FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 119 • I Caught You, Baby



Moza kembali menelan saliva, menatap kembali pria di samping Geovano. Pria itu adalah Bara Prasetya, dan jelas terlihat pria itu tengah menahan tawa.


Moza yakin jika pria itu sedang mentertawakan situasi yang kini Moza alami.


Dan benar memang itulah kenyataannya, Bara sungguh ingin tertawa terbahak melihat ekspresi di wajah Moza yang seperti kucing yang ketahuan mencuri ikan.


" Eumm, saya kembali nanti saja, Pak. " Pamit Moza berharap bisa lolos dari situasi yang akward ini.


Geovano menggeleng, " Tidak, kamu tunggu saja, saya dan Pak Bara hanya sebentar. Kamu duduk saja dulu. "


" Tapi--- Hhhh, baik Pak. " Pasrah Moza akhirnya setelah sebelumnya tetap berniat kabur.


Akan tetapi Moza dengan terpaksa mengurungkan niatnya karena saat melirik ke arah belakang Bara dan Geovano, pria berjas navy itu masih menatapnya dengan senyum tipis. Tatapan yang seolah memerintahkan dirinya untuk tetap tinggal.


" Benar itu, kami nggak lama kok, nona Moza tunggu saja disini. "


" Loh, Pak Bara kenal dengan Moza ? "


" Tentu saja, Van. Saya kan penggemar wanita cantik. " Celetuk Bara enteng diikuti kekehan tengilnya.


Geovano tersenyum kecil., " Bisa saja Pak Bara ini. "


Lagi-lagi Moza bisa melihat pria bernama Bara Prasetya itu tengah menahan tawa, kemudian mengedipkan mata sebelum akhirnya keluar ruangan bersama Geovano Syailendra.


Sedangkan Moza sendiri masih bergeming di tempatnya semula. Netra beriris coklatnya menatap pria yang kini sudah lebih dekat dengannya.


Tubuh tingginya bersandar di sekat kaca, dengan kedua tangan bersedekap di dada.


Kedua mata Moza mengerjap, kemudian memilih duduk kembali, tidak mau mengambil tindakan apapun dan tetap bersikap sewajarnya karena khawatir Geovano akan kembali sewaktu-waktu.


Jantung Moza semakin berdegup kencang, gadis itu menahan nafas kala mendengar langkah kaki yang terdengar mendekat padanya.


Bibirnya merapal doa dan matra agar bisa selamat dari situasi ini. Tapi Moza yakin dirinya tidak akan bisa lolos, terbukti pria itu sudah berdiri tak jauh darinya, kini tubuhnya bersandar di ujung meja kerja Geovano, beberapa langkah saja dari letak kursinya.


" I caught you, baby. " [ Aku menangkapmu, Yank. ]



An hour ago [ Satu jam sebelumnya ]


Seperti biasa, tepat pukul 8 pagi, Hega sudah tiba di kantornya. Sebenarnya hari ini tidak ke kantor pun tidak masalah, toh pekerjaan untuk minggu ini sudah dia selesaikan minggu kemarin. Bahkan jatah pekerjaan untuk awal minggu depan pun juga sudah tak bersisa.


Anita saja sampai dibuat kelimpungan weekend kemarin karena harus membongkar kembali berkas untuk minggu depan karena bos nya yang tiba-tiba datang di akhir pekan untuk bekerja.


Seperti biasa pula, wajah datar bak papan setrikaan dengan mode dingin beruang kutub itu masih setia melekat disana.


Anita sampai heran, ada apa sebenarnya dengan atasannya itu. Bukankan pria yang baru menikah itu terlihat cerah ceria sepulang bulan madu.


Tapi sejak awal minggu lalu kenapa terlihat agak kurang bersemangat


" Anita, minta divisi keuangan memajukan deadline laporan Imperial Hotel untuk akhir minggu ini. " Hega keluar dari ruangannya setelah satu jam bengong saja tanpa melakukan apa-apa. Maklum, pekerjaannya sudah di maraton minggu lalu.


Wanita di balik meja kerjanya itu langsung terkesiap dan melongo melihat atasannya tiba-tiba nongol di pintu dengan perintah yang membuatnya kembali harus memutar otak untuk mencernanya.


Bukannya jadwal laporan Imperial Hotel masih awal minggu depan ? Toh rapat intern masih akan dilaksanakan pertengahan minggu depan.


Anita mencoba mengingat schedule yang memang sudah dibuat dan ditandatangani oleh Presdirnya itu. Dan ingatan Anita tak pernah salah.


" Anita, kamu dengar saya ? "


" Iya, Presdir. Segera saya sampaikan. " Bisa kalang kabut team 2 divisi keuangan kalau dengar perintah Presdir, batin Anita sembari mengangkat telepon hendak menghubungi divisi keuangan.


" Lalu sambungkan saya dengan ketua tim yang menangani Imperial Hotel yang ada di Tokyo. "


Hah ??? Anita kembali melongo dengan gagang telepon yang sudah melekat di telinganya. " I-iya, baik, Presdir. "


Astaga. Lagi-lagi Anita membatin. kemudian menginstruksikan bawahannya untuk menangani sambungan video meeting dengan cabang Tokyo.


Padahal tadi pagi Hega sempat merasa senang karena istrinya bersedia untuk diantar. Tapi alangkah kecewanya ternyata yang dimaksud istrinya adalah diantar ke rumah Amira.


Saat sudah sampai di rumah sahabat istrinya itu, Hega sempat kembali membujuk isyrinya untuk mengantar ke kantor magang sang istri. Tapi jawabannya tetaplah sama, yaitu 'tidak'.


" Heh, Ga. Pagi-pagi sepet aja muka lo. " Celetuk Bara yang entah sejak kapan ada di ruangan Hega, pria itu kan memang hobi nyelonong tanpa permisi, udah seperti jelangkung, datang tak diundang.


Hega hanya berdecak, malas pagi-pagi ngeladenin Bara, lagipula Hega masih agak kesal dengan pria itu.


Bara menggaruk tengkuknya yang tak gatal, hari ini sih rencananya Bara mau minta maaf pada sahabat Ice Bear nya itu. Tapi hubungan persahabatan mereka tidaklah sedangkal itu, rasanya canggung untuk sekedar mengucap maaf.


Mereka sudah seperti saudara yang tahu kebiasaan, serta kekurangan dan kelebihan masing-masing.


Jika ada perdebatan atau beda perselisihan karena beda prinsip, keduanya akan saling memaafkan secara alami dengan sendirinya. Tanpa ada permintaan maaf hubungan keduanya akan kembali seperti sedia kala.


Ting.


Lampu ajaib di kepala Bara menyala.


Tiba-tiba Bara mengingat sesuatu, lebih tepatnya seseorang yang dia lihat di lobi karyawan satu jam yang lalu.


" Ga, lo kan nggak ada kerjaan. Ikut gue gimana ? Kita inspeksi divisi. "


Hega menaikkan satu ujung alisnya, melirik Bara dengan ogah-ogahan.


" Ayo lah, udah lama juga lo nggak tebar pesona, kasian fans lo yang lama nggak liat muka jutek lo. "


Memang Bara tanpa sengaja beberapa kali mendengar keluhan karyawati yang merasa lemah semangatnya karena sudah lama tidak bisa menikmati wajah Presdir yang 'kata mereka' jutek tapi tampan mempesona itu.


" Ck, males gue, Bar. Lo aja sana. "


" Ayo lah, sekali ini doang, sekalian lo belom pernah ketemu kepala divisi keuangan yang baru kan ? Gue mau tahu penilaian lo tentang dia. "


Hega berpikir sejenak, kemudian mendengus. " Hish, okelah, daripada bengong gue disini. " Putus Hega kemudian, menyambar jas nya di sandaran kursi dan memakainya.


Yes !!! Bara bersorak dalam hati.


Tiba di ruangan divisi keuangan, ternyata orang yang dicari tidak ada karena sedang rapat. Baru juga Hega mau pergi, pria bertubuh tinggi tegap dengan wajah tegas memasuki ruangan.


" Loh, Pak Bara ada disini ? Maaf saya baru selesai rapat. "


" Santai aja, Van. Saya sama Presdir cuma lagi jalan-jalan santai, sambil inspeksi rutin. " Atensi Geovano langsung mengarah pada pria yang berdiri menghadap kaca besar menampilkan pemandangan kota.


" Pagi, Presdir. " Sapa Geovano sopan.


Pria itu hanya menoleh sebentar dan hanya mengangguk sebagai salam perkenalan. Benar-benar Beruang Kutub kan.


" Eh, Van. Bisa tunjukkan berkas penilaian kinerja karyawan divisi kamu tiga bulan terakhir ? "


" Tentu, Pak Bara. Tunggu sebentar. "


Bara menghampiri Hega di sudut bersekat kaca yang ada di ruangan kepala divisi keuangan itu.


Keduanya terlibat obrolan seputar urusan kantor sambil menunggu Geovano menyiapkan berkas yang diminta Bara. Menunggu beberapa menit hingga terdengar ketukan pintu.


Seperti biasa, Hega selalu bersikap cool, paling juga staff divisi keuangan yang datang.


Namun ekspresi dingin itu seketika berubah saat suara yang familiar tertangkap oleh indera pendengaran Hega. Pria itu berbalik dan langsung menangkap sosok cantik kesayangannya. Jantungnya seakan akan meloncat keluar dari tubuhnya saking bahagianya.


***


...Bang Hega langsung lega, Mbak Momo langsung siaga 😂...


...Yang baca langsung . . . ???...