FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 36 • Moza " Kebahagiaan & Kehormatan "



...☆☆☆...


Saat memejamkan mata sembari memeluk sang istri, perlahan satu bayangan masa lalu menghampiri ingatan Hega, kenangan saat kali pertama pertemuan mereka.


Memori pertemuan pertama Hega dengan sang belahan jiwa. Bukan pertemuan mereka saat dewasa, tapi benar-benar adalah pertemuan pertama mereka.


Tidak !!! Lebih tepatnya itu adalah kali pertama Hega melihat gadis kesayangannya, kali pertama juga Hega seolah terhipnotis oleh manik mata kecoklatan milik Moza Artana.


Kala mata indah itu terbuka untuk pertama kalinya dan melihat indahnya dunia.


Saat dimana seorang Hega Airsyana menandai gadis itu sebagai miliknya. Bahkan ketika sang gadis masih sangat polos dan belum mengerti apa-apa tentang cinta.


Tapi Hega seolah sudah memberikan tanda kepemilikannya atas gadis itu tanpa ia sadari.


▪ ▪ ▪


Siang itu di sebuah rumah sakit di salah satu kota besar, semua keluarga tampak berkumpul di ruang rawat VIP. Ayu Puspita yang kala itu baru melahirkan anak keduanya seminggu yang lalu terlihat sudah segar dan sehat kembali pasca menjalani operasi caesar.


Meskipun sang bayi terpaksa harus dirawat di ruang khusus karena kelahirannya yang memang lebih cepat dari HPL ( Hari Perkiraan Lahir ). Dan hari ini seharusnya bayi mungil Ayu dan Ardi bisa keluar dari inkubator.


Tidak lama dari arah pintu, muncul seorang wanita berbaju putih dengan stetoskop menggantung di lehernya, dokter wanita yang merupakan dokter yang menangani proses melahirkan Ayu Puspita, diikuti oleh dua orang perawat di belakang dokter tersebut.


Salah satu perawat mendorong box bayi, dan seorang lagi membawa hasil checkup yang didekap di dadanya.


Seorang bayi mungil nan cantik tengah terlelap dalam box kecil berwarna putih. Bayi mungil berbalut selimut merah muda yang sempat berada di ruang inkubator selama satu minggu itu baru bisa keluar dari ruang rawat intensif dan berkumpul dengan keluarganya.


Bayi perempuan yang begitu cantik, imut dan menggemaskan, dia adalah putri kedua pasangan Ardi Dama dan Ayu Puspita.


" Bagaimana kabarnya, ibu Ayu ? " Tanya dokter dengan nametag Tatiana, SpOg itu.


" Alhamdulillah sudah tidak sakit lagi, dok. " Meskipun masih terasa nyeri namun rasa sakit itu dikalahkan oleh bahagia yang Ayu rasakan.


" Saya periksa dulu ya. "


" Silahkan, dok. "


Sang dokter memeriksa tekanan darah dan denyut nadi Ayu dibantu oleh salah satu suster. Selesai memeriksa tampak dokter wanita paruh baya itu menuliskan catatan di medical checkup yang dibawa oleh salah satu perawat tadi.


" Alhamdulillah, kondisi ibu Ayu sudah stabil. Besok sudah boleh pulang, ya. "


" Alhamdulillah, terima kasih, dok. Lalu bagaimana dengan putri saya, dokter ? "


" Si cantik juga sudah boleh pulang, kok. " Jawab dokter Tatiana dengan senyum ramah khasnya, " Tapi kalau mau ditinggal, saya dengan senang hati merawat peri kecil yang sangat cantik ini loh. " Imbuh sang dokter.


Ayu tersenyum, " Terima kasih banyak, dok. Sekali lagi terima kasih. "


" Sudah tugas saya, bu Ayu. Saya hanya membantu sedikit, perjuangan ibu Ayu lah yang sangat luar biasa. " Ayu kembali tersenyum haru.


" Kalau begitu saya permisi dulu. " Pamit sang dokter.


" Terima kasih, dokter Tia. " Kini Ardi yang bersuara, dan dibalas anggukan oleh dokter itu.


Kemudian tampak suster yang satunya mengangkat tubuh mungil dari dalam box, dan meletakkannya di pangkuan sang ibu dengan perlahan.


" Ayah, putri kita, dia cantik sekali. " Ucap Ayu sembari mengecupi wajah putri kecilnya dengan lembut dan hati-hati.


" Iya, dia cantik seperti kamu Yu, dia akan jadi gadis yang sangat cantik nantinya. " Pujian itu bukan dari sang suami, melainkan dari sahabat karibnya, Nadira Candra Saint.


" Terima kasih, Dira. Aku senang kamu bisa datang dan menemaniku. " Selama satu minggu ini Nadira bolak-balik kota A dan B demi menemani sahabat karibnya.


" Tentu saja aku harus menemani saudariku yang berharga. "


" Bunda, apa itu adalah adik Hyu ?! " Sahut seorang bocah lelaki yang berusia menginjak 7 tahun.


" Iya sayang, kemarilah dan lihat adikmu ! " Ayu Puspita meminta putranya mendekat, Ardi mengangkat tubuh putranya agar menaiki ranjang, duduk di tepian ranjang bernuansa putih.


Bocah lelaki itu adalah Hyuza Arkana Dama, yang adalah kakak dari si bayi mungil yang kehadirannya sanggup menghipnotis semua orang untuk jatuh cinta pada pesona sang bayi.


Hyuza kecil dengan takut dan ragu mengulurkan jemarinya, mencoba menyentuh pipi mungil bayi dalam pangkuan ibunya.


" Tidak apa sayang, pegang saja, dengan perlahan. " Ucap Ayu pada putranya.


" Pipinya sangat kecil dan lembut, Bun. Hyu takut menyakitinya. " Cicit bocah berusia tujuh tahun itu sembari menarik kembali tangannya dari pipi sang adik dan mendekap kedua tangannya di dada dengan ekspresi cemas.


" Tidak apa-apa, Hyu. Asalkan dengan perlahan, Hyu tidak akan menyakitinya. " Giliran Ardi yang bersuara, sembari mengusap pundak putranya.


Dan dengan perlahan-lahan sesuai petunjuk orangtuanya, Hyuza kecil kembali memberanikan dirinya untuk menyentuh kulit pipi adiknya yang berwarna putih kemerahan dan sangat lembut terasa di jemarinya.


" Bagaimana ? Apa Hyu menyukainya ? " Tanya Ayu.


" Eum. . . " Bocah lelaki tampan itu mengangguk senang, " Dia sangat cantik, seperti bunda. "


" Hyu harus memanggilnya dengan nama apa, Bun ? " Tanya Hyuza.


" Iya, Yu. Siapa nama putrimu yang cantik ini ?! " Sahut Nadira antusias.


" Aku memberinya nama Moza, yang berarti Kebahagiaan dan Kehormatan. " Jawab Ayu seraya mengelus kening putri kecilnya.


" Moza Artana Dama. " Sambung Ardi Dama dengan bangga.


" Hyu akan memanggilnya Momo, boleh kan, Yah ? " Si sulung menoleh ke arah sang ayah meminta persetujuan.


Pria itu mengangguk, " Ya, tentu saja boleh, panggilan sayang yang sangat manis untuk adikmu. " Jawab Ardi seraya mengacak pucuk kepala putra sulungnya.


Semua tenggelam dalam keharuan dan rasa bahagia menyambut anggota baru keluarga Dama.


Hingga tidak ada yang menyadari ada sosok kecil lain yang diam-diam tengah menatap dengan tatapan kesal pada semua orang yang mengelilingi ranjang pasien dan mengabaikan keberadaan dirinya.


" Dimana putramu, Dira ? " Tanya Ayu saat menyadari ada yang kurang disana.


" Ah. . . Astaga, aku sampai lupa jika Hega juga ikut denganku tadi. " Nadira menepuk keningnya sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan bernuansa putih itu.


" Hega, kemarilah, sayang ! " Nadira melambaikan tangannya pada putra kecilnya yang duduk di sofa dengan wajah cemberutnya yang menggemaskan.


" Tidak, aku disini saja, Mam. " Acuhnya dengan nada kesal lengkap dengan wajah jutek andalannya, kemudian pura-pura kembali fokus pada buku ditangannya.


Membuat Nadira menggaruk lehernya bingung dengan sikap putranya yang tiba-tiba aneh.


Nadira menatap suaminya, Arya Tama, tapi suaminya itu malah mengedikkan kedua bahunya. Beralih menatap ke arah Ayu sembari mengerutkan keningnya, seolah bertanya, kenapa dengan putraku ?


Ayu dibuat geleng-geleng kepala dengan ketidak pekaan sahabatnya, bahkan perubahan mood putranya sendiro pun tidak bisa dia pahami.


" Pfft. . . Putra kita itu sedang ngambek, Dira. Lihatlah dia cemberut begitu, itu karena dari tadi kita mengabaikannya. " Ujar Ayu yang memiliki kepekaan lebih daripada sahabatnya itu.


...---------------------...


✏ Pasti ada yang kecewa kan episode MP nya kemarin Enggak ada 21+ nya hahaha. Tenang aja, kalo komen nya kenceng, mungkin akan dipertimbangkan ada Flashback nya 😁😁😁


Diriku kan kang halu yang demen bikin Flashback 🤣🤣


...Ayo absen yang request permen kaki alias yang hot hot pop bikin gaya makin nge-pop...