FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 77 • Vibes Papa Mertua



...Sekarang Noveltoon udah bisa comment di tiap paragraf. Jadi kekinian kek di apk tetangga....


...Ramein yah gaes, komen paragraf yang menurut kalean perlu dikomenin 😂...


...Coretan kalian itu adalah bentuk sederhana dari menghargai karya aku, gratis juga kan....


...Ayo komen komen komen. Aku maksa nih....


...Okeh 😘...



" Jangan katakan kamu membuat ini tanpa buku referensi yang jelas dan hanya mengandalkan data di gugle yang belum tentu akurat dan terjamin sumbernya. "


Moza menelan ludah, ingin membela diri, tapi barusaja bibirnya hendak terbuka, sang dosen kembali mencercanya dengan kalimat yang lebih membuat kesal.


" Atau malah sebenarnya bukan kamu yang membuat paper ini ? " Ucap pria itu bernada menuduh, sungguh tak enak sekali untuk didengar.


Moza seketika melotot lebar, tapi mengingat siapa yang tengah dihadapinya, gadis itu langsung menggantikan ekspresi kagetnya dengan kembali berusaha tetap tenang dan tersenyum, meskipun rasanya hampir keluar tanduk di kepalanya.


Kalau bukan dosen, mungkin sudah Moza lawan kalimat seenaknya sendiri yang keluar dari mulut pria paruh baya itu.


Enak saja hasil kerja keras otaknya dikata bukan asli miliknya.


Kalian yang pernah mengalami pasti tahu kan gimana gondok nya saat hasil karya kita diragukan ke-otentik-annya.


Begini-begini Moza tipe mahasiswi yang bertanggung jawab pada kewajibannya, nggak mau segala pakai jasa calo paper, atau mengandalkan guggling, meskipun hasilnya kurang bagus, setidaknya ia harus mengerjakannya dengan kemampuannya sendiri.


Bukankah nilai biasa tapi hasil kerja keras sendiri lebih baik ketimbang nilai bagus tapi hasil 'beli' tugas ?


" Itu sungguh saya yang menyusunnya sendiri, Prof. " Jawab Moza mantap.


Tapi apakah pria yang terkenal sebagai dosen paling sulit dihadapi itu akan percaya begitu saja ucapan seorang Moza Artana ? Sepertinya tidak.


Moza menghela nafas untuk kesekian kalinya. Terlihat jelas keraguan di mata pria sesusia ayahnya itu.


" Saya berani menjamin tidak ada seorangpun yang ikut campur pada isi paper saya. Keseluruhan isinya adalah murni dari hasil kerja keras saya, dari pengumpulan data, contoh kasus sampai dengan penyelesaian masalah beserta kesimpulannya. "


Walaupun yang mengetiknya bukan aku. Imbuhnya yang bisa ia lakukan dalam hati saja. Berharap Ragil Anggara tak merubah apapun yang ada di dalam sana atau menambahi hal lainnya.


Aaaaa, ini semua karena suaminya yang ngotot ngajak kencan dadakan, segala bilang mau bantu ngetik tugasnya, ehh tahunya yang mengetik tugas Moza akhirnya adalah Ragil Anggara, pria yang kini menjadi sekretaris pribadi suaminya.


Dan apa yang dilakukan sang suami ketika sang sekpri-nya melakukan pekerjaan yang seharusnya ia kerjakan ?


Apa lagi memangnya ? Tentu saja mengerjai istrinya sepanjang malam. Huuufffttt.


Tuh kan, kalau ingat kelakuan suaminya yang suka random maunya itu, Moza hanya bisa menghela napas dalam, recharge kesabaran banyak-banyak.


Pria itu mengangguk, " Jadi tidak masalah bukan jika apa saya minta kamu menjelaskannya secara langsung ? "


Moza menggeleng dan tersenyum meskipun jelas menahan diri, menarik nafas pelan dan kemudian mulai mempresentasikan secara singkat isi dari paper yang dibuatnya beserta buku apa saja yang menjadi bahan referensinya.


Sang dosen mendengarkan sambil sesekali mengangguk kecil dan memberi beberapa tanda di kertas yang ada di tangannya dengan pena berwarna merah.


Moza terus merapal doa dalam hati disela presentasinya, berharap semoga saja isinya benar-benar masih sama persis dengan draft miliknya kemarin.


Jika tidak, bisa dipastikan tuduhan dosennya tadi akan menjadi kenyataan. Bisa tercoreng nama baiknya sebagai salah satu mahasiswi beasiswa.


Tampak pria yang tengah duduk di kursi kerjanya itu memberi goresan pena di bagian cover paper miliknya, yang Moza yakini itu adalah nilai untuk hasil kerja kerasnya.


" Kenapa kamu tegang begitu ? " Tanya pria yang bernama lengkap Prof. Yanuar Wijaya itu sambil melirik sekilas mahasiswinya.


" Maaf, Prof. Saya hanya tidak mengira jika --- "


Moza mengangguk, " Maaf, Prof. " Ucapnya sembari sedikit melirik paper miliknya yang sudah selesai dikoreksi dosen pengampu matkul Ekonomi Mikro yang terkenal tegas dan disiplin itu.


Moza mengulum senyum saat ia melihat tugasnya yang sudah tergeletak di atas meja. B+ tertulis di sana dengan tinta merah membuat Moza menghela nafas lega.


Syukurlah, kerja kerasku tak sia-sia.


" Tidak apa, saya merasa akan lebih efisien menilai tugas kamu ini dengan mendengar langsung presentasi kamu. Sekalian saya juga penasaran ingin tahu sekompeten apa menantu teman baik saya. "


" Hah ? " Wajah cantik Moza kini kembali dibuat kebingungan. Hari ini benar-benar menjadi hari linglung bagi Moza.


" Hei, jangan kau buat mantuku jantungan, Yan. Aku masih mau punya banyak cucu. " Sela sosok yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.


" Papah. " Moza menoleh dan terlihat semakin bingung dibuatnya.


Moza yang terkejut dan reflek memanggil ayah mertuanya itu, lalu dengan cepat melipat bibirnya kedalam, menutup mulutnya rapat saat menyadari kecerobohannya. Takut semakin salah bicara.


Lebih tepatnya Moza tak mau dianggap sengaja mengekspose status barunya sebagai menantu dari salah satu keluarga ternama negeri ini yang bahkan Moza sendiri belum tahu pati seberapa besar pengaruh keluarga suaminya itu.


Intinya Moza tak mau dianggap punya menggunakan koneksi atau kekuasaan keluarga suaminya untuk melancarkan jalan hidupnya.


" Hahaha, liat itu wajah bingung menantumu. " Pria itu tergelak setelah beberapa saat yang lalu berwajah mengintimidasi.


Yang tentu saja sukses membuat Moza sedikit kebingungan. Bisa-bisanya dosennya itu tertawa lepas begitu setelah sedari tadi memasang wajah angker dan menegangkan.


Hah ????


" Sudah, kamu boleh keluar. Saya terima paper kamu. Dan saya ucapkan selamat sekali lagi atas pernikahan kamu. " Sambung Yanuar Wijaya pada menantu sahabatnya itu.


Sekali lagi ? Memang kapan Prof, Yan mengucapkan selamat pada saya?


Raut kebingungan masih jelas tergambar di wajah cantik Moza.


" Jangan bilang kamu tidak tahu kalau saya juga termasuk dalam tamu kehormatan yang hadir di pesta pernikahan kamu ? "


Moza tersenyum canggung, " Maaf, Prof s-saya---. "


" Tidak apa-apa, saya paham mungkin banyaknya tamu membuatmu tidak fokus siapa saja yang datang disana. Lagipula saya memang tidak memberi ucapan selamat langsung saat itu karena saya hanya mampir sebentar. "


Moza mengangguk.


" Baiklah, kamu bisa melanjutkan aktifitas kamu. "


Moza melirik Arya Tama, dan pria itu hanya mengangguk. Kalau sudah begini vibes papa mertuanya itu sungguh mirip sekali dengan suaminya, dingin-dingin mendebarkan. Benar-benar hot papa, hehe...


Apa jika nanti kak Hega sudah seumuran papa, akankah kak Hega juga akan tetap setampan dan sekeren Papa Arya ?


Moza mengerjapkan kedua matanya tanpa sadar masih menatap ke arah ayah dari suaminya itu, akal sehatnya seolah tiba-tiba melayang entah kemana.


Mungkin ini efek perdana melihat tampilan kharismatik papa mertua dengan setelan jas rapi yang menambah nilai wibawa pria matang tersebut. Maklum, biasanya kan Moza hanya melihat tampilan santai sang papa dengan kemeja atau polo shirt rumahannya.


" Ekhem... " Deheman Prof. Yanuar membuyarkan lamunan Moza.


Aaahhh, dasar gila, apa yang barusaja kamu lanturkan Moza Artana, otakmu mulai tidak waras rupanya.


Moza meringis kecil dan kembali menatap dosen pembimbingnya, " Saya permisi, Prof. Yan. Terima kasih atas waktunya. "


" Ya. " Pria itu mengangguk.


" Pah. " Pamit Moza lirih pada ayah mertuanya dan dijawab kembali dengan anggukan kepala, tapi kali ini dibonusi sebuah senyuman, meskipun sangat tipis, lumayan kan daripada dicemberutin.