FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 113 • Kenapa Pegang Disitu Sih ?



Sekali lagi Hega harus memahami posisi Aliza saat ini, dan mungkin ini adalah toleransi terakhir yang bisa diberikah oleh Hega.


" Al, jangan lakukan hal seperti ini lagi. Jangan lagi bawa-bawa istriku dalam permainan konyol sepupu kamu itu. "


" Ga, aku--. "


" Nggak Al, aku tidak marah, aku hanya kecewa, aku kira kamu cukup mengerti karakterku. Kamu paling tahu aku tidak wanita yang paling berharga di hidupku ikut terseret dalam situasi seperti ini. Kamu tahu maksudku kan, Al. "


Hega masih begitu tenang meskipun sebenarnya hatinya benar-benar kecewa. Tapi pria itu memang selalu begitu, pembawaannya selalu tenang terhadap orang lain, nyaris tidak pernah menampakkan ekspresi apapun selain ekspresi tenang dan datarnya.


Berbeda jika bersama sang istri, pria itu selalu menggebu, dan lebih ekspresif.


Aliza mengangguk, " Ya, aku tahu, aku terpaksa, Ga. "


" Sebenarnya bukan kapasitasku mengatakan hal ini, Al. Tapi sebagai sahabat, aku sudah tidak tahan lagi. Saranku, sebaiknya kamu berhenti memanjakan anak itu, dia sudah besar Al. Ada batas untuk segala hal. "


Aliza hanya bisa mengangguk pasrah, logikanya setuju dengan penyataan Hega, tapi hatinya belum siap melepas satu-satunya saudarinya itu. Meskipun banyak hal yang Aliza korbankan demi sepupunya yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri.


" Dan Al, sepertinya kondisinya tidak cukup dengan perawatan jalan. Anak itu harus dibawa ke tempat yang seharusnya. Ini kasusnya sudah bukan OLD ( Obsessive Love Disorder ) lagi, Al. Dia sudah masuk ke taraf erotomania. Kamu tahu kan akibatnya jika dia tidak segera ditangani dengan benar ? " Wanita dengan dress selutut berwarna navy itu mengangguk paham.


" Aku pergi, Al. Assalamualaikum. "


" Waalaikumsalam. "


Hega kembali melangkah, hingga berpindah ke sisi ruangan lainnya, sebuah ruang tunggu yang disediakan untuk keluarga pasien. Farhan Setiawan bersama istrinya, Sukma Anjani baru saja memasuki ruangan rawat vip tersebut.


" Hega, kamu disini, tante senang kamu datang, kamu mau menjenguk Alina, kan ? Ayo tante antar. " Wanita seusia ibu mertuanya itu tampak sumringah dan mencoba mendekatinya tapi gegas Hega menolak.


" Saya sudah bertemu keponakan tante, dan apa yang harus saya katakan sudah saya katakan. Saya pamit, om, tan. "


" Tapi, Ga. Tunggu tante mau bicara sebentar. Tolong duduklah, sebentar saja. Tante mohon. "


Mau tak mau Hega mengikuti kemauan wanita paruh baya itu. Duduk di sofa single dengan Ragil Anggara berdiri tepat di sisi kiri tuan mudanya.


" Saya tidak punya banyak waktu, tan. Tolong intinya saja. "


" Bisakah kamu memberi Alina kesempatan ? "


Hega menarik satu sudut alisnya, " Kesempatan macam apa yang tante maksud ? "


" Alina bisa menjadi istri ke---. "


" MAH. " Teriak Aliza dan Farhan setiawan bersamaan.


Ekspresi keduanya tampak sangat terkejut dengan ucapan wanita yang masih menatap lekat pria yang dicintai keponakannya itu.


Aliza bahkan sampai mencengkeram telapak tangannya sendiri, tatapannya gelisah melirik bagaimana ekspresi di wajah Hega saat ini.


" Biarkan mamah bicara, kalian diam saja. " Potong Sukma Anjani, wanita itu kembali menatap Hega. " Alina tidak akan keberatan jika menjadi madu--. "


Buk.


Kedua telapak tangan Hega yang mengepal manghantam pegangan sofa, kemudian langsung bangkit dari duduknya. Sepertinya batas kesabaran pria itu benar-benar sudah habis tak bersisa.


Saat hendak melangkah pergi bahkan tidak merespon permintaan gila ibu dari sahabatnya. Lagi dan lagi ucapan wanita paruh baya itu benar-benar membuatnya tak habis pikir.


" Hega, tante mohon ijinkan Alina menjadi bagian dari kehidupan kamu. "


Langkah Hega terhenti, sepertinya masalah ini sudah terlampau melebar, dan Hega harus membereskan hingga ke akarnya.


Pria itu berbalik, menatap tajam satu per satu anggota keluarga Setiawan yang berdiri di hadapannya, dari Aliza, Farhan, dan Sukma.


" Apa tante pikir permintaan tante itu masuk akal ? " Sergahnya sinis.


" Apa salahnya jika seorang pria memiliki dua istri, bukankah poligami tidak dilarang oleh agama dan juga negara. "


" MAAH, tolong jangan keterlaluan, Mah. Aliz mohon berhenti. " Sergah Aliza yang sudah tidak tahan lagi dengan omong kosong ibu kandungnya itu.


" Mama bilang kamu diam saja Aliz, biar mama yang bicara. "


" Mah, Aliz mohon. " Kekasih Bara itu kembali menangis sambil memegangi lengan ibunya.


Tapi Sukma Anjani tidak menggubris permintaan putrinya, dan malah menghempas tangan Aliza dengan sedikit kasar.


Menghembuskan nafas kasar, tatapan mata Hega semakin menajam seolah akan menguliti lawan bicaranya.


Bruuukkk. . .


Klontang. . .


Seketika atensi semua mata tertuju ke arah sumber suara.


" Sayang. "



45 Menit sebelumnya


Selepas dari Bandara, sesuai janji, Hega akan menuruti permintaan istrinya untuk menjenguk Alina di rumah sakit tempat gadis itu dirawat.


Meskipun enggan tapi mana tega Hega menolak permintaan istrinya yang saat gadis itu memintanya dengan ekspresi yang begitu manis. Dan jangan lupakan sogokan spesial yang diberikan istrinya semalam.


Sungguh Hega kalah telak jika istrinya sudah mengeluarkan jurus ampuhnya yang selalu sukses membuatnya mabuk kepayang dan berakhir menuruti semua kemauan gadis itu.


" Sini, Yank. Peluk. " Hega menarik pinggul istrinya agar mendekat padanya, menyurukkan wajahnya di ceruk leher sang istri.


Keduanya kini berada di dalam mobil, di kursi belakang Maybac S-560. Ragil Anggara duduk di kursi depan disamping Pak Bakti.


" Apa sih, kak. Kok tiba-tiba minta peluk ? " Moza sedikit merasa risih, suaminya ini benar-benar tidak tahu tempat. Ekor matanya melirik dua pria yang berada di kursi depan.


" Aku mau hilangin bekas cowok lain di tubuh kamu. " Pria itu masih sibuk mengendusi leher istrinya, telapak tangan besarnya mengusapi punggung dan rambut istrinya, benar-benar seperti sedang membersihkan sesuatu yang menempel disana.


" Kakak, hentikan. Malu tau. "


" Malu sama siapa, hm ? " Tanya Hega tanpa merasa bersalah. Moza menggigit bibirnya, kembali melirik bangku depan dengan ekor matanya.


" Mereka tidak akan lihat dan tidak akan dengar, yank. " Sanggah Hega dengan cueknya.


Mana mungkin mereka tidak dengar, jaraknya saja kurang dari setengah meter. Kening Moza terlipat.


" Coba tanya kalau kamu nggak percaya. " Lanjut Hega seolah tahu arti tatapan istrinya.


Hih, sungguh Moza ingin menggeplak kepala suaminya jika itu tidak dosa.


" Kami tidak melihat dan mendengar apapun, Nona. Silahkan anda nikmati perjalanannya. " Sahut Gara seolah mengerti isyarat sang Tuan Muda, bahkan Pak Bakti ikut mengangguk sambil menekuk kaca spion tengah.


Moza menghela nafas, pipinya merona, malu dan merasa tidak enak sebenarnya. Tapi sudahlah, suaminya ini kan memang sudah dilawan.


Atensinya kembali fokus pada pria yang masih asyik dengan aktivitasnya. " Hhhh, maaf ya, kak. Tadi itu sungguh aku nggak tahu kalo Dimas akan meluk aku. " Moza menjelaskan dengan terperinci.


" Hmm. "


" Kakak nggak marah, kan ? " Terasa suaminya menggelengkan kepala di lekukan lehernya.


" Tapi aku tetap tidak rela ada bekas sentuhan atau aroma pria lain menempel di tubuh kamu. Makanya ini sedang aku bersihkan. "


" Hhhh. " Moza hanya pasrah, membiarkan saja suaminya dengan keposesifannya.


" Ahhh, kakak. Kenapa pegang disitu sih ? " Protes Moza saat jemari tangan suaminya menyentuh area yang tidak mungkin ada bekas parfum apalagi sentuhan pria lain.


Lagipula tadi Moza hanya berpelukan biasa dengan Dimas, itupun kurang dari setengah menit.


" Hehe, maaf sayang, aku kelepasan. " Hega menyengir tanpa dosa.


" Iya, tapi pindahin tangannya. " Sungut Moza dengan wajah cemberut, bisa-bisanya suaminya itu modus.


Hega kembali nyengir sembari menarik jemarinya dari paha istrinya dengan enggan.


Hhhh, hilang sudah kesempatan buat modus.


***


...Buat dua istilah di atas OLD & Erotomania, next aja ya aku kasih note. Ini udah gak sanggup melek matanya. ngantuk parah....


...Met malam semua...


...Jangan lupa sahur bestie...