
...☆☆☆...
Finally, Hega berhasil berduaan saja bersama sang istri, keduanya kini tengah berada di sebuah bioskop dan akan menonton sebuah film yang Hega sendiri tidak tahu judul dan gendre nya apa. Orang tadi yang membeli tiket adalah sang asisten, Ragil Anggara.
Intinya jangan gendre horor atau thriller yang berdarah-darah.
Hega terus menggandeng tangan istrinya ketika menunggu Ragil memesan tiket, lalu bagaimana dengan Rania.
Hega sudah punya rencana untuk peri kecilnya itu. Dengan liciknya Hega berhasil membuat Ryuza, sang adik ipar yang bucin kakaknya itu untuk menemani Rania bermain di area gamezone.
Sekalian menjauhkan adik iparnya itu untuk sementara dari sang istri. Jika remaja lelaki itu terus bersama mereka, yang ada akan mengganggu kencannya bersama istrinya.
" Kak, harusnya tuh kakak yang beli tiketnya, masa malah menyuruh kak Ragil yang mengantri. "
" Itu kan memang gunanya dia jadi asisten. Meringankan pekerjaanku. "
" Hih, dasar. Katanya mau kencan, tapi kakak malah gitu. "
" Memangnya kenapa sih ? "
" Setahuku, kalau sedang kencan tuh, cowoklah yang mengantri membeli tiket dan popcorn. Kalo gini sih sekalian saja aku kencannya dengan kak Ragil saja. " Moza memberengut.
Belum sempat Hega membujuk sang istri, Ragil Anggara menyela, " Tuan Muda, ini tiketnya sudah saya dapatkan. Masih ada waktu 20 menit sebelum filmnya dimulai. Saya akan membeli popcorn dan minuman untuk Tuan Muda dan Nona. "
Hega hanya berdehem singkat, kemudian menoleh pada istrinya, " Kamu mau minum apa, yank ? " Tanyanya yang dijawab gelengan kepala oleh sang istri, gadis itu kini membuang muka, tampaknya masih kesal pada suaminya.
Down to earth dating apaan ? Orang semuanya masih juga dilayani seperti biasanya. Kesal Moza dalan hati.
Hega mendesah lirih, " Gara, berikan tiketnya padaku ! Dan kau pergilah mengawasi Rania dan Ryuza, jaga mereka dari jauh sampai aku kembali. "
" Tapi Tuan Muda. " Ragil Anggara berniat menolak, karena tugas utamanya adalah menjaga kedua majikan di hadapannya ini.
" Lakukan apa yang aku katakan, Gara ! "
Pria itu akhirnya pasrah dan mengangguk hormat, " Baik Tuan Muda. Ini tiketnya dan selamat menikmati kencan anda. " Ragil Anggara menundukkan kepalanya untuk pamit undur diri.
" Ini yang kamu mau, kan ? " Tanyanya pada sang istri setelah kepergian Ragil Anggara, " Gimana ? Seneng ? " Gadis itu mengangguk.
" Sudah nggak ngambek lagi, hem ? " Moza tersenyum kemudian menggeleng.
" Terus sekarang maunya apa lagi ? " Moza menunjuk stand minuman dan makanan ringan.
" Istri aku mau minum apa, hem ? "
" Orange juice dan sweet popcorn. " Jawab Moza diiringi senyum manisnya.
" Kalo senyum gini kan enak dilihatnya. " Hega mencubit gemas pipi putih istrinya, " Tunggu sebentar oke, aku belikan dulu. " Moza mengangguk, " Jangan kangen. " Hega menggoda seraya membuka sedikit kacamatanya lalu mengerlingkan matanya.
Blush, membuat Moza tentu saja merona malu. Apalagi di sekitarnya ada beberapa pasang mata yang sepertinya sedari tadi mulai memperhatikan ke arah mereka
Moza menatap punggung suaminya yang tengah mengantri di stand penjual minuman dan makanan ringan, kemudian tanpa sadar mengambil ponsel di dalam slingbag nya. Membuka fitur kamera dan memotret suaminya dari belakang.
Entah kenapa tiba-tiba hatinya merasa tergelitik ingin memposting salah satu foto yang barusaja diambilnya ke akun indagram miliknya.
Apalagi hatinya sedikit kesal melihat suaminya yang tampak menjadi pusat perhatian beberapa gadis yang ada disekitar area ruang tunggu bioskop.
Bahkan Moza bisa mendengar beberapa celoteh mereka yang jelas-jelas tertuju untuk sang suami.
"Heh liat tuh arah jam 11, yang lagi pesen popcorn. Gila keren banget. "
" Astaga ya Lord, kalo itu mah bukan keren lagi, tapi hot. "
" Gila, tuh cowok ganteng banget, ganteng dia dari pacar gue njirrr. "
" Ya ampun, kalo gue jadi bininya, bisa perbaikan gen nih anak gue entar. Mama, anakmu mau suami yang kek gitu. "
" Gak usah mimpi lu mah, cowok sekeren itu gak mungkin dateng ke bioskop sendirian. "
Moza tersenyum kecut dan menghela nafas sebanyak mungkin, untuk pertama kalinya dia merasa secemburu ini. Memang ya, suaminya itu boyfriend materials sekali.
Kacamata hitam yang dipakai suaminya bahkan tidak bisa menutupi aura suaminya. Justru sebaliknya, semakin membuat pria itu tampak keren saja. Sudahlah, biarkan saja.
" Eh, tapi kayak kenal gak sih ? "
" Heh, sok kenal lu mah, giliran ada cowok dekil aja nggak mau kenal, giliran bening gini ngaku-ngaku kenal. "
" Dih, beneran deh. Itu artis bukan sih ? Beneran gak asing wajahnya. "
Barusaja Moza memutuskan untuk cuek saja, tapi beberapa suara membuatnya langsung kembali waspada. Bisa kacau acara kencannya kalau ada yang mengenali suaminya.
Gadis itu langsung bangkit dari duduknya, dan menghampiri sang suami yang sedang membayar pesanannya.
" Loh, kenapa, yank ? Aku bilang kan tunggu aja disana. " Hega sedikit terkejut saat mendapati sang istri yang tiba-tiba datang dan melingkarkan tangannya di lengannya.
" Masih lama, kak ? "
" Enggak kok, ini udah semua, tinggal bayar. "
" Silahkan kartunya, kak. Terima kasih dan selamat menikmati filmnya. " Kasir stand minuman itu menyahut sambil menyerahkan credit card tak lupa tersenyum seramah mungkin.
Hega hanya menjawab dengan anggukan kepala, sikapnya berubah 180 derajat dibandingkan ketika menghadapi sang istri.
Petugas kasir itu terlihat kikuk karena merasa keramahannya tak terbalaskan.
Maaf ya mbak kasir, maklum kaum buciners mah emang gitu, jinaknya cuma sama bininya doang. (thor)
" Kita masuk aja yuk, kak ! "
" Nggak papa, kak. Kita tunggu di dalem aja. " Ujarnya sembari melirik sekilas sekitarnya.
Hega mengangguk saat menyadari apa yang terjadi, " Oke, ayo masuk. " Hega merengkuh pinggang istrinya setelah mengambil kantong berisikan pesanannya yang sudah siap di meja pengambilan pesanan.
Setelah hampir dua jam berada di dalam ruangan gelap yang memutar film bergenre romantis yang membuat Moza beberapa kali dibuat salah tingkah saat melihat beberapa adegan ciuman panas antara kedua tokoh utamanya.
Sedangkan Hega malah cekikiian sendiri saat melihat ekspresi malu-malu canggung sang istri yang sangat menggemaskan.
" Sayang, pulang yuk. Pengen cium. " Goda Hega berbisik dengan nada sensual menggoda di telinga istrinya.
Moza mencebik dan menyikut lengan suaminya dengan sikunya, " Kakak ihhh, mesum. "
Hega kembali terkekeh, " Habisnya liat wajah kamu tadi menghayati banget gitu. Gemesin, pengen peluk, pengen cium, pengen a---mmmph--- "
Hih, gini amat sih punya suami mesum.
" Diam, kak. Nyebelin banget. " Dumal Moza sembari menggertakkan giginya setelah berhasil membekap bibir mesum suaminya dengan kedua telapak tangannya.
" Kenapa sih, nggak ada yang dengar juga. "
Sepertinya kali ini Moza harus bersyukur karena tempat duduknya berada di barisan yang kosong.
" Iya, untung aja ruang teater nya pas sepi, coba kalo nggak. Bisa malu aku, kak. "
" Ya memang aku buat sepi biar aku bebas godain istri aku yang pemalu ini. " Celetuk Hega.
" Maksudnya ? "
" Aku beli beberapa tiket untuk ruang teater ini. " Jawabnya santai.
Moza membelalak, " Apaaah ???? " Gadis itu memekik kesal, kemudian menyusuri ruangan yang sudah diterangi lampu itu dengan ekor matanya.
Beberapa baris kursi memang kosong, padahal untuk film sebagus dan setenar ini tidak mungkin hanya sedikit peminatnya.
Tapi apa ini ?
" Ayo kita keluar. Gara sudah menunggu di restoran bersama Rania dan Ryuza. " Hega menggenggam tangan Moza dan keduanya berjalan beriringan keluar ruangan.
" Kak, jawab aku dengan jujur ! " Cicit Moza ketika keduanya tengah berjalan keluar area bioskop.
" Aku kan nggak pernah bohong sama kamu, yank. " Sanggah Hega sembari mengecup tangan istrinya yang ada di genggamannya.
" Iihh, serius deh, Kak. "
" Iya sayang, apa ? "
" Kakak tadi beli berapa tiket ? "
" Apa ? " Hega malah pura-pura tak tahu dengan polosnya.
" Heh eh, iya iya, jangan melotot gitu dong sayang, galak amat sama suami, jadi gemes, pengen--- " Sambungnya sengaja menggantung kalimatnya saat melihat tatapan horor sang istri.
" Kakak. "
" Aduh, iya. Kok malah nyubit sih, sayang. "
" Biarin, jadi sekarang jawab, berapa ? "
" Eum, berapa ya ? " Tampak kening Hega mengerut tanda sedang berfikir.
" 10 ? Ah tidak tidak, melihat banyak yang kosong tadi pasti lebih dari itu. " Tebak Moza, " 20 ? 30 ? 40 ? " Tebaknya beberapa kali karena suaminya terus menggeleng.
" Jadi berapa ? "
" Aku nggak tahu, yank. Tanya saja Gara, kan dia yang beli. "
" Tapi kakak yang nyuruh kan ? "
" Apa salahnya sih, sayang ? "
" Ya salah dong, katanya mau kencan biasa, kakak malah---. "
" Aku sudah menuruti kamu untuk memilih bioskop reguler, jadi setidaknya aku mau suasananya lebih nyaman sedikit dong. "
" Kenapa nggak sekalian saja kakak sewa satu gedung bioskop ? " Dumal Moza sebal.
" Sebenarnya itu yang mau aku lakukan, cuma kata Gara kamu pasti tidak akan suka. Tapi sepertinya Gara salah, jadi next time akan aku lakukan seperti kata kamu tadi. " Tutur Hega dengan entengnya, membuat Moza mengeram frustrasi.
" Huh, sudahlah. Tidak ada habisnya berdebat dengan kakak. Menyebalkan, bikin aku lapar aja. "
Hega tersenyum smirk sangat samar, " Yuk, makan. Aku sudah minta Gara reservasi tempat di restoran dengan makanan favorit kamu. " Hega melepaskan genggaman tangannya, beralih merengkuh pinggang sang istri dan menggiringnya menuju restoran yang sudah dipesan oleh asistennya.
Huuuft.... Kalo gini kan gak bisa lama-lama ngambeknya. Jadi gagal ngambek. ~ Moza ~
Huffft.... Untung aja gak jadi ngembeknya, bisa gawat kalo keterusan ngambek. ~ Hega ~
...-------------------------------...
...Yang nunggu konflik. Sabar ya, pasti ada, kan namanya rumah tangga....
...Tahan dulu karena mereka tuh terlalu banyak rintangan untuk bersatu, jadi biarlah mereka beruwu ria dulu....