FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 34 • Garden Party



...☆☆☆...


Pesta meriah bertemakan Garden Party, yang diselenggarakan di Grand Imperial Hotel. Hotel terbesar dan termewah di seluruh penjuru Nusantara, hotel yang memiliki banyak cabang baik di dalam negeri dan luar negeri.


Perhelatan akbar pesta perayaan pernikahan putra mahkota kerajaan bisnis Golden Imperial Group.


Pria yang tidak hanya tampan dan gagah, namun juga memiliki kemampuan luar biasa dan multitalenta. The National Husband yang kabar pernikahannya dipastikan akan membuat patah hati para kaum hawa yang memujanya.


Beruntung acara ijab kabul kemarin dilaksanakan setengah tertutup. Hanya dihadiri oleh keluarga besar kedua mempelai, beberapa sahabat dekat dan tetangga kompleks perumahan Ardi Dama.


Tanpa satupun awak media yang meliputnya, tentu saja ini juga atas permintaan Moza. Gadis itu bukan tipikal yang suka menjadi bahan pembicaraan ataupun sorotan publik.


Namun resepsi pernikahan yang rencananya dilaksanakan secara privat itu nyatanya tetap saja dipenuhi banyak tamu.


Suryatama Saint sebagai seorang pengusaha yang namanya menjadi legenda di dunia bisnis Asia pastilah memiliki banyak kolega.


Semua tamu undangan tentu saja sudah dipilih secara khusus. Tidak semua orang bisa berkesempatan hadir dalam perhelatan mewah tersebut.


Sebenarnya Suryatama ingin sekali mengundang lebih banyak tamu, tapi sang kakek lebih mengutamakan kenyamanan si cucu menantu kesayangannya.


Beberapa bulan mengamati gadis itu, Suryatama tahu betul bagaimana karakter istri sang cucu.


Suryatama tidak ingin membuat gadis cantik yang dicintai cucunya itu merasa tidak nyaman dalam pesta pernikahannya sendiri.


Hega juga tidak jauh berbeda dengan istrinya, yaitu anti mengekspose kehidupan pribadinya.


Meskipun wajah tampan nya kerap muncul di majalah, surat kabar dan media pemberitaan lainnya. Tapi semua itu hanya sebatas pemberitaan seputar karirnya sebagai pengusaha.


Tidak pernah sekalipun Hega meladeni wawancara diluar tema bisnis, apalagi menyangkut keluarga dan kehidupan pribadinya.


Dan siapapun sudah tahu itu adalah hal terlarang untuk dibicarakan apalagi untuk dipublikasikan. Kecuali jika ada ijin secara langsung dari yang bersangkutan tentunya.


Meskipun sampai detik ini belum pernah sekalipun pria yang menginjak usia 26 tahun itu mengijinkan siapapun memasuki ranah pribadinya.


Kehidupan percintaan Presdir Muda itu masih menjadi misteri sampai hari ini. Hega Saint terkenal sebagai sosok tegas dan tidak pandang bulu terhadap kesalahan apapun.


Maka dari itu jika ada pihak yang dengan sengaja memberitakan tentang kehidupan pribadinya tanpa terlebih dahulu berkoordinasi dengan divisi Humas Golden Imperial Grup. Maka pihak tersebut harus menanggung resiko yang tidak akan berani ditanggung oleh siapapun.


Segala pemberitaan yang muncul di media, harus terlebih dahulu melewati proses review oleh pihak Divisi Humas. Dan tentu mendapat ijin dari Hega selaku pemilik otoritas tertinggi perusahaan.


Wartawan yang nekat mencari berita tentangnya dan memberitakan secara langsung tanpa ijin, dipastikan karirnya akan tamat saat itu juga.


Dan bagi media yang berani menaikkan berita tanpa persetujuannya, sudah jelas akhirnya, siap-siap saja perusahaan atau kantor media itu akan diakuisisi oleh GI Group.


Sudah bagus diambil alih, dan bukannya ditutup sepihak yang berakhir pasti, yaitu kebangkrutan dan hilangnya mata pencaharian semua karyawan di kantor tersebut.


Masih cukup baik hati kan Presdir kita satu ini ? Kurang apa coba toleransi yang masih bisa Hega berikan pada orang-orang yang telah berani lancang memasuki kawasan pribadinya ?


Jadi jikapun ada paparazi yang menguntitnya, media mana yang akan sudi membayar beritanya, dan mengucapkan selamat tinggal pada perusahaan medianya. Belum lagi tuntutan hukum yang siap menanti mereka, dengan dugaan memasuki ranah privasi seseorang tanpa ijin dan pelanggaran HAM.


Konsekuensi yang cukup mengerikan bukan ?


" Kak. . . "


" Hem. "


" Apa benar tamu undangan yang hadir ini sudah dipangkas menjadi hanya seperempatnya saja ? " Tanya Moza ragu pada suaminya di sela dansa mereka.


Hega terkekeh mendengarnya, ditambah wajah bingung istrinya. Dilihatnya manik mata istrinya itu sesekali mengamati sekitar area pesta.


" Iya, sayang. Ini bahkan tidak sampai seperempat loh. "


Moza mendongak, menatap tak percaya, " Ya ampun, memangnya berapa undangan yang awalnya mau kakek sebar sih ? "


Bayangkan saja, taman super besar dan mewah yang seluas itu dengan kerumunan tamu yang sedari tadi tak henti-hentinya memberi selamat. Dan itu masih belum seperempatnya katanya.


Hei, bahkan tamu undangan pernikahan anak Presiden yang dilihatnya di tivi saja tidak sebanyak ini. Batin Moza diikuti helaan nafas panjang.


Hega kembali terkekeh, " Aku tidak tahu berapa pastinya, tapi sepertinya empat sampai lima kali lipat dari semua tamu yang hadir hari ini. Entahlah. " Jelas Hega, kemudian mengedikkan bahunya.


" Eh ? " Kening Hega mengerut tak paham.


" Kalau tadi tidak ada kak Ragil, pasti aku masih harus berdiri di sana sembari terus tersenyum. " Moza melirik pelaminan mewah yang sudah kosong, " Gigi ku sampai terasa kering kak, bibirku juga kelu sampai rasanya seperti mati rasa. " Gumam Moza lirih, dan barulah Hega paham maksud sang istri.


Ya memang tadi Ragil lah yang menyetop barisan tamu yang sebenarnya masih banyak yang ingin menyalami kedua mempelai.


Dengan alasan sudah waktunya acara lanjutan, yaitu acara dansa.


Astaga, Moza tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika sang kakek tidak jadi memangkas jumlah tamu undangannya. Bisa-bisa mereka berpesta sampai pagi hanya untuk menerima satu per satu ucapan selamat.


" Tenang saja, kalau bibirmu mati rasa, aku yang akan menyembuhkannya nanti. " Sahut Hega sambil mengerlingkan satu matanya menggoda.


" Memangnya bisa ? " Tanya Moza dengan nada meragukan ucapan sang suami.


Entahlah, sepertinya rasa lelah Moza membuat gadis itu tiba-tiba tidak bisa berfikir jernih dan menangkap maksud ucapan sang suami.


" Bisa dong. " Jawab Hega yakin.


" Gimana caranya ? "


" Nanti di kamar saja aku kasih tahu. "


" Kenapa harus selalu menunggu di kamar sih ?! " Kesal Moza.


Hega menundukkan wajahnya mendekati wajah sang istri, " Jadi mau aku kasih tahu sekarang, hem ? "


Kening Moza mengernyit, " Eeehhh. " Kok kayak dejavu ya, batin Moza.


" Jangan menyesal ya ! " Hega semakin mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.


Moza melihat sekilas suaminya tersenyum aneh, senyum yang membuat Moza akhirnya tersadar kemana arah pembicaraan suaminya.


Moza reflek menahan dada suaminya dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah, " Uuhh, kak. Hentikan ! Banyak yang melihat tahu. "


Hega tergelak kecil, " Kan tadi kamu yang enggak sabaran mau---mmmph. . . "


" Ssst, . . Diam ya kak ! Hentikan ! " Moza membekap bibit suaminya dengan telapak tangannya.


Hega mengangguk, " Jadi sekarang apa di kamar, hem ? "


" Iya, iya, di kamar saja. " Putus Moza terpaksa, daripada suaminya itu nekat menciumnya sekarang di depan banyak orang. Mau ditaruh mana mukanya ?


" Oke, jangan ingkar janji ya ! "


" Hish, iya. " Pintar sekali suaminya ini memancing Moza mengikuti kemauannya, benar-benar mulut berbisa.


Keduanya berhenti berdebat, melanjutkan dansa mereka setelah beberapa kali berganti pasangan dansa. Karena tadi sang ayah dan sang papa mertua meminta untuk berdansa dengan Moza, sang ratu semalam.


Dan kini Moza sudah kembali ke pelukan suaminya, melanjutkan dansa terakhir sebelum lantunan musik berakhir.


" Kak, aku lelah. " Cicit gadis itu dengan mata sendu.


" Tahan sebentar lagi ya, sayang. " Hega mengeratkan rengkuhannya di pinggang sang istri, khawatir kalau-kalau istrinya limbung, " Naikkan kakimu di atas kakiku ! " Meskipun sempat bingung, gadis itu menurut juga, mendaratkan kakinya yang memakai heels di atas sepatu mahal suaminya.


Kalau saja Moza tahu berapa harga sepatu yang diinjaknya itu, sudah dipastikan gadis itu akan menolaknya dengan cepat dan memilih bertahan saja dari rasa lelahnya.


" Sekarang bersandar padaku. " Titah Hega kemudian, Moza tersenyum dan mendaratkan kepalanya di dada bidang sang suami, dengan kedua tangan masih melingkar di leher pria tampan dengan setelan jas berwarna putih senada dengan gaun pengantinnya.


Dan semua tamu begitu antusias menyaksikan pengantin yang sedang berdansa dengan sangat intim dan mesra itu.


Meskipun banyak pasangan yang juga tengah berdansa, namun pandangan mereka hanya terfokus pada sang raja dan ratu semalam itu.


Yang nampak di indera penglihatan mereka adalah betapa romantisnya pasangan pengantin baru itu. Benar-benar bagaikan pasangan sempurna yang diciptakan oleh surga.


...------------------...