FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 40 • Gusar



...☆☆☆...


Akhirnya setelah perjuangan panjang yang cukup menguras pikiran dan tenaga. Tiba juga hari dimana aku bisa mempersunting gadis yang paling aku cintai.


Dia adalah cinta pertamaku, gadis yang aku pilih sendiri dua puluh tahun lalu untuk menjadi putri mahkota dalam istana kebahagiaan yang kubangun dengan keringat dan kerja kerasku.


Meskipun ingatanku sempat membuatku melupakanya, namun hatiku yang berhasil mambawaku kembali padanya.


Dan kini dia lah yang akan menjadi ratu yang menguasai hati dan hidupku.


Jika ditanya apa aku bahagia ?


Maka ya, jawabannya adalah aku sangat bahagia. Bahkan kata bahagia saja sepertinya tidak akan cukup untuk melukiskan apa yang aku rasakan saat ini.


Hega bermonolog pada dirinya sendiri sembari memandang kagum bidadari hatinya yang masih terlelap dalam tidurnya.


" Kaaaaak. . . " Hega tersentak saat mendengar suara seksi wanitanya yang terdengar manja serak menggoda.


Suara serak yang seksi inilah yang akan menyambutku setiap pagi, rasanya ingin kembali merengkuh tubuh rampungnya yang tengah menggeliat-gel8at di balik selimut itu.


" Hmm. . . "


" Sejak kapan kakak bangun ? " Moza menggeliat kecil dan menguap, kemudian mengucek kedua matanya agar bisa sepenuhnya terbuka.


Pria yang masih terlihat begitu tampan dengan rambut berantakan itu menaikkan satu alisnya, tampak berpikir, " Emm. . . Cukup lama untuk menikmati wajah cantik istriku yang membuatku ingin kembali. .  . " Ujarnya menggantung kemudian mencondongkan wajahnya ke arah istrinya.


" Mengulang kejadian semalam. . . " Sambungnya di telinga Moza dengan suara menggoda.


Blush . . .


Pipi putih Moza merona seketika, gadis itu jadi teringat kegiatan olahraga ranjang yang begitu panas selama dua malam ini, yang terus berputar di kepalanya. Membuat jantungnya kembali berdebar hebat. Gadis itu memundurkan wajahnya, meremat selimut di dadanya.


▪▪▪


Malam itu selepas pesta resepsi selesai digelar, Moza terlebih dulu memasuki kamar yang sudah disiapkan khusus untuk kamar pengantin. Meninggalkan sang suami yang masih harus menerima beberapa tamu penting.


Moza sudah berada di kamar paling mewah milih Grand Imperial Hotel yang selama ini hanya akan dibuka dan digunakan oleh pimpinan tertinggi Golden Imperial Group.


Presidential Suite itu sudah disulap menjadi kamar pengantin yang begitu mewah, dengan hiasan bunga tulip putih di seluruh penjuru ruangan. Lilin aroma lily, dan balon-balon berwarna putih dan pink menghiasi langit-langit kamar dengan pita menggantung dari bawah masing-masing balon.


Moza melepas semua aksesoris yang melekat di tubuhnya, tiara, kalung, gelang dan anting berlian. Menyimpannya di kotak bludru yang ada di meja riasnya, menyisakan cincin pernikahannya yang tetap melingkar di jari manisnya.


Kemudian kembali memasang kalung berliontin berlian berbentuk hati yang diberikan Hega sebagai tanda cinta pria itu untuk nya beberapa bulan lalu.


Benda yang akan selalu dikenakannya untuk selalu mengingatkan dirinya tentang betapa besar cinta dan perjuangan cinta keduanya hingga bisa sampai di titik bahagia mereka hari ini.


" Bunda kembali ke bawah dulu ya, sayang. Masih ada beberapa teman bunda yang ada di pesta. " Ujar Ayu Puspita selepas membantu putrinya melepaskan gaun pengantin dan aksesoris yang menempel di kepala putri cantiknya yang kini telah menyandang gelar Nyonya Muda Saint itu.


Moza yang baru keluar dari kamar mandi dan memakai bathrobes berwarna maroon.


Moza menoleh kearah sang ibu dan berhambur mendekati wanita cantik berhijab dengan kebaya modern berwarna peach.


" Buuun. . . " Menyandarkan kepalanya di pundak wanita yang melahirkannya 20 tahun lalu itu.


" Jangan manja gini, sayang ! Malu ihh sama suami kamu nanti. " Goda Ayu sembari menepuk lembut punggung putrinya.


Gadis itu tersenyum tersipu, mendengar kata suami entah kenapa hatinya berdebar, seolah belum terbiasa.


" Bun, Momo. . . "


" Kamu jangan takut dan cemas, sayang. Percayakan saja semua pada suamimu ! " Nasihat Ayu langsung tepat sasaran.


Nyatanya gadis itu masih saja terserang sindrom malam pertama, lebih tepatnya ketakutan dan kecemasan menjelang malam pertama.


Apalagi tadi pagi sebelum meninggalkan kediaman Dama, suaminya sudah memperingatkan dirinya jika malam ini suaminya itu tidak akan melepaskan dirinya.


▪▪▪


Setelah sang ibunda meninggalkan dirinya seorang diri di kamar super luas dan mewah itu. Moza memilih membersihkan diri terlebih dulu sembari menunggu sang suami yang masih sibuk menemui beberapa tamu penting yang merupakan koleganya yang kebanyakan datang dari luar negeri.


Moza berendam di bathtub yang sudah terisi air hangat dengan taburan kelopak bunga mawar merah, busa sabun beraroma stroberry kesukaannya.


Sekitar setengah jam Moza memanjakan dirinya di dalam bathub, menghilangkan segala lelah setelah dua hari prosesi akad nikah dan pesta pernikahan yang cukup menguras tenaga.


Dan setelah puas, segera membilas tubuhnya di ruang pembilas bersekat kaca, menyalakan shower mengguyur tubuh polosnya dengan air hangat. Kemudian menggunakan bathrobes nya kembali dan membungkus rambut basahnya dengan handuk kecil.


Melangkah menuju ruang ganti, membuka lemari baju di salah satu sudut ruangan.


Bola mata Moza membulat sempurna saat melihat hanya ada satu baju yang menggantung disana. Moza memang polos, tapi gadis itu tidak bodoh. Dia tahu benar gaun tidur seperti apa itu.


Satu set lingerie berwarna pink menyala, lengkap dengan kimono berbahan satin yang sangat tipis transparan.


Moza menyusuri ruangan dengan ekor matanya, berharap menemukan baju lainnya. Tapi nihil.


Diraihnya gantungan baju itu dengan ragu dan menatapnya dengan tatapan geli. Tubuhnya bergidik melihat pakaian tidur yang  yang entah siapa yang menyiapkannya.


" Haish. . . Kenapa baju tidurnya begini ?! " Beberapa kali Moza menelan ludah dan mengerjapkan kedua bola matanya memandangi baju tidur transparan itu. Belum lagi sepasang baju dalam berwarna senada.


Bulu kuduknya meremang seketika, merinding sendiri membayanginya jika dirinya harus memakai baju tidur yang kurang bahan itu.


Dengan jijik dilemparkannya benda laknat itu di atas sofa, dan berjalan menuju lemari lainnya. Membuka satu per satu lemari di ruangan ganti itu.


Namun hasilnya tetap nihil. Tidak ada baju lain disana, bahkan keempat lemari besar itu benar-benar kosong melompong tidak ada isinya.


" Aaaahhhh. . . Kenapa aku tadi tidak tanya bunda dimana koperku sih ?! " Pekiknya frustrasi saat tidak menemukan benda kotak berwarna biru muda yang berisikan semua baju yang dibawanya dari rumah.


Bahkan ponsel yang merupakan benda terpentingnya pun raib menghilang entah kemana.


Moza terduduk lemas di pinggir ranjang, menggigit-gigit ujung kukunya dengan gusar.


Dengan ragu ia kembali memasuki ruang ganti, meraih benda terkutuk yang tadi dilemparkannya dengan wajah murka.


Gadis itu menarik nafas dalam, mencoba memenuhi paru-parunya dengan oksigen sebanyak mungkin, kemudian menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan diri dan berfikir jernih.


" Biarlah, ini lebih baik daripada telanjang kan. " Gumamnya pada dirinya sendiri sembari memandangi tubuhnya di depan cermin yang sudah terbungkus gaun tidur itu.


Tubuhnya yang ramping dengan kulit yang putih, terlihat seksi dan menggoda dengan balutan lingerie kurang bahan yang entah orang durjana mana yang sudah menyiapkannya.


" Huh. . . Orang gila mana yang menyiapkan baju tidur seperti ini ?! Aku harap ituh orang durjana yang kurang kerjaan itu akan bersin-bersin sampai pagi. " Gerutu Moza kesal, masih belum ikhlas jika harus membalut tubuhnya dengan gaun sejenis itu.


" Hatttchiiiiuuu . . . "


...------------------...


✏ Kerjaan siapa coba ?


sawer 🌹🌹🌹🌹 dong sebiji aja gak papa, jangan pelit atuh kalian mah 🙄