FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 56 • [ Honeymoon ] Menyerah




...Ini dia benda yang bikin geger episode kemarin, ehhh masih berlanjut sih sampe episode ini. Pembaca yang sabar ya, Othor lagi selow motion alurnya....


...Jangan lupa tinggalkan komentar seputar isi cerita ya...


...Kalo gak mau komen, minimal pencet 👍....


...Happy Reading 💜💜...


...☆☆☆...


Moza menggigit kecil bibir bagian bawahnya. Sebenarnya saat membahas tentang mas kawin pernikahannya tadi, Moza langsung teringat kantung berbahan sutra yang diberikan oleh Mami Rasti, ibu mertuanya.


Kantung kecil yang akhirnya dia pakai untuk menyimpan benda berharga miliknya.


Dan apa hubungannya kantong itu dengan benda yang sedang mereka bahas itu ?


Tentu saja ada hubungannya, karena kunci platinum itu Moza simpan di kantong tersebut.


Aaahhh, tapi kan gadis itu sedang ingin menjahili suaminya, masa baru beberapa menit saja sudah terbongkar sih keisengannya. Kan tidak seru !


Sekali-sekali dia ingin juga melihat wajah cemberut suaminya yang kesal, seperti dirinya yang selalu dibuat mati gaya ketika suaminya sudah berulah dengan segala tingkah usilnya yang selalu berhasil membuat Moza mengelus dada.


" Sudahlah, yank. Sini duduk lagi sambil nunggu Gara melakukan pekerjaannya. " Moza menoleh, tak tahu sejak kapan suaminya itu sudah duduk di kursi yang tadi ia duduki, pria itu menjentikkan jarinya dan menepuk pahanya, " Duduk sini, gih. "


" Ehhh, kak. Tunggu deh ! " Sahut Moza ketika melihat pergerakan sekretaris pribadi suaminya yang tiba-tiba sudah muncul darimana dengan membawa sebuah toolbox berukuran sedang.


Begitu kagetnya Moza ketika pria itu membuka kotak itu dan mengeluarkan sebuah bor listrik.


Heh, jangan bilang mereka benar-benar akan merusak pintunya ??? Dan darimana kak Ragil mendapatkan benda itu ?


" Kak, Ragil mau apa dengan benda itu ? " Sentaknya seraya menunjuk ke arah benda yang ada di tangan Ragil Anggara.


" Tentu saja mau membuka pintunya, Nona. "


" Ehhh, tidak ! Jangan lakukan itu ! Tunggu dulu ! " Cegahnya sambil menatap suaminya dan juga Ragil bergantian.


" Apa lagi, sayang ? " Meraih jemari istrinya dengan lembut.


Sudahlah, menyerah saja. Sepertinya aku memang tidak akan pernah bisa melawan Kak Hega dalam urusan jahil menjahili.


Moza menggigit kecil bibir bawahnya, entah sudah berapa kali gadis itu melakukan hal itu hari ini, " I-itu Kak, sepertinya aku ingat sesuatu, deh. "


Yeah, menyerah memang sepertinya adalah pilihan terbaik. Suaminya itu kan punya otak usil level dewa, yang memang tak akan bisa ditandingi oleh Moza.


" Apa ?? "


" Sebentar. " Jawabnya singkat, kemudian menoleh pada Sasa yang masih mematung di sisi Gara, " Sasa, bisa minta tolong coba ambilkan tas kecilku. "


" Baik, Nona. " Sasa mengambil sebuah slingbag berwarna biru muda dan memberikannya pada majikannya, " Ini tas anda, Nona. "


" Terima kasih, Sa. Dan kak Ragil diam dulu disitu, jangan lakukan apapun ! " Menunjuk ke arah Ragil Anggara, menggerakkan jari telunjuknya mengisyaratkan agar pria itu menuruti keinginannya.


Hega menyeringai tipis, sangat samar hingga tak akan ada yang menyadarinya, apalagi istrinya sedang dalam mode resah dan gelisah.


Namun tidak bagi Gara, pria itu tetap bisa membaca ekspresi wajah Tuan Mudanya.


" Baik, Nona. " Jawab Ragil Anggara setelah memahami isyarat tuan mudanya, dan meletakkan kembali bor listrik di tangannya.


" Sebentar, kak. Jangan mengangguku dulu iiihhh !!! " Moza menaikkan bahu kanannya dan menggerakkannya acak karena merasa risih dengan kelakuan suaminya yang malah mengendus-endus bahu dan lehernya dari samping.


" Jawab dulu, apa yang kamu cari sampai seperti itu ? Sini aku bantu ! " Mencoba meraih tas istrinya.


" Ah, ini dia. " Gadis itu membuka sebuah kantung kecil berwarna hitam dengan list pinggiran keperakan dan terdapat bordiran bunga tulip yang dijahit dengan benang sutra berwarna putih di tengah-tengahnya. Kemudian gadis itu mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna hitam dari sana.


Hega mengernyitkan keningnya, kemudian tersenyum smirk tipis ketika menyadari sesuatu. Itu adalah kotak berisikan cincin yang dibawa Hega saat melamar istrinya di rooftop garden beberapa waktu lalu. Dan ternyata istrinya juga menyelipkan platinum key itu di sana.


Criiing. . .


Bunyi lonceng kecil berwarna perak yang menggantung menghiasi sebuah kunci platinum berukuran sedang.


" Ternyata aku membawanya, kak. Hehe. . . " Ujar Moza dengan senyum cantiknya sambil mengayunkan benda kecil yang menjadi biang masalah.


" Ahhh, syukurlah. " Ucap Hega pura-pura lega sambil mengusap pucuk kepala istrinya.


Kemudian melirik sekilas ke arah Ragil Anggara, " Jadi aku tidak perlu membuat Gara repot-repot mencongkel pintunya. "


Gara yang tanggap pun segera buka suara, " Terima kasih, Nona. Berkat anda, saya tidak jadi mencongkel atau lebih buruknya merobohkan pintu yang harganya bisa mencapai gaji saya selama satu tahun. " Jawab pria yang biasanya selalu mengenakan setelah jas berwarna hitam itu, yang kini tampak santai dengan setelan kasualnya.


" Apa ???? "


▪ ▪ ▪


Pasca kehebohan yang terjadi, Moza memilih memasuki kamar terlebih dahulu, meninggalkan sang suami dengan kehebohan yang terjadi di lantai satu.


Di kamar utama dengan segala fasilitas mewahnya yang berada di lantai dua villa, Moza tampak begitu menikmati pemandangan laut, menantikan sunset dari balkon kamar tidurnya.


Semilir angin laut mengurai rambut hitamnya hingga menutupi wajah cantiknya, sesekali gadis itu menyelipkannya di belakang telinganya. Meskipun tak lama setelahnya, angin selalu membuat rambutnya kembali terurai bebas.


Bibirnya tak hentinya mengulum senyum bahagia, entahlah apa lagi kejutan yang akan diberikan suaminya padanya.


Sebenarnya masih kesal dengan insiden pintu tadi, niatnya menjahili suaminya malah berakhir dirinya yang dikerjai sang suami.


Bagaimana tidak kesal, ternyata suaminya sudah tahu jika Moza sengaja berpura-pura tak membawa kunci yang katanya adalah kunci villa ini.


Tapi melihat keindahan yang memanjakan matanya saat ini, kekesalannya menguap seketika.



Sunset yang begitu indah, ditambah lagi suasana tenang yang sangat jauh dari kata kebisingan dan hingar bingar lalu lalang kendaraan seperti di kota.


Yang terdengar hanyalah suara alam, yah hanya debur ombak yang terdengar, beriringan dengan semilir angin yang berhembus lembut menyapa telinganya, menjamah lembut kulitnya.


Lagi-lagi gadis itu tersenyum, kemudian merentangkan kedua tangannya dan memejamkan kedua matanya, menghirup dalam-dalam udara yang begitu menyegarkan. Begitu menikmati suasana hingga tak menyadari sosok lain yang tengah mendekat padanya.


" Kamu menyukainya ? " Astaga, kenapa suaminya ini senang sekali bermain-main dengan debaran jantungnya, doyan sekali membuat jantungnya hampir copot. Untung saja jantung ini buatan Tuhan, bukan made in China, hehe.


" Kakak ini suka sekali mengejutkan aku. " Protesnya sambil menepuk pelan lengan suaminya yang sudah melingkar di perutnya, memeluk tubuh Moza dari belakang.


" Maaf, salah sendiri kamu mau menikmati sunset sendirian. " Elak Hega membela diri, mengecup pipi kanan istrinya kemudian menyandarkan dagu di bahu sang istri.


Salah satu posisi ternyaman bagi Hega setiap kali berduaan dengan istrinya, karena dalam posisi ini, Hega sangat leluasa melakukan banyak hal. Seperti mencium pipi, mengendusi rambut, bahu dan leher istrinya dengan bebas.


Maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan. Satu kalimat yang selalu terucap dalam hatinya setiap kali melakukan aktivitas ini.


...--------------------...