FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 176 • Obsesi Cinta Seorang Wanita



Selama hampir dua minggu Moza dikurung di tempat asing, oleh orang yang sangat asing baginya.


Seorang pria blasteran yang Moza hanya tahu bernama Raditya. Dendam pribadi pria itu pada suaminya membuat pria itu nekat menculiknya.


Tapi hingga satu minggu yang lalu Moza baru sadar ada motif lain dibalik penculikannya. Karena sungguh aneh, pria bernama Radit itu tidak meminta tebusan pada keluarganya ataupun syarat pembebasan dirinya.


Padahal dari cerita pria itu, Moza menyimpulkan jika pria itu hanya ingin istri dan anaknya kembali padanya.


Tapi kenapa hingga lewat seminggu tidak ada tanda-tanda pria itu menghubungi suaminya-Hega.


Hingga hari itu Moza mendengar percakapan Radit dengan seorang wanita. Samar tapi cukup bagi Moza menangkap inti pembicaraan mereka.


Wanita itu, yang Moza tidak tahu entah siapa. Moza menyimpulkan jika wanita itu memang berniat menyingkirkan dirinya karena obsesinya untuk menjadi istri dari seorang Hega Saint.


Dari balik pintu, Moza sering mendengar keduanya sempat beberapa kali berdebat hebat. Radit beberapa kali menolak ide wanita itu untuk membunuh Moza.


Hingga pada saat dimana Raditnya sedang tidak ada di tempat penyekapan Moza. Seorang wanita memaksa masuk ke kamar yang digunakan untuk mengurung Moza.


Brak


Moza yang terbaring di atas ranjang langsung tersentak. Tubuhnya yang sudah kehilangan tenaga karena dikurung selama dua minggu di ruangan tertutup hanya bisa terduduk lemas di atas ranjang.


Netranya menangkap sosok wanita cantik dengan rambut coklat, wanita itu menatapnya penuh amarah.


Sekilas mata beriris biru itu mengingatkan Moza pada seseorang yang terasa tidak asing baginya. Tapi memorinya tidak sanggup mengingat siapa sosok itu.


" Seret wanita itu kesini ! "


" Tapi Tuan Radit melarang kami menyentuhnya, nona. "


" Si brengs*k itu tidak ada disini, lagipula aku yang membayar kalian, bukan si bajing*an Raditya itu. "


Akhirnya dua orang pria langsung mendekat ranjang, menarik tubuh ringkih Moza mengikuti perintah wanita itu.


Moza hanya bisa pasrah, mungkin ini sudah takdir hidupnya. Mau melawanpun dirinya sudah tidak ada daya.


" Sebenarnya apa maumu ? Kita bahkan tidak saling kenal. " Untuk pertama kalinya Moza bisa melihat jelas sosok wanita yang kemungkinan besar adalah sekutu Radit dalam drama penculikannya ini.


Wanita itu menatap Moza yang terduduk di lantai dengan ekspresi dingin.


" Kita memang tidak saling kenal, tapi ada milikku yang kau rampas, jadi aku hanya ingin mengambilnya kembali. " Ucap wanita itu dengan arogan.


" Apa maksudmu ? "


Wanita itu berjongkok, mencondongkan wajahnya ke arah Moza. " Sebenarnya aku malas mengatakannya, toh tidak ada gunanya juga. Tapi yah, anggap saja ini hadiah terakhir dariku sebelum kematianmu. Setidaknya kamu tidak akan mati penasaran kan. " Ujarnya diiringi tawa mengerikan.


Moza, "....."


" Dengarkan aku ! Asal kamu tahu, posisimu saat ini seharusnya adalah milikku. Harusnya aku yang berada disisi Hega Saint, menjadi nyonya muda keluarga Saint. Febriana Alsena Saint. " Senyum menyeringai kembali menghiasi bibir wanita itu.


Ya, akhirnya Moza tahu dengan jelas motif wanita ini.


" Bukankah marga Saint itu lebih cocok berada di belakang namaku. Jadi, ucapkan selamat tinggal pada dunia, nona Moza. " Ujarnya dengan senyum kemenangan.


" Kak Hega tidak akan menikahimu meskipun aku mati. "


" Oh, benarkah itu ? Aku sungguh semakin tertantang ingin membuktikannya. Yah meskipun tanpa cinta darinya, aku tidak masalah. Cukup aku saja yang mencintainya. Lagipula pernikahan bisnis tidak butuh cinta. Kami hanya butuh latar belakang keluarga kami untuk memebentuk keluarga. " Wanita itu tersenyum lagi.


" Dan sebenarnya aku ingin kamu melihat dengan mata kepalamu sendiri saat suamimu menjadi milikku. Tapi... sepertinya itu tidak mungkin. Kamu tahu kenapa ? "


Wanita itu menjeda ucapannya dan bangkit berdiri. Kemudian duduk dengan kaki bersilang di kursi yang disiapkan oleh pria di belakangnya.


" Karena hari ini aku harus segera mengambil nyawamu dan mengirimkan jasadmu padanya. Agar dia berhenti mengharapkan istrinya kembali. Dengan begitu ada celah untukku masuk menggantikan posisimu. "


" Upsss, salah, lebih tepatnya mengambil kembali posisi yang memang dari awal adalah milikku. " Kali ini bukan hanya sekedar senyuman, melainkan tawa bahagia yang terdengar dari bibir wanita itu.


Moza hanya bisa terdiam, sungguh raganya lelah. Lagipula apapun yang akan dia ucapkan sepertinya tidak akan berpengaruh pada wanita itu.


Lihat saja tekad membunuh yang tergambar jelas di mata wanita itu. Moza rasa wanita juga terobsesi pada suaminya. Dan obsesinya lebih parah daripada Alina.


Dan apa yang terjadi padanya saat ini karena obsesi Alsena untuk memiliki suaminya.


Obsesi cinta memang berbahaya. Nyatanya seorang wanita yang terobsesi pada pria bisa membuat mereka kehilangan akal sehat.



Dengan wajah angkuh, wanita bernama Alsena itu memasang sarung tangan. Kemudian mengulurkan satu tangannya ke samping, melirik salah satu pria di belakangnya.


Senyum menyeringai tidak hilang dari bibir wanita itu, seolah apa yang dilakukannya tidak membebaninya. Seolah menghilangkan nyawa sesama manusia bukanlah apa-apa baginya.


Moza memejamkan mata, beristigfar menyebut nama Yang Kuasa. Jika masih ada nyawa panjang dalam takdirnya, maka semoga Tuhan mengirimkan penyelamat untuknya.


Tapi jika hari ini sudah digariskan menjadi hari terakhir ia melihat dunia, Moza berharap setidaknya bisa mengucapkan selamat tinggal pada orang-orang yang dicintainya. Meminta maaf atas segala hal yang belum sempat ia lakukan untuk membahagiakan mereka.


Hingga satu tarikan pelatuk terdengar diiringi suara letusan senjata api yang cukup memekakkan telinga di dalam ruangan yang kedap suara itu.


Dor !!!


Bruk


" Arrrgghhhhh.... **** !!! " Moza membuka mata saat tubuhnya limbung tergeser oleh dorongan seseorang serta teriakan kesakitan seorang pria.


" Brengs*k kau Radit !!! "


" Kau yang brengs*k, beraninya kau melanggar kesepakatan kita. Dasar jal*ng, akhhh !!!! "


Moza melihat Raditnya mengeram kesakitan di depannya sambil memegang lengan kanannya. Ada darah merembes dari kemeja biru muda pria itu, tepatnya di lengan bagian atasnya.


Moza membeku dan membekap mulutnya tak percaya. Pria itu menghalau peluru yang seharusnya ditujukan padanya.


Tapi kenapa ?


Bukankah pria itu juga adalah dalang penculikannya ? Mereka berdua adalah sekutu yang bekerjasama untuk memisahkan Moza dari Hega.


Tapi apa ini ? Kenapa pria ini melindunginya ?


Bahkan membahayakan nyawanya sendiri dengan menghalau tembakan yang seharusnya mengenai Moza.


Alsena berdiri dengan geram. " Sialan kau Radit !!! Minggir atau aku tidak segan-segan membunuhmu juga. " Teriak wanita itu dengan marah.


Bukannya gentar, Radit malah tertawa mengejek. " Bunuh aku kalau kau berani, setelah itu bersiaplah mendekam di penjara. "


" A-apa maksudmu ? "


" Hahaha, apa kau kira aku bodoh dengan bekerjasama denganmu tanpa persiapan hah ?! "


Alsena, "??"


" Aku sudah menduga kau akan nekat melakukan ini, tapi aku tidak tahu kalau kau sebodoh ini. Pantas saja Hega si Beruang Kutub itu tidak tertarik padamu, hahahaha.... "


" Diam kau Radit !!!! "


" Heh, tembak kalau kau berani, karena aku sudah mengirim bukti keterlibatanmu dalam penculikan istri Hega Saint. Seseorang akan mengirimnya pada bocah itu kalau sesuatu terjadi padaku. " Radit meringis kecil sebelum melanjutkan ucapannya.


" Apa kau kira ayahmu yang sok hebat itu bisa melindungimu jika dia tahu perbuatan bodohmu itu hah ?! Ayahmu itu sudah tidak punya taring lagi dihadapan putranya. Jadi ayo tembak aku ! " Radit terkekeh meremehkan.


" K-KAU !!! " Satu tangannya mengepal erat tapi kemudian wanita itu tertawa.


" Kau kira aku peduli hah ?! " Wanita itu menyeringai.


Mata Alsena memerah marah, wanita itu sepertinya sudah dikuasai nafsu membunuh yang kuat. Otaknya kini hanya memikirkan satu hal, menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalannya.


" Aku akan habisi kalian berdua sekarang juga ! " Tangannya kembali mengangkat pistol dan mengarahkannya pada Raditnya.


" Jangan gila kau, Sena !!! " Pekik Radit saat menyadari ternyata wanita ini lebih gila dari dugaannya.


" Hahahaha, aku memang sudah gila dari awal. Mau lihat kegilaanku ?! " Dengan ringan tangan itu memutar sedikit arah mata pistolnya, beberapa sudut ke kanan, tepat pada wanita di belakang punggung Raditnya.


Dor !!!


" Akkkhhhhh.... "


Radit dan Moza yang sempat terpejam seketika membuka mata saat menyadari jika teriakan kesakitan itu adalah suara wanita yang beberapa detik yanh lalu akan menembak mereka.


" Sena !!! " Radit memekik syok.


Sedangkan Moza tidak kalah terkejutnya saat melihat wanita yang akan membunuhnya tadi justru berada dalam kondisi tersungkur di lantai. Ada darah yang mengalir dari salah satu bagian tubuhnya.


Moza terdiam membeku,


" Bereskan !!! " Hingga suara bariton familiar jatuh di indera pendengarannya. Tapi belum sempat memastikan pemilik suara itu, pandangannya menggelap dan tubuhnya limbung.