FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》

FIRST LOVE DESTINY《 HeZa'S Love Story 》
FLD 88 • Narsisnya Kumat



Moza jadi teringat obrolan dengan suamimya beberapa waktu lalu sepulangnya mereka dari bulan madu. Dan Moza menyesal tidak menanyakan lebih jelas perihal beasiswanya pada sang suami.


Sore itu langit tidak begitu cerah, awan mendung lebih mendominasi meskipun tidak sampai turun hujan.


Namun udara dingin membuat sepasang insan manusia itu lebih memilih mencari kenyamanan di ruangan pribadi mereka.


Sepasang suami istri yang baru menikah kurang dari dua minggu itu tengah menghabiskan waktu berdua di dalam kamar mereka.


Tapi bukan dengan ritual ahhh seperti yang pembaca bayangkan.


Hega sedang bersandar di headboard ranjang dengan memangku macbook berwarna hitam miliknya. Jemari panjang dan besar kedua tangannya begitu lincah bermain di atas keyboard secara acak, sembari berbicara dengan menggunakan headset bluetooth yang terpasang di telinga kirinya.


Bisa-bisanya pria itu membagi fokusnya pada dua hal yang bertolak belakang, mengecek sekaligus merevisii berkas perusahaan yang tadi dikirim via email oleh bawahannya, disambi membahas bisnis via telepon.


Bagaimana coba otak kanan dan kiri pria itu bekerja di waktu yang bersamaan. Coba kalau orang kebanyakan, udah pada typo semua tuh isi berkas di laptop nya.


Kayak author nih, pas lagi ngetik naskah sambil liat sinetron, eh yang harus diketik alur cerita, lah malah yang diketik di laptop obrolan di sinetron. 🙄


Kembali pada Hega yang tampak sibuk dengan dua aktivitas berbeda yang dilakukannya.


" Hm, lakukan saja seperti itu. "


" Tidak, biarkan saja mereka melakukan seperti apa yang mereka mau, kita tetap pada pendirian kita. "


" Biarkan saja, mereka akan tahu sendiri akibatnya nanti kalau berani mengabaikan tanggung jawab mereka. "


" Ya, kau cukup awasi saja selama beberapa hari ini. Saya ingin tau sampai sejauh mana mereka bertindak sesuka hati mereka dan menggunakan jabatan mereka untuk kepentingan mereka sendiri. "


Moza yang tengah berbaring tengkurap dengan layar ipad miliknya, menggores layar berukuran 10 inch itu dengan menggunakan Appl* pen miliknya, sesekali melirik ke arah suaminya yang terlihat begitu mempesona saat berekspresi serius seperti itu.


Moza tanpa sadar malah menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya, menatap ekspresi suaminya yang kadang datar, sedetik kemudian serius, dan detik kemudian terlihat seperti menahan amarah.


Entah masalah apa yang terjadi di perusahaan hingga membuat suaminya sesibuk itu bahkan saat seharusnya waktu dirumah ia gunakan untuk bersantai.


Sepertinya menjadi seorang Presdir memang tidak mudah, posisi itu bukan posisi enak seperti kelihatannya, dimana siapapun yang duduk di posisi tersebut tak perlu kerja susah, tinggal perintah sana sini.


Nyatanya tidak pernah satu kalipun Moza melihat suaminya santai ketika berada di kantor, dan sekarang bahkan pekerjaanpun dibawa kerumah, lihat saja itu wajah serius tingkat dewa di wajah tampan suaminya.


Kerutan di kening pria itu bukannya membuat ketampanannya berkurang, justru semakin menambah pesonanya beberapa kali lipat.


Moza selalu suka melihat wajah kharismatik suaminya saat bekerja, apalagi saat pria itu terlihat begitu berwibawa di balik meja kerjanya di kantor.


Jas terlepas menyisakan kemeja yang digulung hingga siku, rambut disisir rapi, dan jangan lupakan kacamata baca yang membuat kharisma dan wibawa sang suami makin naik levelnya.


Pantas saja banyak wanita yang terobsesi pada kakak. Gumamnya tanpa sadar.



Moza bahkan tidak menyadari jika suaminya itu sudah selesai dengan kegiatan meneleponnya, dan kini tengah melirik ke arahnya dengan tatapan heran.


" Ekhemm. Kenapa kamu tiba-tiba cemberut gitu setelah tadi senyum-senyum sendiri, Yank ? "


Moza langsung gelagapan, " Eeehhh. Apa, kak ? "


Hega terkekeh melihat istrinya yang tiba-tiba salah tingkah, " Aku tanya kenapa kamu cemberut setelah tadi senyum-senyum sendiri, hmm ? "


" Kenapa, hmm ? "


Moza masih tak menjawab, gadis itu melipat kedua tangannya di atas ranjang setelah mendorong tablet miliknya. Kemudian menjatuhkan kepalanya di atas kedua tangannya yang terlipat, dengan posisi miring menghadap ke arah sang suami.


" Kak. " Lirihnya dengan suara lembut.


Tak langsung menjawab, pria di hadapannya itu terlebih dulu meletakkan macbook di atas nakas, kemudian merangsek meenggeser tubuhnya mendekati sang istri.


" Ada apa, Momo sayang ? " Tanya Hega saat dirinya sudah berada tepat di sisi sang istri yang tengah tidur telungkup.


Tangan besarnya terulur mengusap kepala Moza dengan sayang. Moza memejamkan mata sejenak menikmati kasih sayang yang disalurkan suaminya lewat usapan lembut suaminya.


Beberapa detik kemudian bola mata kecoklatam itu kembali terbuka, " Kakak keliatan jelek kalo sedang apa sih ? " Gumamnya lirih disela menikmati nyamannya sentuhan sang suami.


Alis Hega sedikit tertarik ke atas mendengar pertanyaan random sang istri, " Kenapa tiba-tiba tanya gitu ? "


Moza menggeleng kecil kemudian tersenyum aneh menampilkan barisan gigi putihnya, " Gapapa sih, cuma penasaran aja. "


Pria itu sontak kembali dibuat terkekeh, kemudian memundurkan tubuhnya agar kembali bersandar di kepala ranjang.


Moza mengikuti pergerakan sang suami dengan ekor matanya, bibir mungilnya manyun beberapa centi. Tumben-tumbenan suaminya itu tak menjawab pertanyaannya dengan sesuatu yang berbau kanarsisan.


" Sini deh, Yang. " Tampak pria yang masih terlihat begitu tampan tanpa setelan jas rapi kantornya itu tengah menjentikkan jari ke arahnya.


Seperti tersihir, Moza mengangguk patuh dan bangkit dari posisi tengkurapnya, bergerak dengan lututnya menghampiri sang suami.


Baru juga Moza hendak mengambil posisi disamping sang suami, tapi pria itu malah menepuk pahanya, mengisyaratkan agar ia duduk di atas pangkuan pria yang tubuhnya berbalut kaos polos abu-abu dan celana tidur panjang bermotif kotak-kotak berwarna hitam abu.


Moza tentu saja sempat ingin menolak, lihat saja bola mata gadis itu yang melotot hendak protes.


Aahhh, tapi ya sudahlah, sepertinya menolak pun tak ada guna. Toh pada akhirnya semua yang terjadi akan sesuai dengan kemauan sang suami.


Moza duduk di atas pangkuan suaminya dengan posisi bersimpuh dengan kedua kakinya berada di kanan dan kiri paha sang suami.


Hega memainkan jemarinya di surai rambut Moza, " Momo sayang. "


" Hm. " Jawab Moza asal berdehem saja.


" Masih penasaran saat kapan suami kamu ini keliatan jelek, hm ? " Moza mendengus, kenapa suaminya ikutan random sih pertanyaannya.


Menyesal sudah tadi dirinya bertanya hal aneh begitu. Lagian kenapa otaknya mendadak terlintas pertanyaan yang sudah jelas jawabannya sih, bikin malu aja.


Setelah terdiam sejenak, akhirnya Moza menggeleng malas karena sepertinya tidak ada situasi yang membuat suaminya itu akan terlihat jelek, " Tidak jadi. "


" Kenapa ? "


" Karena sepertinya tidak ada situasi yang membuat kakak terlihat jelek. " Jawabnya polos dengan nada setelah jengkel sebenarnya.


Hega terkekeh lagi mendengar jawaban bernada kesal istrinya, " Nah itu kamu tahu. " Ucapnya dengan entengnya sambil menoel hidung sang istri.


Tuh kan, narsis nya kumat. Moza melengos malas.