FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 58 • Memiliki atau Mengikhlaskan



...☆☆☆...


Untuk sejenak, sepertinya kita harus meninggalkan dulu sepasang pengantin dengan ritual bulan madunya yang kegiatannya tak jauh-jauh dari apa yang kita pikirkan. Memberi ruang dan waktu bagi dua insan manusia itu untuk menikmati indahnya bulan madu mereka.


Karena di suatu tempat yang jauh dari tempat dimana dua sejoli yang tengah dimabuk cinta itu, ada satu hati yang justru berada dalam kondisi sebaliknya.


Di sebuah pinggiran danau yang ada di salah satu sudut kota, seorang pria tengah duduk di atas rumput, nampak terus memandangi danau dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.


Di matanya ada sejuta luka yang tersirat, namun bibirnya terus berusaha untuk tersenyum.


Dea yang sejak kedatangannya setengah jam yang lalu melihat wajah lusuh sahabatnya itu memilih diam dan mengamati. Gadis itu tahu jika suasana hati pria itu benar-benar sedang tidak baik. Dea menunggu pria itu buka suara terlebih dahulu.


" Dea, apa menurut kamu aku benar-benar tidak punya kesempatan lagi untuk bersama Momo ? " Ucap pria itu setelah cukup lama hening.


Dasar edan !!!


Sepertinya kata ini adalah yang paling tepat dilontarkan pada pria yang sedari tadi diam membisu sambil menatap danau dengan tatapan kosong. Dea terlalu tolol dengan menunggu pria itu menenangkan diri terlebih dulu sebelum mereka mengobrol dari hati ke hati.


Tapi apa ini ? Setelah setengah jam lebih menunggu orang bengong, di tengah malam dengan udara yang dingin, udah gitu ngantuk pula. Justru kalimat tak masuk akal yang keluar dari mulut pria itu.


Aaarrrrgggg, sabar Dea, sabar. Nih orang lagi patah hati, lo tahu kan rasanya patah hati, sakit banget. Jadi lo harus ekstraaa suabaar ngadepin dia.


" Huft. . . Bian, kita berdua sama-sama tahu bagaimana Momo. Dia bukan tipe gadis yang akan dengan mudah membuka hatinya untuk seseorang, apalagi untuk yang namanya cinta. " Yah, itu adalah kenyataan mutlak. Moza yang dingin dan tak tersentuh.


Bahkan suatu keajaiban seorang Fabian bisa masuk ke dalam kehidupan seorang Moza Artana, padahal saat itu adalah masa-masa dimana hati gadis itu benar-benar bagaikan batu.


" Dan gue adalah saksi bagaimana cinta itu hadir memasuki hati Momo secara perlahan dan tanpa dia sendiri ketahui. Hingga saat Momo mulai sadar rasa itu ada, dia sudah tidak bisa lagi menepisnya karena cinta itu benar-benar bisa membuat dia bahagia. Pria itulah yang sudah membawa kembali tawa dalam hati Momo, mengembalikan sosok Momo yang gue kenal bertahun-tahun lalu. Momo yang ceria. "


" Aku juga bisa memberi kebahagiaan yang sama, Dea. "


Inhale . . . Exhale. . . Sabar, tenang dan senyum, Deaaa. Belum saatnya lo keluar taring. Batin Dea lagi.


" Sadarlah Bian ! Hati Momo sudah sepenuhnya milik suaminya, dan apa lo pikir akan mudah menggantikan posisi pria itu di hatinya. Dan membuatnya cinta sama lo, hah ?! "


" Tapi aku juga sangat mencintainya, Dea. "


Astaga, ya Lord !!! Gue udah nggak tahan, apa gue tampol aja kepala nih orang biar sadar. Dasar sialan !!!


Dea kembali menghela nafas, memaksakan bibirnya untuk tersenyum, padahal dalam hati ingin mengumpat, ahh ralat, dia sudah mengumpat tadi dalam hati.


Maaf Tuhan, Dea yang manis nggak sengaja ngumpat kok. Tadi cuma keceplosan. 😉


" Bian, kamu tidak akan bisa mengubah hati Momo hanya karena kamu mengatakan jika kamu juga mencintai dia, bahkan jika kamu mengatakan bahwa cinta kamu untuknya lebih besar sekalipun. Cinta itu harus dari dua belah pihak Bian, bukan bertepuk sebelah tangan, karena cinta seperti itu akan menyakiti satu sama lain pada akhirnya. "


Fabian menelan ludah mendengar celotehan Dea yang terdengar setengah mengumpati dirinya itu.


Fabian jadi teringat pertemuannya dengan pria yang kini telah menjadi suami sahabatnya, suami dari gadis yang ia cinta.


Saat dimana Bian memilih untuk pergi kembali ke negaranya setelah penolakan Moza, tapi kalimat demi kalimat pria itu akhirnya membuat Bian memilih tetap bertahan. Bian memilih tinggal lebih lama, menyaksikan ritual pernikahan sahabatnya meskipun hatinya harus penuh luka.


" Datang lah ! Bukankah anda harus memastikan sendiri jika Momo bahagia dengan pernikahan ini ?! Lagipula jika anda memang sahabat karibnya, setidaknya anda harus berlapang dada membiarkan Moza bersama dengan pria pilihannya. Memberikan restu dan doa untuknya, meskipun saya tidak butuh itu. Tapi saya yakin Momo pasti mengharapkan hal itu dari sahabat baiknya, yaitu anda. " Fabian rasanya ingin mencekik pria di hadapannya ini, yang terlihat begitu arogan.


Selama bertahun-tahun berada di dunia bisnis, Fabian telah bertemu dengan banyak orang dengan berbagai macam karakter. Dan untuk pria yang satu ini, Fabian tidak bisa menyangkal kharisma seorang Hega Saint.


Hah, jika saja bukan saingan cintanya. Fabian yakin dirinya akan menjadi partner bisnis sekaligus teman yang cukup akrab. Tapi pertemuan mereka seolah diatur dalam waktu yang kurang tepat. Hingga hanya ada tatapan permusuhan diantara keduanya.


Fabian mendengus menatap tajam lawan bicaranya, " Apa anda begitu percaya diri akan bisa membahagiakan dia ? " Sarkasnya dengan nada tak kalah arogannya.


" Memang siapa lagi yang bisa membuatnya bahagia selain pria yang mencintai dan dicintainya. Apa anda pikir dengan cinta anda saja itu akan cukup untuk bisa membahagiakan dia ? Bagaimana dia bisa bahagia jika hidup dengan pria yang tidak dia cintai. "


Fabian hanya bisa membeku di tempatnya, tak punya lagi kalimat untuk membantah sesuatu yang memang benar adanya.


Laki-laki itu mengetukkan jarinya di atas meja, kemudian kembali menatap Fabian dengan ekspresi datar.


" Bahagia dalam pernikahan dan cinta itu sama halnya seperti bertepuk tangan Tuan Fabian. Seperti halnya kita membutuhkan dua tangan untuk menghasilkan suara tepuk tangan, seperti itu jugalah bahagia dalam pernikahan dan cinta. Tidak cukup cinta dari satu pihak saja untuk bahagia sepenuhnya, tapi harus ada cinta diantara keduanya agar kebahagiaan dalam pernikahan dan cinta itu bisa sempurna. " Ucap pria itu sebelum meninggalkan Fabian dalam renungannya seorang diri.


Fabian memejamkan kedua matanya erat, menghirup udara malam yang terasa dingin memasuki rongga hidung dan menusuk dadanya, sangat menyakitkan.


" Dan ingat, Bian ! Jantung dari kakak yang sangat dikasihinya hidup dan berdetak di dalam tubuh pria yang dicintainya. " Satu kenyataan lagi yang diucapkan oleh Dea, kembali menarik Fabian ke alam nyata dari lamunan sekilasnya, dan kalimat itu sekaligus membuat Bian dipaksa untuk menyerah kalah dan mundur dari pertempuran yang memang tak akan bisa dimenangkannya.


" Pikirkan sendiri apa masih ada peluang buat lo atau bahkan buat pria manapun di dunia ini untuk bisa bersama dia dan memiliki hatinya ?! "


Skakmat !!


Lagi-lagi kalimat Dea kembali menghujam hati Bian dengan belati kenyataan yang begitu menyakitkan.


" Bian, cinta itu tak selamanya tentang kepemilikan, tapi ada kalanya cinta itu juga tentang keikhlasan. Dan cinta yang lo miliki ini mungkin adalah cinta yang memang bukan untuk memiliki, melainkan mengikhlaskan orang yang lo cintai bahagia dengan cinta yang ia pilih, cinta yang memang sudah ditakdirkan buat dia. " Ucap Dea dengan nada rendah.


Dea tak tahu apa salah satu kalimat di buku motivator berjudul ' 1001 Ways to Move On From First Love ' yang ia baca dua tahun yang lalu itu bakalan sukses menenangkan hati sahabatnya yang tengah galau. Entahlah, yang penting ia sudah berusaha.


...------------------------...


...**Bagaimana episode ini ?**...


...***Kasih kritik saran dan hujatan dong !!! 😜***...


...Btw buku yang dibaca Dea ada kagak ya di dunia nyata, kalo ada thor mau beli. Hahaha. Eeeh hape mana hape, mau buka shopee kali aja bisa lewat shopee kalo beneran ada tuh buku....