
Hega sudah berada di tempat yang sama dengan tempat ia mengantar sang istri tadi pagi. Baru juga setengah hari berpisah, pria itu sudah sangat merindukan istrinya.
Sindrom pengantin baru belum hilang juga sepertinya, bawaannya pengen nempel melulu.
Baru juga belum lima menit Porsche putihnya terparkir di sana, tapi Hega sudah sangat gelisah menunggu kedatangan sang istri yang belum juga nampak hilalnya.
Apalagi barusaja sang istri mengirim sebuah pesan jika dirinya ada urusan sebentar di ruangan dosennya. Membuatnya harus kembali menunggu, dan kita semua tahu kan, menunggu itu adalah pekerjaan yang paling membosankan.
Belum lagi yang ditunggu adalah pujaan hati yang begitu dirindukan.
Ahhh, Hega tak tahan ingin melihat wajah cantik gadisnya. Tapi kenapa ada saja yang mengganggunya sih.
Jika tidak mengingat peringatan sang istri tadi saat mereka berbicara lewat telepon sebelum Hega berangkat menjemputnya di kampus, maka sudah dipastikan pria itu sudah menyusuri seluruh area kampus untuk mencari keberadaan sang istri.
Diliriknya lagi untuk kedua kalinya jam tangan hitamnya, " Hish, kamu dimana sih, Yang ? " Hega mengeram gelisah, tangan kanannya sudah meraih lock pintu mobilnya, tapi suara sang istri kembali terngiang di telinganya.
' Kakak tidak usah turun mencariku, tunggu saja di tempat yang sama seperti saat kakak mengantarku tadi pagi. Awas ya kalo kakak sampai mencariku ke dalam, aku akan mogok bicara. Dan nggak ada lagi morning kiss, night kiss dan kiss kiss lainnya yang selalu kakak minta seenaknya. '
" Haish. " Dengan kesal Hega memukul kemudinya, gemas sendiri mengingat wajah galak istrinya saat sedang mengancamnya.
Setelah tadinya kesal, pria itu seketika malah senyum-senyum sendiri membayangkan hal-hal nakal yang ingin dia lakukan pada sang istri. Salah satunya menggigit pipi Moza misalnya, pipi yang terlihat lebih chubby setelah menikah.
Sangat menggemaskan.
Sekali lagi ya, kalau kaum bucin itu emang beda. Chubby katanya menggemaskan.
Coba kalo nggak bucin, ceweknya chubby dikit dikata gendutan, udah gitu ngomel lagi pake segala merintah 'diet sana !'
Nah kan kan, bisa gelud kan !!!
Dan ketika asyik berkhayal, netra hitamnya menangkap sosok cantik yang dinantinya, membuat tarikan di kedua sudut bibirnya terukir sempurna. Bahkan mampu menampakkan kedua lesunh pipi Hega yang benar-benar sangat jarang sekali terlihat.
Tapi senyumnya perlahan memudar saat menyadari istrinya tengah melangkah gontai dengan wajahnya yang terlihat sangat lelah.
Apa gerangan yang membuat gadisnya selelah itu di hari pertamanya kembali ke kampus ?
Di kantin Fakultas Ekonomi, keempat dara cantik JF Genks masih asyik bercanda ria sambil sesekali meledek si pengantin baru. Siapa lagi kalau bukan Moza Artana, yang kini sudah menyandang status istri.
Dea dan Rena terus saja mendesak Moza untuk bercerita tentang ritual bulan madunya, terutama tentang malam pertama yang pastinya menjadi bahan paling bikin penasaran kedua gadis itu.
Sedangkan Amira hanya diam saja, gadis berhijab itu tentu tahu batasan hal-hal apa saja yang boleh dikorek atau tidak dari seorang pengantin baru.
Selain cerita tentang tempat bulan madunya, Moza tak menceritakan hal lainnya.
Itu kan rahasia dapur rumah tangga, biar dirinya sendiri dan Tuhan yang tahu bagaimana manis dan romantisnya sang suami memperlakukan dirinya selama bulan madu.
Bahkan sampai bulan madu berakhir pun saat ini suaminya masih terus saja punya banyak cara untuk membuat Moza merasa menjadi wanita paling dicintai dan paling bahagia di dunia ini.
Walaupun ada kalanya sikap posesif sang suami agak berlebihan, tapi Moza masih bisa memahaminya. Ia menganggap itu sebagai salah satu cara sang suami mengekspresikan kasih sayang dan cinta yang dimiliki pria itu untuknya.
Dan Moza sangat bersyukur akan hal itu. Sangat amat bersyukur.
Ahhh, mengingat betapa gombalnya seorang Hega Airsyana, dan betapa bucinnya pria itu padanya, membuat hatinya kembali berdegup kencang.
Kebahagiaan yang dirasakannya kembali membuncah. Tak ayal senyum merekah di bibirnya tanpa ia sadari.
" Ciyeee . . . Yang keinget malam pertama nih, merah gitu pipinya. " Goda Renata sembari menyikut lengan Dea agar sahabatnya itu kembali ikut mengorek-ngorek kisah bulan madu Moza.
Moza reflek memegang kedua pipinya dengan telapak tangannya, " Hish, stop bahas itu ya, kalo kalian kepo banget mau tahu, kalian nikah aja sana. " Dumal Moza kesal, tuh kan mode kulkas nya keluar, tapi bukannya takut malah membuat ketiga sahabatnya terbahak.
Sepertinya ini pertama kalinya mereka melihat sahabat es nya itu tersipu hingga malu-malu seperti sekarang ini, gadis itu tampak sekali begitu kesal dan mungkin juga untuk kali pertama Moza mengekspresikan emosinya di depan sahabatnya.
Cinta benar-benar mengubah seorang Moza Artana, gadis itu sekarang jadi memiliki lebih banyak ekspresi di wajahnya. Seolah apa yang dirasakan oleh hatinya mulai tampak dalam setiap mimik wajah dan tingkah lakunya.
Lihat saja tingkah gugup-gugup canggung gadis itu sekarang, sangat menggemaskan. Wajahnya bahkan kini terasa panas saking malunya.
Ohh, untung saja ponsel Moza berbunyi, membuat ketiga sahabatnya mau tak mau menghentikan keusilan dan kejahilan mereka yang terus menggodanya.
" Aku balik dulu, girls. Kak Hega sudah nunggu aku di tempat parkir. "
" Oke, penganten baru. Jangan lupa oleh-olehnya, Nona Muda. " Dea kembali menggoda.
Nyatanya Moza memang lupa membawa oleh-oleh yang sudah ia persiapkan untuk para sahabatnya itu karena tadi pagi terburu-buru berangkat setelah drama pagi suami mesumnya.
" Maaf, besok aku bawa. "
" Hehe, santuy Momo sayang, gue becanda kok, Nona Muda. " Cengir Dea.
Moza memelototi sahabatnya itu, mencubit pelan hidung mancung Dea, " Berhenti memanggilku begitu, Deana Mayangsari. " Dumalnya sebal.
Kalau sudah mode memanggil dengan nama lengkap begini, Dea tahu jelas jika sahabatnya itu benar-benar kesal.
" Hehe, maaf. Becanda, sayang. Dah gih sana pergi, suami lo pasti udah kangen bininya. "
" DEAAAA---- !!! " Moza mengeram tertahan, berusaha agar tak sampai berteriak.
" Iya iya, ampun deh ampun. Sana buruan. " Dea menyela cepat dan membalikkan badan Moza kemudian mendorong bahu gadis itu agar segera berjalan menuju pintu keluar kantin.
Dengan langkah cepat Moza meninggalkan ketiga sahabatnya setelah menoleh sekali untuk berpamitan ulang yang diangguki kompak oleh ketiga gadis itu.
" Udah sana, hush hush. . . " Ditambah body language Deana yang seperti mengusir ayam.
Moza berjalan cepat, tak ingin kejadian dulu terulang lagi. Dimana suaminya itu datang mencarinya ke area kampus, yang berakhir dirinya menjadi pusat perhatian seantero kampus. Belum lagi bisik-bisik tidak jelas yang ia dengar.
Tapi sekarang ada alasan lain Moza tak mau menampakkan suaminya itu di area kampus. Moza tidak suka para mahasiswi yang menatap suaminya penuh damba. Bikin dongkol hatinya saja, ternyata cemburu sepenggal enak ini rasanya.
***
Badanku nyeri semua kasih obat herbal apa ya ? Btw aku cm bisa nelen pil atau kapsul, minumnya yg cair2.
Rasanya dari pinggang ke bawah kek potel-potel, belum lagi demam gak turun2. Ya Allah gini amat gak bisa nelen obat.