FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 138 • Karma Instan



Diruangan lain, Divisi Keuangan.


" Pak Geovano, apa bapak sudah tahu dari awal tentang siapa sebenarnya anak magang itu ? "


" Iya, Pak. Makanya bapak baik banget sama dia karena memang sudah tahu kan latar belakang keluarganya ? "


Geovano yang barusaja masuk ruangan divisinya langsung diberondong pertanyaan oleh beberapa staff nya.


" Maksud kalian siapa ? "


" Moza Artana. "


" Apa maksudnya dengan siapa sebenarnya dia ? "


" Loh, jadi Pak Geo nggak tahu ? Kan lagi rame di grup kantor, anak-anak Divisi Perencanaan kan pada terancam dipecat gara-gara tadi ngomong yang enggak-enggak tentang istri Presdir, parahnya di depan Presidir sendiri. "


" Lalu apa hubungannya dengan Moza Artana ? "


" Kan istrinya Presdir itu yang dimaksud ya Moza, Pak. "


" Apah ?? "


" Jadi bapak juga baru tahu ? "


" Lagi rame nih pak, coba liat deh ! " Lisa menyodorkan ponsel miliknya yang sedang membuka aplikasi chat.


Geovano mengembalikan ponsel sekretarisnya setelah membaca beberapa baris isi roomchat milik sekretarisnya itu 


Pantas saja Presdir murka. Dan tiba-tiba menurunkan keputusan phk tanpa surat peringatan. Batinnya.


Geovano semakin pusing saja, kepalanya langsung cenut-cenut karena dalam sekejap divisinya akan kehilangan beberapa staff sekaligus.


" Lisa, panggil Ana, Tira dan Nindi ke ruangan saya ! "


" Mereka masih istirahat, Pak. "


" Hubungi mereka agar cepat kembali ke ruangan, atau mereka dijamin keluar dari kantor ini tanpa pesangon. "


" I-iya, Pak. " Jawab Lisa gagap dengan kening mengerut heran dengan ucapan atasannya.


***


" Heh, lu bertiga bikin ulah apa lagi emangnya sih ? " Sambut Lisa saat keluar dari ruangan Geovano dan langsung mendapati tiga rekannya baru memasuki ruangan.


" Apaan sih Lis, baru dateng juga kitanya diomelin. "


" Gimana gue nggak ngomel, tadi pagi kalian bikin ulah masalah laporan keuangan yang lupa diprint. Terus pak Geovano manggil kalian bertiga dengan wajah seremnya, kan tuh orang kagak pernah marah. "


" Ye, mana gue tahu, pe em es kali pak Vano. " Celetuk Tira santai.


" Yoi, paling juga gagal pedekate sama anak magang. Kita kena getahnya. " Ana menyahut dengan nada ketusnya.


Lisq hanya bisa menggeleng pelan. " Huft, lu pada belom liat grup kantor kayaknya ya ? "


" Apaan emang ? "


" Liat aja sendiri. " Ucap Lisa malas dan malah kedua tangannya be4sedekap di dada.


Ketiganya langsung merogoh ponsel mereka yang ada di saku blazer mereka namun teriakan bariton yang tiba-tiba menggema membuat mereka belum sempat membuka aplikasi berwarna hijau di ponsel mereka.


" LISA !!! "


" Eh, iya Pak, ini mereka baru datang. Heh, buruan kalian bertiga masuk ruangan pak Vano, hush hush... "


" Lisa, kamu juga ikut masuk ! "


" Iya, Pak. " Lah, kok gue jadi kesangkut sih. Gerutu Lisa dalam hati namun tubuhnya tetap patuh pada perintah atasannya, kakinya melangkah memasuki ruangan yang bahkan belum ada lima menit ia tinggalkan.



Keempat wanita itu bergantian memasuki ruang kepala Divisi mereka.


" Maaf, Pak. Kenapa kami dipanggil ? " Tanya Tira mewakili kedua temannya.


" Hhhh, kalian tidak merasa melakukan sesuatu yang buruk kah ? "


" Maksudnya, Pak ? "


" Lisa, berikan surat ini pada masing-masing dari mereka ! "


" Apa ini, Pak ? "


" Baca saja sendiri, kalian akan tahu. "


Ketiganya saling menatap dan kemudian membuka amplop bersamaan, beberapa detik kemudian wajah mereka seketika berubah pias.


" A-apa ini m-mak-sudnya, Pak ? " Ana yang lebih dulu membaca langsung terhuyung mundur.


" Seperti yang kalian baca, kalian dipecat. Dan dengan tidak hormat. " Tandas pria itu penuh penekanan.


" APA ???? " Bukan Ana, Tira atau Nindi yang berteriak, melainkan Lisa, wanita itu sampai membekap mulutnya karena terlalu terkejut.


" Tapi kenapa kami dipecat, Pak ? Bukankah masalah laporan tadi pagi sudah kami pertanggungjawabkan ? "


Geovano tersenyum sinis, menggelengkan kepalanya menatap tak mengerti dengan jalan pikir para wanita. Apa mereka pikir masalah sebesar itu akan selesai dengan mudah, belum lagi apa yang mereka lakukan setelahnya.


" Kalian yakin hanya itu kesalahan yang kalian buat ? "


" Maksud Pak Vano apa ya ? "


" Kalian tahu kalau surat pemecatan itu langsung atas perintah Presdir, yang artinya kesalahan kalian itu tidak bisa ditolerir. Dan saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu kalian. Untuk kesalahan perihal laporan, saya masih bisa meng-cover kesalahan kalian, tapi sepertinya kalian telah membuat kesalahan lain yang lebih fatal dari itu. "


" Kami sungguh tidak mengerti apa yang Pak Vano maksud. "


" Huft, sepertinya kalian tidak akan jujur jika saya tidak menunjukkan buktinya langsung ya ? "


Ketiga wanita itu mengernyit bingung, bahkan Lisa juga ikut dibuat bingung oleh ucapan atasannya itu.


" Lisa, putar video di laptop saya agar mereka bisa lihat sendiri kesalahan fatal apa yang telah mereka buat. "


" Baik, Pak. " Lisa kembali mendekati meja Geovano, menarik laptop berwanba silver di atas meja dan memutarnya agar layar benda itu menghadap ketiga rekannya.


Kemudian menekan tombol enter untuk memutar video yang sepertinya sudah Geovano lihat sebelumnya.


Beberapa detik saja ketiga wanita itu langsung dibuat syok, sedangkan Lisa masih belum menangkap apa maksud video itu. Hingga muncul gambar dimana ketiga rekannya itu tengah dengan sengaja menjegal kaki seorang wanita yang tak lain adalah sosok yang sedang ramai menjadi buah bibir di perusahaan itu.


" Bagaimana ? Apa kalian sudah lupa dengan apa yang kalian lakukan pagi tadi ? "


" Belum cukup kah membuat masalah dengan laporan Imperial Hotel, dan bahkan kalian masih juga melakukan kekerasan di kantor ?! "


" I-itu tidak seperti yang bapak lihat. Ka-mi---. "


" Cukup. "


" Pak, tolong jangan pecat kami, kami mengakui kami salah, tapi kami cuma kesal saja karena anak magang itu jadi pusat perhatian para karyawan--- termasuk bapak. " Lirih Tira di akhir kalimat.


" Bahkan Presdir pun juga ikut memberi perhatian khusus pada anak itu, kami bahkan sering memergokinya naik ke lantai 15 menggunakan lift khusus. Itu kan artinya--- "


" Saya bilang cukup. Sekarang kalian keluar dari ruangan saya ! "


Geovano mengusap wajahnya kasar, bisa-bisanya mereka melakukan hal menjijikkan macam itu hanya karena cemburu.


" Maaf, apapun alasan kalian saya tidak bisa membantu, karena perintah itu langsung dari Presdir. "


" Tapi kenapa Presdir bisa---. "


" Ck, sepertinya kalian belum tahu situasi yang terjadi ya ? Memangnya kalian tidam bisa berpikir jernih hanya karena kedengkian ? "


" Maksudnya, Pak ? "


" Lisa. "


" Siap, Pak. " Jawab Lisa lugas, kemudian beralih kepada ketiga rekannya, " Kalian liat aja deh grup wa kantor lebih dulu. "


Ketiganya kompak mengikuti arahan Lisa, membuka roochat grup di masing-masing ponsel mereka.


Seketika pula manik mata ketiganya langsung membola, kembali syok dengan kenyataan yang ada. Mungkin ini yang dinamakan karma, mereka harus menuai apa yang sudah mereka tabur.


Tidak perlu menunggu hitungan hari, minggu ataupun bulan dan tahun. Mereka harus menerima karma instan dari hasil perbuatan mereka karena membuat masalah dengan orang yang salah.


***


Yang punya sosmed bantu share cerita ini ke circle kalian boleh ? Aku harap level novel ini bisa naik sebelum tamat.


Karena jujur aku udah down banget, mau stop tapi aku nggak mau punya hutang sama kalian yang udah setia dari awal sama cerita Bang Hega. So aku berusaha menguatkan hati aku agar bisa menyelesaikan cerita ini.


Plisss bantu aku ya teman-teman. Makasih. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼