FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 69 • Kapan Kalian Memberi Kakek Cicit ?



...☆☆☆...


Matahari telah digantikan oleh bulan, menemani malam dengan cahaya temaramnya yang menenangkan dalam keheningan. Belum terlalu larut karena waktu masih menunjukkan pukul 7.30 malam.


Hega dan Moza sedang berada di meja makan, tentu saja bersama kakek Suryatama.


Untuk beberapa saat lamanya, tidak ada suara apapun terdengar disana kecuali dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen.


" Sayang. " Terdengar suara berat nan tegas kakek Suryatama memecah keheningan.


Ya, begitulah Suryatama memanggil Moza selama ini, lelaki tua yang masih terlihat gagah itu begitu menyayangi cucu menantunya.


Sangat jarang memanggil nama gadis itu, lebih senang memanggil Moza dengan sebutan cucuku sayang atau hanya dengan sayang saja.


Hega yang awalnya tidak suka jika kakeknya ikut-ikutan memanggil istrinya seperti itu sempat protes, karena menurutnya hanya dirinya yang boleh memanggil 'sayang' pada gadis itu.


Tapi tentu saja protes Hega tidak digubris oleh kakeknya, malah semakin gencar saja kakek Suryatama menjahili cucu keras kepalanya itu dengan terus menyebut Moza dengan embel-embel 'sayang' di belakangnya.


Dan setelah beberapa lama akhirnya Hega pasrah saja, telinganya sudah mulai bisa menerima.


Moza meletakkan sendok dan garpu di tangannya, " Iya, Kek. " Jawabnya lembut setelah mengelap sudut bibirnya.


" Apa kamu tidak berniat untuk pindah jurusan kuliahmu ? "


Kening Moza sedikit terlipat, " Eh... Kenapa kakek bertanya tentang itu ? "


" Kakek lihat usaha yang kamu jalani bersama teman-temanmu sepertinya sedang naik daun. Begini-begini kakek juga update di sosmed, sayang. " Suryatama tertawa kecil.


" Tidak seperti seseorang yang kudet dan tidak gaul. Punya wajah tampan tapi tidak dimanfaatkan dengan baik, sayang sekali. " Lanjutnya sambil kemudian melirik Hega dengan ekor matanya.


Jaman sekarang, ada yang tidak main sosmed ? Banyak kok yang begitu, dan Hega adalah salah satunya.


Jika ada akun indagram yang mengatas namakan dirinya, itu hanya akun official semata, akun yang sengaja dikelola oleh Humas perusahaan untuk meningkatkan citra dari orang nomor satu di GI Group itu.


Dan itupun di dalamnya lebih banyak berisikan foto Hega yang tengah berada dalam kegiatan bisnisnya, atau pertemuan dengan orang-orang penting atau berpengaruh dari dalam atau luar negeri.


" Uhuk.... " Hega tersedak makanan yang baru saja di telannya.


" Pffft.... " Moza selalu dibuat gemas dengan tingkah laku kakek dan cucu yang satu ini.


Sejak pertama kali Moza menginjakkan kakinya tinggal di mansion utama Saint itu, selalu saja ada perdebatan receh diantara kedua pria berbeda generasi itu.


Dan tidak ada satupun dari mereka yang mau mengalah satu sama lain. Mereka memang punya level keras kepala yang sama tingginya.


" Kenapa kamu bisa jatuh cinta dengan pemuda kaku dan menyebalkan seperti dia ? "


Mendengar pertanyaan sang kakek, Moza seketika tersenyum tersipu, " Justru itulah pesonanya, Kek. "


" Sepertinya kamu sudah diguna-guna olehnya. Lihatlah dirimu, gadis cantik dan manis, pasti banyak pria yang mengejarmu di kampus kan ! "


Hahaha, sepertinya kakek Suryatama tidak tahu jika cucu menantunya ini juga punya image yang serupa dengan cucunya, mereka sama-sama terkenal kaku dan dingin.


Yang satu Berubah Kutub, yang satunya Ratu Es. Hahaha, cocok kan ?


Moza semakin merona karena malu, rasanya seperti menggunakan topeng saja. Padahal justru inilah sisi asli dirinya, manis, lembut dan manja. Sedangkan apa yang ditampilkannya di luaran sana, justru itulah topeng yang sebenarnya, sisi yang sengaja dibentuknya untuk membentengi dirinya sendiri.


" Apa kakek juga tidak tahu jika kak Hega banyak yang suka ? "


Kini giliran sang kakek yang mengernyitkan keningnya, " Mana mungkin ada wanita yang suka dengan dia. Tidak mungkin. Tidak akan ada yang tahan dengan sifat juteknya yang kalau bicara suka nyakitin perasaan orang. " Ujar Kakek Suryatama dengan nada meremehkan yang memang kenyataan adanya.


Yang pria tua itu tahu, cucu lelaki kebanggaannya itu terkenal suka bikin nangis anak gadis orang. Entah apa penyebabnya, tapi itulah yang ia dapat dari laporan singkat para orang kepercayaannya yang selama ini menjaga Hega dari jauh. Untuk detailnya, tentu saja tidak dilaporkan, karena Suryatama masih menjaga batas privasi cucunya.


Asalkan tidak narkoba ataupun pembunuhan, atau tindakan kriminal lainnya, Suryatama memberi kebebasan mutlak pada Hega untuk bergaul dan melakukan apapun yang diinginkan oleh sang cucu.


" Kakek, kak Hega yang kaku dan menyebalkan saja banyak yang suka dan mengejarnya, apalagi kalau Kak Hega bersikap manis, pasti semakin banyak wanita yang tergila-gila padanya, kek. " Aaahhh, membayangkannya saja Moza mendadak tak suka.


" Mereka itu pasti hanya meliat wajahnya saja, kalau mereka tahu sifat aslinya, kakek yakin tidak akan ada wanita yang mau meliriknya. "


iya juga sih.


Moza terkekeh kecil seolah membenarkan ucapan sang kakek yang terdengar sarkas, kemudian melirik sang suami yang tampak sedikit sebal.


" Sepertinya jika aku yang jadi mereka, mungkin aku akan langsung memakinya karena kesal, kek. " Imbuhnya diiringi senyum.


" Tapi aku kan tidak begitu padamu Momo sayang. Dan satu hal yang harus kamu tahu, kalau kalau tidak ada yang secantik kamu. " Ujar Hega akhirnya.


Setelah beberapa lama memilih diam mendengar istri dan kakeknya meng-ghibah tentang dirinya di depan matanya, sepertinya Hega tak bisa lagi menahan diri untuk tak membela dirinya sendiri.


" Itu kan sekarang, kakak ingat beberapa kali pertemuan kita dulu, wajah kakak tuh seperti ini. " Sahut Moza tak mau kalah, tak lupa menirukan wajah jutek suaminya yang terekam di ingatannya, " Dan jangan lupakan mulut pedas kakak itu benar-benar menyebalkan tau. " Sambungnya kemudian.


" Eh... Itu kan karena salahmu sendiri, tingkah cerobohmu itu pasti bikin siapapun yang melihatnya jadi khawatir, Momo sayang. "


" Ck, khawatir tapi kok judes gitu. "


Hega menggaruk tengkuknya, " Maaf, kan saat itu aku memang tidak terbiasa bersikap manis pada perempuan. "


" Huh... Tuh kek, kak Hega selalu tidak mau mengalah berdebat denganku. "


Suryatama malah terbahak mendengar perdebatan pasangan muda di depannya itu. Hatinya sungguh terasa bahagia, setelah belasan tahun rumah bak istana itu terasa kosong dan hampa. Akhirnya kini kembali terisi dengan tawa bahagia, meskipun di sela-sela perdebatan kedua cucunya.


Sepertinya tugasnya sudah hampir terpenuhi, mengantar titipan terakhir Nadira pada kebahagiaan.



" Sepertinya kakek sudah siap jika sewaktu-waktu Tuhan memanggil kakek, karena kakek tidak perlu cemas lagi jika bertemu dengan Dira. Kakek bisa menjawab dengan bangga saat Dira bertanya tentang putra kesayangannya. Harta paling berharga yang Dira titipkan pada kakek. "


Moza dan Hega seketika berhenti saling berdebat, menatap lekat sang kakek yang tanpa sadar meneteskan air mata.


Moza langsung berhambur memeluk kakek Suryatama, " Kakek, jangan bicara seperti itu. Kakek harus sehat dan panjang umuŕ untuk terus memberi kami wejangan tentang bagaimana berumah tangga yang baik. " Lirih Moza dengan mata berkaca-kaca.


" Momo benar, kek. Memangnya kakek tidak mau menggendong cicit, hah ?! "


Moza langsung memelototi suaminya, tapi bukan karena bahasan tentang cicit, melainkan karena nada bicara suaminya yang lebih terdengar seperti mengajak bertengkar daripada menenangkan.


Hega yang ditatap demikian mendadak ciut dan menghela nafas dan mengalah, kemudian bangkit dari kursinya dan berjongkok di samping kursi yang diduduki sang kakek, " Kakek harus sehat, supaya kakek bisa ikut membesarkan anak-anak Hega agar mereka juga bisa seperti Hega. "


Moza kembali melirik suaminya.


Heh, apa pula itu ? Memang benar sih nadanya melembut, tapi kok terdengar narsis ya ? Meskipun memang kenyataan juga sih jika suaminya itu memang sosok pria yang luar biasa.


" Karena Hega bisa sampai seperti ini semua adalah karena kakek lah yang mendidik dan membesarkan Hega. " Imbuhnya sambil menggenggam tangan sang kakek, dan mendaratkan kepalanya di pangkuan pria tua itu.


Hega sungguh berhutang banyak pada kakeknya, bagaimana sang kakek selalu memberikan segala hal yang terbaik untuknya. Dari pendidikan hingga fasilitas hidup yang penuh kemewahan. Tapi tetap menanamkan nilai-nilai moral sebagai manusia.


Jika ditanya siapa sosok paling berpengaruh dalam kehidupan seorang Hega Airsyana selain sosok ibu yang melahirkannya. Maka jawabannya adalah Kakek Suryatama.


" Kamu adalah kebanggaan kakek, terima kasih sudah tumbuh menjadi pria yang sangat luar biasa dan tidak pernah mengecewakan harapan kakek. " Suryatama mengusap kepala Hega dengan penuh kasih.


Adegan mengharukan yang tentu saja membuat beberapa pasang mata yang turut menjadi saksi begitu saling mengasihinya kedua pria berbeda generasi itu, ikut meneteskan air mata bahagia dan keharuan.


" Jadi kapan kalian akan memberi kakek cicit, hah ? "


Jeng jeng jeng. . .


...-----------------------------------...


...Kakeknya modus ya say ?...


...Melow dulu, ternyata ada maunya. ...


...Minta cicit 🤣🤣...


...Bang Hega gimana ? Kelabakan apa keenakan ?...


...Kelabakan dong, masa enggak ? Keenakan juga kali yak 🙄...


...Momo yang depresot, ...


...Bang Hega minta jatah teros ...


...pake alesan kakek minta cicit 🙄...