
Disaat sang istri tengah sibuk dengan tugas tambahan yang dibebankan padanya, sepertinya sang suami juga sedang tidak kalah sibuknya.
Lihat saja bahkan belum ada satu pesan pun yang masuk ke ponsel Moza sejak tiga puluh menit yang lalu. Padahal biasanya ponsel Moza akan langsung berbunyi begitu dirinya mendaratkan pantatnya di kursi.
Nyatanya pria yang berada pada posisi tertinggi GIG itu hari ini sedang super sibuk. Di ruangannya, Hega sedang mengecek semua berkas yang akan menjadi bahan rapat utama jajaran perhotelan yang berada di bawah naungan GIG.
Meskipun begitu, sepasang suami istri yang berada di tempat berbeda dengan kesibukan yang berbeda pula itu tetap saling memberikan support satu sama lain.
Tadi pagi bahkan Moza dengan sukarela memberi jatah pagi bagi suaminya, karena hari ini sepertinya mereka tidak akan bisa menghabiskan waktu makan siang bersama.
Dan sebagai pengusaha, Hega tentu tidak mau rugi, jatah ekhem nya yang dijadwalkan sehari tiga kali harus tetap terjadi. Itulah kenapa pagi tadi pria itu lebih dulu meminta jatah sebagai pengganti jatah siang hari.
Dan sepertinya rengekan suaminya tadi pagi membuat Moza harus bersyukur. Karena setidaknya hari ini pria yang mendadak menjadi big baby itu tidak akan merecoki pekerjaannya. Bisa gawat kalau suaminya itu aneh-aneh disaat Moza tiba-tiba mendapat tugas dadakan.
" Mo. " Bisik Amira disela kesibukan mereka.
" Hm ? " Karena merasa waktu tidak cukup banyak, Moza hanya melirik sekilas dan berdehem.
" Btw, outfit yang lo pake selalu samaan ya sama abang Gans. Sengaja couple-an ya ? " Tanya Amira iseng.
" Uhuk. . . " Moza sampai terbatuk mendengar pertanyaan Amira yang tiba-tiba membahas outfit yang dipakainya.
" Kenapa lo kaget gitu ? Gak usah malu kali ketahuan couple-an sama suami sendiri. Sama gue ini. " Ujar Amira santai saat melihat tiba-tiba sahabatnya terbatuk kemudian tampak kedua pipi gadis di sampingnya itu merona.
" Hish, apaan sih. Udah kerja sana, Ami. " Elak Moza sedikit salah tingkah.
Sebenarnya bukan perkara couple-an nya, tapi saat membicarakan tentang outfit kantornya, Moza jadi ingat kejadian di privat room suaminya beberapa waktu lalu.
" Kak, awas ya kalau minta macam-macam, kita hanya makan siang, titik. Ingat ini tuh kantor, kak. " Tegas Moza memperingatkan.
" Hehehe, apa sih, yank. Memangnya kamu pikir yang ada di kepala suami kamu ini cuma urusan ranjang apa ? " Kelit Hega sambil menaikkan alisnya seolah tidak terima dengan kalimat sang istri yang bernada curiga.
Manik mata Moza menyipit. " Memangnya enggak ? " Tanyanya dengan tatapan menuduh.
Yang dituduh malah cengengesan sambi menggaruk tengkuknya yang Moza yakin pasti tidak gatal. " Hehe, sekali-kali aja, yank. "
Hega masih berkelit tanpa merasa bersalah. Kedua tangan kekarnya bahkan sudah melingkar di perut sang istri dan memeluk kesayangannya itu dari belakang.
" Hish, pokoknya aku nggak mau, malu lah kak masa aku keluar dengan pakaian yang berbeda dengan yang aku pakai setiap aku masuk. Masa aku harus bolos setiap habis istirahat makan siang. Memangnya aku yang punya kantor apa bisa seenaknya sendiri gitu ? " Omel Moza panjang lebar.
Lagi-lagi Hega hanya tertawa.
" Apa yang lucu, kak ? "
" Ya lucu aja, kan emang kantor ini punya kamu, kamu lupa kalau aku pemilik perusahaan ini, dan apapun milikku juga milik kamu, sayang. Cup. " Terang Hega diakhir sebuah kecupan di pipi kanan Moza.
" Ish, apaan sih, kak. Cium-cium segala ? "
" Cuma cium doang, yank. "
" Hih, dari cium itu biasanya kakak minta lanjut yang aneh-aneh. " Gerutuan Moza membuat gadis itu semakin tampak imut dimata Hega.
Lihatlah bibir mungil yang mengerucut itu, ngode banget buat dicaplok saja langsung oleh bibir suaminya.
" Nggak aneh, yank. Tapi enak. " Celetuk Hega dengan seringai mesumnya.
" Kakaaaakkk. " Habis sudah kesabaran Moza.
Lagi dan lagi Hega malah terkekeh melihat ekspresi menggemaskan istrinya. " Lagipula kamu nggak perlu cemas lagi soal baju kamu. "
" Ya ? " Moza melirik suaminya dengan tatapan tak mengerti.
" Coba lihat apa yang sudah aku siapkan di balik pintu itu. "
Moza menatap sebuah pintu kaca besar serupa dengan miliknya yang ada di kamar lamanya dulu, sepertinya itu mirip, apa mungkin ada ruangan di balik kaca itu sama seperti di kamarnya dulu ?
Manik mata bulatnya beralih menatap sang suami dengan tatapan curiga.
" Lihat dulu, jangan suudzhon sama suami, dosa. "
Akhirnya Moza mengikuti ucapan suaminya, kakinya melangkah menuju tempat yang dimaksud, sebuah kaca besar di dekat ranjang king size yang hari ini bernuansa biru muda.
Dan benar saja, sebuah ruangan, lebih tepatnya mini walk ini closet. Tidak sebesar yang ada di kamar mereka, tapi isinya cukup lengkap.
Moza berbalik badan, menatap suaminya semakin curiga dengan isi kepala pria yang dari tadi mengekor di belakangnya. " Kakak, apa ini maksudnya ? "
" Jaga-jaga aja, yank. "
" Hah ? "
" Seperti yang kamu lihat, aku meminta Gara menyiapkan satu lemari khusus berisi pakaian kerja kamu, sama persis dengan yang ada di rumah. "
Moza dibuat kehabisan kata-kata, gadis itu hanya bisa menelan salivanya sambil geleng-geleng kepala melihat betapa niat dan konsisten suaminya ini untuk menagih jadwal ekhem nya sehari tiga kali.
Lihat saja isi lemari itu benar-benar sama persis dengan lemari miliknya di ruang ganti mereka di rumah. Tidak hanya warna, tapi juga model dan merk pakaiannya pun sama persis.
Jangan bilang semua pakaian kerjaku ada dua setiap model dan warna nya ?
Bola mata bulatnya langsung menelisik ke arah netra hitam sang suami.
" Seperti yang kamu pikirkan, yank. " Jawab Hega enteng seolah tahu isi pikiran sang istri.
Kesal rasanya melihat gaya suaminya yang mendadak bossy ini. Lihat saja itu posenya, berdiri bak model dengan kedua tangan di saku celana.
" Kak. "
" Sssttt. " Sela Hega menghentikan bibir istrinya yang hendak melayangkan protesnya. " Ahhh, dan yang paling ujung itu sepertinya sama persis dengan yang kamu pakai hari ini, yank ? " Sambungnya sembari menaik turunkan alisnya, dan jangan lupakan seringai mesum Hega, yang selalu sukses bikin istrinya bergidik.
Moza langsung melotot dibuatnya, bibirnya kembali terbuka untuk protes, tapi sepertinya pergerakannya kalah cepat dengan sang suami. Dalam hitungan detik, tubuhnya sudah melayang dalam gendongan suaminya.
" Kyaaaaa.... Kakaaaakkkk. "
Dan yang terjadi selanjutnya, kalian bisa menembaknya sendiri bukan ?
" Heh, Mo. Ngelamun lo ? "
" Ehh, apa ? "
" Gue panggil juga dari tadi, itu mbak Lisa panggil lo. " Moza reflek menoleh ke arah wanita yang berada di pintu ruangannya.
" Moz. "
" Iya, Mbak Lisa. " Dengan sigap Moza mendatangi ruangan Lisa.
" Ya, Mbak ? "
" Moz, kamu udah terima berkas dari team 2 yang akan dibawa ke ruang rapat ? "
" Iya, Mbak. Ini masih saya print, tinggal setengah file lagi sepertinya. "
" Apa ? "
Moza bisa melihat ekspresi terkejut wanita di hadapannya itu. Hah ? Apa yang salah ?
" Kenapa mbak Lis ? "
" Loh kok kamu yang print sih ? "
" Maksudnya gimana, Mbak ? "
" Memangnya Tira belum ngasih kamu print out nya "
Moza menggeleng, " Mbak Tira memberi saya soft file nya di flashdisk, Mbak. "
Lisa langsung menepuk keningnya dan mendesah kasar, " Ya Tuhan. "
" Maaf, apa ada yang salah, Mbak ? "
" Enggak, bukan salah kamu. Kamu kembali ke meja kamu, saya mau ke ruangan Pak Vano dulu. Lanjutkan print out berkas itu, harus selesai sebelum jam 9, bisa ? "
" Saya usahakan, Mbak. "
" Oke. "
...***...
...Terima kasih sudah membaca 🤗...