FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 174 • Petunjuk Penting Menuju Belahan Jiwa



" Katakan saja pada kakek jika kakek masih bersikeras dan terus menyudutkan gue. Maka minta kakek untuk mengubur saja cucunya ini sekalian di makam itu. "


Bara dan Derka kompak melotot, tapi berbeda dengan Bara yang menyikapi dengan dewasa, Derka sebaliknya.


Pria 27 tahun itu seketika naik darah mendengar ucapan Hega yang terkesan sembrono. Maunya Derka langsung memaki sahabat dari oroknya itu, kalau perlu misuh-misuh sambil absen penghuni kebun binatang.


" LO !!! " Tapi aura Hega yang lagi super angker itu bikin Derka melempem. Alhasil pria itu cuma bisa ngumpat dalam hati.


Dengan sangat bersusah payah menahan diri Derka masih tidak setuju keputusan Hega. " Apa susahnya sih ngasih tahu keluarga lo, mereka pasti juga bakal seneng denger kabar ini. "


Hega menatap lurus dengan mata hitam pekatnya yang dingin. " Atau sebaliknya, mereka akan semakin yakin kalau gue udah nggak waras karena terobsesi dengan keyakinan gue sendiri. "


" GA !! "


Hega bergeming, tidak terpengarug sedikitpun oleh emosi Derka. " Mereka akan tahu kalau keyakinan gue benar saat gue bisa bawa istri gue kembali dengan selamat ke hadapan mereka. "


" Tapi-- "


Melihat situasi mulai memanas, Bara mengambil inisiatif menengahi. Pria itu menepuk pelan pundak Derka.


" Sudahlah, Der. Nih beruang kutub pasti tahu apa yang harus dia lakuin. Dan disaat seperti ini, kita cukup menjadi teman yang selalu mendukungnya saja. " Sahut Bara, dalam situasi begini, pria itu tetap bisa menjadi sosok dewasa sesuai usianya yang memang lebih tua dari Hega dan Derka.


Derka masih kesal, bagaimanapun dia dalam posisi terjepit saat ini. Diantara statusnya sebagai sahabat yang harus selalu mendukung Hega.


Disisi lain juga posisinya sebagai dokter pribadi Keluarga Saint. Dimana saat ini tanggung jawab menjaga kestabilan kesehatan Suryatama Saint ada di pundaknya.


Aaarrrrggghhh, kalo kayak gini gue milih ngerawat panda aja di China, gajah di Afrika, atau kembaran dia nih di kutub utara. Derka melirik Hega dengan sebal, hatinya menjerit lelah.


***


Kepala Hega rasanya berdenyut menyakitkan, dadanya terasa sesak. Ini bahkan sudah sebulan lebih istrinya hilang.


Bagaimana bisa dengan kekuatan dan kekuasaan keluarga yang dimilikinya, Hega tidak mampu menemukan istrinya yang kemungkinan besar tengah mengandung buah cinta mereka ?


Ya Tuhan, entahlah. Rasanya Hega ingin bersyukur dengan rasa mual dan muntah yang ia alami akhir-akhir ini.


Jika benar yang dikatakan dokter wanita bernama Ariska yang dibawa Derka waktu itu. Maka Hega akan menganggap morning sickness yang ia alami setiap hari itu sebagai sebuah berkah, dan bukan penderitaan.


Karena setidaknya dengan mengalaminya, Hega bisa tahu jika istrinya baik-baik saja. Dan mungkin juga janin di perut wanitanya itu.


Hega berdoa agar Moza tidak merasakan apa yang ia alami setiap pagi. Mual dan muntah, belum lagi nafsu makan yang aneh-aneh.


Betapa sedihnya Hega jika Moza mengalami ngidam disaat dirinya tidak bersama sang istri.


" Soal DNA jenazah itu. Bagaimana DNA nya bisa cocok ? " Tanya Bara yang tidak habis pikir dengan betapa hebat dan kebetulannya semua ini.


" Jika itu memang bukan Moza, maka sudah pasti siapapun dibalik semua ini benar-benar memiliki background yang tidak biasa. " Derka menerangkan secara spesifik.


" Dari memalsukan kebakaran sampai menyiapkan jenazah yang 90% identik ciri fisik dan DNA nya. Ini adalah kasus 1 banding 1 juta. "


" Apa lo nggak ada gambaran siapa orang itu, Ga ? " Tanya Derka di akhir penjelasannya. Pertanyaan yang sama dengan yang Bara ucapkan sebelumnya.


Hega melirik sekilas kedua sahabatnya kemudian menggeleng.


Meskipun pernah satu nama yang terlintas di benaknya, keluarga yang kekuatannya setara dengan keluarga Saint. Dan keluarga itu juga memiliki akses dunia bawah yang pasti mudah mengatur hal-hal yang bersifat ilegal.


Tapi Hega menepis keras semua itu.


Lagipula Hega sudah bertemu langsung dengan pria itu seminggu lalu.


Dan dari gesture nya, sepertinya pria itu tidak tahu tentang menghilangnya Moza.


Entahlah, jika memang ini sebuah kemungkinan. Maka sepertinya Hega harus memutar arah pencarian.



Tersisa Hega dan Bara yang masih duduk di sofa. Derka sudah kembali ke rumah sakit lima belas menit yang lalu. Sedangkan Ragil Anggara tengah membawa berkas proyek ke meja Anita.


" Jadi apa rencana lo selanjutnya, Ga ? " Tanya Bara disela menikmati istirahat siangnya di ruangan Hega.


" Maksudnya ? "


Rasa penasaran Bara terjeda saat Ragil Anggara muncul kembali dari pintu dan berdiri di sisi sang Tuan Muda.


" Gara, bagaimana dengan wanita itu ? "


" Kami mengikutinya sejak wanita itu datang menemui anda. Tidak ada yang mencurigakan. "


" Tapi---" Ada keraguan dalam kalimat Ragil Anggara.


" Tapi ? "


" Sejak dua minggu terakhir ini, wanita itu menghilang entah kemana. Jejaknya tidak ditemukan. Bahkan orang-orang kita memeriksa di rumah yang ditempati ibu wanita itupun, wanita itu juga tidak ada disana. "


Hega terdiam, mencerna setiap informasi Ragil Anggara.


" Kenapa baru kau laporkan hal ini sekarang ? "


" Karena saya rasa wanita itu juga tidak ada hubungannya dengan menghilangnya nona. Sangat kecil sekali kemungkinannya. Meskipun memang wanita itu punya motif untuk melakukannya. Tapi wanita itu tidak cukup punya kuasa untuk meng-cover tindakan kriminalnya. "


" Gara, sekecil apapun kemungkinannya, semua itu tetap jadi sebuah petunjuk. Bisa jadi kemungkinan yang kau bilang kecil itu justru merupakan petunjuk utama. "


" Maaf atas keteledoran saya, Tuan Muda. Lalu apa yang Tuan Muda rencanakan ? "


" Tetap awasi rumah wanita itu, cari jejaknya. Karena aku merasa ada yang tidak beres. "


" Gara, siapkan jet pribadi, aku akan ke LA lusa sore. Atur pertemuan dengan Graham Corp untuk meeting proyek baru Heart. "


" Tuan Muda, proyek itu bisa saya yang tangani. Kita juga sudah mendapat kesepakatan dengan pihak Graham Corp untuk kerjasama lanjutan. "


" Tidak. Aku sendiri yang akan datang untuk tanda tangan kontrak. Ada yang harus aku pastikan dengan mata kepalaku sendiri, Gara. Pastikan Tuan Muda Graham sendiri yang datang. "


" Baik, Tuan Muda. "


Bara yang tidak mengerti topik bahasan dua pria itu hanya bisa diam menyimak, " .... "


" Bar, lo sendiri yang bilang kalau Radit kemungkinan dibantu oleh seorang wanita. "


" Apa sekarang lo curiga kalo wanita itu Alsena ? "


" Entahlah, kemungkinannya memang kecil. Mengingat status wanita itu di keluarga Graham. Apalagi hubungan wanita itu dengan Fabian juga tidak baik. Jadi sangat tidak mungkin wanita itu bisa menggunakan kekuasaan keluarga Graham untuk kepentingan pribadinya. "


" Bagaimana kalau dua saudara tiri itu justru bekerja sama ? " Asumsi logis Bara bekerja.


" Kemungkinannya nol. " Jawab Hega singkat padat jelas.


Bara, "...."


Melihat kebingungan Bara, Hega melirik Ragil Anggara.


" Tuan Muda Graham sekarang memegang kekuasaan penuh Graham Corp. Jelas sekali dia tidak akan membiarkan wanita itu menggunakan kekuatan keluarga Graham untuk kepentingannya. " Ungkap Ragil Anggara menjawab kebingungan Bara.


Tapi Bara masih belum sepenuhnya paham.


" Bar, melihat perangai Fabian, dia tidak akan ikut campur urusan Alsena. Terlebih jelas sekali tujuan utama wanita itu adalah untuk bisa masuk secara sah di keluarga Graham. "


Bara langsung mengerti setelah Hega menambahkan penjelasan yang lebih konkret. " Ya juga sih, si tua Graham juga pasti lebih memilih anak sah nya sebagai penerus ketimbang anak dari simpanannya. Tapi bukannya lo sendiri udah ketemu sama si Graham junior itu, Ga ? "


" Hhhh, entahlah, ada kalanya kita harus memastikan sesuatu beberapa kali hingga sebelum menyimpulkan. "


" Semoga kali ini membuahkan hasil. "


Hega hanya bisa mengangguk meng-amini dalam hati harapan sekaligus doa Bara.


Sepertinya kali ini memang benar-benar sebuah petujuk penting yang akan membawa Hega pada belahan jiwanya.