
Melihat langkah gontai istrinya, Hega ingin sekali membuka pintu mobilnya dan berlari menghampiri kesayangannya itu. Tapi lagi-lagi Hega mengurungkan niatnya saat teringat ucapan istrinya.
Hega membuka pintu untuk istrinya dari arah dalam. Kening pria itu sampai mengerut heran, apa gerangan yang membuat mood istrinya terlihat buruk. Padahal tadi saat di telepon, Hega yakin istrinya baik-baik saja.
" Kamu kenapa, Yang ? " Tanyanya ketika sang istri sudah duduk dengan nyaman di kursinya.
Tidak menjawab, Moza hanya menggeleng. Dan baru saja Hega hendak kembali bersuara, namun sang istri kembali menyela.
" Kak, jangan tanya apa-apa dulu ya, aku mau menenangkan pikiranku sebentar. " Ujar Moza dengan tatapan memohon.
Hega terpaksa menelan rasa penasarannya, menatap istrinya dan mengusap lembut pucuk kepala Moza dan memasangkan safety belt.
" Oke, kita jalan dulu, aku tidak akan bertanya sampai kamu mau bercerita. "
" Terima kasih, kak. "
Hega menjalankan mobilnya membelah jalanan kota, dimana kendaraan berlalu lalang cukup padat karena ini memang jam istirahat karyawan. Pasti banyak orang yang sedang mencari makan siang.
Pria itu melirik sebentar ke samping, tampak sang istri tengah memejamkan matanya dengan badan bersandar di jok mobil. Tapi Hega tahu istrinya tidak sedang tertidur, gadis itu hanya sedang memikirkan sesuatu di kepalanya.
" Jadi Nyonya Hega mau makan siang apa hari ini, hmm ? " Tanyanya lembut setelah berhasil meraih tangan istrinya dan mengecup punggung tangan istrinya.
Glek. . .
Kelopak mata yang tadinya terpejam biasa saja itu tanpa sadar memejam erat. Entahlah, rasanya Moza jadi sedikit sensitif dengan panggilan itu sekarang.
Tadi Rena dan Deana yang terus memanggilnya dengan Nyonya Hega dan Nona Muda.
Kemudian dosennya yang juga melakukan hal serupa, yang seolah sengaja selalu menekankan statusnya sebagai menantu keluarga Saint di hampir setiap ucapannya walaupun ada kalanya tidak secara langsung.
Dan sekarang, suaminya sendiri melakukan hal yang sama.
Walaupun ini bukan kali pertama sang suami menggodanya dengan panggilan semacam itu, tapi tetap saja mood nya seperti kembali dibuat down. Sepertinya hari ini Moza benar-benar kena mental.
Tapi Moza cukup dewasa untuk tidak meluapkan amarahnya pada sang suami. Kan memang suaminya itu tidak salah dalam hal ini, hatinya saja yang lagi baperan.
" Yang, kok malah diem sih ? Kamu mau makan siang apa, hmm ? "
Moza menoleh dan tersenyum, " Terserah kakak. "
" Yakin ? "
Moza mengangguk, " Eumm. "
" Oke. " Hega mengusuk lagi pucuk kepala istrinya dengan sayang, kemudian kembali fokus menyetir.
Keduanya kini berada di parkiran Imperial Restaurant, di cabang utama yang juga menjadi kantor sang papa, Arya Tama.
Hega tentu saja sudah memesan ruangan vvip untuk makan siang bersama sang istri, tadinya sempat mau mengajak sang papa sekalian makan siang bersama.
Tapi ayahnya itu sepertinya sedang tidak ada di tempat.
" Kak, kok kesini ? "
" Kenapa ? Kamu nggak suka ? "
Moza menggeleng cepat, " Bukan begitu, maksudnya kenapa harus di tempat semewah ini hanya untuk makan siang ? "
Hega tak menanggapi, hanya tersenyum lalu membantu melepas seatbelt istrinya kemudian keluar lebih dulu dan berjalan memutar membukakan pintu untuk sang istri.
" Kak, kok nggak dijawab sih ? " Gerutu Moza pelan.
" Sudah ayo, aku sudah terlanjur reservasi tadi, sayang kan kalau tidak jadi. " Hega menutup pintu dan menggandeng tangan istrinya memasuki restoran.
Dan kehadiran keduanya disambut ramah dan sopan oleh seorang pria berjas hitam.
" Selamat siang Tuan Muda dan Nona. "
Moza hanya tersenyum merespon keramahan pria itu, Moza pikir itu memang standart pelayanan yang diterapkan di restoran-restoran mewah, memeskipun awalnya sempat bingung juga tadinya.
Berbeda dengan suaminya yang terlihat berwibawa dengan gaya ala-ala Presdir seperti biasanya.
" Hmm, tempat untuk kami sudah siap ? "
" Tentu sudah, Tuan Muda, silahkan lewat sini. "
Tanpa berkata apapun, Hega kembali menarik lembut tangan Moza. Membawa istrinya menuju ruangan yang sudah siap untuk mereka.
Ruangan vvip di lantai dua restoran, dengan jendela kaca besar menghadap sebuah taman bunga dengan beberapa spot bermain untuk anak-anak yang ada di belakang gedung restoran berlantai tiga itu.
Dari jendela kaca itu, Moza bisa melihat aneka bunga warna-warni, beberapa anak kecil sedang berlarian di sekitar air mancur yang ada di tengah taman. Dan ada beberapa orang dewasa yang dari penampilannya sepertinya sih mereka adalah para baby sitter yang sedang menjaga dan mengawasi anak-anak tersebut bermain dan berlarian dengan ceria.
Sepertinya anak-anak itu bukan dari kalangan biasa, dan para orangtua mungkin sedang menikmati makan siang juga di restoran itu. Membiarkan anak-anak mereka dijaga oleh para baby sitter masing-masing. Dunia orang kaya memang beda.
" Makanan akan siap dalam lima menit, ada yang Tuan Muda dan Nona butuhkan ? " Suara pria yang baru Moza ketahui adalah manajer restoran membuat atensi Moza teralihkan.
Hega menatap sang istri seolah bertanya apakah gadis itu membutuhkan sesuatu.
" Tidak, lanjutkan pekerjaanmu. " Ujarnya pada sang manajer setelah mendapat gelengan kepala sang istri.
Istrinya kembali fokus menatap taman di bawah pandangannya.
" Baik Tuan Muda, saya permisi. "
" Tunggu ! "
" Iya ? "
" Kemana papa ku, apa beliau tidak di ruangannya ? "
" Tuan Arya hari ini ada di Yayasan, beliau hanya di restoran setiap hari Selasa dan Kamis. "
Hega mengangguk, " Baiklah, kalian boleh pergi. " Hega mengibaskan tangannya, pria itu bahkan sampai lupa jadwal ngantor sang papa yang tidak hanya memegang restoran tapi juga masih menjabat Dirut Yayasan Dwitama.
Setelah manajer restoran keluar, Hega menghampiri istrinya, memeluk tubuh ramping sang istri dari belakang.
" Jadi, apa yang membuat kamu tidak bersemangat seperti ini, hem ? " Tanyanya dengan posisi kepala berada di pundak sang istri.
Moza sempat sedikit terkejut dengan pelukan tiba-tiba itu, tapi dengan cepat bisa menormalkan kembali ekspresinya. Maklum ya, hal seperti ini tuh tidak terjadi sekali dua kali, suaminya kan memang begitu, suka skinsip dadakan.
Moza menoleh, menatap wajah suaminya, " Tidak ada, kak. Aku nggak papa kok. "
" Hmph, gak papa gimana, orang dari tadi kamu keliatan banget lagi kepikiran sesuatu yang bikin mood kamu gak bagus. "
Hega memutar tubuh Moza, membuat keduanya kini saling berhadapan, tangan kiri Hega tetap melingkar di pinggul istrinya, " Ayo coba bilang kenapa ? Ada apa, hmm ? " Tanyanya lagi sembari membelai lembut pipi istrinya.
Bukannya menjawab, Moza malah menjatuhkan kepalanya di dada bidang suaminya. Kedua tangannya juga sudah melingkar di punggung sang suami.
" Eeehhh. " Pria itu sampai sedikit terhuyung kebelakang saking kagetnya dengan tingkah sang istri.
" Kenapa, hmm ? Jangan bikin aku kepikiran gini, sayang. Ayo bilang ada apa, hmm ? " Tanyanya lagi dengan sangat sabar.
" Kak---. "
" Iya, kenapa ? " Hega mengusap punggung istrinya, seperti ingin menyalurkan kasih sayangnya untuk menenangkan hati gelisah sang istri.
" Aku cuma lagi ngerasa nggak nyaman aja. "
" Nggak nyaman kenapa ? Siapa yang membuatmu tidak nyaman, hm ? "
Hega bisa merasakan istrinya menggelengkan kepalanya.
Sudahlah, sepertinya kesabaran Hega mulai menipis.
Dan hap...
Hega mengangkat tubuh istrinya membuat Moza reflek memekik dan melingkarkan tangannya di leher sang suami.
" Kakak, ngagetin aja, aku hampir jatuh. "
" Mana mungkin aku membiarkan istriku jatuh sih. Paling-paling aku buat kamu jatuh ke hati aku. " Moza mencebikkan bibirnya mendengar gombalan receh sang suami.
Melihat istrinya cemberut, pria itu malah terkekeh kemudian menghujani kecupan wajah istrinya, kening, pipi, hidung bahkan dagu Moza tak ada yang terlewatkan, membuat Moza ikut terkikik karena kegelian.
" Kakaaak, berhenti iihh, geli, hihihi. . . "
Hega menghentikan sejenak aktivitas kecup-mengecupnya, hendak membawa Moza menuju sofa panjang di sudut ruangan. Siapa tahu bisa dapat lebih dari sekedar kecupan kan. Tapi---
Tok tok tok