
...' Jodoh itu misteri, tidak ada yang tahu dengan siapa kita berjodoh. Maka jangan membenci atau menghindari seseorang dengan berlebihan. Karena bisa jadi jodoh yang ditakdirkan Tuhan untukmu adalah seseorang yang tidak pernah terduga dalam benakmu. '...
...~ Sherinanta ~...
...☆☆☆...
Hyuza kembali fokus pada adik cantiknya yang masih sesenggukan, mengusap pipi basah Moza dan mengelus kepala gadis itu dengan penuh cinta, " Momo sayang, kakak minta maaf, hem ! "
" Hiks hiks hiks, kenapa kakak memarahi Momo ? " Mendongakkan kepalanya menatap kakaknya dengan mata sayu.
" Maaf, kakak tidak marah. Kakak hanya kaget tadi. " Hyuza berkelit.
" Ja-di boleh Momo menikahnya sama Kak Hega saja ? " Tanya Moza lagi dengan suara serak karena habis menangis, manik matanya bahkan masih berkaca-kaca karena air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya.
" Tidak boleh, Momo sayang ! " Berusaha menjawab dengan selembut mungkin.
Padahal jika bisa, ingin rasanya Hyuza berteriak sekuat tenaga menolak keinginan sang adik.
Tidak bisa dibayangkan oleh Hyuza jika adiknya menikahi si Beruang Kutub berhati dingin seperti Hega. Sudah gitu sifat tidak pekanya itu yang sungguh luar biasa.
Selain wajah tampan dan otak encernya, memang apa lagi yang bisa dibanggakan dari si manusia kulkas itu ?
Memangnya tampan saja bisa buat adiknya bahagia ?!
Bukannya bahagia, bisa-bisa adik kesayangannya menderita karena kurang perhatian saking tidak pekanya punya suami macam Hega.
BIG NO !!!
Adik yang dirawatnya selama ini dengan penuh kasih sayang, cinta dan perhatian tidak boleh berakhir dengan makhluk dingin seperti itu. Hyuza tidak akan rela.
Kecuali jika sahabatnya itu punya satu kriteria khusus sih, yaitu menjadi bucin adiknya. Akh, tapi rasanya hal itu adalah sebuah kemustahilan mengingat watak Hega yang kaku dan tidak peka.
" Hiks . . .hiks . . . Kenapa tidak boleh ? Kak Hega juga sangat tampan seperti kakak. Hiks. . . " Rengek Moza kecil.
" Momo sayang, semua pria itu berbahaya sayang. Dan yang paling berbahaya diantara mereka adalah pria yang tampan dan kaya, apalagi yang tidak peka. " Ujar Hyuza lirih seraya melirik ke arah Hega, maksudnya tuh sekalian nyindir sahabatnya itu begitu.
Ucapan sarkas Hyuza membuat Hega yang sudah mengambil bukunya dan hendak kembali melanjutkan membaca mengurungkan niatnya.
Pemuda yang satu tahun lebih muda dari Hyuza itu terlihat melotot horor ke arah putra sulung keluarga Dama yang sialnya adalah sahabat Hega.
Hish, mimpi apa dia bisa punya sahabat yang kalau sudah bicara bisa bikin gedek hati seorang Hega yang biasanya cuek pada omongan apapun tentangnya.
Mulut Hyuza itu suka nge-jleb banget kalo sudah ngata-ngatain Hega. Pengen nampol mulut tuh bocah, tapi ada adiknya. Hish. . .
Sudahlah, cuekin aja. Putus Hega kemudian, merasa tidak ada faedahnya meladeni bocah gila yang tengah sibuk sama 'boneka barbie hidup' kesayangannya.
" Kakak kan juga tampan, apa kakak juga berbahaya ?! " Tanya gadis itu dengan wajah polos.
" Pffft. . . " Hega reflek terkikik namun langsung bersikap datar kembali saat mendapati tatapan horor Arka.
Hahahaha.. . Rasakan kau, Ar. Senjata makan tuan.
Batin Hega kemudian seraya tersenyum menyeringai dan melirik jengkel pada putra dari sahabat ibunya itu.
Ingin rasanya Hega tertawa mengolok-olok sahabatnya itu saat mendengar celetukan polos Moza kecil yang seolah mewakili apa yang ada di kepala Hega saat itu.
Hish, kenapa aku jadi ketularan absurd sih, dasar. Hega menggelengkan kepalanya mengusir pikiran aneh yang baru saja terlintas di benaknya. Bisa-bisanya dia sempat berfikir jika dirinya sehati dengan si pipi chubby kesayangan semua orang itu.
Kalau saja Arka bisa dengar isi hatinya barusan, bisa dikira kalau dirinya sudah bucin adik Arka. Hih, ogah.
" Tentu saja itu tidak berlaku untuk kakak, Momo sayang. " Namun bukan Hyuza jika tidak bisa bersilat lidah membela dirinya sendiri dan membenarkan argumennya.
" Uhh. . . Kenapa begitu ? " Cicit Moza tak mengerti.
" Kakak ini adalah kakakmu, jadi tentu saja kakak tidak akan berbahaya untuk mu. Justru kakak lah yang akan senantiasa menjadi pelindungmu dari para pria seperti itu. "
Mendengar ucapan pembelaan diri Hyuza, Hega mau tak mau turun tangan langsung dan ikut dalam perbincangan kakak beradik itu.
BUGH. . . . .
Hega tanpa sadar melempar bukunya dengan kesal ke atas meja sebagai bentuk protesnya, membuat gadis mungil di pangkuan Arka sedikit terjengkit kaget.
" Tarik kembali kata-katamu tadi, Ar ! Aku juga tidak berbahaya tahu. Beraninya kau mengatakan hal seperti itu pada adikmu tentangku ! " Pemuda itu menatap nyalang sahabatnya, " Jangan racuni adik polosmu itu dengan bualan gilamu itu ! " Sambar Hega murka.
Arka menutup telinga adiknya dengan kedua tangannya, membalas tatapan marah Hega dengan tatapan tak kalah horornya, " Diam saja kau ! Ini urusanku dengan adikku. Bukannya kau tadi yang mengatakan kalau kau tidak mau terlibat saat aku meminta bantuanmu. " Bentak Arka tak kalah mukanya.
" Lalu kenapa sekarang kau malah ribut ikut campur, hah ?! " Sembur Arka dengan ketus. Dan berani sekali kau berteriak di depan adikku, sialan. Lanjutnya dalam hati.
" Iya, tapi kan tidak harus dengan mengataiku juga. Memangnya tidak ada penjelasan lain yang lebih baik apa yang bisa kau gunakan untuk membujuknya ?! " Hega menggerutu dengan nada yang masih terdengar kesal.
" Kau diam saja kenapa sih ?! " Geram Arka enteng sembari melirik sang adik dengan ekor matanya, memberi kode agar Hega menghentikan gerutuannya.
Tapi bukannya mengerti isyarat Arka, justru hal itu malah membuat Hega kembali terpancing amarahnya. Sudah tidak peduli lagi bahkan mungkin lupa jika ada sosok kecil yang tengah memperhatikan perdebatan keduanya, meskipun dengan telinga tertutup oleh telapak tangan sang kakak.
" Enak saja kau memintaku diam. Memangnya kalau itu kau yang dikatai seperti itu, kau bisa diam saja, hah ?! Ini pencemaran nama baik tahu ?! " Semakin kesal saja Hega mendengar Arka bicara seenak jidatnya.
" Lagipula dia kan masih kecil, pikirannya akan berubah saat dia beranjak dewasa nanti. Kau saja yang terlalu lebay. " Sambung Hega lagi, emosi rasanya sampai ingin meremas mulut laknat sahabatnya itu.
Hyuza mendongak, menatap Hega dengan ekspresi meremehkan, " Heh, jangan remehkan adikku karena dia masih kecil ya ! Kamu belum mengenalnya dengan baik, kamu akan menyesal dengan ucapanmu jika aku tidak bisa menghentikan keinginannya ini sekarang juga. " Hyuza memberi peringatan keras dengan seringai tipis yang sedikit mengerikan.
" Asal kau tahu ya, Ga. Momo tidak mudah berubah pikiran, sejak kecil dia selalu memegang teguh apapun yang dia inginkan untuk dapat dia miliki. Kau akan kesulitan sendiri nanti jika dia terus kekeh pada keinginannya untuk menikah denganmu jika aku tidak berhasil membujuknya sekarang. "
Benarkah gadis itu akan terus memintaku menikahinya jika tidak berhasil dibujuk sekarang ? Astaga, walaupun cantik kan dia masih bocah, terlebih lagi bocah itu punya kakak menyebalkan macam Arka.
Seketika bergidik ngeri Hega membayangnya punya kakak ipar seperti Arka.
" Tapi kan . . . " Hilang sudah kata-kata Hega, pemuda itu seakan kehabisan kalimat untuk mendebat sahabatnya.
" Hah ! Sudahlah yang penting aku bisa membujuknya agar menghentikan keinginannya untuk menikahimu. " Putus Arka tegas.
" Ah iya, kalau aku tidak berhasil membujuknya, memangnya kau mau menikahi adikku nanti, hah ? " Sudut bibir Arka terangkat sebelah, membentuk senyum yang lebih mirip sebuah seringai licik dengan tatapan mata menyelidik.
...---------------------...
Ea, Bang Hega langsung ditembak di tempat tuh sama calon kakak ipar 😉
Siapa yang sekarang pasangannya adalah orang yang tidak pernah terpikirkan ? Bisa jadi tetangga, sahabat atau bahkan orang yang pernah jadi musuh sekalipun.