
...' Mencintai itu tidak sekedar kita memberi hati, tapi bagaimana kita juga harus bisa menjaga hati. '...
...~Sherinanta~...
...***...
Keduanya sudah berada di kamar tidur, tepatnya sedang menikmati malam di sofa balkon kamar mereka. Selepas makan malam bersama keluarga besar, sepasang suami istri itu memilih langsung istirahat.
Hari ini sungguh hari yang melelahkan bagi keduanya.
" Bagaimana kakak tahu kalau kak Alina---"
" Hhssh, jangan sebut namanya. Aku mendadak mual mendengarnya. "
Moza menelan saliva, baru kali ini suaminya tampak sekesal ini. " Hhhh, iya, maksudku soal pura-pura mau bunuh diri itu, bagaimana kakak bisa tahu ? "
Hega memijat keningnya, kemudian menoleh membalas tatapan istrinya. Malas sebenarnya membahas lagi masalah perempuan itu.
Lengannya semakin mengeratkan rengkuhannya di pinggang Moza hingga tubuh istrinya itu semakin merapat padanya.
Keduanya duduk bersebelahan dengan kepala Moza menyender di dada suaminya.
" Dia menelfon Aliza sebelum melakukan percobaan bunuh diri, dan meminta Aliza datang ke apartemennya. " Dia yang dimaksud Hega tentu saja Alina, pria itu benar-benar enggan menyebut namanya.
" Lalu ? "
Hega mendesah lemah, istrinya memang sangat polos, jadi gadis itu tidak akan memahami trik-trik murahan yang biasa dilakukan para wanita yang sedang terobsesi akan sesuatu, terutama terobsesi pada seorang pria.
Hega menunduk, menatap istrinya yang mendongak menatapnya. " Kamu nggak pernah lihat drama apa sinetron tv gitu, yank ? "
Moza mengernyit tak paham, apa hubungannya coba dengan drama tv ?
" Ah iya, kamu demennya nonton drakor, terus senyum-senyum sendiri kebaperan liat cowok bucin ceweknya. Tapi kalo lagi dibucinin suaminya aja bukannya seneng malah cemberut. " Ledek Hega disertai kekehannya yang terdengar menyebalkan di telinga Moza, gadis itu kini memberengut.
" Ish. " Gerutu Moza dengan bibir cemberut, jemari tangannya mendarat di salah satu perut kotak suaminya membuat pria itu mengaduh karena cubitan sang istri.
Tuh kan, baru juga diomongin, udah manyun tuh bibir.
" Lagian apa coba hubungannya dengan drama tv ? Memangnya kakak pernah nonton acara seperti itu ? " Balas Moza tak terima.
Hega menggelengkan kepalanya, dan lagian kurang kerjaan apa seorang Hega nonton drama tv.
Nonton drakor aja karena paksaan istri, sekaligus tidak rela mata istrinya melototin cowok lain meskipun hanya sekedar lelaki dua dimensi.
" Kata mami itu trik yang sering ada di drama atau sinetron yang ada emmm---. " Hega menggaruk kepalanya yang tak gatal dan menjeda ucapannya, membuat istrinya penasaran saja.
Alis Moza terangkat sedikit. " Ada apanya ? "
" Emmm, pelakor. " Lirih Hega.
Moza ber-oh ria, tapi tetap saja belum menemukan jawaban yang dia minta. " Terus ? "
Gemas rasanya, Hega langsung menarik pinggul istrinya, mengangkat tubuh ramping itu ke atas pengakuannya.
Satu tangannya terulur merapikan surai rambut istrinya yang berantakan tertiup angin, sedang tangan lainnya masih melingkar di pinggang istrinya.
" Emmm, sayang, gini ya, coba kamu pikir mana ada orang mau mati dengan cara bunuh diri minta didatengin orang lain saat mau melakukan aksi bunuh dirinya. Gak niat banget mau mati nya, caper doang itu. " Tutur Hega dengan santainya, seolah bukan sesuatu yang besar membicarakan insiden yang terjadi pada sepupu Aliza itu.
" Ahhh. " Kepala Moza manggut-manggut paham, iya juga ya. Batinnya kemudian.
" Jadi yank, aku minta kamu jangan lagi bersikap seperti kemarin. "
" Ya ? "
" Emmm, itu. Kamu kan jadi sedikit berbeda karena ada sesuatu yang mau kamu minta dariku, meskipun aku suka sih dengan apa yang kamu lakukan. " Hega menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat mengatakan kalimat tersebut, netra hitamnya memindai ke lain arah menghindari tatapan istrinya.
Ada sesuatu yang terjadi pada dirinya saat mengatakan itu, ah maksudnya sesuatu dalam dirinya meremang mengingat bagaimana manisnya sang istri saat menjadi begitu penurut ketika dirinya bahkan meminta sesuatu yang, aaahhh, sulit dijelaskan. Semakin bikin salah tingkah kalau diceritakan.
" Kalau kakak suka, lalu apa masalahnya ? " Gumam Moza dengan pipi merona dan wajah sedikit menunduk.
Atensi Hega kembali fokus pada wajah istrinya. " Emmm, aku lebih suka kamu melakukannya karena kamu ingin, bukan karena tujuan lain. Karena tanpa kamu melakukan hal seperti itu untuk meluluhkanku pun, aku akan tetap menuruti apapun yang kamu inginkan dan memberi semua yang kamu minta. "
Moza membalas tatapan suaminya dengan binar bahagia, sebegitu besarnya cinta pria ini padanya. Moza dapat merasakannya dari setiap ucapan, tatapan mata dan juga sentuhan sang suami padanya.
Dan Moza merasa sangat beruntung akan hal itu.
Jemari lentik Moza terulur mengusapi pipi dan turun ke rahang tegas suaminya. Dalam hati Moza begitu mengagumi wajah suaminya yang nyaris sempurna dimatanya.
" Tapi aku melakukannya karena memang aku ingin, kak. " Lirihnya tanpa sadar.
Sepertinya ada yang salah bicara sehingga menimbulkan efek samping bagi pria berlesulung pipi itu.
Kedua netra Hega langsung mengunci netra kecoklatan istrinya. " Coba ulangi lagi, yank ! " Pintanya dengan harapan telinganya memang tidak salah dengar atau istrinya yang tidak salah bicara.
Moza tersentak, kedua mata beriris coklat itu mengerjap beberapa kali. " Euhm, a-apa, kak ? "
Hega terkekeh gemas melihat istrinya yang tampak kalang kabut karena baru saja ketahuan isi hatinya.
Rona merah yang menghiasi kedua pipi istrinya cukup menjadi bukti jika apa yang tadi didengarnya benar adanya.
Jadi yang tadi malam itu ? Ujung bibir Hega tertarik melengkung membentuk seringai tipis.
Pria itu mendekati wajah sang istri, tangannya meraih belakang kepala istrinya perlahan. Tentu saja Moza reflek memejamkan mata karena mengira suaminya akan memberikan sebuah ciuman entah itu di bibir atau di pipi seperti yang sering suaminya lakukan.
" Kakak, kenapa digigit sih ? " Sentak Moza saat merasakan sebuah gigitan di pipi kanannya. Bola mata yang memejam tadi langsung membulat.
Hega kembali terkekeh. " Habisnya kamu gemesin banget, pipi kamu kayak bakpau. Hiiiiih, gemeeeesss. " Goda Hega sambil menguyel kedua pipi istrinya.
" Ck, bilang aja kalau aku gendutan. " Moza mencebik.
" Hahaha, enggak sayang, kamu itu seksi. " Lirih Hega dengan nada sensual di telinga sang istri yang sukses membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
" Ish, kakak, kok digigit lagi sihhh ? " Jantung Moza rasanya sudah mau copot tiap suaminya melancarkan aksi mesumnya yang tak kenal waktu dan cenderung tiba-tiba.
Tadi gigit pipi, sekarang gigit telinga. Suaminya ini kelaparan apa ya ?
" Kakak lapar ya ? "
" Kenapa ? Kamu lapar, yank ? " Pria itu malah balik bertanya, tanpa menghentikan aktivitasnya. Sekarang saja bibir seksi suaminya sudah ada di lekukan lehernya.
" Enngh, kok malah balik nanya sih kak, kan aku yang nanya kakak lapar kah ? " Protes Moza sambil menahan diri sekuat tenaga agar tidak terbawa arus yang sedang dimainkan oleh suaminya.
Hega menyeringai tipis kala mendengar rintihan tertahan istrinya. " Enggak tuh, kan baru saja makan malam setengah jam lalu. "
" Terus kenapa gigit-gigit aku dari tadi, kalau lapar tuh makan, jangan nyemilin pipi sama telinga aku, kak. Kalau potel gimana ? Aduh, jangan digigit disitu ihhh. " Moza menahan dada suaminya agar pria itu berhenti dengan ulah nakalnya.
Huffft, hampir saja lehernya ada bekas gigitan vampir mesum. Bisa gawat besok magangnya.
Meledak sudah tawa Hega karena omelan istrinya. " Ya ampun istriku beneran gemesiiiiinnnn, cup cup cup cup. . . "
" Sekarang malah cium-cium, iiihhh. " Gerutu Moza setelah suaminya memberondong dirinya dengan kecupan-kecupan di seluruh wajahnya.
Dari kening, mata, hidung, pipi, bibir, aaahhh, apa-apaan suaminya ini. Kalau dibiarkan berkelanjutan bisa-bisa Moza harus keramas lagi menjelang subuh nanti.
Aaarrrrgggg
Dan benar saja kan, kecupan suaminya terus menjalar kemana-mana. Dan seperti biasa, Moza tidak bisa mengelak dari keahlian suaminya yang satu itu.
Few hours later. . .
" Yank. "
" Emmm, aku capek, kak. Udah ya. " Rengek Moza sembari menelusupkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Hega tersenyum gemas mendengar rengekan manja istrinya. Tidak tega mau nambah jatahnya, tangannya terulur membelai lembut kepala hingga ujung rambut istrinya, mengecup pucuk kepala wanitanya dengan penuh cinta.
" Kamu harus belajar egois. Jangan tunjukkan kelembutan hatimu pada siapapun, karena banyak sekali manusia tak tahu diri yang akan melihat celah untuk memanfaatkan kebaikan hatimu. "
" Cukup bersikap lembut padaku, pada keluarga kita, dan juga pada sahabat-sahabat kamu. Dan keraskan hatimu pada yang lain. "
" Aku tidak mau kejadian seperti hari ini terulang lagi, cukup sekali kamu melembutkan hatimu pada orang lain yang bahkan tidak pantas mendapatkan simpati kamu. "
" Aku tidak suka senyum di wajahmu memudar. Karena duniaku akan suram jika itu terjadi. "
" Selamat malam, istriku. Kamu adalah duniaku. I love you. "
Moza tersenyum, mengeratkan pelukannya di punggung suaminya. Meskipun tidak merespon dengan ucapan, tapi Hega tahu istrinya mendengar apa yang ia ucapkan.
" I love you, hubby. " Lirih Moza di sisa kekuatannya yang terkuras karena ritual malam sekaligus rasa kantuk yang menderanya.
Satu kecupan mendarat kembali di pucuk kepala Moza sebelum akhirnya keduanya terlelap dalam peraduan cinta.
***
...Dua hari ini 1300 kata lebih, masa minta komen 5 kata aja kalian keberatan sih 😢...