
Hega memilih kembali ke posisi semula, membelakangi gadis itu guna menetralkan degup jantungnya yang nyaris tak terkendali.
Memilih bersikap profesional dengan tidak langsung mendatangi gadis itu.
Padahal dalam hati ingin rasanya Hega berlari menerjang langsung kesayangannya. Namun dalam situasi seperti ini, Hega harus menggunakan akal pikirannya dengan baik.
Hega berusaha bersikap senormal mungkin menunggu waktu yang tepat. Hingga Bara datang dan menepuk pundaknya kemudian berbisik. " Anggap ini buat nebus kesalahan gue yang kemarin, Ga. Enjoy your time, brother. " [ Nikmati waktumu, sobat ]
Hega menoleh sekilas, tampak Bara mengedip memberi kode jika semuanya sudah dia bereskan. Dan pria itu langsung melangkah mendekati Geovano.
Disusul pria yang kata Bara adalah kadiv keuangan yang baru itu kembali buka suara.
" Moz, kamu tunggu disini sebentar ya, saya mau antar Pak Bara mengecek pekerjaan team 2. "
Entah kenapa Hega tidak suka mendengar nada suara yang digunakan pria itu saat berbicara dengan istrinya.
Hega sempat mendengar suara istrinya yang sepertinya berusaha untuk keluar ruangan dan pastinya menghindari pertemuan dengan dirinya. Sepertinya gadis itu belum menyadari jika Hega sudah menangkap basah dirinya.
Gegas Hega membalikkan badannya, memilih menyandarkan diri di meja dengan kedua tangan tersembunyi di saku celana. Tak lupa tatapan lurus dan tajam bagaikan singa yang tengah menandai buruannya.
Netra keduanya saling bertubrukan, jelas terlihat Moza sedikit terkesiap. Entah kenapa ekspresi istrinya yang seperti tertangkap basah itu terlihat sangat menggemaskan.
Awas kamu, yank.
Batin Hega dengan seringai tipis yang bikin merinding siapapun yang melihatnya. Bukan Hega jika tidak menggunakan ini untuk mencari kesempatan dalam kesempitan.
Sungguh, setelah seminggu galau, hari ini rasanya hati pria itu mendadak berbunga-bunga bagaikan iklan molto. Wajahnya yang suram sedari pagi seketika berseri.
Gemas, ingin segera memberi hukuman pada istri nakalnya.
Saat merasa tak ada lagi pengganggu, Hega melangkah dan berhenti di sekat kaca pembatas kemudian bersandar disana.
Kedua tangannya bersedekap di dada dengan netranya yang tak pernah lepas menatap gadis yang kini kembali duduk di kursinya. Seolah tak memberi celah bagi gadis itu untuk melarikan diri.
Sejujurnya Hega ingin tertawa melihat ekspresi menggemaskan istrinya. Tak mau membuang waktu lebih lama lagi, saat pintu sudah benar-benar tertutup rapat, kedua kaki panjangnya kembali melangkah.
Kali ini memilih posisi bersandar di ujung meja milik Geovano, hanya berjarak dua langkah saja dari kursi dimana istrinya berada.
Satu senyuman kembali terukir di bibir Hega, kali ini sebuah senyum kemenangan karena berhasil menangkap istrinya yang membuatnya gelisah selama sepekan terakhir.
" I caught you, baby. " Lirih, tapi Moza masih bisa menangkap gumaman yang keluar dari bibir pria itu.
Moza melirik pria itu tapi posisinya masih sama, duduk dengan kaku dan merasa was-was. " Eum, sebaiknya kakak bersikap profesional, pura-pura saja tidak kenal. " Ujar Moza bernada memperingatkan.
Bukannya gentar, pria itu melangkah mendekat, dan Moza tak tahu lagi harus berbuat apa. Tidak mungkin kan tiba-tiba kabur, kedua matanya memejam sejenak, menarik oksigen sebanyak mungkin.
Dan saat kedua bola matanya terbuka, pria itu sudah berdiri tepat di samping kursi yang ia duduki.
Dengan satu kali tarikan, kursi Moza diputar hingga menghadap padanya.
" Pinter banget ya istriku main kucing-kucingan. Siapa yang ngajarin, hm ? " Tanya pria itu dengan tatapan mata mengintimidasi.
Sudah satu minggu Hega dibuat kalang kabut karena tidak tahu dimana istrinya magang. Pria yang seminggu ini juga merasa hampa, karena biasanya setiap jam makan siang, Hega bisa menghabiskan waktu bersama istrinya, sekedar makan bersama dan mengobrol, atau bermesraan ala pengantin baru yang lagi demen berduaan.
Dan hari ini terbayar sudah rasa penasarannya. Sekaligus kesal juga sebenarnya pada dirinya sendiri, coba saja sejak seminggu lalu ia melakukan inspeksi divisi, pasti sudah dari awal ia tahu keberadaan sang istri.
Moza menahan nafas, rasanya berada sedekat dan seintim ini dengan suaminya dalam situasi begini sungguh mendebarkan. Moza merasa seperti wanita simpanan yang takut identitasnya terbongkar.
Arrrggg, dasar. Kenapa harus ketahuan secepat ini sih ? Gerutu Moza dalam hati.
Glek. . .
Moza menelan saliva saat posisi keduanya semakin intim.
" K-kakak m-mau a-pa ? " Moza tergagap saat wajah tampan itu semakin merunduk, Moza reflek memundurkan wajahnya, tapi gerakannya tentu saja terbata mengingat posisinya yang kini duduk di kursi dengan tubuhnya sudah tak bisa kemana-mana lagi.
" Hmmm, mau apa ya kira-kira ? " Sudut bibir Hega tertarik ke atas, senyum yang membuat Moza merinding.
" Jangan macam-macam ya, Kak ! Ada cctv di ruangan ini. Dan Pak Geovano bisa datang sewaktu-waktu, atau bisa jadi karyawan lain yang masuk, jadi--- " Ekor mata Moza melirik pintu dan kamera di sudut atap secara bergantian, kemudian menatap penuh peringatan pria di hadapannya.
Hega menggeleng, jemarinya mendarat di bibir tipis istrinya, menjeda ucapan gadis yang terlihat gelisah di kursinya. " Sssstttt, apa kamu kira Bara menarikku kesini tanpa persiapan apapun, hm ? "
Moza menatap dengan tatapan tak mengerti dan itu tertangkap di indera penglihatan Hega. Pria itu kembali mengulas senyum.
Hega tahu persis bagaimana Bara, dan mengingat ucapan Bara sebelum meninggalkannya tadi, Hega yakin jika sahabatnya itu memang sudah mengatur hal ini.
" Memangnya kamu pikir sebagai seorang Wakil Presdir, bocah itu sekurang kerjaan apa sampai membawa keluar pemilik ruangan ini hanya dengan alasan kecil seperti mau mengecek pekerjaan team 2 yang bahkan bisa dilakukan oleh asistennya, hmm ? " Moza kembali menelan ludah, mulai paham arah pembicaraan suaminya.
Hega menjeda kalimatnya sejenak menikmati ekspresi imut Moza, kemudian tangannya kembali terulur merapikan surai rambut di kening istrinya. Sedangkan tangan lainnya masih bertumpu di salah satu pegangan kursi.
" Dan satu lagi yang harus kamu tahu, bocah tengil itu pasti sudah mengatur semuanya sebelum menyeretku kesini, termasuk membereskan benda kecil yang dari tadi kamu lirik dengan wajah cemasmu yang menggemaskan itu, sayang. " Jelas Hega dengan senyum seringainya setelah melirik kamera kecil yang sedari tadi membuat istrinya terlihat cemas.
Kali ini Hega harus mengakui kemampuan Bara Prasetya, pria itu memang selalu menjadi sahabat yanh bisa diandalkan. Meskipun tak jarang menyebalkan.
Baiklah, sepertinya Hega memutuskan untuk melupakan kesalahan Bara sebelumnya.
Hega semakin menundukkan kepalanya, nyaris sudah tidak berjarak," So, ready to explain, baby ?* " Bisiknya tepat di telinga sang istri.
[ * Jadi, sudah siap untuk menjelaskan, sayang ? ]
Hembusan nafas yang menerpa kulitnya seketika membuat Moza merinding.
Glek
Astagfirulloh . . . Jantung aku bisa copot kalau begini caranya.