
...' Kamu bagaikan oksigen bagiku, tanpa kehadiranmu aku pasti sudah kehabisan nafas dan tak bernyawa '...
...~ Hega Airsyana ~...
...▪ ▪ ▪...
" Aku tidak bisa istirahat bukan karena suara benda ini. "
Kembali menoleh menatap sang suami dengan tatapan tak mengerti, " Lalu ? " Wajah polos Moza benar-benar membuat Hega gemas.
" Tentu saja karena aku tidak bisa istirahat dengan nyaman jika tidak ada kamu di dekatku. " Mengacak pelan rambut Moza dengan tangan kanan kembali menggerakkan hairdryer ke kanan dan ke kiri disekitar rambut Moza.
Melirik sebal kemudian berdecih lirih, " Hish, alasan yang aneh, memangnya selama ini saat tidak ada aku kakak juga begitu ? " Gerutunya kemudian.
" Begitu bagaimana maksudnya ? " Kening Hega kembali mengerut, kenapa hari ini dirinya mendadak begoo sih untuk bisa memahami setiap ucapan sang istri.
" Ya itu, tidak bisa istirahat dengan nyaman kalau tidak bersamaku. "
" Tidak. " Jawab Hega enteng, dan masih asyik dengan aktivitasnya bermain salon-salonan dengan rambut sang istri yang terasa halus di tangannya.
" Tidak apanya ? "
" Ya biasa saja, aku tetap bisa tidur atau istirahat dengan nyaman meskipun tidak ada kamu di dekatku. " Ujar Hega datar,
Meskipun ada kalanya aku gelisah juga sih setiap ingat kamu apalagi setelah kejadian di apartemen saat aku sakit waktu itu. Sambung Hega dalam hati.
" Tuh kan ? " Menoleh kembali.
Memangnya sebelum bertemu denganku bagaimana coba ? Tidak bisa tidur ? Atau tidak tidur dengan nyaman ? Kan enggak mungkin begitu juga kan ?!
" Ada apa lagi ? " Membalas tatapan sang istri dengan ekspresi tanda tanya.
Moza mendengus kecil, " Kenapa sekarang bisa begitu ? Pasti itu tadi hanya alasan kakak saja, kan ?! Dasar gombal. "
Sepertinya Hega mulai memahami maksud sang istri, " Ya ampun, istriku sayang. Tentu saja itu karena sekarang situasinya sudah berbeda. "
" Apanya yang berbeda, huh ? " Menatap intens dan menyelidik.
" Ya karena kita sudah menikah, jadi aku selalu ingin dekat-dekat dengan kamu lah. Apa lagi memangnya ?! " Santuy sekali jawaban suami tampan nya itu.
Hih, apalagi coba yang baru saja dikatakan oleh suaminya itu ? Moza benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa pria yang dicintainya itu sungguh pandai bicara. Kenapa setiap ucapan Hega selalu membuatnya mati kutu dan sulit mendebatnya.
Blush. . .
Seketika rona merah menyembur dari pipi putih Moza, gadis itu mendadak gugup mendengar ucapan sang suami yang bisa-bisanya mengatakan hal semanis itu dengan ekspresi datar.
Seolah yang dikatakannya itu adalah hal yang biasa saja, padahal nyatanya kalimat itu sangat berbahaya dan bisa membuat jantung wanita manapun yang mendengarnya bisa berdegup kencang kesenangan, ke-geeran, dan bahkan melonjak-lonjak melambung tinggi ke awan.
Moza memalingkan wajahnya, kembali membelakangi sang suami yang masih sibuk dengan rambutnya, berusaha mengalihkan pembicaraan, " Jadi sebelum menikah kakak tidak ingin dekat-dekat denganku begitu ? " Tanya Moza kemudian.
Moza memilih pertanyaan random yang melintas sekilas di kepalanya. Berharap jika pertanyaan itu akan membuat pria di belakang punggungnya itu kesulitan menjawabnya.
Hega menelan salivanya dengan kasar saat mendengar pertanyaan itu, kemudian menghentikan sejenak aktivitasnya di rambut Moza, mematikan pengering rambut dan meletakkannya di sofa.
" Tentu saja aku selalu ingin dekat-dekat denganmu, bahkan sebelum aku sadar kalau aku jatuh cinta padamu. Entah kenapa selalu saja ada magnet yang seolah menarikku untuk terus mendekat padamu. Apalagi ketika aku menyadari perasaanku padamu, aku semakin tidak ingin jauh-jauh darimu. Aku ingin selalu dekat denganmu, menghirup udara yang sama denganmu, menyentuhmu, dan-- " Tutur Hega lembut.
" Terus apa coba bedanya dulu dengan sekarang ? " Moza menyahut cepat dengan posisi sama, tidak berani menatap wajah sang suami, karena takut ketahuan jika dirinya tengah merona malu, gugup dan juga berdebar.
Moza menunggu sang suami yang tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Masih tidak berani menoleh karena debaran jantungnya masih belum stabil.
Hega sendiri sengaja tidak segera menjawab pertanyaan sang istri, membuat gadis itu mengernyit dan akhirnya menyerah hendak menoleh menatap ke arah Hega yang duduk di belakangnya.
Tapi baru saja hendak membalikkan tubuhnya, Moza membelalakkan kedua matanya saat merasakan gelenyar aneh ketika jemari sang suami menyibak rambut panjangnya ke samping kanan dan menyentuh kulit tengkuknya yang sensitif. Jantungnya semakin berdegup cepat.
Cup. . .
Apalagi saat Moza merasakan sesuatu yang lembut menyentuh kulitnya, ternyata Hega barusaja mendaratkan bibirnya di tengkuk gadis itu. Membuat tubuh Moza menegang seketika, hingga manik mata kecoklatan yang tadinya membulat sempurna perlahan terpejam.
Moza mulai terhanyut suasana yang ditimbulkan oleh sentuhan lembut suaminya, sentuhan yang seolah akam membawanya terbang ke nirwana.
Hega melepaskan kecupannya, namun hembusan nafas pria itu masih sangat terasa di tengkuk Moza.
" Tentu saja karena saat itu aku harus menekan keinginanku untuk menyentuhmu. Jadi aku harus menahan diri agar tidak melewati batasan yang sesungguhnya sangat menyiksaku, sekuat tenaga aku berusaha untuk tidak menjadikanmu milikku dengan cara yang diharamkan oleh agamaku. Meskipun nyatanya aku pernah hampir lepas kendali, dan aku sungguh menyesali apa yang sudah aku lakukan padamu saat itu. " Bisiknya kemudian di telinga sang istri.
Moza tersenyum mendengar pengakuan sang suami, hatinya menghangat ketika mengetahui jika pria yang dinikahinya pagi tadi tidak hanya begitu mencintainya, tetapi juga menghargai dan menjaga harga dirinya sebagai wanita.
Seperti yang dikatakan Hega tadi, meskipun Hega pernah hampir khilaf saat berduaan dengannya, tapi pria itu berhasil menjaga kehormatan sang kekasih hati hingga tiba waktunya agama menghalalkan hubungan mereka.
Menjadikan setiap sentuhan yang mereka lakukan bukan sebagai dosa, malah justru sebagai lahan pahala.
Jantung Moza perlahan sudah mulai normal, namun tak lama langsung terasa akan merosot dari dadanya ketika dirinya kembali merasakan hembusan nafas Hega yang menerpa kulit sensitifnya. Dan sekali lagi jantung Moza dibuat bekerja dua kali lipat, saat suaminya melingkarkan tangan kekarnya di pinggangnya dan terkunci di perutnya.
" Dan sekarang, setelah ijab kabul pernikahan kita, saat agama menjadikanmu halal bagiku, menjadikan setiap sentuhan kitta sebagai pahala dan bukannya dosa. Jadi sedetik pun rasanya aku tidak bisa berjauhan darimu. " Sambung Hega dengan suara yang terdengar mulai memberat dan sekali lagi diikuti sebuah kecupan yang kali ini mendarat di leher jenjang Moza.
Cup. . .
Kecupan yang sedikit lebih lama dari kecupan pertama, bahkan Hega sampai memejamkan kedua matanya dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri yang begitu harum dan memabukkan.
Gadis itu seperti tersihir oleh kalimat sang suami, membuatnya tak bisa berkata apapun.
Tidak hanya Hega yang seolah tersihir, Moza pun juga tak kalah terlenanya dengan perlakuan lembut sang suami. Gadis itu kini tidak hanya memejamkan kedua matanya, tapi juga menggigit bagian dalam bibir bawahnya, dadanya naik turun dengan nafas yang berpacu cepat dan sesekali menelan salivanya.
Hega merasakan debaran jantung sang istri yang tak kalah cepatnya dengan debaran jantungnya. Dan sekali lagi pria tampan itu mendaratkan bibirnya di leher putih sang istri. Mengecup disana cukup lama hingga tanpa disadarinya kecupan itu meninggalkan sebuah tanda cinta berwarna keunguan yang begitu kontras dengan kulit putih bersih sang istri.
Bibir Hega semakin gencar bermain di area leher dan telinga sang istri, yang juga merupakan titik sensitif istrinya.
Tubuh Moza semakin menegang, berkali-kali gadis itu menelan salivanya dengan susah payah, dengan kedua mata masih terpejam. Tubuhnya seolah dialiri listrik ribuan watt, bahkan kedua telapak tangannya sudah mengepal di sisi kanan dan kiri tubuhnya, mencoba menahan sesuatu dalam dirinya yang terasa begitu asing tapi juga menyenangkan.
Inikah waktunya ?
...--------------------------------------...