
...Update gih Noveltoon Kalian, biar bisa kasih komentar per paragraf....
...Seneng kan kalo rame, bikin semangat update chapter. Mood booster ku ada di setiap apresiasi kalian sebagai pembaca....
...Kecuali kalo kalean nggak seneng nih Bang Hega nongol lagi....
...Oh ya, episode hari ini bukan pengulangan ya, itu karena ada revisi episode sebelumnya, coba baca ulang dulu Chapter 77....
Ekspresi Moza saat keluar dari ruangan dosennya sudah seperti keluar dari medan perang saja.
Rasanya baru kali ini dirinya dihadapkan pada situasi mendebarkan karena sebuah paper. Biasanya Moza biasa-biasa saja jika harus mengumpulkan tugas apapun itu bentuknya.
Tapi kenapa kali ini berbeda, hanya gara-gara sebuah paper, Moza dihadapkan pada situasi canggung dengan salah satu dosennya.
Gadis itu tampak beberapa kali menghela nafas panjang. Sampai dirinya dikejutkan oleh sebuah suara dari arah belakang punggungnya.
Suara cempreng nan heboh mengagetkan Moza dari belakang.
" Haloha nyonya Hega. Gimana hanimun nya, beb ? "
Renata berteriak dengan gaya lebay-nya, menghampiri Moza yang baru saja keluar dari salah satu ruangan dosen.
Bersama Deana dan Amira tentunya, ketiga gadis itu menyambut antusias kembalinya Moza dari ritual bulan madunya.
Lebih tepatnya mereka terlampau antusias menanti cerita tentang bulan madu sahabatnya itu.
Moza mendelik tajam ke arah Renata, " Hush, itu mulut apa toa demo massa sih ?! " Protes Moza dengan gerakan ingin membekap mulut sang sahabat yang bersuara cempreng membahana itu.
Manik kecoklatannya menyusuri sekitar, berharap tak ada yang mendengar ucapan Renata yang lebih pantas disebut sebuah pengumuman mengingat begitu lantangnya suara sahabatnya itu ketika bicara tadi.
Untung saja masih sepi, karena mungkin masih pagi, atau mungkin banyak yang sudah masuk kelas lebih awal.
Dea dan Amira tertawa kompak, sedangkan Renata malah nyengir kemudian melengos cuek sembari mengeluarkan alat tempurnya dari dalam slingbag miliknya.
" Mo, kenapa wajah lo tegang gitu ? Kayak habis keluar dari ruang audisi. " Celetuk Dea setelah merangkul bahu Moza, mengabaikan Renata yang mulai asyik memoles wajahnya dengan bedak dan liptint.
Padahal baru juga 15 menit yang lalu gadis itu baru selesai ritual make up di kamar mandi. Masih saja belum puas ternyata setelah menghabiskan hampir setengah jam di dalam toilet.
" Aku cuma habis ngumpulin tugas paper aku. "
Rena yang sedari tadi asyik touch up makeup nya seketika terlonjak mendengar kata tugas. Gadis itu segera menghentikan aktivitas sakralnya, memasukkan dua benda ajaibnya ke dalam tas.
" Ehh, emang kita ada tugas paper ? " Selanya dengan gaya lugu polosnya yang terkesan oon lebih tepatnya.
Amira menepuk keningnya mulai frustrasi, ingin menjawab tapi malah didahului oleh Deana dengan gaya pongah-nya.
" Ada lah, lo nya aja yang nggak merhatiin kelas, emang lo belom ngumpulin ? "
Heh ???
Amira dan Moza kini menatap Dea dengan tatapan aneh dan gadis itu malah mengedipkan mata meng-kode kedua sahabatnya untuk diam saja.
Renata tampak kebingungan, cuek-cuek bebek begitu dia juga takut nggak lulus mata kuliah yang diambil dalam kredit semesternya.
Walaupun dapat C, pokoknya dia anti jika harus mengulang kelas yang sama selama dua semester. Pokoknya harus lulus, demi apapun juga.
Ipk minim pun tak mengapa, asal bisa dapat gelar sarjana. Orang masa depannya sudah ia putuskan fokus di dunia modelnya.
Tapi yah tittle sarjana harus tetap ia dapatkan, setidaknya itu tuntutan dari papanya.
Ekspresi Renata saat ini bukannya membuat Dea kasihan, justru malah membuat Dea semakin ingin menjahili sahabatnya itu.
Dea menggeleng-gelengkan kepalanya, " Ck Ck Ck , diliat dari ekspresi lo mah gue tahu nih, jangankan ngumpulin, ngerjain aja belom kan ? "
Rena cemberut masih dengan wajah memelasnya, " Iihh, jangankan ngerjain, tahu aja enggak kalo ada tugas. Gimana dong ? Masih bisa nyusul nggak ya ? Ehh btw, tugas paper-nya matkul apa ? " Manik mata Rena mengerjap beberapa kali sesuai jumlah pertanyaan yang terlontar dari bibir nya.
Astaga !!! Bisa sekarat berjamaah ketiga sahabat Renata itu. Dea nyaris meledak tawanya, tapi masih berusaha ditahannya. Kapan lagi bikin Renata kelimpungan gini.
Sedang Moza dan Amira hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan kedua sahabatnya itu. Beginilah keseruan jika empat dara jelita bertemu, ada saja kehebohan yang terjadi. Apalagi Dea yang usilnya setengah mati, ditambah lagi korbannya adalah Renata, makin semangat Dea menjahili.
" Hei, kalian jawab ihh, matkul apa ? Dan dosennya siapa sih ? " Rena terlihat menggaruk kepalanya kebingungan.
Ya Allah, boleh nggak teman hamba ini hamba getok kepalanya sekali aja. Batin Dea frustrasi.
Jangankan tugas kuliah, nama-nama dosen yang mengampu mata kuliah yang diambilnya saja, gadis itu tidak hafal atau mungkin bahkan tidak tahu.
Sungguh terlalu.
Ke kampus ngapain aja kamu Rena ????
Dea yang cuek aja nggak segitunya kali. Ini mah parah.
Di tempat lain.
Hega sampai di kantor dan melangkahkan kakinya dengan mantap. Sesekali senyum mengembang di wajah tampannya. Membuat pesona dan kharisma pria yang kini sudah berstatus menikah itu bukannya meredup malah semakin meningkat auranya berlipat ganda.
Menyihir kaum hawa yang dilewatinya, namun tentu saja mereka hanya bisa menjadi pemuja visual Presdir tempat mereka menggali pundi-pundi emas untuk hidup mereka.
" Selamat Pagi, Presdir. " Sapa ketiga resepsionis di balik meja lobby utama.
Ketiganya menunduk hormat.
" Selamat Pagi. " Suara bass tegas dan berat itu sontak mengejutkan ketiga karyawan resepsionis itu.
Karena selama ini sang Presdir hanya akan membalas sapaan pagi dengan anggukan kepala, paling banter hanya suara deheman singkat.
Ketiga wanita itu saling melirik satu sama lain dengan ekspresi heran, rasanya seperti habis kejatuhan durian saat mendengar suara mahal Presdir mereka. Ingin rasanya memekik saking senangnya, namun mereka tak punya nyali melakukannya.
Hega langsung memasuki lift khusus menuju ruangannya, saat melewati koridor beberapa pasang mata mengikuti pergerakan langkah pria yang selama seminggu ini tak menginjakkan kaki di lantai 15 itu.
Seperti biasa, Hega berjalan dengan penuh wibawa, tanpa kata dan tanpa basa-basi tak jelas lainnya. Hanya sekali mengamati kinerja karyawannya. Kemudian memasuki ruangannya.
Di ruangannya, Julian sudah duduk manis di salah satu sudut ruangan yang terdapat sebuah meja bulat dikelilingi tiga kursi. Spot khusus yang biasanya digunakan oleh Hega untuk melakukan rapat atau diskusi kecil bersama Bara dan Julian.
Hega melirik asistennya itu sambil terus melangkah ke arah meja kerjanya, " Rajin juga kamu, Jul. Tidak ada jadwal kuliah ? "
Julian yang sedari tadi fokus pada layar macbook miliknya sedikit terlonjak karena baru menyadari kehadiran atasannya itu, bahkan pertanyaan yang keluar dari mulutnya sangat tidak cerdas sekali, " Lah, kok abang disini ? "
Dengan kening sedikit terlipat, Hega menatap Julian aneh, tumben asisten pribadinya yang biasanya cerdas ini tiba-tiba mendadak b*doh hanya karena ditinggal cuti beberapa hari, apa ini anak kurang Akua ?
" Ini kantor saya, ruangan saya, ada larangan saya berada disini, hmm ? " Ucap Hega datar dan melenggang masuk.
Julian meringis, kemudian menepuk bibirnya yang mendadak begoo lantas tersenyum dengan tengilnya, " Yaelah, sensi amat, boss. Gue kirain tuh Bang Hega masih mau perpanjang libur hanimun nya, begitu. "
Hega yang sedang melepas jasnya menjeda kegiatannya dan kembali melirik Julian dengan satu alis terangkat, " Kamu nyindir saya ? "
Lah kan sensi.