FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 106 • Kena Mental



Matahari baru saja merangkak turun ke ufuk barat, tapi masih terlalu sore untuk menikmati yang namanya malam minggu.


Tepat selepas adzan Ashar berkumandang, rapat serta pelaksanaan tahap awal proyek brand ambasador tuntas sudah. Semua kandidat yang akan diundang untuk interview tahap awal sudah dipilih, tinggal mengirimkan undangan secara resmi pada masing-masing influencer tersebut.


Julian dan Moza melangkah beriringan sambil mengobrol ringan menuju lobi utama, lebih tepatnya Julian yang lebih banyak bicara, sedangkan Moza hanya menanggapi seperlunya.


" Lo baliknya gimana, Mo ? "


Langkah Moza seketika terhenti, iya juga ya bagaimana dia pulang ? Biasanya kan dia bersama dengan Amira dan baru Pak Bakti akan menjemputnya di rumah sahabatnya itu.


Tapi kan hari ini Amira off, Moza tampak berpikir sejenak. " Aku naik taxi atau ojol aja, Jul. "


Alis Julian terangkat sedikit mencoba menerka-nerka apakah sahabatnya itu sedang bercanda. Masa iya nyonya Presdir perusahaan sekelas GIG naik taxi apalagi ojol.


Tapi tidak Julian temukan gestur candaan disana, sahabatnya itu terlihat serius dengan apa yang barusaja ia katakan. Lagipula sejak kapan seorang Moza Artana suka bercanda sih ?


Julian sontak menggeleng cepat. " Gue anter, gak ada penolakan. " Ucap Julian kilat sebelum Moza membuka mulut menolak ajakannya untuk pulang bersama.


Moza hanya bisa pasrah, sudah terlampau terlambat untuk menghindari tatapan kepo orang-orang di sekitarnya. Toh dari tadi keakraban Moza dan Julian sudah menjadi pusat perhatian, dan mungkin juga sudah jadi bahan ghibahan.


Tidak ada ruginya juga menerima tawaran Julian, lagipula ini bukan pertama kalinya sahabatnya itu mengantar jemput dirinya setiap kali mereka akan hangout bersama.


" Baiklah, ayo. "


" Lo tunggu di lobi, gue ambil mobil. "


" Hm. "



" Sampai kapan lo berencana main kucing-kucingan ala tom and jerry sama bang Hega, Mo ? " Tanya Julian saat keduanya sudah berada di dalam mobil Julian.


" Sampai magangku selesai. " Jawab Moza sembari memasang safety belt nya.


" Serius, lo ? " Moza hanya mengangguk sebagai jawaban.


" Bukannya enak ya kalau semua orang tahu kalo lo bininya Presdir ? " Julian menoleh, lampu lalu lintas sedang menyala merah.


Julian merasa heran pada sahabatnya ini, bukannya biasanya para gadis suka ya kalau mendapat perhatian karena punya pasangan yang ganteng dan kaya pula. Apalagi ketika pasangan mereka punya kuasa yang bisa memberikan perlakuan istimewa dimanapun mereka berada.


Bukankah kebanyakan gadis sangat suka diperlakukan istimewa ? Ahh, tapi sepertinya Julian lupa jika gadis di sampingnya ini bukan seperti kebanyakan gadis lainnya.


Moza melirik sahabatnya yang jelas menunggu jawabannya.


" Memangnya kamu suka, jika diperlakukan berbeda karena latar belakang keluarga kamu ? Dan orang melihat kamu sebagai anak siapa kamu, sekaya dan seberkuasa apa keluargamu, dan mereka mengabaikan kompetensi kamu sebagai dirimu sendiri ? "


Jleb


Manteb banget dah sindirannya, nih cewek emang ahlinya bikin orang kena mental.


Mingkem sudah Julian, pemuda itu menggaruk tengkuknya. Memang Moza yang paling tahu bagaimana selama ini Julian menghindari para semut yang mengerubutinya bak dirinya adalah semangkuk gula.


Julian memang supel, tidak pilih-pilih dalam bergaul. Tapi Julian juga bisa merasa risih jika dirinya dikerubuti oleh orang-orang yang hanya ingin memanfaatkan kelebihan yang dia punya.


" Iya juga sih, nggak banget kalo ada yang manis-manis sama gue karena tahu gue siapa. " Sahut Julian dengan kepala manggut-manggut. " Tapi gimana dong, mereka yang nggak tahu siapa gue aja tetep juga manis-manis sama gue, secara gue kan cowok terganteng dan tercool sejagat raya. " Imbuhnya sambil menyengir tengil ala dirinya.


" Ck, banyak-banyak ngaca, Julian. " Geram Moza dengan nada meledek.


Bukannya marah, Julian malah ngakak, " Hahaha, oke oke, dimata lo cuma Bang Hega yang paling ganteng. Gue mah remahan rengginang dimata lo, Ssshhh. "


" Hish, fokus nyetir sana, Jul. "


BUGH


" JULIAN !!! " Habis sudah kesabaran Moza, gadis itu memekik setelah mendaratkan satu pukulan di lengan Julian.


" Astaga, kagak lakik nya kagak biniknya kalau ngamok kek setan. " Gumam Julian pelan, sangat pelan.


" Apa kamu bilang, Jul ? "


" Ehhh, enggak-enggak, Mo. Gue nggak ngomong apa-apa, sumpah deh. "


Ampun, telinganya juga peka banget kek lakik nya.


Kali ini Julian hanya berani mengomel dalam hati. Takut kena mental lagi, baru juga sembuh mentalnya habis kena omelan Hega beberapa hari lalu, masa sekarang harus mental breakdown lagi gara-gara bini boss nya.


Moza melotot tak percaya, karena jelas-jelas tadi didengarnya Julian yang menggerutu. Walaupun tidak terdengar apa isi gerutuannya, tapi entah kenapa Moza yakin kalau Julian tadi tengah memakinya.


" Elah Mo, jan galak-galak. Nggak capek apa bikin jantung gue jedut-jedut liat muka galak lo, yang naudzubillah cakepnya. "


" Tabok nih. " Moza mengangkat satu tangannya seolah akan memukul Julian.


Pria itu malah memegangi salah satu telinganya dan memelas, " Ampuuunnn, Ratuuuuu. " Rengeknya sok imut yang justru tampak menjijikan di mata Moza.


Keduanya lalu tergelak bersama.


Lagipula ya, Julian ini nekat banget masih bisa menggombali sahabatnya yang jelas-jelas anti gombalan, udah gitu gak takut apa sama pawangnya yang galaknya lebih naudzubillah.


" Makasih, Jul. Kamu mau masuk dulu ? " Tawar Moza saat mobil sport berwarna silver itu sudah berada tepat di depan pintu paviliun utama.


" Nggak usah, Mo, thanks. Gue mau cepet balik terus molor di kasur, capek juga weekend gini masih ngantor. Ck, siapa sih yang punya perusahaan, tega banget orang ganteng disuruh lembur di hari Sabtu. " Ucapnya dengan nada meledek di kalimat terakhirnya.


Moza mengangguk seolah setuju dengan penyataan Julian, tapi yang terucap dari bibir Moza selanjutnya malah membuat Julian rasa-rasanya akan kembali kena mental.


" Nanti aku bilangin Kak Hega kalau kamu udah capek kerja sama Kak Hega. " Ucapan datar Moza malah membuat Julian kalang kabut.


" Eh eh eh, No Momo. Becanda gue becanda elah. Sensi banget. " Moza terkekeh melihat ekspresi tertekan Julian.


" Sudah sana pulang, terus ngasur. "


" Siyap. Eh, besok mau gue jemput gak ? Kita berangkat bareng ke bandaranya. "


Moza menarik alisnya, mengingat-ingat ada scedule apa besok. Kan besok hari minggu, Aaahhh, Dimas.


Moza baru ingat jika besok mereka berencana mengantar keberangkatan salah satu sahabat mereka yang akan melanjutkan study di luar negeri.


Gadis itu menggeleng, " Aku akan minta diantar kak Hega saja, Jul. "


" Oke, see you there, Momo. Bye. "


Moza mengangguk, " Mmm, hati-hati, Julian. Dan makasih tumpangannya. "


" Gak masalah, kek sama siapa aja lo mah. Gue balik. " Pamit Julian sembari mengangguk dan melajukan kembali mobilnya.


***


Sabar ya Bang Julian yang terganteng dan ter-cool sejagat raya dunia flora fauna, Upppsss 🙊


Langsung mental breakdown Bang Jul.


Btw chapter ini special buat yang kangen Bang Jul. Doi masih belon ada pawangnya, ada yang mau daftar ?