
" Kenapa kakak senyum-senyum begitu ? Seneng yang mau tebar pesona setelah sekian lama, hm ? " Moza masih dongkol, hatinya rasanya dicubit kecil-kecil.
" Ya ampun sayang, bukan aku yang mau dipamerin. "
" Memang siapa lagi kalau bukan kakak, huh ? "
" Tentu saja kakek mau pamer kalau punya cucu menantu yang cantik, Momo sayang. " Ujar Hega gemas, tangannya tidak tahan untuk tidak terulur mencubit gemas pipi menggembung lucu istrinya.
" Eh ??? Kakak iiih ngaco, becandanya gak lucu. " Moza bersungut sambil mengusap pipinya yang barusaja dianiaya suaminya.
Hega berdecak " Ck. . . Siapa juga yang bercanda, hm ? Aku serius, yank. " Ucapan bernada serius suaminya langsung membuat dua mata indah Moza membola.
Gadis itu langsung menjatuhkan kepalanya di dada bidang suaminya.
" Huwaaaaa. . . Kaaaak, aku tambah gugup. Gimana kalau nanti aku bikin kesalahan ? Terus membuat kakak malu, aarrrghhh, aku gak mauuuuu. . . Pokoknya aku nggak mau ikut. " Rengeknya manja di pelukan suaminya.
Ctak . . .
Sebuah sentilan mesra mendarat di kening Moza, bibirnya langsung manyun. Udah tahu istrinya sedang insecure, bukannya ditenangkan malah dijitak. Ihh, awas aja, nggak ada jatah malam. Ughhh.
" Hei, mau kamu membuat kesalahan apapun, menjatuhkan gelas, makan es krim hingga belepotan, atau hal mengerikan apapun, memangnya itu akan membuat saham GIG yang kupegang anjlok apa ? Lagipula jika itu terjadi pun, siapa juga yang berani mentertawakan menantu kesayangan Suryatama Saint, huh ? Mau mengucapkan selamat tinggal pada bisnis mereka apa ? "
Jika sudah begini, Hega akan menggunakan cara apapun untuk memberikan ketenang pada istrinya. Termasuk menggunakan kekuasaan yang dimiliki keluarganya.
Tapi Moza tetap tidak tenang. " Kakak, jangan membuatku makin gugup. "
" Istriku sayang, sudah ya, jangan terlalu cemas. Kita tidak akan lama kok ada disana. Dan anggap saja itu bukan apa-apa, tidak usah terlalu dipikirkan. "
" Tapi kan, Kak. "
" Jika kamu terlalu gugup, menempel saja pada sumimu ini ! "
" Memangnya bisa begitu ?! Kakak pasti sibuk mengobrol dengan rekan bisnis kakak. "
" Tentu saja bisa, siapa yang berani mengomentari suami mu ini, hm ?! Lagipula aku juga tidak akan mengijinkanmu jauh-jauh dariku. "
Jemari Hega terulur merapikan surai rambut istrinya yang berantakan. " Ingat selalu satu hal, kamu itu prioritasku sekarang dan sampai kapanpun. Jadi dimanapun dan kapanpun aku akan mengutamakan kamu. Mereka semua tidak lebih dari sekumpulan debu di hadapan istriku yang berharga bak seorang ratu. "
" Gombal. " Hega langsung terkekeh mendengar gerutuan istrinya.
" Siap-siap, hm, udah mau jam 7. " Hega bangkit setelah menurunkan istrinya dari pangkuannya.
" Oh iya, aku sampai lupa. Julian mungkin juga akan ada disana karena dia kan calon penerus dari ATRA Corp. Jadi mungkin kamu akan lebih nyaman jika ada orang lain yang kamu kenal di pesta itu. "
" Benarkah ? "
" Hm... " Hega hanya berdehem karena saat ini pria itu tengah bercermin merapikan kemejanya.
Fyuuhh syukurlah kalau begitu. Meskipun bocah itu menyebalkan, setidaknya ada yang aku kenal disana.
" Tapi, yank. Kamu harus ganti baju lagi sepertinya. "
" Kenapa ? "
" Lihat saja gaun kamu, terlihat seperti kita habis emmmhhh. . . "
" Ish, ini kan karena kakak. "
" Hehe, kamu sih ngajak mojok, untung aku masih bisa tahan dan nggak lanjut ngajak kamu ngasur. " Bisa aja suaminya ini memutar balikkan fakta. Siapa juga yang ngajak mohon sih ?
Dan apa itu tadi katanya ? Ngasur ? Emang dasar mesum.
Moza bergidik, langsung berjalan cepat menuju walk in closet untuk mengganti gaunnya. Daripada diajak ngasur beneran, duh bisa tremor entar di pesta.
Bunga-bunga juga ikut mempercantik dekorasi pesta. Dan jangan lupakan alunan musik dari seorang pianis dan violin.
Pesta kalangan pengusaha kelas atas memang beda atmosfernya.
Pesta rutin yang selalu diadakan setiap tahunnya. Dalam rangka menjalin silaturahmi antar pengusaha ataupun ajang memperkenalkan penerus. Bisa dibilang itu adalah ajang debut calon penerus keluarga.
Kakek Suryatama mendadak berhalangan hadir karena tekanan darahnya sempat naik sore tadi dan mengharuskannya istirahat penuh di rumah.
Akhirnya hanya Hega dan Moza saja yang menghadiri pesta itu, ditemani Ragil Anggara juga tentunya.
Ini adalah pesta pertama Moza sebagai istri seorang Hega Saint, tentu saja membuat gadis itu gugup setengah mati. Lihat saja hampir semua mata mengarah pada mereka.
Akh, menjadi pusat perhatian itu tak selamanya indah.
Kedatangan Hega sebagai penerus Suryatama Saint, yang sempat menjadi pusat perhatian langsung bisa dikendalikan oleh beberapa pengawal yang dibawa serta oleh Ragil Anggara.
" Selamat atas pernikahan kalian, maaf Om tidak bisa hadir karena memang sedang ada proyek di Singapura saat itu. " Sapa seorang pria paruh baya yang tentu saja Hega kenal. Karena itulah pria itu bisa mendekat dengan mudah pada sosok yang memang sulit ditemui itu.
" Iya, tidak apa-apa kok, Om. Saya paham, namanya juga pengusaha. " Jawab Hega setelah membalas jabat tangan pria paruh baya di depannya
" Yah, memang tidak ada yang bisa mengerti betapa susahnya jadi pengusaha jika bukan sesama pengusaha. Hahaha. "
" Om benar sekali. "
" Oh iya, mana istrimu ? " Tampak pria itu mengedarkan pandangannya ke beberapa penjuru.
" Sedang di toilet, om. Ah, itu dia. "
" Sudah ? " Tanyanya saat sang istri sudah tepat berada di sisinya. Dan Moza hanya mengangguk sebagai jawaban.
" Malam, Om Adi. Apa kabar ? "
" Om baik, kamu sendiri ? "
" Seperti yang Om lihat, saya juga baik. "
" Lama tidak bertemu, Om gak nyangka kalau kamu menikah dengan pemuda sehebat ini. Kamu beruntung. " Puji pria berjas hitam itu.
Moza tersenyum hendak menyahut, tapi kalah cepat dengan suaminya.
" Om berlebihan, justru sebaliknya, saya yang beruntung bisa menikahi istri sesempurna Moza. " Ucap Hega sembari melingkarkan satu tangannya di pinggul istrinya.
" Hahaha, iya. Kalau itu om juga setuju. Malah dulu om kira kalo Moza lah yang akan jadi menantu om, eh ternyata jodoh berkata lain. "
" Ekhem. . . Jadi papah enggak suka gitu punya calon mantu kayak aku gini ? " Sahut suara yang tiba-tiba muncul dari balik punggung pria seusia Arya Tama itu.
Dan atensi mereka langsung teralihkan pada sosok gadis dan pemuda yang sangat familiar bagi mereka.
Gadis itu sedang memasang wajah cemberut dengan kedua tangan bersedekap di dada, berpose bak seorang anak merajuk pada ayahnya.
Manik mata Moza membelalak, mulutnya bahkan nyaris ternganga jika saja suaminya tidak pura-pura mengusap bibir nya seolah sedang membersihkan sesuatu disana.
" Lipstik kamu belepotan dikit, yank. " Bisik Hega saat menyadari istrinya sedang bengong dengan mulut sedikit terbuka.
" Eh, iya kak, terima kasih. " Moza membalas perhatian suaminya dengan senyum cantiknya. Lalu perhatiannya kembali fokus pada sosok di depannya serta apa yang mereka bicarakan.
Ada yang tidak beres, ada yang terlewat olehnya, dan ada yang perlu diinterogasi rupanya.
***
FYI : GA itu tak terduga ya kapan aku bikinnya, se mood nya aku, dan kalo ada saldo juga buat GA. Jadi baca terus tiap update chapter baru biar nggak ketinggalan. Lumayan kan meski cuma 10ebu.
Btw yg kemarin udah DM IG belom ? Aku belom buka IG soalnya lagi sibuk, sabar ya, pasti meluncur kok pulsanya. Dan kalo udah meluncur komen ya biar aku nggak dikira HOAKS. 🙊