
Untuk pertama kalinya Anita tidak bisa menjawab dengan tegas dan lugas pertanyaan atasannya itu.
Dan mungkin hal ini juga akan berefek padanya, meskipun bukan kesalahannya, Anita pasti akan kena getahnya juga nantinya.
" Ah, i-itu Presdir, perwakilan divisi keuangan sedang menuju kesini. Sepertinya ada beberapa masalah dengan file laporannya. " Anita tetap berusaha tenang meskipun nyatanya jantungnya hampir merosot juga.
Dan lihat saja bagaimana atasannya itu menatap tajam padanya.
Taakk. . .
Pena di tangan Hega beradu dengan meja cukup keras hingga menimbulkan suara yang cukup bisa mengejutkan semua orang yang hadir di rapat kerja saat itu, dari ekspresi dinginnya saja, mereka tahu jika Presdir muda itu tengah menahan amarah. Membuat semua orang semakin tegang dan berkeringat dingin.
Tak ada yang berani bersuara, atau konsekuensinya akan lebih mengerikan lagi.
Pria berwajah dingin itu memutar kursi kebesarannya membelakangi meja, " Apa standar perekrutan karyawan kantor pusat Golden Imperial Grup mengalami penurunan, hah ?! " Hega mengeram menahan amarah, mengurut pangkal hidungnya.
" Anita, sejak kapan rapat ini diagendakan ? " Hega menurunkan nada bicaranya, namun masih tetap terdengar mengintimidasi.
" Satu minggu yang lalu, Presdir. "
" Kamu sekretaris paling kompeten yang bekerja langsung dibawah pinpinan saya, harusnya kamu tahu apa artinya kenapa saya menanyakan itu, kan ? "
Anita mengangguk, " Itu berarti semua hal yang berkaitan dengan rapat harus sudah siap tanpa terkecuali. " Jawab Anita dengan lugas.
" Lalu apa ini ? Apa keberadaan Gara membuat kamu lengah dan menurunkan kapabilitas kamu sebagai orang yang paling saya andalkan di kantor selama ini ? "
Anita menelan ludah, ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa selain meminta maaf, " Maaf Presdir, segera saya tangani. "
" Berikan surat peringatan pertama untuk team keuangan yang bertanggung jawab pada laporan itu ! " Titah Hega dengan posisi masih membelakangi meja yang dikelilingi jajaran penting Imperial Hotel.
" Dan bubarkan saja rapat ini karena sepertinya sudah tidak ada lagi yang harus kita bahas. "
" Baik, Presdir. "
Semua yang hadir disana merasa begitu tegang karena kemarahan Presdir mereka.
Ditengah-tengah suasana mencekam, sebuah suara berhasil membuat situasi semakin bertambah menakutkan.
Ceklek. . .
Sebuah ketukan pintu diikuti suara derit pintu ruang rapat terbuka dan sesosok gadis cantik muncul dengan membawa sebuah map di tangannya.
Anita seketika bernafas lega, setidaknya hari ini kemarahan sang Presdir tidak akan sampai pada tahap badai tsunami. Meskipun hampir saja ada angin topan yang menerjang.
Satu jam sebelum rapat, Anita mendatangi divisi keuangan, meminta pada Geovano, kepala divisi agar mengirim salah satu mahasiswa magang untuk membawa laporan keuangan yang diminta sang Presdir.
" Kenapa harus dia sekretaris An ? "
" Pak Geovano tidak perlu tahu alasan spesifiknya, anggap saja memberi pengalaman baru pada mahasiswa magang. "
Pria itu mendesah kasar, meskipun merasa ganjil, tapi pria itu tidak bisa menolak permintaan dari seorang sekretaris pribadi Presdir.
" Baik, sekretaris An. "
Wanita itu mengangguk, tampak ada kelegaan di dirinya, setidaknya dia sudah menyiapkan pemadam api jika sewaktu-waktu kemarahan Presdirnya membakar seluruh ruang rapat beserta isinya.
Karena Anita sudah mendatangkan pawangnya.
Anita menatap ke arah pintu, seperti halnya beberapa orang yang juga sempat melirik ke arah yang sama.
Berbeda dengan satu orang yang masih terlihat tidak peduli atau bahkan belum menyadari kehadiran seseorang yang barusaja memasuki aula rapat.
Pria itu masih dikuasai amarah.
" Kalian semua yang ada disini sebaiknya bersiap-siap menyerahkan surat pengunduran diri kalian jika target kali ini tidak terpenuhi ! Ini kesempatan terakhir yang saya berikan untuk kalian semua. " Kemarahan Hega sepertinya sudah berada di puncaknya, hingga tidak menyadari suara pintu terbuka.
" Katakan padanya untuk berhenti saja bekerja jika kemampuan kerjanya hanya sebatas ini. Rapat bahkan sudah hampir selesai, tapi mereka baru muncul. Ck. . . " Pria itu memijat pelipisnya, memaki dengan dingin tanpa melihat sedikitpun ke arah pintu.
Glek. . .
Gadis pembawa berkas itu jadi ragu untuk memasuki ruangan, apalagi suasananya tampak sedikit mencekam. Ditambah makian sinis pria dibalik kursi pimpinan yang tengah membelakangi pintu dimana gadis itu tengah berdiri saat ini.
Dan gadis itu yakin jika makian itu tampaknya ditujukan pada dirinya.
Dan lihatlah ekspresi semua orang yang terlihat seperti berada di medan perang. Tak sedikit dari mereka tampak tegang dan berkeringat dingin.
Gadis itu lantas melirik ke arah wanita dengan setelan blazer dan celana kerja berwarna biru tua di samping sang Presdir.
Anita mengangguk memberi isyarat agar gadis itu mendekat.
Gadis itu terlihat sedang mengatur napasnya yang sempat sedikit ngos-ngosan saat memasuki ruangan. Dengan cepat berusaha menormalkan kembali ekspresinya, dan berjalan mendekati kursi atasan yang sepertinya sedang marah besar.
" Presdir, saya membawa laporan keuangan yang anda minta. " Moza berusaha setenang mungkin, meletakkan map berwarna hitam dengan logo GIG berwarna emas cover depan di atas meja.
Mendengar suara yang dikenalnya, Presdir yang sedang dalam mode gunung berapi yang siap meletus itu segera mengangkat wajahnya dan memutar kembali kursinya. Menatap lekat wajah gadis yang juga sedang menghadap ke arahnya.
Wajah ayu yang sedikit terlihat sedikit galak, dengan tubuh ramping berbalut dress berwarna tosca dipadu blazer putih bermotif bunga kecil-kecil.
Rambut panjangnya yang bergelombang di bagian ujungnya tergerai indah sedikit berantakan namun sama sekali tidak mengurangi kadar kecantikannya.
Melihat tidak ada respon dari lawan bicaranya, gadis itu kembali buka suara dengan penuh kehati-hatian.
" Maaf kami terlambat membawanya, karena ada sedikit masalah yang menghambat divisi kami. " Moza tersenyum sopan, mendorong perlahan map yang sudah mendarat di atas meja ke arah sang Presdir dengan jemari lentiknya.
Map yang memang seharusnya dibawa oleh staff keuangan. Namun entah kenapa, kepala divisi yang adalah mantan senior Moza di kampus justru memintanya yang mengantar berkas tersebut.
Kenapa harus aku, sih ? Aku jadi seperti orang yang menyerobot pekerjaan orang lain saja.
Gerutu Moza dalam hati, karena kesal dengan tugas yang sebenarnya bukan kewajibannya. Bukankah seharusnya staff team 2 yang melakukannya. Moza jadi ingat wajah kesal Tira tadi pagi saat melempar tugas itu padanya. Wanita itu semakin menunjukkan ekspresi tidak suka padanya.
Apa ini bagian dari akal-akalan suaminya saja ? Awas saja kalau sampai iya.
Disisi lain,
Geovano Syailendra, tentu saja sedang sibuk mengatasi masalah yang dibuat oleh salah satu staffnya.
Dirinya tidak menyangka jika permintaan Anita untuk mengirim seorang mahasiswi magang ke aula rapat utama akan menjadi masalah di divisinya.
" Lisa, apa kamu yakin sudah mengatakan dengan jelas perintah yang turun dari Sekretaris An ? "
" Iya, Pak. Saya sudah katakan pada Tira untuk memberikan berkas itu pada Moza. Tapi saya tidak tahu kalau Tira akan menyalah artikan maksud saya dengan meminta Moza untuk membuat hard copy berkas itu sendiri. "
" Tira, apa maksudnya ini, hah ? Bukannya kamu sudah ada hard copy berkasnya ? Bahkan kamu sudah tunjukkan ke saya kemarin untuk di cek. "
" Maaf, Pak. Berkasnya tertinggal di kosan saya, Pak. "
" Ya Tuhan, apa lagi ini ? Kenapa berkas kantor sepenting itu kamu bawa pulang ? " Pria itu tampak memijat pelipisnya, dan geleng-geleng kepala keheranan.
" Maaf Pak, tidak sengaja terbawa saat mau saya kembalikan, ruangan sudah dikunci. Maaf Pak, saya teledor. " Wanita itu tampak santai menjawab bahkan tidak ada gurat penyesalan sama sekali.
" Hhhh, bukankah kamu sudah lebih lama bekerja disini, tapi kenapa hal seperti ini kamu masih bisa tidak hati-hati. Apa kamu mau menanggung konsekuensi jika Presdir menilai buruk kinerja divisi keuangan ini ? "
" Maaf, Pak. Saya janji tidak akan terjadi lagi. "
Geovano mengusap wajahnya dengan telapak tangannya, dan satu tangan berada di pinggangnya. " Kamu berdoa saja supaya Presdir tidak dalam mood buruk hari ini, atau kamu tidak akan bisa membayangkan apa yang akan terjadi. "
Bagus kalo Presdir badmood, paling tidak cewek sok cantik itu bakalan kena amuk Presdir. Batin Tira sambil tersenyum sinis saat menunduk.
***
Benarkah bakal kena amuk gegara presdir Badmood ?