan padahal udah berubah status jadi istri.


Hish, dibilang kesel ya kesel sih, masa istri sendiri dikata ulat sutra, nyebelin.


Meskipun Moza tahu sih kalau suaminya itu hanya bermaksud menggodanya saja, dan apa yang diucapkan Hega hanya sebagai bentuk kejahilannya semata.


Tapi kan tetap saja nge-jleb gitu rasanya di hati.


Astaga, ini baru hari pertama menjadi istri, dan sang suami bahkan bangun lebih awal daripada sang istri yang seharusnya menyiapkan sarapan untuk suaminya itu, atau minimal membuatkan secangkir kopi.


Tapi ini kenyataannya malah Moza masih asyik dengan bantal guling disaat sang suami sudah terjaga dan beraktivitas pagi. Gadis itu tersenyum malu dan menggaruk lehernya yang tidak gatal.


Hari ini sepertinya menjadi permulaan buruk yang menghancurkan image nya sebagai istri yang sempurna, jangankan sempurna, skornya sebagai seorang istri saja sudah minus di hari pertama.


Sungguh miris.


" Maaf ya, kak. " Cicit Moza lirih, terdengar penyesalan dalam nada suaranya, apalagi gadis itu langsung menundukkan kepalanya dengan lesu.


Satu alis Hega terangkat naik, " Kenapa malah minta maaf ? "


" Karena aku seharusnya bangun lebih dulu daripada kakak. " Gumam Moza sembari menautkan kedua jemari tangan yang ada di atas pangkuannya.


" Kenapa harus begitu ? "


Moza memberanikan diri menatap sang suami, " Ya kan memang sudah kewajiban seorang istri untuk menyiapkan segala keperluan suami mulai dari saat suaminya terbangun di pagi hari. Misalnya membuatkan kakak kopi atau menyiapkan air mandi gitu. "


" Pffft. . . " Mendengar penuturan istrinya, Hega tak kuasa untuk tidak tertawa.


Moza mencebikkan bibirnya, " Kenapa kakak malah tertawa ? Apa yang lucu coba ? " Dari yang awalnya berekspresi menyesal, tiba-tiba malah berubah kesal karena tawa suaminya yang terdengar seolah mengejeknya.


" Apa yang lucu ? " Hega malah mengulang pertanyaan istrinya dan gadis itu mengangguk dengan polosnya, " Tentu saja kamu yang lucu. " Jawab Hega yang membuat Moza semakin mengernyit bingung.


" Pemikiranmu itu loh yang lucu, ya ampun kenapa kamu bisa punya pikiran seperti itu coba ?! " Kelakar Hega dengan masih berusaha menahan tawanya agar tidak kembali pecah.


Bahkan bahu pria itu sampai sampai berguncang dan juga memegangi perutnya saking merasa lucunya karena tak habis pikir bagaimana bisa istrinya masih punya pemikiran sekolot itu di jaman yang apa-apa sudah serba wow ini.


Istri melayani suami dan harus bangun lebih pagi ???


Ya memang benar sih istri berkewajiban melayani suami, tapi yah tidak seperti itu juga lah. Hega juga sudah terbiasa mandiri selama kuliah di luar negeri.


Lahir sebagai satu-satunya pewaris kekayaan berlimpah keluarganya, menjadi sultan kaya raya di usia muda, tak lantas membuatnya gila pelayanan, apa-apa minta disiapkan.


BIG NO !!! Meskipun apa saja selalu siap sedia, banyak pelayan yang siap melakukan apa saja perjntahnya. Namun Hega terbiasa melakukan sendiri hal-hal yang masih bisa dia tangani dengan kemampuannya sendiri.


Apalagi hanya sekedar menyiapkan air mandi mah perkara mudah, toh nggak perlu masak air apalagi ambil air di sumur.


Tinggal pencet tombol semuanya beres, kan fasilitas rumahnya memang sefantastik itu. Apa gunanya juga punya uang banyak kalau segala hal masih dipersulit, itu juga toh gunanya punya kuasa, apa-apa harus serba efisien.


Jadi dalam kamus Hega, tidak ada istilah seorang istri harus siap sedia selama 24 jam melayani suaminya.


Lagipula di kediaman Saint yang bagaikan istana itu tidak kekurangan pelayan untuk sekedar membuat kopi atau menyiapkan air mandi.


Dan tidak perlu sampai sang istri turun tangan pada hal sekecil itu untuk sekedar menyenangkan suaminya.


Bagi Hega mah cukup di kasur aja istrinya itu harus menyenangkan dirinya, eits jangan traveling dulu otaknya.


Maksudnya tuh, liat wajah istri cantiknya berada di ranjang yang sama saja setiap akan tidur dan bangun tidur sudah cukup bikin Hega bahagia.


Tapi ya tidak munafik juga sih, yang 'satu itu' juga perlu, bahkan sangat perlu. Kalian ngerti kan maksud author kang halu ini. 😅


Moza masih tidak mengerti apa juga yang membuat suaminya itu tertawa setampan itu, memangnya apa juga yang lucu. Bibir Moza kembali mencebik, " Apa sih, kak. Aku nggak ngerti. "


" Hei, istriku yang tetap cantik meskipun baru bangun tidur dan masih belekan. " Seloroh Hega usil sembari menyentil pelan kening istrinya, membuat gadis itu meringis kecil dan reflek mengusap kedua matanya membersihkan sisa-sisa kotoran yang mungkin masih menempel di ujung kelopak matanya.


Tapi Moza tidak menemukan tuh belek yang disebutkan suaminya tadi, membuat bibirnya mengerucut sebal.


Dan Hega kembali terkekeh, " Mo, kamu harus tahu ya ! Buat aku tidak ada itu tuntutan istri harus bangun lebih pagi dari suaminya, kalau memang masih ngantuk ya tidur saja, jangan terbebani dengan hal kecil semacam itu. " Ucap Hega lembut.


Kemudian mengelus pipi istrinya, " Dan harus kamu ingat, aku menikahimu bukan untuk membuat mu terbebani dengan status mu sebagai istri. Tapi sebaliknya, aku ingin memiliki kebebasan tanpa batas untuk memberikan kenyamanan dan kebahagiaan untukmu. Kebebasan untuk melakukan segalanya yang bisa membuat mu bahagia. "


" Tapi kan, kak, umumnya memang begitu seharusnya seorang istri. "


" Kamu lupa sesuatu, hem ? "


" Apa ? "


" Suamimu ini tidak bisa digolongkan dalam kategori 'umumnya' seperti yang kamu sebutkan tadi. "


" Eh ??? "


Hega mengusap pelipis istrinya, " Suamimu ini spesial loh, jadi kamu juga istri spesial. Kita ini pasangan suami istri spesial gitu. Jadi tidak perlu mengikuti yang umum-umum atau yang kebanyakan orang lakukan. " Tandasnya dengan penuh penekanan.


Hish, martabak kali spesial.


Moza tidak tahu harus berkata apa lagi, speechless, gadis itu hanya bisa diam dan menerima apapun ucapan suaminya.


Hega menatap intens manik mata istrinya, " Momo sayang. "


" Hem. "


Hega merapikan anak rambut Moza yang berantakan sedikit menutupi wajah cantik sang istri, " Aku menikahimu bukan untuk membuat mu menjadi pelayan pribadiku, tapi sebaliknya, aku menikahimu untuk menjadikanmu sebagai ratu. " Ujarnya sembari memainkan rambut Moza dengan jemarinya, menggulung, memilin dan memutar-mutar rambut panjang istrinya dengan jari panjangnya.


Blush. . .


...-----------------------...


Semoga kalean belum bosen sama mereka ya.


Btw beberapa chapter kedepan akan flashback sejenak menceritakan hubungan antara Hega, Moza dan Arka (Hyuza)


Yang enggak suka boleh skip, tapi gak tanggung jawab ya aku kalo ntar dirimu kagak ngerti alurnya. Karna flashback ini akan ada kaitannya dengan chapter-chapter di kemudian hari.