FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 37 • Memilih Jodohnya Sendiri



...☆☆☆...


Hega memang tipikal anak lelaki yang cenderung introvert, kesehariannya yang dipenuhi jadwal belajar dan belajar membuatnya memang jarang berinteraksi dengan teman-teman sebayanya.


Sejak kecil lingkup pergaulan Hega memang terbilang sempit, karena dibatasi oleh sang kakek mengingat keselamatan cucu satu-satunya yang memang harus ekstra diperketat.


Untung saja ada Bara dan Derka yang merupakan sahabat Hega sejak kecil, mereka saling mengenal tentu saja karena lingkaran kolega bisnis sang kakek dan papanya.


Dan jangan lupakan Ragil Anggara yang akan selalu mengekor setia di belakang bocah yang baru menginjak usia 6 tahunan itu.


Selain pendidikan formal umumnya, Hega mendapat pendidikan khusus yang mendatangkan guru khusus untuk Hega dan Ragil Anggara. Keduanya memang sudah dididik khusus sedari kecil agar saat keduanya besar nanti, keduanya bisa saling membantu satu-sama lain.


" Tuan Muda, nyonya meminta anda kesana. " Bisik Anggara sopan seraya menundukkan wajahnya ke arah majikan kecilnya, Anggara memang sedari tadi berdiri di samping sofa tuan mudanya.


Hega tetap bergeming, mengabaikan ucapan anak lelaki berusia 10 tahun itu.


Namun tidak ketika sebuah suara lembut lain yang memanggilnya.


" Kemarilah, sayang ! Apa kamu tidak ingin melihat adikmu, hem ? " Pinta Ayu dengan sangat lembut dan entah kenapa bocah yang setahun lebih muda dari putranya, Hyuza itu menurut begitu saja padanya.


Anak lelaki berusia enam tahunan itu meletakkan buku yang sedari tadi di bacanya di atas meja dan berjalan malas mendekati ranjang.


Hega duduk di atas ranjang di sisi kanan Ayu, wajahnya masih tampak masam.


Hingga saat tatapan mata elang bocah tampan itu jatuh pada sosok mungil di pangkuan wanita yang selama ini dianggapnya sebagai ibu keduanya.


Wajah masam Hega berubah melembut dan manik matanya berbinar-binar melihat bayi imut dan menggemaskan itu.


Tanpa bisa dikendalikan, tangan Hega terangkat dan meraih hidung mungil bayi cantik itu. Membuat si bayi mungil yang sedari tadi diam tertidur itu terlihat mengerjapkan matanya dan menggeliat kecil.


Manik mata kecoklatan bayi cantik itu semakin membuat Hega tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah mungil itu.


" Hei, jangan pegang hidungnya ! Nanti patah tahu. " Cicit Hyuza seraya menatap galak bocah kecil di hadapannya itu.


" Tidak apa-apa, sayang. Kan Hega menyentuhnya dengan hati-hati. Jadi tidak akan melukai adik Momo. " Tutur Ayu dengan penuh kelembutan dan tersenyum kepada kedua bocah lelaki itu.


Membuat Hyuza sedikit memonyongkan bibirnya karena kesal dengan kedua tangan bersedekap di dada sebagai wujud protesnya pada sang bunda karena telah membela lawannya.


" Bagaimana, sayang ? Adik Momo cantik kan ? " Tanya Ayu dan dijawab anggukan oleh putra dari sahabatnya itu.


Hyuza yang duduk di sisi kiri ranjang sang bunda menatap dengan tatapan permusuhan pada bocah lelaki yang hanya setahun lebih muda darinya itu.


Meskipun tinggal di kota yang berbeda, Hyuza dan Hega sudah bagaikan saudara karena Nadira selalu membawa putranya itu untuk berlibur di rumah sahabatnya setiap kali ada kesempatan.


Tapi ya begitulah jika punya dua anak lelaki, mereka terlahir sebagai makhluk yang gengsi menunjukkan secara langsung sikap saling menyayangi. Mereka lebih sering terlihat acuh atau sebaliknya, ribut dengan adu mulut. Tapi memang seperti itulah bentuk persaudaraan mereka, cara mereka menunjukkan kasih sayang diantara mereka.


Hega menatap sang ibu dengan tatapan mengiba, " Ma, Hega juga mau adik yang cantik seperti ini. " Pinta bocah kecil yang masih duduk di bangku sekolah Taman Kanak-kanak itu dengan tatapan lugu.


" Hah ?! "


Permintaan yang memang mengejutkan bagi Nadira dan Arya, karena setelah melahirkan Hega, kondisi Nadira sudah tidak memungkinkan lagi untuk melahirkan seorang bayi.


Nadira harus mempertaruhkan kesehatan bahkan nyawanya jika ingin hamil kembali, dan Arya yang sangat mencintai istrinya itu tentu saja menolak karena tidak mau ambil resiko kehilangan wanita yang paling berharga dalam hidupnya itu.


Meskipun Nadira sendiri merasa tidak keberatan jika harus berkorban nyawa asal bisa memberikan keturunan lagi untuk sang suami.


Ayu membelai kepala bocah kecil itu, " Sayang, Momo kan juga adikmu. Dia akan menjadi adikmu juga karena kamu juga kan putra bunda. " Tutur Ayu memecah keheningan.


Mata hitam legam Hega berbinar bahagia, menatap ibu keduanya itu dengan tatapan mencari kepastian, " Benarkah itu, Bun ?! " Tanyanya ceria dan Ayu mengangguk mantap dengan senyum keibuannya.


" Hega boleh jadi kakak untuk Momo ?! " Lagi-lagi Ayu mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan putra tunggal sahabatnya itu.


" TIDAK BOLEH !!! " Teriak Hyuza ketus.


" Hanya aku yang boleh menjadi kakak Momo, kamu jangan ikut-ikutan ! " ketus Hyu dengan tangan masih bersedekap di dada.


" Hyu, tidak boleh begitu. Kalian kan saudara, adik Hyu juga akan jadi adik Hega, hem. "


" Tidak mau, Bun. Hyu tidak mau berbagi adik. " Kekeuh Hyuza mempertahankan hak mutlaknya sebagai seorang kakak tunggal untuk bayi mungil yang benar-benar sangat cantik dan imut itu.


" Kalau begitu Hega tidak akan menjadi kakaknya Momo. " Ujar Hega datar.


" Eh. . . " Semua mata beralih menatap cemas pada putra tunggal Aryatama, kalau-kalau bocah tampan itu kembali merajuk.


" Hega akan jadi suami Momo saja. " Ucap Hega acuh dan menatap angkuh ke arah sahabatnya dengan kedua tangan bersedekap di dada, mengikuti gaya tengil bocah di hadapannya.


" HAAA. . . "


" Pfffttt. . . "


Ucapan polos Hega tentu saja membuat semua orang terperangah, bola mata semua orang terbelalak saking terkejutnya. Namun sedetik kemudian mereka serentak terkekeh geli dengan kepolosan penerus satu-satunya keluarga Saint itu.


Hega menoleh pada sang Mama, " Boleh ya, Ma ? Hega mau Momo saja yang nanti jadi tuan putri untuk Hega. " Pinta Hega sembari menarik blouse sang mama yang berdiri di belakangnya.


Nadira tersenyum menanggapi permintaan putra tunggalnya itu, wanita cantik itu mengedikkan bahunya, " Kamu tanyalah pada bunda mu ? " Ucapnya kemudian sembari mengangkat dagunya mengarah pada wanita yang sudah menjadi ibu dari dua anak itu.


" Diraa. . . " Ayu mencubit gemas lengan sahabatnya yang sudah berpikir untuk menjodohkan putrinya yang masih bayi dengan putra tunggal sahabatnya itu.


" Hihihi. . . Sepertinya putraku ini benar-benar sehati dengan Mamahnya. " Cengir Nadira senang.


" Dasar kamu ini. "


" Pih, sepertinya sudah tidak perlu lagi membawa Hega ke pesta rekan bisnis Papi. Hega sudah memilih jodohnya sendiri, hihihi. . . " Ucap Nadira pada ayah mertuanya dengan kembali tercengir bahagia, sedangkan sang suami hanya geleng-geleng kepala melihat tinggah istrinya.


Suryatama tentu saja dengan senang hati menjadi kan si cantik mungil itu sebagai kandidat cucu menantunya kelak.


Kembali suasana menjadi riuh dengan gelak tawa bahagia semua orang yang berkumpul di ruangan VIP itu. Kecuali Hyuza yang hanya menatap tak mengerti pembicaraan para orang tua yang berakhir dengan tawa riang gembira itu.


Sebenarnya Hega sendiri juga tidak mengerti jelas maksud ucapannya. Hega hanya tahu jika menjadikan seorang gadis kecil sebagai seorang putri, itu artinya gadis itulah yang nantinya akan terus bersama dengannya. Seperti sang mama yang selalu bersama dengan sang papa.


Itulah yang dikatakan Nadira pada putranya itu setiap kali sang ayah mertua akan membawa putranya itu untuk menghadiri perjamuan atau pesta dengan kolega bisnis Suryatama.


Nadira mengatakan pada putranya untuk berkenalan dan berteman dengan gadis kecil seusianya, dan mencari sosok tuan putri yang disukainya yang nantinya akan menjadi teman yang akan bersamanya setiap hari. Seperti sang mama dan papa.


Dan saat melihat bayi mungil dan cantik di hadapannya, Hega langsung menginginkan jika si kecil yang menggemaskan itulah yang nantinya akan terus berada disisinya.


Secara tidak langsung dan tanpa sadar, bocah lelaki tampan itu telah menandai si bayi mungil sebagai pasangan masa depannya.


...--------------------...