FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 123 • Tiga Pria Bervibes Luar Biasa



Hari ini sepertinya karyawati Golden Imperial Group sedang kejatuhan durian sekarung.


Bagaimana tidak, hari ini mereka bisa menikmati visual luar biasa dari tiga pria luar biasa yang menempati jajaran pria yang paling top seantero GIG.


Jika saja sosok Ragil Anggara ada bersama mereka, maka sempurna sudah pesona keempat pria itu. Sayangnya asisten Presdir yang baru bertugas secara resmi sejak dua munggu lalu itu masih memiliki tugas di luar kantor.


Yah, tapi untuk saat ini menikmati visual Trio Mempesona GIG saja sudah cukup bikin mata refreshing.


Selepas virtual meeting, tiga pria bervibes luar biasa itu memilih nongkrong di ruangan Presdir sambil menunggu istirahat jam makan siang.


Tapi seperti biasa, Bara tidak langsung memasuki ruangan malah asyik menggoda Bella--salah satu staf Anita.


Di dalam ruangan, berbeda dengan Julian yang kini sedang santai di sofa setelah mengambil satu kaleng minuman soda di lemari pendingin.


Si pemilik ruangan justru memilih kembali melanjutkan pekerjaannya dengan duduk di kursi kebesarannya.


Ekspresi wajahnya kembali datar, tidak ada lagi senyum terukir di sana.


" Ehh Bang, tuh tadi yang sama Momo, kayaknya gue kenal deh ? Si Yellow Rose, bukan sih ? " Celetuk Julian sambil garuk-garuk kepala, kemudian membuka minuman soda berwarna hijau di tangannya.


Ctasss


Hega yang merasa nama istrinya disebut langsung meririk Julian sekilas. " Siapa ? "


" Itu yang tadi ngasih berkas ke mejanya Momo. " Jawab Julian setelah meneguk minuman miliknya.


" Itu mah Geovano Syailendra. " Bara yang baru datang langsung nyamber layaknya petir, kaki panjangnya melangkah menuju lemari pendingin mengambil satu kaleng berwarna hijau tanpa permisi pada pemilik ruangan, karena merasa tergoda dengan minuman Julian yang tampak menyegarkan.


Kalau jargon iklannya sih kata cak lontong, 'nyatanya nyegerin'.


Atensi Hega kini teralihkan pada Bara. " Lo kenal Bar ? "


Alis Bara langsung naik keheranan. " Lah kan dia kepala divisi keuangan. Gimana sih lo, Ga ? Kan udah gue kenalin, tadi juga ketemu, masa udah lupa aja lo ? " Omel Bara tak habis pikir dan mendaratkan pantatnya di sofa.


" Gue terlalu sibuk untuk menghafal wajah apalagi nama-nama karyawan gue yang jumlahnya bisa ratusan ribu, Bar. " Kelit Hega jumawa.


Bukannya kesal, Bara malah ketawa lebar. " Hahaha. . . iya juga si, lagipula sekarang yang ada di kepala lo kan cuma nama bini lo doang, Nyonya Moza Artana Dama Saint. " Ejek Bara yang masih disertai kekehan lebar, sengaja mengeja nama istri sahabatnya itu dengan nada yang dibuat selebay mungkin.


" Pffft. . . " Julian reflek terkikik, namun dia tahan karena si boss juteknya langsung memelototi dirinya.


Pemuda itu langsung mingkem menahan tawa. " Hehehe. . . Ampun Bang, gue keceplosan. Peace. " Cengirnya tanpa dosa sambil mengangkat tangannya dengan dua jari tengah dan telunjuk membentuk huruf V tanda perdamaian.


" Kenapa kamu menyebutnya seperti itu ? Apa tadi itu ? "


Alis Julian tertarik ke atas. " Yellow Rose ? "


" Hem. Iya itu. "


" Lah kan dia itu yang pernah nembak Momo pake bawa satu buket gede mawar kuning. "


Kening Hega mengernyit penuh tanya, membuat Julian malah bingung.


" Lah Abang gak tahu ? "


Hega menggeleng sebagai jawaban.


" Nah Lo, dek. Lo menyulut pertengkaran rumah tangga pengantin baru, tanggung jawab lo ! " Bara lagi-lagi menyambar dengan nada jahil, sengaja mengompori, ya sekali-kali Julian yang kena timpuk kan gak papa.


Julian langsung terlonjak. " Eh. . . Sorry, Bang, gue gak tahu kalo Momo kagak cerita soal itu. " Pemuda itu meringis seraua garuk-garuk kepala merasa bersalah.



Tapi kompor Bara ternyata kurang meleduk, buktinya Hega tidak terpengaruh sama sekali. Pria itu malah berdecih sinis. " Ck, memangnya apa pentingnya istri saya cerita tentang hal seperti itu ?! " Sinisnya dengan gaya bicara formalnya, yang artinya pria itu sedang amat sangat serius.


" Hehe . . . Iya juga sih, kalo dia mau cerita tentang semua cowok yang nembak dia, bisa masuk rekor muri daftarnya. 🤔 " Julian menyengir dan nyeletuk dengan watadosnya.


Julian hanya mengangguk membenarkan.


Bara langsung geleng-geleng kepala, nggak laki nggak bini keduanya ternyata punya rekor panjang dalam menolak pernyataan cinta.


" Jadiin satu sama barisan cewek yang nembak lo, Ga ! Biar tambah panjang daftarnya, hahaha. . . " Bara terkekeh lebar.


" Sekalian gue tambahin daftar mantan gue gimana, Bang, makin puyeng tuh yang ngitung wkwkkwk. . . " Sahut Julian ikut terbahak


Bara langsung mengangguk antusias. " Yah, ide bagus itu ! Kalo gitu gue juga mau ikut nyumbang juga buat panjangin daftarnya ? "


Sepertinya duo buaya darat ini sedang kambuh gilanya. Hega hanya mendengarkan tanpa mau mengomentari.


Julian melirik pria itu dengan tatapan tak kalah antusias. " Daftar mantan juga, Bang ? " Tebak Julian.


" Yoi, tapi ini mantan istimewa 😏. " Seringai Bara dengan bangganya sambil menaik turunkan alisnya.


Jawaban yang membuat Julian langsung berpikir keras. 🤔


" Mikir apaan ? " Tanya Bara saat melihat ekspresi Julian.


" Mikir mantan istimewa itu kayak apaan, Bang ? Yang namanya mantan ya mantan lah, harus dilupakan supaya bisa menatap lurus masa depan.😁 " Julian berucap dengan gaya sok bijaksana.


Bara langsung melengos malas. " Heleh. . . gaya lu, dek. "


" Hahaha. . . lah terus apaan mantan istimewa ? Telurnya dua gitu ? "


" Ck, gue yang telur nya dua, dek. Hahaha. . . " Tuh kan, ngelantur.


" Ck. " Julian berdecak, kesal karena rasa penasarannya tak langsung mendapat jawaban.


Bara kembali menyengir, kemudian tersenyum aneh. " Mantan 'penghangat ranjang' " Celetuknya setengah berbisik tapi tentu saja tidak bisa terdengar oleh telinga Hega yang super peka.


Klotak. . .


" Auwwss. . .  Sial lo, Ga ! Jidat mulus gue, anjiirrr. . .!! " Bara mengumpat saat mendapati sebuah pena menarat di keningnya, sambil kemudian mengusap dahinya dengan mulut masih menggerutu.


" Pffft. . . gue kagak ikutan, Bang. " Julian cekikikan sambil mengangkat kedua tangan keatas, tanda dirinya tak mau terlibat, apalagi sampai benjol jidatnya karena pulpen terbang.


" Siyalan lo, dek. Ini kan gara-gara Lo bahas si anak keuangan itu. Benjol dah jidat gue. " Lagi-lagi Bara mengumpat dengan tangan masih mengusapi keningnya.


" Hahaha . . . Salah sendiri Abang ngelantur hahaha. . . " Puas Julian ngetawain seniornya. Kapan lagi coba ngetawain orang tua, upsss.


Bibir Bara usah monyong-monyong kesal. " Oh ya, btw ngomongin si Kadiv Keuangan itu, terus gimana ? "


Julian langsung menghentikan tawanya. " Gimana apanya ? Ya pasti ditolak lah, Bang. Masa nembak cewek bawa mawar kuning, niat ngajak pacaran apa ngajak temenan ? Pantes aja langsung ditolak sama Momo. " Terang Julian gamblang saat melihat mimik wajah Bara seolah akan bertanya apa alasannya seorang Geovano bisa ditolak.


" Wiiih, garang juga ya bini lo, Ga. Bahkan tuh anak gak luluh sama modelan yang goodboy macam Geovano itu. Bravo. "


" Kok Abang tahu dia sih ? Abang kenal baik sama tuh anak ? " Julian yang malah penasaran, yang punya bini aja diem bae.


Hega hanya geleng-geleng kepala saja, setiap ada Bara dan Julian, ruangannya pasti ribut mirip pasar burung, dua-duanya ngoceh mulu.


" Heh, jangan bilang lo kagak kenal dia, dek ? "


" Ya kenal, cuma sebatas di kampus aja. Yang gue tau tuh anak jabat ketua Senat Mahasiswa selama tiga periode berturut-turut. "


" Ah, kagak peduli gue soal itu. Yang gue tahu tuh, dia anak pertama Seno Aji Syailendra. "


Julian langsung melongo. " Heeeh ? Jangan bilang Syailendra yang itu ? "


***