FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 92 • Public Affection



Selepas menunaikan ibadah sholat Jum'at di masjid area kantornya, Hega menjemput istrinya di Golden Mall. Tepatnya di mini butik yang dijalankan istrinya bersama ketiga sahabatnya perempuannya.


Dengan langkah mantap dan pembawaannya yang selalu tampak kharismatik, pria itu mendorong pintu kaca butik. Netra hitam pekatnya menelusuri area butik.


" Se-la-mat Si-ang, ada yang bisa kami bantu, Tuan ? " Sapa salah seorang pramuniaga butik setelah beberapa saat sempat terbengong melihat kemunculan sosok tampan itu di pintu masuk butik.


" Apa Tuan mencari hadiah untuk ibu, adik atau kekasih ? Saya bisa bantu merekomendasikan produk terbaik kami. " Sambung pramuniaga itu karena merasa sapaan pertamanya tak mendapat respon.


Hega masih bergeming di tempatnya sambil mengamati keadaan butik, saat indera penglihatannya tak menemukan sosok yang di cari, tatapannya terhenti pada pintu kaca doff berwarna biru.


Pria itu sangat yakin istrinya saat ini tengah berada di ruangan kerjanya. Tanpa sepatah katapun, kakinya melangkah menuju salah satu pintu yang jelas tergantung hangging door bertuliskan staff only.


" Maaf, Tuan. Ruangan ini hanya untuk staff, apa anda sudah ada janji sebelumnya ? " Pramuniaga itu masih mengekor di belakang Hega.


Hingga satu pegawai yang cukup familiar di ingatan Hega menginterupsi.


" Ada apa, Ndi ? " Dina, salah satu karyawan senior H-Mo Boutique mendekat.


" Ini, mbak Dina, Tuan ini mau masuk ruang staff. Saya---. "


Dina menoleh memastikan wajah yang memang tak asing di hadapannya, pria yang kerap kali datang bersama dengan Julian yang juga merupakan sahabat dari Moza dan ketiga gadis pemilik butik.


Dina tersenyum ramah, " Apa anda mau bertemu dengan mbak Moza ? "


Hega mengangguk, " Saya sudah ada janji, dia ada di dalam, bukan ? "


" Iya, mbak Moza ada di dalam bersama mbak Amira, silahkan masuk. "


" Terima kasih, silahkan lanjutkan pekerjaan kalian, tidak perlu mengantar saya. "


" Baik. " Dina yang hendak mengantar tamu atasannya seketika menghentikan langkahnya.


Hega langsung melangkahkan kakinya yang sempat terhenti dan mendorong pintu kaca berwarna biru doff dihadalannya. Meninggalkan dua orang yang tengah berbisik-bisik di belakangnya.


" Mbak Dina, itu siapa ? Kasep pisan, keren lagi. Tapi agak jutek juga. "


" Aku juga nggak tahu itu siapa nya mbak Moza, cuma dia sering dateng kesini, dah gitu sering ngirim makanan dan cemilan gitu buat mbak Moza dkk, aku sama Mila juga kebagian sih hehe. "


" Wah, jangan-jangan pacarnya mbak Moza ? "


" Nggak tahu juga. "


" Duh padahal aku udah ngeship Mbak Moza sama mas Julian, mereka kan serasi, satu ganteng satu cantik. Tapi kalo sama yang ini juga oke sih, lebih yahut. "


" Hihihi, iya juga, gak tahulah. "


" Heh, kalian ghibahin apaan sih ? "


" Ini loh, mbak Mila, ada cowok keren nyariin mbak Moza. "


" Emang siapa, Din ? "


" Itu loh, yang dulu sering dateng sama mas Julian. "


" Oh. "


" Maaf, bisa saya ke ruangan nona Moza ? " Ketiga wanita itu langsung beralih menatap sosok pria yang tak kalah ganteng dan kerennya dengan pria yang tadi mereka bicarakan, meskipun pembawaannya masih lebih jauh berkharisma pria yang sebelumnya.


" Maaf, anda siapa ya ? "


" Saya sekretaris pria yang datang tadi. "


" Ohh.... " Jawab ketiganya kompak sambil manggut-manggut.


" Bisa tunjukkan kemana saya harus membawa ini ? " Pria itu sedikit mengangkat beberapa paperbag di tangannya.


Manik mata ketiganya berbinar, roman-romannya mereka juga bakal kecipratan rejeki nih.


" Silahkan, ruangan yang itu, pintu kaca biru. "


" Terima kasih. "


" Ampun, bisa jantungan aku mbak, kalau tiap hari kedatengan cogan kek gini, mbak. " Celetuk gadis bernama Indi sembari memegangi dadanya yang tiba-tiba dag dig dug.


" Dah yuk, lanjut kerja, jam istirahat mau abis nih. "



Di sisi lain.


Di ruangan kerja empat sekawan, Moza dan Amira mengintip beberapa pekerjaan mereka setelah tadi menyelesaikan ritual belanja mereka.


Keduanya sibuk dengan tugas sesuai jobdesk mereka masing-masing.


Moza dengan buku sketch dan ipad miliknya, melanjutkan design pesanan dari pelanggan, sembari me-review rancangan project barunya.


Sedangkan Amira fokus pada rekap pesanan dan produksi.


" Mo, soal project baru kita buat luncurin new product gimana ? " Tanya Amira disela mengecek beberapa pesanan yang masuk via online di layar ponselnya.


Moza menghentikan sejenak aktivitasnya, " Emmm, sebenernya aku sudah mencoba bikin beberapa alternatif produk, tapi belum selesai sih, masih 80 persen, aku butuh Rena juga buat bantu aku kasih pendapat sebelum finishing desain. "


" Emang lo buat apaan ? "


" Couple Love and couple Moms Kids. "


" Wow, kedengarannya menarik. Apalagi yang couple love tuh, pasti laris, banyak yang tanya-tanya juga sih, coba bikin yang unyu-unyu ala drakor. "


" Entahlah, Ami. Aku kurang yakin dengan option yang itu. "


" Kenapa ? Tumben kelihatannya lo nggak pede gitu ? "


" Hehe, aku cuma kurang dapet feel nya aja pas bikin seri kekasih, jadi aku coba fokus sama seri Mommy and Baby Girl. Aku masih mikir-mikir, entarlah kalau kita kumpul berempat kita bahas. "


" I see. "


Tok tok tok


Atensi keduanya teralihkan ke arah pintu, belum juga mereka mempersilahkan masuk, pintu doff berwarna biru dengan ornamen painting bunga anggrek itu sudah terbuka.


" Kak Hega. "


" Abang Gans. "


Kedua gadis itu menyapa hampir bersamaan.


" Apa aku mengganggu pekerjaan kalian ? " Tanya Hega sebelum melangkah masuk.


" Enggak kok, Bang. Kita cuma lagi bahas hal-hal ringan. "


Pria itu mengangguk dan langsung melangkah, menghampiri meja kerja istrinya, kemudian membukukkan badannya dan mengecup kening Moza, " Kamu sudah makan siang, Yang ? " Tangan besarnya mengusap pucuk kepala istrinya.


Moza tersipu, belum terbiasa dengan public affection, alias mempertontonkan kasih sayang di depan umum.


Gadis itu melirik sahabatnya, untung saja Amira terlihat biasa saja. Coba kalau yang ada di sana tadj adalah Dea atau Rena, sudah habis Moza diledekin oleh kedua sahabatnya itu.


Setelahnya Moza mendongak, menatap wajah suaminya dan tersenyum, kemudian mengangguk, " Sudah tadi dengan Ami, kakak sendiri sudah makan siang ? "


" Aku juga sudah, dengan Gara setelah dari masjid. " Moza melirik lagi ke arah pintu, mencari sosok yang biasanya selalu ada di belakang sang suami.


" Dia menyusul di belakang, sebentar lagi juga datang. " Imbuh Hega sebelum istrinya menanyakan keberadaan sekretarisnya itu.


Tok tok tok


Dan benar saja, pria yang tingginya hampir sama dengan suaminya itu sudah muncul dari pintu yang sama dimana tadi suaminya datang.


" Tuan Muda ? "


" Letakkan saja di meja, dan kau bisa melanjutkan tugasmu, Gara. Aku akan menyetir sendiri nanti. " Ragil Anggara mengangguk, meletakkan dua paperbag di atas meja, kemudian pamit undur diri.


Moza melirik benda yang sudah berada di meja kaca itu, " Apa itu, kak ? "


" Lihat saja sendiri. "