
☆☆☆
Sepertinya sekarang kebiasaan sepasang suami istri baru itu mulai terbalik, Hega yang biasanya bangun terlebih dahulu, kini justru masih nyaman dalam tidurnya.
Moza sudah rapi dengan setelan dress selutut putih dengan blazer ala korea berwarna biru muda. Rambut panjangnya sengaja dikuncir tinggi agar terlihat rapi karena hari ini agendanya ia harus menghadap dosen untuk mengumpulkan paper sebagai tugas untuk pengganti presensinya.
" Kak, bangun. Ini sudah jam setengah 7 nih, kak. " Moza duduk di pinggir ranjang dan mengusap kepala suaminya, memainkan rambut hitam suaminya yang berantakan.
" Hnnggghhh. " Mata setajam elang itu terbuka perlahan, " Sayang. " Suara serak seksi sang suami membuatnya merinding.
" Bangun, kak. Katanya hari ini kakak ada rapat, hem. Ayo bangun. "
" Morning kiss dulu, yank. "
Moza memukul lengan suaminya dengan ekspresi sebal, " Ish, gak mau. Mandi dulu sana ihh. "
" No, morning kiss. "
" Eaaakkkk. . . Kak, lepas. " Moza memekik saat tangannya ditarik oleh sang suami dan kini tubuhnya sudah berada di bawah suaminya.
" Gak mau mandi, cium dulu, hem. Baru aku mau bangun dan mandi. "
" Lepasin aku, kak. Baju aku berantakan nih. " Moza masih berusaha melepaskan diri dari suaminya tapi tentu saja seperti biasa gadis itu kalah tenaga.
" Tinggal ganti baju lagi nanti sayang. Atau mau mandi lagi sekalian, hem. " Goda Hega seraya mengerlingkan satu matanya membuat Moza melotot horor sambil menggelengkan kepala cepat.
Pria itu terkekeh geli melihat mata bulat istrinya yang mendelik ke arahnya, " Hish, istriku cantik banget, wangi lagi. " Dan bukannya takut, bibir Hega malah dengan gemasnya mengecupi leher jenjang sang istri yang terekspose sempurna tanpa terhalang untaian rambut hitam sang istri.
Pukul 7 lewat 15 menit, Moza sudah bersiap kembali dengan setelan dress putih bermotif polka berwarna hitam. Rambut panjangnya kini dibiarkan tergerai, karena tidak mungkin lagi baginya mengikat tinggi rambutnya setelah sang suami dengan sengaja meninggalkan tanda merah keunguan di lehernya.
Dengan sedikit kesal setelah melihat kissmark di lehernya, gadis itu menyapukan lipbalm berwarna peach setelah sebelumnya memakai krim dan bedak sekalian menyamarkan tanda cinta di lehernya.
Setelah memastikan penampilannya, Moza melirik sekilas ke arah kamar pintu walk in closet dimana sang suami sedang berganti baju.
" Kak, aku turun dulu ya. "
" No, tunggu aku, yank. " Teriak sang suami dari arah ruangan ganti.
Moza mencebik, " Aku mau ambil paper tugas aku dulu di ruangan kerja kakak. " Ucap Moza beralasan.
Pokoknya misinya harus segera keluar kamar sebelum suaminya kembali berulah. Bisa repot kalo harus ganti baju dan make up ulang. NOOOO !!!
Suaminya itu kan kalo pagi ada aja tingkah dan maunya, bikin Moza kewalahan dibuatnya.
Bagaimana tidak, Moza yang sudah siap setengah jam lalu harus rela mengganti bajunya dan merapikan kembali make up nya setelah adegan suami super manjanya yang minta disayang-sayang sebelum bangun tidur.
Huh, untung saja suaminya tadi cuma minta morning kiss, meskipun morning kiss yang diminta sang suami sedikit tidak wajar lamanya. Ditambah lagi tangan jahil mode mesum suminya yang membuat baju daan rambutnya berantakan.
Ampun deh, coba kalo tadi suaminya minta yang lain. Bisa-bisa cuti kuliahnya diperpanjang lagi, uuhhh tidak mau !!!
Belum juga satu langkah kaki Moza meninggalkan meja riasnya, sang suami sudah muncul dari pintu walk in closet, " Yank, tolong dasiku. "
Gadis itu menoleh dan tersenyum manis menatap sang suami yang mendekat ke arahnya. Dengan perlahan meraih dasi merah dengan garis-garis hitam yang sudah menggantung di leher sang suami, kemudian membuat simpul dan menariknya perlahan.
Setelahnya merapikan kerah kemeja suaminya dan mengusap lembut dada bidang sang suami.
Lagi-lagi Moza tersenyum melihat hasil karya pertamanya, " Not bad. " Gumamnya perlahan.
Hega melirik pantulan dirinya di cermin, memperhatikan simpul dasi yang dibuat sang istri, " Yes, not bad at all. [ Ya, tidak buruk sama sekali. ] "
Hega mengecup singkat pipi istrinya, " Istriku pinter banget sih. " Pujian Hega membuat pipi Moza bersemu.
" Ayo, kak. Aku harus ada di kampus jam 8 untuk mengumpulkan paper ku. "
" Sarapan dulu, hem. "
Moza berpikir sejenak, " Nanti aku terlambat, kak. "
" Nggak akan, sayang. Kampus kamu kan ngak jauh juga dari sini. " Bujuk Hega, dan Moza akhirnya mengangguk setuju.
" Kakak sih berulah pagi-pagi, udah tahu aku harus ke kampus hari ini masih sempet-sempetnya juga gangguin aku tadi. " Gerutunya pelan.
Hega terkekeh, mengusap kepala istrinya dengan sayang, " Habisnya kamu tumben banget tadi bangun lebih dulu, udah gitu cantik dan wangi lagi, kan aku jadi tergoda. "
" Ish, jangan mulai deh, kak. " Moza mencubit perut suaminya yang mulai lagi mode mesumnya, jika diteruskan, Moza yakin dirinya tidak akan hanya berganti baju saja, tapi harus mandi wajib untuk kedua kalinya.
" Nanti aku jemput, hem. " Hega mengusap lembut pipi Moza
Keduanya kini sudah berada di area parkir Fakultas Ekonomi.
Moza menggeleng, " Tidak usah, kak. Kakak pasti sibuk, kan ? Biar aku nanti naik taksi atau-- " Moza tak ingin terlalu bermanja pada suaminya, gadis itu tahu suaminya adalah pria yang sibuk.
Apalagi sudah hampir dua minggu ini suaminya itu cuti kerja, pasti banyak pekerjaan yang menantinya sebagai seorang pimpinan perusahaan. Dan Moza tak mau suaminya hanya fokus pada dirinya saja.
Puluhan atau bahkan mungkin ratusan ribu nasib karyawan ada di pundak sang suami, dan sebagai istri yang baik, Moza ingin menjadi pendukung utama pria itu.
" No, tidak boleh !! Aku jemput jam makan siang, oke ? Tidak ada penolakan. "
" Huft, baiklah. Sampai jumpa nanti, kak. "
" Tunggu ! " Hega mencekal lengan Moza, saat gadis itu hendak membuka pintu mobil.
" Apa lagi ? "
Bukannya menjawab, Hega melepas seatbelt nya, memiringkan badannya kemudian mencondongkan wajahnya ke arah sang istri.
" Kak, ini di kampus. Nanti ada yang lihat, ihh. " Cegah Moza saat tau apa yang diinginkan sang suami.
" Memangnya siapa yang bisa mengintip sih ? " Eh, iya sih kaca mobilnya anti intip.
" Tapi kalo ada yang lihat pun, memangnya kenapa, hem ? "
" Ish, kakak iihh. "
" Pokoknya kamu gak boleh keluar kalo aku belum--- "
" Ih, iya iya. Sini. "
...--------------------------...
Gaess, aku bertahan disini tuh karena kalian. Karena nurani aku tuh gak bisa kalo ngegantung cerita yang udah aku buat dan bikin kalian kecewa. Seenggaknya aku mau nyelesein novel ini biar kalian gak merasa di pehape in.
Tapi yah aku juga manusia biasa ya, kecewa dan sedih kalo kalian gak mengapresiasi nya dengan bijaksana.
Cuma pencet like dan kasih komentar sesuai cerita gitu loh, gak perlu keluar duit buat beli koin untuk baca. Please aku mohon, sentil sedikit hati nurani kalian.
Makasih.