
Anita masih terdiam tak merespon, sepertinya mendadak wanita itu linglung sejenak. Otaknya masih berusaha mencerna perintah atasannya. Seketika otaknya traveling, membayangnya apa gerangan yang terjadi hingga Presdir meminta sesuatu yang tidak biasa.
Anita sempat linglung, tumben boss nya minta disiapkan pakaian untuk istrinya, memang pakaian nyonya boss kenapa, sampai 'd*lamannya' juga lagi ?
Ahh sudahlah, bukan urusannya, dan tidak boleh ikut campur urusan boss.
Ahhh, iya juga sih, Presdirnya yang jutek tiada tara itu kan sudah menikah. Kok bisa Anita lupa status baru atasannya. Mengingat hal itu, Anita langsung geleng-geleng kepala dan tersenyum.
Ternyata yang namanya pria itu dimana-mana sama ya. Mesum semua. Begitu kiranya yang ada di otak Anita.
Namun sepertinya alam tidak mengijinkan wanita itu hanyut dalam pikirannya tentang apa yang terjadi di ruangan sang Presdir, karena suara bass di seberang telepon kembali menariknya ke alam nyata.
" Anita, kamu dengar ucapan saya ? "
" Oh, iya. Segera saya laksanakan, Presdir. " Anita sampai agak gelagapan menjawab.
Anita menutup sambungan telepon, kemudian menghampiri gadis berhijab yang sedang menikmati dessert sembari mengobrol dengan staff sekretaris Presdir.
Sedangkan Amira nyengir saat menerima informasi dari sekretaris pribadi Presdir itu, tentu tidak semua informasi sampai perihal pakaian. Tapi Amira bisa menduga apa gerangan yang membuat Moza tidak bisa ikut turun bersamanya.
Untung saja sudah dapet sajen maksi mewah, lengkap dengan appetizer dan dessert nya. Kalo tidak bisa lemes Amira nungguin sahabatnya pacaran.
" Saya tinggal dulu, kamu disini saja sampai jam makan siang selesai. Kalau mau turun, kamu bisa bilang sama Bella biar nanti dia yang mengantar kamu ke lift. "
Amira mengangguk. " Terima kasih, Sekretaris An. "
" Panggil aja Mbak An, seperti Moza. "
" Oke, Mbak An. "
Amira melanjutkan sesi makan siangnya bersama staff Sekretaris Presdir sambil bersenda gurau. Semua staff Anita memang asik semua, tidak ada julid. Mereka juga terlihat menikmati makan siang traktiran dari sang Presdir.
" Sering-sering nyonya boss dateng ya, makmur perut kita. " Celetuk Aris, salah satu staff.
" Hahaha, dasar pecinta gratisan. "
" Kek lu enggak aja, Bell. " Ejek Aris membela diri.
***
" Heh, bengong Lo, Mo. " Amira menepuk lengan Moza saat melihat sahabatnya sedari tadi tidak merespon pertanyaannya.
" Eh, apa ? "
" Gue tanya dari tadi lo mau makan apa, Mo. Malah dikacangin. "
Moza menyusuri area kantin dengan netra kecoklatannya, memindai satu per satu stand makanan disana.
" Kalo lo nyari yang kek di ruangan Presdir, ya nggak bakal ada disini, Mo. " Ledek Amira karena melihat sahabatnya seperti kebingungan memilih menu makan siangnya.
" Ck. Jangan mulai deh, Ami. Aku nggak ada tenaga buat balas ledekan kamu. "
" Hehehe, makanya isi tenaganya. Jadi makan apa ? "
" Udah aku ngikut kamu aja, aku capek mau merem dulu bentar ya sambil nungguin kamu. Tolong sekalian pesenin aku makanan ya, please ! " Pinta Moza dengan tatapan memohon.
" Oke nyonya muda. " Amira kembali meledek, dan Moza hanya berdecak malas, tak punya tenaga untuk mendebat.
Dua hari lembur di rumah dan di kantor, belum lagi kerjaan kantor dan juga beberapa tugas kuliah.
Sungguh, gadis itu seperti kehabisan energi cadangan. Moza memilih melipat kedua tangannya di meja dan menumpukan kepalanya disana, menghadap kaca besar di sisi kanannya.
Setidaknya bisa merem 15 menit kan lumayan, apalagi kantin kantor sepertinya sedang lengang. Kedua mata bulatnya langsung terpejam, tak menghiraukan beberapa pria yang melewati mejanya dan menyapa. Bahkan kedatangan Julian pun diabaikannya.
" Kenapa si Momo, umik ? " Tanya Julian setelah mendaratkan pantatnya tanpa permisi di kursi tepat di depan Amira saat gadis berhijab hendak bangkit dari kursinya untuk memesan makanan.
" Katanya kecapekan. "
Alis Julian langsung meninggi. " Lah, siapa yang berani bikin nyonya boss kelelahan ?! Biar gue laporin tuh orang ke lakinya. "
" Dih justru dia kecapekan karena disuruh mondar-mandir ruang Presdir melulu. " Jawab Amira setengah berbisik, kemudian meninggalkan kedua sahabatnya menuju salah satu stand makanan.
Hihihi.. gimana kagak capek kalo itu urusannya, orang tiap Momo ada di ruangan bang Hega mereka ngadon ponakan melulu buat JF Genks, hahaha. . .
Arrrgggg gue jadi pingin kawin juga...
Mamih, Lian mau kawiiiinnnnn.
Batin Julian meronta, kemudian melirik sahabatnya sambil cengengesan.
Ting. . .
Tubuh ramping itu menggeliat kecil, sepertinya tidur nyenyaknya terganggu oleh bunyi notifikasi ponselnya. Kedua manik matanya mengerjap perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk melalui indera penglihatannya.
Bibir tipis berwarna peachnya terbuka lebar menguap dan reflek ditutup oleh telapak tangannya.
" Heh ? "
Loh ini kan privat room di ruangan Kak Hega.
Kesadarannya seketika dipaksa kembali sepenuhnya saat Moza menyadari dimana ia berada ditambah efek suara bass seksi yang begitu familiar itu menyapa indera pendengarannya.
Tubuhnya langsung terduduk, bersamaan dengan kepalanya yang menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara.
Loh kok aku bisa disini, sih ? Bukannya tadi aku merem di kantin sambil nunggu makanan dari Ami ?
Moza meraih ponselnya yang ada di atas meja di sisi ranjang tempatnya berbaring tadi.
Pukul 14.00
Hah ?
Bola mata bulat itu langsung mengerjap beberapa kali, sepertinya salah lihat jam, bahkan tangannya langsung mengucek kedua matanya agar kembali sadar sepenuhnya.
" Kamu nggak salah lihat, memang sudah jam dua. Aku baru mau bangunin kamu mau ajak sholat dzuhur bareng. Yuk, bangun, yank. Mumpung masih ada waktu. " Tubuh tinggi tegap berbalut kemeja putih dan vest abu itu sudah berdiri tepat di sisi ranjang, dengan satu tangan terulur untuk membantu sang istri bangkit dari ranjang.
Tak sempat berpikir panjang, Moza langsung mengulurkan tangannya membalas uluran tangan suaminya dan menurunkan kedua kakinya di lantai yanh sudah tersedia sepasang sandal ruangan. Dan lagi-lagi hatinya dibuat berdebar dengan sepasang kepala beruang yang menghiasi sandal rumahan itu.
Ya ampun, kapan suaminya menyiapkan semua ini sih. Mungkin itu yang terlintas sekilas di benak Moza.
" Ayo, setelah sholat kita makan, kamu belum sempat makan siang tadi kan ? "
" Ah, iya, kak. "
Setelah melaksanakan ibadah sholat dzuhur, sepasang suam istri itu langsung menuju ruang santai. Di meja sofa berwarna abu tua itu sudah tersedia menu makan siang.
Moza yang tadinya mau langsung kembali ke ruangannya terpaksa mengurungkan niatnya karena sang suami memaksa untuk makan siang terlebih dulu.
Ting. . .
Notifikasi ponsel Moza kembali berbunyi saat dirinya sudah berada di sofa ruang tamu kantor suaminya.
" Sebentar ya, kak. " Moza meraih ponsel berwarna rosegold berlogo apel tergigit yang ada di sofa setelah mendapat anggukan persetujuan suaminya. Kemudian membuka aplikasi chat berwarna hijau.
...---------------------- Privat Chat ----------------------...
📩 Amira Rahayu
Mo, lo nggak usah balik ke ruangan, bentar lagi juga udah jam pulang anak-anak magang.
^^^📩 Moza Art^^^
^^^Kenapa ?^^^
📩 Amira Rahayu
Besok gue jelasin. Tas lo udah gue kasih ke si Jul. See you tomorrow.
^^^📩 Moza Art^^^
^^^Thanks, Ami.^^^
...---------------------- End Chat ----------------------...
Moza merasa ada yang aneh, gadis itu langsung melirik suaminya yang sedang melipat lengan kemejanya hingga siku.
" Kenapa, yank ? "
" Kak, bagaimana aku bisa ada disini ? Aku tadi lagi di kantin sama Amira dan Julian loh. "
Tidak ada jawaban, pria itu hanya tersenyum tipis kemudian duduk di sisi istrinya.
" Kak---. "
" Kenapa sayang ? " Jawab Hega mesra, tangannya terulur merapikan surai rambut istrinya.
" Jawab aku dulu, bagaiamana aku bisa ada di sini ? "
" Tentu saja suami ganteng kamu ini yang membawa kamu, memangnya siapa lagi ? " Jawab Hega enteng.
" Hah ? " Manik mata Moza langsung melotot dan mengerjap beberapa kali, mencerna pernyataan suaminya.
Pasti terjadi sesuatu kan ?
Huft, siap-siap jadi bahan ghibahan. Batinnya sambil menghela nafas berat.
***
Selamat lebaran ya teman-teman.
Misal aidzin wal aidzin, maaf lahir batin. 🙏🏼