
...☆☆☆...
~ Three years later ~
Seorang gadis kecil berusia menginjak tiga tahunan sedang asyik bermain di halaman rumahnya. Gadis kecil itu berlari kesana-kemari dengan riang.
Rambut panjangnya yang tergerai indah dengan sebuah jepit kupu-kupu berwarna merah muda terpasang cantik di rambutnya, tepatnya di atas telinga kanannya.
Membuat gadis cantik bertubuh mungil dengan kulit putih bersih bagaikan susu itu semakin terlihat imut.
Sesekali gadis kecil itu menyugar rambutnya yang berantakan tertiup angin dan menyelipkannya di belakang telinga. Seolah hal itu tidak membuatnya risih dan terus berlari dengan riang mengejar kupu-kupu yang berterbangan di taman bunga milik sang bunda.
" Momo, berhenti berlari ! Nanti kamu jatuh dan terluka. " Suara bocah lelaki yang sedang asyik di kursi taman besi berwarna putih dengan sebuah buku sketsa di pangkuannya.
Hyuza yang sudah berusia sepuluh tahun itu mengawasi tingkah polah menggemaskan sang adik yang berlarian kesana-kemari seolah tidak merasa kelelahan sama sekali.
" Kakak, cini itut Momo ngejal tupu-tupu ! " Ucap gadis kecil itu dengan terus berlari sembari melambaikan tangannya pada sang kakak yang masih duduk tenang di kursinya.
Pemuda itu menghentikan sejenak aktivitas nya, mendongakkan kepalanya menatap gadis kecil kesayangannya.
" Tidak, kamu saja yang mengejarnya. Kakak disini saja melihatmu. " Jawab Hyuza seraya tersenyum mendengar suara cadel sang adik yang sangat menggemaskan.
Padahal Moza bisa menyebutkan kata 'kakak' dengan cukup jelas, tapi entah kenapa semua kata dengan huruf k lainnya justru tidak bisa ia ucapkan dengan jelas.
Aneh memang, tapi nyata.
Cadel yang aneh, tapi justru terdengar imut dan menggemaskan di telinga Hyuza.
Pemuda itu memang sudah bucin adiknya dari kecil, maklumlah Hyuza kan kesepian selama ini selalu berada di rumah sendirian hanya dengan bibi pengasuh setiap kali kedua orangtuanya berada di restoran.
" Hati-hati, Momo Jangan terlalu jauh dari kakak ! " Teriaknya memperingati gadis manis itu.
Meskipun nyatanya Moza kecil sepertinya tidak mengindahkan peringatan sang kakak karena terlalu senang dengan aktivitas nya.
Hyuza kembali fokus pada buku sketsa di pangkuannya. Hingga tidak menyadari sang adik bahkan sudah berlari agak jauh dari jangkauannya, meskipun masih di area taman rumah.
Ardi sengaja membangun rumah dua tingkat dengan taman depan yang cukup luas dengan beberapa jenis permainan taman seperti ayunan dan seluncur, agar anak-anaknya lebih leluasa bermain.
Karena dirinya yang terlalu sibuk merintis usaha restorannya yang membuatnya hampir tidak punya waktu untuk membawa kedua anaknya pergi ke taman bermain.
Dari luar pagar sepasang mata elang tengah memperhatikan dalam diam apa yang terjadi di dalam taman berukuran cukup luas yang cukup sering dikunjunginya itu.
Dan pemilik mata hitam legam itu segera berlari memasuki pagar saat melihat gadis kecil itu berlarian tanpa melihat ada batu kecil di bawah kakinya.
Namun terlambat, kaki mungil itu sudah menyentuh batu kecil hingga akhirnya terdengar suara,
Gedebugh . . .
Tubuh mungil Moza terjatuh saat kakinya tersandung sebuah batu kecil saat dirinya berlari mengejar kupu-kupu yang akan keluar menuju gerbang rumah. Tampak manik mata kecoklatan itu mulai berkaca-kaca, terlihat jelas akan menangis.
" Hei, kamu tidak apa-apa ? "
Gadis kecil itu mendongakkan wajahnya menatap sosok yang tengah berdiri di depannya, menghalangi dirinya dari panasnya sinar matahari.
Wajahnya belum terlihat jelas karena terkena sinar mentari dari belakang punggungnya, hingga sosok tinggi itu berjongkok tepat di hadapannya.
Seorang bocah lelaki seusia kakaknya dengan wajah yang menurutnya sangat bersinar.
" Eh, sayang, kenapa kamu berhenti disitu ?! " Suara seorang wanita yang berjalan dari arah gerbang sembari menenteng beberapa paperbag di tangannya.
Hega menoleh sekilas, " Ini Mah. "
" Loh, Momo sayang. Kenapa anak cantiknya Mama duduk di rumput ? " Nadira terkejut saat mendapati gadis kesayangannya tengah terduduk di rumput dengan mata berkaca-kaca.
" Dia tadi jatuh Mah. " Jelas Hega singkat.
" Kok kamu malah diam saja nggak bantu Momo berdiri sih, Hega sayang ?! Kasihan nih kesayangan mamah. " Hega hanya mendesah kecil menanggapi omelan sang mama.
Bukan tidak mau membantu, tapi kan dirinya baru saja melihat kejadian itu. Bahkan Hega kan sudah duduk berjongkok hendak membantu anak perempuan kesayangan mamanya itu.
Belum sempat Hega turun tangan, tapi si mama sudah keburu datang dan mengomelinya.
Entahlah, rasanya Hega seperti anak tiri saja jika si mama sudah bersama si gadis kecil dengan rambut panjang hitam dan pipi chubby yang sangat menggemaskan itu, ditambah lagi mata bulat kecoklatan yang membuat gadis mungil itu terlihat semakin cantik saja.
Hega yang kaku dan dingin itu entah kenapa selalu saja tergoda untuk mencubit pipi gembul gadis itu, tapi tentu saja selalu ditahannya karena si gadis kecil punya pawang yang sangat menyebalkan, yaitu si kakak bucin dan posesifnya.
Hega bukannya takut pada pemuda yang juga sahabatnya itu, hanya saja Hega terlalu malas meladeni mulut bawel Arka yang akan mengomel panjang lebar jika sudah berkaitan dengan gadis mungil di hadapannya ini.
" Aduh, anak cantiknya Mama jatuh ya, sini Mama bantu, sayangnya Mama. " Nadira langsung ikut berjongkok dan meletakkan barang-barangnya di rumput, " Mana yang sakit, sayang ? " Momo kecil menggeleng.
" Bener nggak ada yang sakit ? " Gadis kecil itu mengangguk, padahal Nadira melihat jelas putrinya sempat meringis menahan sakit. Tapi sepertinya ada sesuatu yang mengalihkan gadis itu dari rasa sakit di lututnya.
" Mah. " Cicit Momo dengan pipi merona.
" Iya sayang. "
" Kakak cantit ini ciapa, Mah ? " Tanyanya seraya menatap lekat wajah bocah lelaki yang tidak ia kenali itu.
Hega memang sangat tahu tentang gadis kecil itu, karena mamanya selalu heboh jika sudah membahas tentang putri sahabat karibnya itu. Bahkan sang mama selalu melakukan panggilan video hampir setiap hari dengan gadis mungil itu.
Setiap kali akan berkunjung ke rumah keluarga Dama pun, Nadira selalu saja heboh berbelanja ini itu untuk putri kecil kesayangannya.
Berbeda dengan Momo yang memang masih terlalu kecil untuk mengingat wajah seseorang yang memang jarang dilihatnya.
Wanita cantik itu tersenyum, " Bukan cantik sayang, tapi tampan. " Merapikan rambut panjang Moza.
" Kalau cantik itu untuk anak perempuan seperti kamu. " Nadira mencubit gemas pipi chubby gadis kesayangannya dan kembali tersenyum hangat.
Gadis mungil itu manggut-manggut, " Oh, talo gitu kakak tampan ya, Mah ?! " Tanyanya lagi dengan wajah polos yang sangat imut.
" Iya sayang. " Jawab Nadira sembari membantu gadis kecil itu berdiri.
Moza kecil yang memang sering melakukan video call dengan Nadira tentu saja mengenal baik sahabat bundanya itu yang selalu menyebut dirinya Mama jika sedang menelepon gadis mungil yang sudah membuatnya jatuh hati sejak kelahiran putri kedua Ayu Puspita itu.
Dan membuat Moza menjadi terbiasa memanggil wanita cantik dan anggun itu dengan sebutan Mamah.
" Jadi kakak tampan ini ciapa, Mah ? "
Dahi Nadira mengerut, " Loh, Momo lupa, hem ? " Gadis itu mengangguk polos, " Ini kak Hega, sayang. Anak Mamah, ganteng kan ?! " Moza kecil kembali mengangguk, pipinya kembali merona.
" Pasti ganteng dong, kan calon suami Momo kalo nanti Momo udah besar. " Imbuh wanita cantik itu bangga sambil mengedipkan satu matanya jahil.
...------------------------...