FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 21 • [ Flashback ] "H2" The Real Best Friend



...' Jangan melihat perdebatan dalam persahabatan sebagai wujud ketidak cocokan, bagiku hal itu adalah proses bagaimana kita saling memahami. Karena persahabatan tercipta bukan hanya karena banyaknya persamaan, melainkan juga karena adanya perbedaan. Kita bersama untuk saling berbagi dan saling menyempurnakan diri. '...


...~ H2 ~...


...☆☆☆...


Ini memang bukan kali pertama Hega dan Arka terlibat perdebatan, keduanya beberapa kali memang sering berbeda pendapat tentang banyak hal. Seolah hubungan persahabatan keduanya ada hanya untuk saling mencela.


Namun hanya mereka yang tahu justru itulah yang membuat persahabatan mereka semakin erat. Sepertinya perdebatan yang terjadi diantara mereka adalah sebuah proses bagi keduanya untuk saling mengoreksi dan memahami satu sama lain.


Dan saat ini pun di ruang keluarga, kedua remaja belasan tahun itu masih sibuk berdebat sengit dengan bahasan yang terbilang tidak sesuai dengan usia mereka yang bahkan belum 17 tahun.


Tapi kedua bocah remaja itu memang terbilang dewasa dibanding usia mereka sebenarnya, lantaran Arka memang sudah dituntut dewasa demi sang adik.


Karena setiap kali kedua orang tua mereka sibuk bekerja, maka Arka lah yang menjadi sosok pelindung dan sandaran bagi adiknya. Menjadi orangtua kedua bagi sang adik, menggantikan peran ayah dan bunda mereka ketika keduanya sedang tidak bisa meluangkan waktu bagi kedua putra putri mereka.


Apalagi sejak kelahiran si bungsu, Ryuza, bunda Ayu harus ekstra membagi waktunya antara pekerjaan dan mengurus si baby.


Sedangkan Hega, pemuda itu tak kalah dewasanya dengan Arka. Bukan karena hal lain, tapi memang lantaran latar belakang keluarganya yang mengharuskan remaja itu bersikap dewasa melebihi usianya.


Hega yang sudah mendapatkan pendidikan sebagai pewaris di usia muda memang harus terbiasa untuk mandiri dan bertanggung jawab pada dirinya sendiri.


Bahkan di usia sepuluh tahun Hega sudah terbiasa bergelut dengan angka-angka saham di tablet miliknya. Belajar memantau perkembangan bisnis dengan bimbingan sang kakek.


Dan mungkin itulah salah satu persamaan yang membuat keduanya cocok. Disaat teman-teman sebaya mereka asyik menikmati masa anak-anak dengan berbagai macam kenakalan remaja.


Kedua remaja itu justru lebih nyaman berada di rumah meskipun dengan aktivitas yang berbeda. Arka sibuk dengan buku sketch dan adik cantiknya, sedangkan Hega sibuk dengan buku-bukunya.


Dan entah sudah berapa lama keduanya masih juga berdebat sengit, hingga melupakan masih ada sosok manis diantara mereka yang tengah mengamati perseteruan mereka dengan ekspresi polosnya.


Bahkan saking serunya berdebat, dua remaja tampan yang kehadirannya bisa menyihir semua siswa perempuan di seantero sekolah ini tidak menyadari jika sosok imut yang ada di pangkuan Hyuza itu sudah berhenti menangis.


" Yakin kau tidak mau menjadikan adik cantik ku ini sebagai istrimu, Ga ?! " Mencibir dengan sinis, netra hazel Arka menatap penuh selidik ke arah sahabatnya dengan seringai miring mengejek.


Hega masih terdiam, tetap bergeming di posisi semula, duduk bersandar di sofa dengan kedua tangan terlipat di dada dan kedua kaki panjangnya saling bersilang.


Hega menatap datar sahabatnya, membiarkan Arka mengoceh sesuka hatinya. Pikirannya seolah menerawang entah kemana, dan entah apa yang ada dalam benaknya saat ini.


Sesekali terdengar halaman nafas panjang dari remaja tampan itu. Sepertinya Hega sedang memikirkan sesuatu untuk membalas ucapan Arka, atau malah sebenarnya Hega justru tengah kehabisan cara untuk melawan mulut berbisa sahabatnya itu.


Hega mau ngeles gimana lagi coba ??? Karena memang benar jika gadis kecil itu memang sangat mempesona. Hish. . .


" Lihat dia ! Bukankah adikku pasti akan jadi gadis paling cantik nanti jika dia dewasa, dan akan banyak pria yang tergila-gila padanya. " Ujar Arka dengan sangat bangga atas kecantikan adiknya yang memang tidak terbantahkan.


Bahkan Hega mengakui jika gadis itu adalah gadis tercantik yang pernah ia lihat selama ini. Secara Hega begitu seringnya mengikuti acara perjamuan bisnis bersama sang kakek, memperkenalkan nya pada kolega bisnis kakek Suryatama.


Dan disana juga Hega banyak bertemu dengan putra putri dari rekan bisnis kakek ataupun papanya. Itupun atas paksaan sang kakek, meskipun sejak beberapa tahun terakhir, kakeknya tidak lagi memaksanya ikut, entah apa alasannya.


Tapi Hega malah lega, tidak perlu memasang wajah basa-basi lagi di hadapan para pengusaha yang jelas hanya ada maunya saja, tukang cari muka. Di otak mereka itu hanya kepikiran keuntungan semata.


Moza kecil yang tidak mengerti apa yang sedang diperdebatkan oleh kedua kakak tampannya itu hanya terdiam di pangkuan sang kakak dengan tatapan yang tak lepas dari kedua pemuda itu. Manik mata Moza sesekali mengerjap memandangi wajah kedua kakaknya bergantian.


" Kau yakin tidak akan menyesal nantinya ? " Netra beriris hazel Hyuza menatap penuh selidik ke arah sahabatnya dengan seringai miring mengejek.


" TIDAK AKAN. " Jawab Hega tegas dan lugas kemudian menyambar kembali bukunya dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


Mengabaikan kegilaan sahabatnya, karena bisa jadi dia sendiri akan ikutan gila jika terus meladeni perdebatan absurd itu.


" Sampai bumi terbalik pun aku tidak akan mau menikahi boneka barbie kesayanganmu itu. " Gerutu Hega lirih. Tapi tetap saja gerutuannya masih bisa didengar oleh sepasang kakak beradik yang duduk di hadapannya.


Mendengar jawaban pemuda tampan itu sontak memancing isak tangis Moza kecil yang tadinya sudah berhenti menangis. " Hiks. . . hiks. . . "


Dan beberapa detik kemudian pecahlah kembali tangis gadis itu, " Huaaa . . . Bundaaaaa . . .  Huaaaaa . . . !!! " Gadis manis yang sedari tadi terdiam mengamati perdebatan kedua pemuda itu kembali menjerit dengan keras membuat kedua pemuda itu tersentak sadar dan kebingungan.


" Aduh apalagi sih ini ? " Ayu Puspita berjalan tergopoh dari dapur menghampiri putrinya.


" Bunda, kenapa kak Hega juga tidak mau menikahi Momo ? Apa Momo tidak cantik ? Apa Kak Hega tidak menyukai Momo ? Huaaaaa. . . "


" Hyu, Hega !!! Apa lagi yang kalian lakukan sih sampai adik kalian menangis lagi begini ?! " Geram Ayu melihat putrinya yang menangis lebih kencang daripada sebelumnya.


Kedua pemuda itu langsung ciut melihat tatapan horor sang bunda yang jika marah maka tamatlah riwayat mereka, telinga mereka akan berdengung selama tiga hari tiga malam karena omelan ibu dari tiga anak itu.


Dan Hega tidak mau mengalaminya, dia tidak mau menjadi pria tampan yang tuli. Ngeri lah, masa putra mahkota keluarga Saint yang tampan rupawan punya masalah dengan pendengarannya, hih kan tidak keren.


Hega menggeleng cepat, " Tidak Bun, Hega tidak bilang apa-apa kok. Sungguh. " Hega menatap takut pada Ayu dengan mengangkat kedua tangannya ke atas sejajar dengan telinganya. Tanda menyerah.


" Huaaa... Kak Hega bohong, kak Hega bilang tidak mau menikah dengan Momo, huwaaa. . . " Rengek Moza disela tangisannya, membuat tubuh Hega semakin menegang ketika mendapat lirikan maut sang bunda.


...------------------------...


Hayo Lo mewek lagi barbie idupnya, kelar udah nasibnya duo H 🙈


Semoga kalean belum bosen sama kegilaan duo H ini ya, karena hanya di chapter Flashback inilah kalean akan tahu bagaimana karakter kakak tercinta Moza.


Kalo sudah cambek ke dunia nyata, maka hanya akan ada keuwuan couple bucin HeZa