
" Kamu nyindir saya ? "
Kalau orang lain pasti udah ketar-ketir ditatap seperti itu oleh Hega, tapi Julian kan sudah tahu benar perangai atasannya itu.
Pemuda itu hanya nyengir saja seraya menggaruki tengkuknya yang tidak gatal, sedikit merinding sebenarnya, " Hehe, mana berani gue nyindir si boss sih. Hari ini gue jadwal kuliah siangan, Bang, makanya gue dateng pagian biar ntar siang bisa ngampus. "
Si boss sih keenakan hanimun, kerjaan gue jadi dobel kan, untung aja duit lemburnya juga dobel. Imbuh Julian yang pastinya hanya dalam hati.
Mau nyeletuk, takut kena semprot. Slengekan gitu, Julian masih tahu adab, gak pantes nyinyirin atasan, orang duit lembur gede ini.
Beda sama Bara yang pasti punya keberanian diatas rata-rata kalau sudah nyinyirin Hega, yang sebenarnya lebih pantas disebut kenekatan yang tiada duanya.
Itu orang kan suka nggak di filter mulutnya, suka nyari perkara, meskipun berakhir dengan benda-benda terbang ke tubuhnya.
Belum lagi kalau dihadiahi tiket ke Afrika atau ke Kutub Utara, barulah Bara akan kapok julid-in bos sekaligus sahabatnya. Haih, jadi kangen Abang Bara gak sih ?
Hega menanggapi Julian hanya dengan anggukan kepala dan lanjut menggantungkan jasnya yang sudah terlepas di penyangga jas di sisi meja kerjanya. Kemudian duduk di kursi kebesarannya, mulai mengecek berkas yang sudah tertata rapi di atas meja.
" Diluar lagi ribut apaan, Bang ? Gue kok denger suara mbak An kek ngomel-ngomel gitu ? "
Pria yang ditanya hanya menjawab dengan kedikan bahu tanpa menoleh sedikitpun pada Julian, lalu mulai fokus pada pekerjaan yang sudah lebih dari seminggu ini.
Maklum, Hega kalau sudah mode Presdir, suka gak mau diganggu fokusnya. Kecuali satu orang spesial yang selalu bisa mengalihkan dunia seorang Hega.
Kalian pasti tahu kan siapa orang spesial yang dimaksud.
Mendengar keributan yang sempat tertangkap indera pendengarannya, bukan Julian Adiputra jika tidak kepo. Apalagi mengingat seniornya itu adalah tipe wanita yang irit bicara, dan jarang sekali marah-marah. Julian jadi penasaran ada apa gerangan.
Pemuda itu bangkit dari kursi dan menuju pintu besar ruangan Hega, melongokkan kepalanya mengintip keluar.
Tak berselang lama, Julian berbalik badan kembali ke kursinya sambil cekikikan, membuat Hega melirik dengan heran, " Kenapa kamu ? Ada yang lucu ? "
Memasuki ruangan yang ditinggalkannya hampir dua minggu itu. Pria yang memiliki kuasa tertinggi di Golden Imperial Group itu sama sekali tak menghiraukan tatapan ataupun bisikan dari mereka yang tentu saja tak terdengar olehnya.
Meskipun sedikit banyak pria itu dapat menebak apa gerangan yang tengah dipergunjingkan para pegawainya.
" Masya Allah, Presdir udah nikah makin kerasa aja aura nya. Makin bikin jantung jedut-jedut. " Celetuk seorang karyawati di balik kubikelnya sesaat setelah dilihatnya sang Presdir menghilang dibalik pintu ruangannya.
Teman di sampingnya mengangguk membenarkan, " He em, liat aja tadi lirikan matanya, aduduh, nggak nahan. Pasti bahagia banget jadi Nona Moza, tiap pagi liat wajah ganteng suaminya. "
" Yang ada mah Presdir yang bahagia liat wajah bidadari tiap pagi. Nona Moza kan can---" Sahut seorang karyawan pria, namun belum sempat melanjutkan kalimatnya, sosok mengerikan sudah ada di antara mereka menginterupsi obrolan mereka.
" Kalau kalian sudah bosan berada di divisi saya, saya persilakan siapapun yang mau mengajukan surat pengunduran dirinya. "
Tak hanya ketiga karyawan tadi yang menatap gemetar pada wanita yang juga tengah menatap ke arah mereka.
Namun beberapa karyawan di ruangan khusus untuk team sekretaris Presdir itu ikut diam membeku. Semuanya kini menunduk, tak berani menatap langsung Sekretaris Utama Presdir itu.
" Maafkan kami, Sekretaris An. Kami hanya--. "
" Saya peringatkan, ini kali terakhir saya mendengar hal serupa, karena jika saya mendengarnya lagi saya tidak bisa menjamin kalian akan tetap bertahan di posisi kalian saat ini. Apalagi kalau sampai Presdir sendiri yang mendengar ada yang membicarakan tentang urusan pribadi beliau. Kalian pasti paham maksud saya, kan ? "
" Dan satu lagi. " Anita menjeda ucapannya, melirik karyawan pria yang terakhir buka suara, " Jangan lagi mengatakan apapun tentang Nona Moza, kalian tahu sendiri bagaimana posesifnya Presdir pada istrinya, saya berkata begini karena saya tidak mau kalau ada salah satu dari kalian terpaksa kehilangan pekerjaan karena tidak bisa mengontrol mulut kalian. "
" Kalian harus ingat, diluar sana banyak sekali yang bermimpi untuk berada di posisi kalian saat ini. Kalian adalah staff inti yang langsung berada di bawah kuasa Presdir. Itu artinya posisi kalian bisa dikatakan posisi yang paling diinginkan, bahkan oleh karyawan divisi lain GI Group. " Lanjut Anita, seperti biasa wanita itu tetap bersikap tegas.
Semua mengangguk paham atas ucapan Anita yang merupakan sekretaris utama Presdir, " Terlebih lagi saya tidak mau repot-repot mencari dan melatih orang baru sebagai pengganti kalian karena saya pribadi sudah cukup nyaman dengan kemampuan kalian secara personal sebagai bagian dari team saya. "
Tentu saja mendengar kata 'orang baru' membuat mereka bergidik, dimana lagi mereka bisa mendapat pekerjaan dengan gaji dan tunjangan sebesar yang mereka dapat sekarang.
Belum lagi atasannya itu terkenal loyal memberi reward pada karyawan yang berprestasi. Mereka kembali mengangguk patuh.
" Kembali bekerja, sekarang Presdir sudah kembali aktif di kantor, kalian tahu sendiri bagaimana standart kerja beliau. Jangan sampai saya mendapat keluhan dari beliau karena ada salah satu dari team saya yang bekerja tidak sesuai dengan standart yang telah beliau tetapkan. "
" Baik, Sekretaris An. " Semuanya kembali menunduk pada sosok tegas Anita Saraswati.
Tidak salah memang jika Anita menjadi sosok paling menakutkan kedua setelah sang Presdir. Wanita itu menjadi ikut-ikutan perfeksionis, segala sesuatu harus dicek berkali-kali, bahkan satu huruf typo saja akan menjadi masalah untuk mereka.
Tapi bukan Anita semena-mena pada staf di bawah kuasanya, tapi ini semua juga tuntutan dari sang boss utama.
Semua kesalahan karyawan sekecil apapun itu menjadi tanggung jawab Anita untuk mengoreksinya.
Jadi wajar saja Anita tegas dan cerewet untuk masalah pekerjaan, karena dialah yang akan mendapat omelan jika ada yang tidak benar dalam pekerjaan team nya.
Disisi lain, seorang pria mengintip diam-diam dari pintu ruangan orang nomor satu di GI Group. Pria itu cekikikan melihat ekspresi para karyawan team divisi sekretaris Presdir. Mereka terlihat seperti bocah yang sedang sedang diomeli oleh ibunya karena ketahuan berbuat nakal.
" Kenapa kamu ? Ada yang lucu ? " Suara bass tegas di balik punggungnya membuat pemuda itu melirik sekilas si pemilik suara yang tengah menatapnya penasaran.
Julian mengedikkan bahunya dengan bibir masih cengengesan, membuat Hega pengen jitak asistennya itu.
" Hehe, itu loh, Bang. Mbak Anita lagi ngomelin anak-anaknya. Lucu banget sumpah, coba abang liat deh. "
" Kamu pikir saya sesenggang itu ? "
Tadi tanya, dijawab sewot, Momo nih pasti gak ngasih jatah, sensi amat lakiknya.
Julian mencebik, " Eh, Bang. Kalo diliat-liat, mbak Anita tuh lebih horor dari Bang Hega. Ngalahin setan nyereminnya. " Pemuda itu bergidik sambil mendaratkan pantatnya di kursi.
" Kamu ngatain saya setan ? " Hega menatap tak suka, pena di tangannya bahkan sudah terangkat ke atas nyaris melayang.
Jika yang di hadapannya itu saat ini adalah Bara, sudah dipastikan pena di tangannya sudah mendarat di jidat sahabatnya itu.
Untung saja Hega masih bisa menjaga wibawanya dimata asistennya, meskipun asistennya yang satu ini suka ngelunjak, untung bener kerjanya, kalo enggak, Hega pasti sudah melupakan jika pemuda tengil di depannya itu adalah salah satu sahabat baik dari istrinya.
Tuh kan, apa gue bilang, kurang nih jatahnya tadi malem, horor kan jadinya. Hish.
" Heh ??? Maksudnya tuh, mbak An nyeremin banget kalo lagi marah, galaknya minta ampun, lebih galak dari abang. "
" Sekarang kamu ngatain saya galak ? "
Seketika Julian menutup rapat mulutnya, kicep sekicep-kicepnya, tak menanggapi lagi omelan atasannya. Takut salah lagi dah.
Yaelah, gini amat punya boss sensian. Momo, lakik lu kurang asupan vitamin nih, baperan mulu dari datang tadi.